15 Kali Berpindah Tempat Tinggal, 5 Seni Menjalani Hidup Saya Pelajari

Reflections & Inspirations

credit: moveon

673
Dunia ini adalah rumah sementara kita. Nantinya kita akan pindah ke rumah abadi!

Apakah saya punya pengalaman pindah rumah? Pastinya! Paling tidak saya pindah dari rumah orangtua ke rumah bapak kos. Tetapi kalau pindah-pindah rumah? Yup! Sejak menikah, kami sudah berpindah-pindah rumah kurang lebih 5 kali. Dan sebelum menikah, saya sendiri sudah berpindah tempat tinggal sebanyak 5 kali juga. Jika tempat asrama dihitung sebagai rumah, maka sudah dapat dipastikan lebih dari 15 kali saya tinggal di atap yang berbeda ... tapi, eittss...tunggu dulu...!

Pengalaman saya berpindah rumah ini tentu tidak seberapa jika dibandingkan dengan pengalaman beberapa rekan saya yang lain. Mereka sudah berpindah-pindah lebih sering dibandingkan saya.

Inilah 5 seni menjalani hidup dari pengalaman saya berpindah-pindah rumah tersebut.

1. Barang hanyalah sebuah benda.

Berkali-kali pindah membuat kami sadar dan belajar menerima bahwa barang-barang dalam rumah hanyalah sebuah benda. Setiap kali pindah, kami harus belajar menarik nafas panjang ketika melihat perabot rumah itu 'tewas' di depan mata kami sendiri akibat kecerobohan petugas yang membantu kami pindahan.

Baca juga: 7 Tindakan Orangtua yang Membuat Anak Betah di Rumah

'Mas, pelan-pelan aja, ya!" ... "Awas, Mas ...! Pelannnnn...!" Rasanya tidak kurang-kurang kami mengingatkan, tetapi ya...namanya juga manusia. Kan gak ada yang sempurna. Jika memang rusak, ya sudah. Kalau ada berkat, kami akan menabung dan beli lagi yang baru. (Tetapi ini bukan berarti kita menganggap barang yang rusak itu murahan lho ya ... sehingga kami bisa dengan mudahnya beli yang baru) Sesungguhnya inilah tagarnya: #belajarmerelakan!

i.ytimg

2. Lebih kreatif.

Kesadaran bahwa kami memiliki tempat yang tidak pernah tetap membuat kami kreatif. Bukan saja kami jadi tidak sembarangan membeli barang-barang yang bagus, namun kami bahkan juga belajar untuk meminimalkan barang dalam rumah tetapi memfungsikannya semaksimal mungkin. Ya! Seminimal mungkin, dan sedapat-dapatnya satu barang bisa multifungsi. Misalnya, meja belajar anak juga bisa dipakai sebagai meja setrika. Contoh lain: kami membuat tempat tidur angkat, karena memang ruang-ruang di rumah kecil, setiap pagi kami mengangkat ranjang untuk bisa berdiri menempel tembok dan lantai bisa dipakai untuk tempat bermain anak.

Baca juga: Banyak Orang Berpikir Seperti Saya : Uang, Rumah dan Mobil adalah Syarat Terciptanya Keluarga Bahagia. Ternyata Saya Salah!

Daya kreatifitas kami ini terbukti cukup teruji. Walaupun memang banyak barang yang dipindah, tapi jika dihitung, barang-barang kami yang tergolong besar jumlahnya tidak terlalu banyak. Ini memudahkan kami untuk berpindah ke tempat lainnya jika memang dibutuhkan.

Bukankah fungsi lebih utama dari hanya sekedar prestise?

(execu-move.co.za)


3. Melatih otot emosi

Masih segar rasanya dalam ingatan saya waktu ketika anak-anak belum lahir. Ketika itu kami berdua hanya berfokus pada proses pindahan. Maka tensi di antara kami cukup tinggi saat itu ketika letih tubuh berkolaborasi dengan emosi. Tetapi kali ini keadaan berubah--semakin buruk. Bagaimana tidak, kini anak-anak sudah cukup besar; usia mereka 8 tahun dan 4 tahun. Ini adalah usia-usia yang sedang senang-senangnya bermain. Apa saja bisa jadi mainan.

Saat kami sibuk membereskan barang-barang, anak-anak kami pun tidak mau kalah. Mereka membuat semua yang rapi menjadi berantakan lagi. Ada saja tingkah mereka. Dan tentunya ini membuat otot emosi kami semakin terlatih...'

"Yang sabar ya, Joy ..." Itulah nasehat saya kepada diri sendiri.

(hinditech.buzz)

4. Menemukan harta karun

Yes! Harta karun! Bagaimana tidak? Setiap kali bongkar barang untuk dibawa pindah, selalu saja ada momen istimewa ketika saya hanya bisa terduduk diam sambil menatap sebuah barang. Pernah suatu kali ini saya memegang sebuah album foto yang lusuh. Dalam hati saya berkata, "Nah, ini yang saya cari dari dulu!" Seketika waktu seakan berputar kembali. Senyum dan tangis haru mendera perasaan saya saat menemukan benda-benda berharga yang bersejarah.

Benda-benda kenangan. Benda yang mungkin di dapat dari gaji pertama, atau mainan anak yang (dahulu) termahal yang pernah kami beli, atau barang-barang lainnya menjadi harta karun yang penting dalam hidup.

Ternyata berpindah-pindah rumah dapat terus mengingatkan kita kalau hidup itu terus berjalan. Sebuah barang menyimpang kenangan. Dan kenangan yang tak mungkin dibayar oleh apa pun. Kenangan seakan membangunkan kita dari sebuah fakta, yaitu, waktu yang tak bisa diputar kembali.

(hksilicon.com)

5. Kesementaraan

Seseorang pernah mengajarkan bahwa derita manusia terjadi karena kemelekatan diri pada dunia. Dan cara seorang bahagia adalah dengan melepaskan keinginan untuk apa yang dunia tawarkan. Berpindah-pindah rumah seakan menjadi sebuah tanda pengingat akan kesementaraan. Deon, anak pertama kami pernah bertanya, "Kita kok pindah-pindah terus sih?", dan saya pun dengan cepat merespon dengan menjelaskan padanya apakah arti hidup.

Hidup itu bukan apa yang kita miliki, tapi siapa yang memiliki kita.

Satu kali kita akan pindah dari 'rumah' di dunia kepada rumah yang kekal. Dunia ini bukan rumah kita. Jika sudah menemukan rumah yang sesungguhnya, maka betapa bahagianya kita saat waktu itu pun tiba. Sekarang tagarnya adalah: #pulangrumah

(philnews.ph)


Ingin membaca artikel menarik lainnya? Klik di sini:

Kelelahan dan Stres adalah Tanda bahwa Peran Rumah yang Terpenting ini Telah Terabaikan

Waspada! Inilah 6 Masalah Keuangan yang Dapat Menghancurkan Kebahagiaan Rumah Tangga



 -

Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "15 Kali Berpindah Tempat Tinggal, 5 Seni Menjalani Hidup Saya Pelajari". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Joy Manik | @joymanik428

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar