Yang Terjadi setelah Saya Mengetahui dengan Pasti: Suami Saya Pecandu Pornografi

Marriage

[Image: verilymag.com]

7.6K
Jika sekarang Anda tahu suami Anda terlibat pornografi, apa yang akan Anda lakukan?

Motivasi Saya Menulis

Saya sadar saya punya banyak teman, tapi ketika mengalami persoalan ini, saya malu untuk cerita pada mereka. Saya merasa gagal sebagai istri. Buku, bukan manusia, yang saya dekati untuk menjadi teman berbagi persoalan. Karena itu sekarang saya tulis pengalaman saya supaya bila ada yang sedang mengalami persoalan ini, bisa baca dan mendapat teman berbagi persoalan.

Saya sadar persoalan Anda tidak sepenuhnya sama dengan persoalan saya. Akan tetapi Anda bisa ambil makna yang saya sarikan dari persoalan saya untuk menjadi pegangan menghadapi persoalan sendiri.

Selamat membaca!



-------

Seorang istri bercerita pada saya, dia sedang mengalami konflik dengan suaminya, Dia mengeluh, suaminya 'cuek' terhadap dia, terhadap anak-anak, terhadap urusan rumah tangga mereka. Bahwa dia, si istri, sekarang ini harus mengurus semua urusan rumah tangga sendirian. "Pernikahan macam apa yang seperti ini?" demikian kata istri ini.

Pernikahan itu dua orang [suami dan istri] mengurus satu rumah tangga. Bila tidak demikian, timbul konflik. Istri terlalu dominan, konflik. Suami terlalu dominan, konflik. Istri terlalu bergantung, konflik. Suami terlalu bergantung, konflik. Istri terlalu cuek, konflik. Suami terlalu cuek, konflik. Apakah Anda setuju?

Saya bahkan punya nama tersendiri untuk fenomena-fenomena itu:

Suami terlalu dominan = menikahi pria otoriter;

Suami terlalu bergantung = menikahi anak mami;

Suami terlalu cuek = menikahi pecandu pornografi.

Lalu saya beranikan diri bertanya kepada istri ini, "Apa suamimu terlibat pornografi?"

Istri ini menjawab, "Iya. Waktu menikah, waktu kami masih tinggal di rumah mertua, aku sudah menemukan beberapa CD pornografi. Aku pikir biasa laki-laki begitu. Tapi ..."

Nah! Benar, bukan? Saya tidak asal tebak!

Salah satu pola/jejak yang ditinggalkan pecandu pornografi adalah sikap cuek.

Seperti yang telah saya ceritakan di atas, pada saat mengalami persoalan ini, teman saya adalah buku. Buku yang saya baca kala itu berjudul Affair of The Mind, tulisan Laurie Hall, seorang istri yang bersuamikan seorang pecandu pornografi. Laurie menulis dengan baik tentang fenomena sikap cuek ini.

Peringatan:

Untuk para istri, mohon diingat bahwa ini hanyalah salah satu fenomena, untuk setiap kasus perlu diselidiki akar masalahnya. Mohon dimengerti juga, suami cuek/diam jangan langsung dihakimi, “Suamiku ini pasti pecandu pornografi.”

-------

Para istri, jika sekarang Anda tahu suami Anda terlibat pornografi, apa yang harus Anda lakukan?



Besarkan Hati!

Suami saya punya ruangan pribadi di rumah. Sebuah ruangan tempatnya mendengar musik, main komputer: urus desain [waktu persoalan ini terjadi suami bekerja di bidang desain grafis dan cetak], main game. Bergadang.

Saya bisa menebak arah pikir Anda. Anda akan berkata pada saya, "Jangan bolehkan suami punya ruangan pribadi!" Tunggu dulu. Saya sudah cerita soal fenomena dan akar masalah, bukan? Kira-kira punya ruangan sendiri di rumah itu fenomena atau akar masalah?

Di titik ini, Anda mungkin tergoda untuk bertanya, “Kenapa saya harus menghadapi persoalan ini?” Anda bisa saja tidak terima bahkan menyangkali, “Tidak, lah! Mungkin saya keliru.” Nyatanya, Anda sedang membaca tulisan saya. Anda ingin keluar dari persoalan ini, bukan? Dan kalau bisa, keluar secepat mungkin.

Jadi, lakukanlah langkah pertama ini:
Besarkan hati. Hati Anda besar, ada tempat untuk persoalan. Terima persoalan ini.

Saya melakukannya. Bagaimana saya membesarkan hati? Dengan masuk ke ruangan suami. Saya berdoa, “Tuhan, saya siap. Saya sudah besarkan hati. Tolong tunjukkan pada saya.”

Sebuah suara kemudian muncul di pikiran saya, “Di kotak!”

Di ruangan pribadi suami saya ada sebuah peti. Isinya? Saya tidak pernah tahu, hingga saat itu. Saya sebenarnya ingin tapi tidak ingin, atau sebenarnya tidak ingin tapi ingin mengetahui apa isinya. Campur aduk. Begitulah perasaan saya.

Selama ini saya tidak tahu di mana suami saya meletakkan kunci peti rahasia itu. Akan tetapi hari itu, saya menemukannya. Di dalam kotak, ada kuncinya.

Sekarang saya tahu dengan pasti, suami saya pecandu pornografi. Saya punya bukti.

Saya menangis. Menangis.

Dan menangis.



Izinkan Diri Merasakan Semua Perasaan yang Muncul

Tidak perlu bermain tebak-tebakkan di sini. Saya akan beberkan apa yang saya rasakan, agar para istri tidak merasa berjuang sendirian dan para suami bisa memikirkan ulang.

Wahai suami, pornografi bukanlah masalahmu pribadi, pornografi berdampak kepada istrimu. Pornografi menyakiti istrimu.

Saya merasa sedih dan kecewa. Ternyata selain diri saya, suami saya melihat banyak wanita lain telanjang dengan matanya.

Saya merasa marah. Betapa tidak adil, saya telah menjaga kesucian, tidak berhubungan dengan laki-laki lain, tidak menonton tayangan porno. Tubuh dan hati saya hanya untuk suami seorang.

Saya merasa takut dan curiga. Jangan-jangan, selain menonton tayangan porno, suami juga berhubungan intim dengan wanita lain.

“Apa saya kurang menarik?” tanya saya pada diri sendiri, putus asa. Tidak berharga.

Ada juga dendam. Saya geram, ingin rasanya membalas perbuatan suami. Apa yang diperbuatnya sungguh jahat!

Saya ini seorang pengadu. Setiap ada persoalan, ingin rasanya saya mengadu. Tapi, saya ingatkan para istri, kepada siapa Anda mengadu itu penting sekali. Saya tidak mengadu kepada keluarga, atau teman, atau publik [lewat media sosial], juga tidak mengadu lewat tingkah laku. Begini maksud saya mengadu lewat tingkah laku: setelah mendapatkan konfirmasi tentang kecanduan suami akan pornografi, saya tidak lantas heboh berdandan, belanja membabi buta, bergenit-genit, operasi plastik, melakukan treatment pelangsingan. Tidak.

Suami saya pecandu pornografi. Saya merasa tidak berharga. Lihat kaitannya dengan tingkah laku yang saya sebutkan di atas? Sebagai orang yang sedang merasa tidak berharga, dalam diri saya muncul kebutuhan untuk merasa berharga. Apa yang bisa membuat saya berharga melawan adiksi pornografi suami? Kalau saya merasa cantik secara fisik! Usaha-usaha menjadi cantik adalah cara mengadu lewat tindakan.

Lalu, kepada siapa saya mengadu?
Kepada IA yang menciptakan saya.

Logis sekali, bukan? Saya frustrasi, apa yang saya harapkan tak sesuai dengan apa yang saya dapatkan. Saya hancur, butuh diperbaiki. Siapa yang harus saya cari? Pencipta saya.



Carilah Tuhan, Penciptamu

Apa isi pembicaraan saya berdua dengan Tuhan di kamar kala itu?

Saya bilang, saya sedih. Tuhan pasti tahu, wong saya bilangnya sambil menangis. Saya marah! Tuhan pasti tahu, wong saya ngomongnya sambil teriak. Saya mengadu, merasa diperlakukan tidak adil. Saya terus terang bilang pada-Nya, “Ini tidak adil. Apa-apaan! Saya tidak macam-macam, saya lurus. Saya mau suami saya juga sama.” Saya tahu, Tuhan tahu itu.

Yang ini, saya tidak ngomong, tapi saya yakin Tuhan juga tahu. Bahwa di dalam pikiran saya, datang dan pergi pertanyaan-pertanyaan ini. “Apa saya kurang menarik?”, “Apa perut saya yang kurang langsing ini yang membuat suami saya mencari foto wanita lain, yang langsing?”

Saya juga tidak bilang ini, tapi Dia yang Mahatahu, pasti tahu. Bahwa pikiran saya mulai merancangkan pembalasan dendam pada suami. Bagaimana jika saya menolak berhubungan intim? Bagaimana jika saya bergenit-genit? Saya ini masih menarik, lho!

Sekarang tahu, kan, mengapa saat pikiran tidak jernih, kita harus datang pada Tuhan dan bukan pada yang lain?

Oke, tarik napas dalam dulu. Mari berhenti sejenak.

...

...

Waktu itu, saya juga mengambil langkah ini. Berhenti sejenak sambil menimbang-nimbang, apa yang sebaiknya saya lakukan, apa langkah saya selanjutnya?

Saya kemudian memutuskan untuk menceritakan permasalahan saya. Sekali lagi, para istri, seperti juga kepada siapa kita mengadu itu penting, kepada siapa kita bercerita juga penting. Saya memilih mertua saya: papa dan mama suami saya.



Carilah Dukungan Orang yang Tepat [Konselor, yang Punya Reputasi Baik tentang Pernikahannya Sendiri]

Saya tidak menemui konselor pernikahan karena ada dalam lingkungan keluarga kami orang yang saya anggap punya pernikahan yang baik, menginginkan keutuhan rumah tangga kami, dan cukup dekat dengan kami: mertua.

Apa yang selanjutnya terjadi?

Mertua saya mengkonfrontasi anaknya habis-habisan dan anaknya menyangkali perbuatannya mati-matian.

Tadi sudah saya peringatkan agar berhati-hati dan mencari orang yang tepat? Temuilah konselor pernikahan yang punya reputasi baik terkait pernikahannya sendiri.

Sebetulnya, saya hanya berharap mertua mendukung saya lewat doa, supaya saya tetap waras menghadapi permasalahan. Namun yang terjadi? Mertua menyuruh saya memarahi suami. Tadi sudah saya peringatkan, ya, para istri? Ah, sudah, ya.

Meskipun demikian, setidaknya pernyataan saya kepada mertua menyembuhkan saya, “Kalau menyelesaikan persoalan ini segampang membalikkan telapak tangan, sudah dari dulu persoalan ini beres. Saya sudah marah-marah sampai berbusa-busa. Tolong Papa Mama tetap doakan saya, ya.”

Akhirnya, saya datang pada konselor pernikahan yang sesungguhnya, lagi-lagi, buku. Saya membaca berulang dan berulang dan berulang-ulang kali dua buku tulisan Dr. Kevin Leman, seorang psikolog spesialis keluarga: Seks Dimulai dari Dapur dan Have an Excellent Husband in 5 Days.

Tadi saya bilang, pernyataan saya menyembuhkan diri saya sendiri, ya? Itu benar. Saya menyadari bahwa marah-marah tidak akan membereskan persoalan saya. Jadi, logisnya gimana? Ya, saya tidak marah-marah. Apakah saya bisa tidak marah-marah? Tidak bisa.

Saya frustrasi.

Mari berhenti lagi sejenak.

...

...

Ketika itu saya ingat, saya juga berhenti. Terhenti, tepatnya. Saya merasa amat buntu, tidak bisa berpikir dengan baik. Sudah saya katakan, bukan, saya membaca buku itu berulang? Ya, berulang, berulang, dan berulang-ulang kali.

Lalu sekarang, apa yang saya inginkan? Saya ingin suami saya lurus.

Apakah itu realistis? Hmm … Tidak.

Supaya bisa dicapai, keinginan itu harus realistis. Oke, logis!

Jadi, saya harus ubah keinginan saya, ya? Baiklah.

Saya ingin suami saya lurus? Hmmm … Tidak lagi.

Saya ingin suami saya. Itu saja. Saya ingin suami saya.



Ubahlah yang Bisa Diubah, Terimalah yang Tidak Bisa Diubah. Mintalah kepada Tuhan Kebijaksaan untuk Membedakannya

Buku Dr. Leman amat menolong saya. Saya belajar mengenali suami saya, kebutuhannya, bagaimana cara menjawab kebutuhan suami, dan banyak hal lain lewat bukunya. Saya sudah katakan, kan, saya mengubah keinginan saya? Ya betul, keinginan saya sekarang adalah ingin suami saya. Saya mau suami saya. Saya yang mau lho, ya, tidak dipaksa. Sekali lagi, yang saya mau apa? Suami saya. Suami yang bagaimana? Suami saya. Itu saja.

:]

Bagaimana, masih berminat membaca kisah saya?

Saya pikir semua orang menunggu akhir yang indah. Sayangnya, tak semua kisah berakhir indah. Tapi saya janji, cerita yang satu ini akan punya akhir yang indah.



Persoalan: Tidak Berakhir, tapi Ada Di Belakang

Kapan persoalan saya berakhir? Maaf jika Anda kecewa, tapi persoalan saya tidak pernah berakhir.

Namun, ini yang kini terjadi:

Suami saya sudah meninggalkan ruangan pribadinya di rumah. Sekarang ruangan itu telah saya alihfungsikan. Suami meninggalkan ruangannya dengan kerelaan hati. Saya tidak marah-marah. Kami tidak membuat persoalan baru dalam rumah tangga kami.

Saya tidak operasi plastik, treatment pelangsingan, atau belanja banyak baju yang akhirnya tidak terpakai. Saya masih saya, 100 persen orisinal. Saya juga tidak bergenit-genit dengan pria lain.

Ini yang saya yakini,
menimbulkan persoalan baru bukanlah cara untuk menyelesaikan persoalan.

Bagaimana dengan ancaman menolak ajakan berhubungan intim? Apakah saya jadi melaksanakan ancaman saya? Tidak. Namun, saya paham sekali perasaan para istri. Harus saya garis bawahi poin ini: bersikap biasa itu sulit. Karena bersikap biasa sulit, saya bersikap luar biasa. Bagaimana caranya? Saya berdoa setiap kali kami berhubungan suami-istri. Sementara di waktu yang sama, dalam kepala saya berputar layaknya film yang tak pernah selesai, gambaran suami saya melihat perempuan-perempuan lain telanjang. Bagian ini memang menyakitkan. Namun setidaknya tidak timbul persoalan baru di antara kami.

Kenali suami, kebutuhan suami dan bagaimana menjawab kebutuhan suami, itu yang saya baca, pelajari dan terus sibuk kerjakan. Saya yang sekarang bukan lagi saya yang dulu marah-marah.

Ya, saya sudah berjalan sejauh itu. Persoalan, kini ada di belakang saya.



Inilah Happy Ending Saya

Semua orang suka happy ending, bukan? Pun saya! Inilah happy ending saya:

Suami saya menulis satu pernyataan pendek: “Istri saya tidak suka saya terlibat pornografi.”

Setiap kali seorang suami mengeluhkan soal istrinya kepada suami saya, suami saya berkata, “Istriku tidak begitu.” Bagi saya, itu pujian.

Suami saya memanggil saya dengan panggilan sayang, seperti saat kami pacaran dulu.

Perhatian suami saya kembali. Salah satu yang direbut pornografi adalah perhatian. Pornografi merebut perhatian seorang suami dari keluarganya, perhatian seorang pelajar dari studinya. Dan itu amatlah mengerikan.

Masih ingat rencana saya berusaha cantik? Masih ingat juga bukan, saya pada akhirnya tidak melakukan apa-apa? Namun apa yang terjadi? Suami memuji saya cantik, mertua memuji saya cantik, ipar memuji saya cantik, orang yang tidak saya kenal pun memuji saya cantik. Saya percaya, Tuhan sengaja taruh malaikat-malaikat pemuji untuk memulihkan percaya diri saya.

Kami punya kehidupan seks yang memuaskan. [Tentu masih ingat soal ancaman menolak hubungan intim, kan.]

Saya mendorong Anda memperhatikan fenomena apa yang terjadi dalam rumah tangga Anda. Saya tidak mendorong Anda untuk membuka-buka HP pasangan, meneliti tagihan dan bon belanja, atau membaui pakaian pasangan. Izinkan pasangan merasa tenang [tidak merasa dituduh] sekalipun ada kecurigaan. Saya hanya masuk ke ruangan pribadi suami untuk memastikan apa yang sesungguhnya sedang terjadi.

Belajar kenali pasangan, kebutuhan pasangan, dan bagaimana menjawab kebutuhan itu. Itulah yang perlu kita semua lakukan. Lakukanlah dengan begitu baik, sehingga jika ada sebuah fenomena tak biasa muncul, kita dapat mengenali dan mengatasinya dengan segera, sebelum persoalan menjadi parah.

Terakhir. Kini, setiap pukul lima pagi, saya bangun untuk mengobrol dengan Tuhan. Tentang suami, saya, dan hal-hal lain, apa saja. Tidak perlu lagi saya katakan di sini bagaimana saya telah mengalami, betapa Tuhan sungguh-sungguh mengerti.



Dari RibutRukun tentang Pornografi dalam Pernikahan:

Pornografi dan Masturbasi Tak Berbahaya? Jangan Salah, Inilah 5 Cara Keduanya Merusak Relasi Suami Istri

Pornografi dan Pengaruhnya terhadap Keintiman Hubungan: 3 Mitos Populer ini Ternyata Keliru

Suami Kecanduan Pornografi? Istri, Tugas Pertamamu Bukanlah Menolongnya. Lakukan 5 Hal Penting Ini

Ingin Menolong Pasangan yang Kecanduan Pornografi? Lakukan 3 Langkah Ini setelah Anda Menolong Diri Sendiri

Lepas Diri dari Kecanduan Pornografi dan Masturbasi Bukanlah Kemustahilan. Lakukan 3 Langkah Mendasar Ini!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Yang Terjadi setelah Saya Mengetahui dengan Pasti: Suami Saya Pecandu Pornografi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Tanpa Nama | @TanpaNama

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar