3 Rahasia Hati Seorang Ayah yang Wajib Dipahami Anak-Anaknya

Parenting

[image credit: Lisa McNiel]

1.7K
Kini baru kuketahui isi hatimu, Papa.

Saya menyebut ayah saya dengan sebutan PAPA. Ya, “Papa”, demikianlah saya memanggilnya dari kecil hingga beliau dipanggil pulang oleh Tuhan. Kini lima tahun sudah berlalu, banyak kenangan yang ditinggalkan olehnya. Hati saya pun tergerak menulis tulisan ini untuk mengenang Papa.

Pada umumnya, ayah merupakan teladan bagi kita anak-anaknya, terutama anak perempuan yang lebih dekat dengan ayahnya daripada dengan ibunya. Bahkan ayah merupakan idola bagi anak perempuannya. Banyak anak perempuan yang ingin memiliki suami seperti ayahnya saat menikah kelak. Semua ini menggambarkan betapa mengagumkan sosok ayah ini di mata anak perempuan.

Namun, banyak juga dari kita yang suka bertengkar dan membenci ayahnya. Bukan karena ayahnya tidak baik, tetapi hanya karena pikiran sang ayah tidak sejalan dan sepaham anak perempuannya.

Namun, sudahkah kita menyadari, rahasia apa yang ada di dalam hati sang ayah sebenarnya?



1. Ayah keras karena ia sayang kita.

Sering kali kita berselisih paham dengan ayah kita hanya karena beda pendapat. Terkadang melakukan ini tidak boleh dan itu tidak boleh. Padahal, menurut kita hal itu tidak masalah dan tidak berbahaya. Akan tetapi, ayah selalu menentang dan tidak memberikan izin. Lalu kita merasa ayah kita keras dan egois.

Namun, tahukah Anda bahwa sebenarnya di balik kerasnya tabiat seorang ayah, ada hati yang lembut yang ingin melindungi anaknya?

[image: A Lil Bit Fancy]

Karena rasa sayangnya ayah pada kita, ia tidak ingin kita kenapa-kenapa. Ayah tidak ingin kita dapat masalah. Ayah justru ingin yang terbaik bagi kita.

Saat saya belum menikah, saya tidak memahami benar tentang hati seorang ayah. Ya … saya menganggap papa saya keras dan egois. Namun, setelah saya menikah dan memiliki anak, barulah saya mengerti bahwa semua yang papa saya lakukan adalah demi kebaikan anaknya.

Baca Juga: Demi Masa Depan Anak Perempuan Kita: Perhatikan Hal-Hal Ini



2. Ayah terkesan terlalu protektif karena ia takut kehilangan kita.

Terkadang kita melihat ayah kita itu “kuno”, yang kolot dan tidak mau mengerti dunia zaman now. Masih menerapkan peraturan jam pulang rumah. Masih terus memantau ke mana kita pergi. Harus mendapatkan izin terlebih dahulu baru boleh pergi. Dan masih banyak persyaratan-persyaratan yang diajukan jika kita mau pergi keluar rumah, meskipun hanya sebentar saja. Hal ini yang terkadang membuat kita jengkel.

“Kenapa sih, kok, ayah terlalu protektif gini … ini kan zaman modern … kenapa ayah masih kuno dan kolot gini, sih?” Mungkin jika sedang kesal pada ayah, ungkapan ini pernah kita ucapkan dalam hati.

Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hati seorang ayah, ia tidak ingin anaknya hilang. Ia tidak ingin anaknya pergi dengan teman-teman yang tidak baik. Ia tidak ingin anaknya terlibat dalam pergaulan yang salah, dan pergi ke tempat-tempat yang salah. Semua itu ayah lakukan untuk menjaga dan melindungi anaknya. Karena ayah sangat mencintai anaknya.

Kelak jika kita sudah memiliki anak, menjadi orangtua, dan bahkan menjadi ayah, kita akan mengerti semua itu satu per satu. Semua tindakan dan sikap ayah yang menjengkelkan bagi kita akan membuat kita sadar bahwa ternyata ayah kita adalah figur yang baik.

Baca Juga: Lewat Orangtua yang Otoriter dan Overprotektif, Saya Menemukan 7 Pelajaran Hidup Penting ini



3. Ayah tidak akan selamanya ada di samping kita.

[image: Children's Bureau]

Seorang ayah selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Dengan bersusah payah ia bekerja untuk membesarkan kita. Ia berusaha keras mendapatkan penghasilan yang banyak untuk membiayai pendidikan kita agar kita menjadi pintar. Ia mendidik kita dengan baik supaya kita menjadi orang yang baik dan sukses. Semua itu ayah lakukan karena ayah tahu bahwa tidak selamanya ia bisa di samping kita. Tidak selamanya ia bisa menemani kita. Itulah rahasia hati ayah yang terdalam.

Baca Juga: Menyoal Kematian dan Hal yang Saya Pelajari dari Kepergian Papa


Entah sudah berapa banyak tisu yang terbuang untuk menghapus air mata yang tak kunjung usai ini. Menulis artikel ini membawa saya teringat akan papa. Rasa kangen akan Papa membuat dada ini terasa sesak. Saya mengingat masih banyak hal yang belum dapat saya lakukan untuk beliau.

Kepergian Papa ke rumah Bapa yang tiba-tiba membuat saya harus belajar untuk melepaskannya. Kurang satu hari dari jadwal operasi Papa, Tuhan telah memanggilnya pulang terlebih dahulu. Hanya tertinggal iringan lagu yang masih terngiang-ngiang di telinga saya. Sebuah lagu yang dinyanyikan di rumah duka. “Ia telah pulang … Pulang ke sorga.”

I miss you, Papa.

Tulisan ini saya persembahkan untuk Papa.



Baca juga artikel-artikel inspiratif yang dapat membantu Anda mengatasi rasa kehilangan orang terkasih ini:

Kita Membutuhkan Rasa Kehilangan untuk Mengajarkan 3 Hal Ini

Kala Badai Menerpa dan Kamu Merasa Telah Kehilangan Segalanya, Ingatlah Ini Saja





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "3 Rahasia Hati Seorang Ayah yang Wajib Dipahami Anak-Anaknya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Christine Santoso | @christinesantoso

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar