Yang Terlupakan di Balik Apa yang Sering Kita Sebut 'Kebetulan'

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Diego Hernandez]

1.8K
Sesungguhnya, kebetulan-kebetulan menyenangkan bukanlah sesuatu yang gratis.


Kadang kala saya heran dengan hal-hal yang secara kebetulan terjadi dalam hidup ini.


Bayangkan situasi seperti ini.

Selepas makan di sebuah restoran, saya baru menyadari dompet saya tertinggal di rumah. Saya sama sekali tak membawa uang, kecuali uang receh untuk parkir di mobil, dan tak punya tanda pengenal apa pun untuk ditinggalkan sebagai jaminan untuk pemilik restoran.

Dalam kebingungan, saya berencana untuk menelepon teman yang tinggal tak terlalu jauh dari restoran tersebut. Tujuannya? Jelas untuk meminjam sejumlah uang dan memintanya mengantar ke restoran. Merepotkan orang lain, bukan?

Ketika saya sedang menuliskan pesan untuknya melalui WhatsApp, seseorang menyapa, ”Pak Wepe sendirian saja? Sudah selesai makannya? Saya bayarin, ya?”

Saya mengarahkan pandangan pada orang tersebut, menjabat tangannya, sambil mengucapkan terima kasih berulang kali.

Sebuah kebetulan yang indah, bukan? Apakah Anda pernah mengalami hal yang seperti ini? Menyenangkan, bukan?


*


Berjalan cepat, saya menarik koper memasuki sebuah hotel. Saya harus melewati lorong yang panjang dengan beberapa belokan sebelum tiba di kamar. Karpet tebal menutup lantai lorong hotel, membuat roda koper tak bisa bergerak dengan lincah. Mungkin saya yang bergerak terlalu cepat dan tak memegang koper itu erat-erat. Tas saya terjatuh.

Saya terpaksa menunduk untuk mengambil tas yang terjatuh di depan pintu sebuah kamar. Ketika saya jongkok untuk mengangkat koper yang terjatuh itu, pintu kamar di depan saya terbuka. Saya mendongak, melihat seorang perempuan membuka pintu.

Aroma parfum segera menyerbu indra penciuman saya. Pakaian ketat yang digunakannya tak mampu menyembunyikan keindahan bentuk tubuhnya. Ia berjalan keluar, melewati saya, sambil memegang sejumlah uang yang kemudian dimasukkannya ke dalam dompet. Saya tak mengenal siapa perempuan itu.

Namun, saya mengenal dengan baik pria yang berdiri di balik pintu.

”Loh, Wepe, kamu di sini juga?”

“Itu tadi siapa?” begitu jawab saya.

“Biasalah, namanya juga laki-laki. Perlu variasi, apalagi lagi sendiri,” tuturnya dengan suara setengah berbisik.

Sungguh sebuah kebetulan yang mengejutkan! Apakah Anda pernah mengalami yang seperti ini?


**


Di dalam kamar.

Saat saya sedang mempertimbangkan apakah perlu menghubungi istri dari si pria - kenalan saya itu, sebuah pesan masuk melalui WhatsApp. Ternyata dari pria tadi. Ia mengajak saya ngopi di lobby hotel.

”Tolong ya, ga perlu kasih tahu istri,” itu kalimat yang pertama keluar dari bibirnya.

”Kamu takut kalau istrimu tahu?” tanya saya sambil meraih buku menu.

Engga, lah. Sama sekali engga takut!” pria itu mengangkat tangannya, memanggil pelayan.

Saya memahami, tak mudah bagi pria untuk mengakui rasa takutnya. Maka saya bertanya balik, ”Jadi, mengapa?”

”Ah, ia sudah bosen denger laporan kayak gini. Sudah sering dan tak akan mengubah apa pun. Tak ada gunanya ditambahin lagi dengan apa yang terjadi hari ini,” jawabnya.

”Oh, begitu, ya,” perlahan saya letakkan buku menu di meja.

”Iya, saya ini termasuk pria yang beruntung. Kebetulan saya dapat istri yang luar biasa baik dan sabar, walau saya termasuk suka ’nakal’ juga,” ujarnya dengan senyum yang kemudian terkembang di wajahnya.


***


Lupa tak membawa dompet, eh kebetulan bertemu dengan orang yang dengan sukarela membayari tagihan saya di restoran. Suka ’nakal’, eh kebetulan punya istri yang sabar dan luar biasa baik.

Saya rasa kebetulan-kebetulan di dalam hidup ini menjadi menyenangkan, karena ada orang lain yang membayar harganya.

Orang yang mengeluarkan uang lebih untuk membayar pesanan kita. Istri yang tentu saja terluka, penuh air mata dan kecewa, namun memilih untuk mengampuni.

Sesungguhnya, kebetulan-kebetulan menyenangkan bukanlah sesuatu yang gratis. Orang lain telah membayar harganya.

Kita menikmatinya begitu saja, sampai kadang lupa, ada yang sudah membayarnya. Tak jarang dengan air mata dan luka.



Baca Juga:

Sepenuh Hati Saya Mencintainya, Ternyata Ia Tidur dengan Lelaki Lain

Tidak Perlu Sempurna untuk Bisa Bahagia. Hidup Bahagia, Satu Ini Saja Rahasianya

Adakalanya Mencintai Berarti Merelakan yang Tercinta Hidup Bersama Orang Lain



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Yang Terlupakan di Balik Apa yang Sering Kita Sebut 'Kebetulan'". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Bambang Ongdhika | @kakabam10

Tidak ada kebetulan karena pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat