3 Hal yang Saya Pelajari dari Perceraian Ahok-Vero

Reflections & Inspirations

[photo: wartakota]

Ada saat di mana ibu-ibu yang melakukan konseling pada saya mengungkapkan kekagumannya pada sosok Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. “Coba suami saya seromantis Pak Ahok, saya pasti lebih berbahagia,” begitu kurang lebih ungkapan mama-mama muda ini. Hal ini terjadi ketika media memuat surat Pak Ahok untuk istrinya, Vero.

Saya sendiri merasa ungkapan romantisme yang terbuka dan dapat dikonsumsi publik seringkali mengindikasikan dua hal.

Pertama, ada masalah dalam pernikahan yang belum tuntas. Romantisme ini sisi terbaik yang jarang terjadi sehingga layak untuk dibuka bagi umum. Kedua, ada rasa bersalah salah satu pihak, dan menunjukkan romantisme di hadapan publik, sedikit atau banyak mengobati rasa bersalah itu. Seperti sebuah upaya untuk menunjukkan dan membuktikan bahwa relasi yang ada baik-baik saja.

Akhirnya, pada hari ini, palu hakim memutuskan perceraian Ahok dan Vero. Semua dugaan tentang perselingkuhan terbukti di pengadilan. Beberapa pemberitaan bahkan menyebut hal-hal detil seperti bahasa yang digunakan dalam percakapan antara Vero dan “good friend” nya, dan bagaimana nama kontak berubah dari nama asli menjadi “Medan Elang”. Bahkan salah satu media menyebutkan, ketika membezuk Ahok di penjara, Vero masih sempat melakukan video call dengan “good friend” nya ini sampai mendapatkan teguran dari Ahok.

Apa yang bisa kita pelajari dari perceraian Ahok dan Vero yang mengejutkan dan membuat banyak pihak merasa prihatin ini?


Pertama, butuh dua orang untuk menikah, butuh kesalahan dua orang untuk bercerai

Dalam kasus perceraian Ahok-Vero, mudah sekali untuk menumpahkan semua kesalahan pada pihak istri. Bukankah istri yang telah berselingkuh? Ya, memang demikian. Namun, kita perlu berpikir sedikit lebih jauh: mengapa seorang istri sampai berselingkuh? Adakah hal-hal tertentu yang tak mendapatkan perhatian dan tak terpenuhi oleh suaminya?

Sebagaimana pernikahan membutuhkan dua orang, menurut saya, perceraian juga membutuhkan kesalahan dua orang.

Tak layak kesalahan yang berujung perceraian hanya menjadi beban salah satu pihak saja. Walaupun orang bisa mengatakan bahwa bobot kesalahannya berbeda, namun tak ada satu pihak pun yang suci dari kesalahan, ketika pernikahan berujung pada perceraian.

Baca Juga: Hati-Hati, Ibu Rumah Tangga Baik-baik pun Bisa Berselingkuh karena 5 Hal Ini


Kedua, butuh usaha untuk mempertahankan pernikahan, demikian juga butuh usaha untuk sebuah perselingkuhan

Seperti tanaman yang membutuhkan perawatan, demikianlah pernikahan. Butuh usaha dan waktu yang disediakan untuk merawatnya. Tanpa usaha dan perawatan, pernikahan akan seperti tanaman di pot yang perlahan-lahan menjadi kering sampai pada akhirnya mati.

Demikian pula sebuah perselingkuhan. Jarang sekali sebuah perselingkuhan terjadi hanya dalam satu perjumpaan. Selalu ada perjumpaan kedua dan selanjutnya yang membuat perselingkuhan terjadi. Perjumpaan yang membuat keterbukaan makin melebar dan mendalam, sampai akhirnya berakhir pada sebuah hubungan yang tak seharusnya terjadi.

Dari hati yang diserahkan, hingga pada akhirnya tubuh yang diberikan. Ada proses yang relatif panjang di dalamnya.

Apakah kita menggunakan usaha dan waktu untuk merawat pernikahan atau membangun, secara diam-diam, sebuah perselingkuhan?

Baca Juga: Selingkuh Bukan Tanpa Alasan. Ini 3 Penyebab Tak Terduga Sebuah Perselingkuhan


Ketiga, pernikahan membentuk masa depan, sementara perceraian membutuhkan kesediaan untuk menata ulang masa depan

“Dengan siapa kamu menikah, ia akan membentuk masa depanmu,” begitulah nasihat pernikahan yang pernah saya dengar.

Seiring dengan waktu, saya makin menyetujui hal ini. Pernikahan membentuk masa depan kita. Itu sebabnya kehati-hatian dalam memilih pasangan, dan kesediaan untuk terus bertumbuh dalam relasi adalah dua hal mutlak yang menopang perjalanan hidup rumah tangga.

Sebaliknya, perceraian juga membutuhkan satu hal yang tak kalah penting: kesediaan menata ulang masa depan. Entah mereka yang bercerai akan menikah lagi, atau hidup sendiri. Ada masa depan yang harus ditata kembali, termasuk di dalamnya masa depan anak-anak.

Doa saya untuk Pak Ahok, Ibu Vero dan anak-anak. Selamat menata ulang masa depan bersama dengan Tuhan, Sang Pemberi Kesempatan Kedua.


Baca Juga:

Lima Belas Tahun Berselingkuh, Tak Ketahuan

Saya Kerja Setengah Mati, Istri Selingkuh dengan Teman Sendiri


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "3 Hal yang Saya Pelajari dari Perceraian Ahok-Vero". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

storyteller

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

Thanks Motivasi Kerja