Yakin Sudah Siap Menikah? Inilah 5 Kenyataan yang Harus Kamu Ketahui sebelum Memasuki Gerbang Pernikahan

Singleness & Dating

15.4K
Menikah itu seperti seorang yang akan buang air ke kamar mandi. Tergesa-gesa ingin segera masuk. Tetapi setelah masuk dan buang air, seketika ingin segera keluar dari sana!

Seorang pernah berkata, “Menikah itu seperti seorang yang akan buang air ke kamar mandi. Tergesa-gesa ingin segera masuk. Tetapi setelah masuk dan buang air, seketika ingin segera keluar dari sana!” Saya spontan tertawa ketika pertama kali mendengar kalimat ini, tetapi dari beberapa pasangan yang datang untuk berbagi kisah pernikahan mereka kepada saya, saya kemudian sadar bahwa kalimat di atas mungkin benar, beberapa orang memang sedang ingin keluar dari ‘kamar mandi’ itu.

Artikel ini ditulis dari sebuah dorongan kuat untuk berbagi pelajaran kepada adik-adik yang akan dan baru saja menikah, sekaligus menjadi sebuah refleksi pribadi bagi saya dan istri untuk bahtera pernikahan yang sedang kami arungi bersama.

Inilah 5 refleksi hidup bagi sebuah pernikahan yang langgeng:


1. Teori Cermin

Cermin sangat menolong untuk membenahi hal-hal yang kita rasa kurang baik dalam penampilan atau wajah kita. Untuk kegunaan itu, benda ini tentu saja sangat berguna. Namun, cermin juga bisa memberikan dampak negatif. Cermin kadang mendorong kita untuk melihat apa yang kita mau lihat saja, bukan apa yang orang lain ingin lihat.

Fenomena cermin ini seringkali terjadi dalam pernikahan. Kita melihat apa yang telah biasa kita lihat melalui keluarga di mana kita lahir dan bertumbuh dan kemudian menjadikannya sebagai standar sebuah pernikahan. Ya, kita kadang menjadikan orangtua sebagai standar bagi kita dalam menentukan dan mengambil sebuah keputusan.


“Yang pegang uang itu harusnya perempuan. Itu yang biasanya kami lakukan di rumah,” ujar sang istri.

Sang suami kemudian menjawab, “Engga gitu! Yang cari uang juga harus ikut ngatur dong! Papah khan udah bilang gitu!”

***

“Di keluarga kita tuh kita diajarin, kalau mau pergi itu harus bilang-bilang. Itu namanya sopan santun. Masak pergi terus datang kayak setan gitu, gak ngomong apa-apa!’

Suami pun menyahut, “Gak penting banget sih? Saya dulu di rumah gak gitu-gitu banget!”


Teori cermin membuat kita melihat keluarga atau pernikahan dari satu sisi: seperti apa yang kita pernah lihat dan alami. Dan sadar atau tidak, kita akhirnya menjadikan hal tersebut sebuah aturan yang tidak bisa dikompromikan.

Sadarilah bahwa Anda adalah pribadi yang berbeda dengan ayah atau ibu Anda. Berpikirlah ‘out of the box’ dan bangunlah keluarga atau pernikahan dengan kerja sama dan komunikasi di antara Anda dan pasangan. Keluarga bisa menjadi referensi, tetapi jangan jadikan itu hukum utama. Andalah yang memiliki peran utama dalam pernikahan Anda.

Tidak salah jika Anda berubah menjadi orang yang berbeda setelah menikah. Karena itulah memang salah satu fungsi pernikahan: membuat Anda berubah! Berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dewasa.



2. Teori Pipa Tandon

Kebanyakan rumah menggunakan tandon air sebagai wadah untuk menampung air dari PAM. Suatu kali, istri saya mengeluh karena air di rumah kami kadang bercampur dengan lumut. Kami kemudian bergegas menguras tandon tersebut. Namun, setelah dikuras air tetap saja tidak sejernih biasanya. Akhirnya kami memanggil ahli untuk memeriksa. Sumber masalah pun akhirnya ditemukan: pipa yang menyalurkan air itu sudah sangat kotor dan harus diganti.

Cinta itu ibarat air dalam tandon yang jernih dan bersih. Sedangkan hati, ibarat pipa yang menyalurkan cinta itu. Seringkali cinta kita menjadi tidak lagi jernih karena hati kita masih kotor, ‘berlumut’.

Ketahuilah ini: kisah cinta masa lalu, pengalaman traumatis, bahkan dendam dan sakit hati yang belum terselesaikan dapat merusak keharmonisan dalam pernikahan.

[Image: releaseyourbaggage.com]

Seorang pacar menjadi posesif mungkin bukan karena dia memang demikian, tetapi bisa saja karena ketakutan akan pengkhianatan yang pernah ia alami sebelumnya. Mungkin juga kamu atau pasanganmu selalu dihantui perasaan takut tertolak atau takut terluka - akibat pengalaman masa lalu, sehingga enggan untuk berbicara mengenai pernikahan atau komitmen yang lebih serius. Padahal kalian sudah menjalani masa berkenalan yang cukup lama. Mungkin ada juga perasaan-perasaan lain yang seakan menghantui dan membuatmu tidak nyaman. Apa pun desakan atau tekanan yang kamu alami, jika kamu masih merasakan hal-hal di atas, ada baiknya kamu menunda rencana pernikahan. Namun, jika sudah menikah, tidak apa-apa. Tidak ada kata terlambat. Carilah orang yang bisa kamu percayai dan berbagilah dengannya tentang apa yang pernah kamu alami.

Bersihkan pipa itu sebelum orang lain hanya akan menimba air kotor - keluar dari hati kita. Lakukan pemulihan hati. Bangkit dan mulailah menata cinta untuk masa depan yang lebih baik!

Baca Juga: Saya Ingin Menikah, tapi Tidak Karena Alasan-Alasan yang Keliru Seperti ini



3. Teori Kincir Angin

Tetangga kami sangat menyenangi kincir angin yang terbuat dari kertas. Dan, yang menarik, dia selalu membuat dan menaruh kincir angin di atas gerbang halaman rumahnya. Setiap orang yang melintas akan dapat melihatnya, termasuk saya dan anak-anak, yang tiap pagi berjalan bersama melintasi rumahnya.

Mengamati kincir angin tersebut, Deon, anak pertama kami bertanya, “Kok muternya gak sama sih, Pah? Kadang-kadang cepat, terus tiba-tiba berhenti!"

Saya menjawab, “Itu karena anginnya selalu berubah, Bang!”

Hubungan, sama halnya dengan kincir, berputar dengan arah dan kecepatan yang tak selalu sama. Dalam sebuah hubungan pasti akan ada perubahan. Pelukan mesra, bunga yang cantik, kejutan-kejutan yang kita alami saat berpacaran atau masa-masa awal pernikahan bisa jadi juga ikut berubah. Dan itu normal.

Karena perasaan pasti akan berubah seiring dengan situasi atau kondisi, itulah sebabnya pernikahan didasarkan pada sebuah komitmen, bukan perasaan atau bahkan situasi.

Komitmen adalah suatu janji untuk selalu menempatkan Tuhan dan pasangan kita di atas kepentingan dan kemauan diri kita sendiri. Komitmen juga adalah kunci untuk bisa melalui setiap pertikaian dan konflik yang pasti akan timbul karena perubahan-perubahan yang terjadi.

[Image: ributrukun.com]

Bersiap untuk sebuah perubahan – baik perasaan atau situasi – akan menolong kita untuk lebih siap melanjutkan komitmen kita bersama dengan orang yang kita cintai. Mengetahui dan menyiapkan diri untuk mengalaminya akan lebih baik, ketimbang mengalaminya sebagai sebuah kejutan yang tidak menyenangkan.

Baca Juga: Kehidupan Setelah Menikah Tak Seindah Saat Pacaran? Jika Dulu Mengejar Pernikahan, Maka Kini Saatnya Memperjuangkan Hubungan



4. Teori Mata Air

“Jika Anda ingin berlari cepat, larilah sendirian. Tetapi jika Anda ingin berlari jauh, larilah bersama-sama!”

Kalimat ini baik untuk kita renungkan dalam meniti sebuah keluarga dan masa depan. Sama halnya dengan sebuah mata air yang tak pernah berhenti mengalir, demikianlah seharusnya cinta yang kita bina dalam sebuah komitmen pernikahan. Mata air yang mengering, berhenti mengalir, akan berdampak kepada lingkungan sekitar.

Jangan pernah berhenti mengalirkan ‘air’ - cinta kepada pasangan kita agar bahtera rumah tangga yang kita bina dapat terus melaju mengarungi samudera kehidupan - meski tak jarang diantam badai dan diempas ombak yang keras.

Pastikan kantong hati pengampunan Anda tidak pernah kosong, apalagi defisit! Tetap buka tangan Anda untuk merangkul Dia yang Anda cintai. Jangan pernah bosan mengatakan kata ‘Maaf’ dan belajarlah untuk menghargai setiap usaha yang pasangan kita lakukan untuk menjadi lebih baik, walaupun akhirnya tetap berujung pada kegagalan.

Cinta tidak pernah menjadi sempurna, ketika insan manusia yang tak sempurna terus berusaha untuk saling menyempurnakan dengan cinta.

"Kita bisa mencintai, karena Tuhan lebih dulu mencintai kita."

Baca Juga: Ketika Cinta Tak Sempurna, Bagaimana Menjalaninya Tanpa Lara?



5. Teori Bangunan

Sebuah bangunan yang berhasil didirikan pastilah melalui sebuah proses yang memakan waktu tak sedikit. Bukan hanya butuh ahli bangunan yang cakap, tetapi juga perlu bahan material yang baik. Tidak hanya bahan material yang baik, tetapi juga campuran bahan yang tepat. Intinya, hingga pada akhirnya bangunan itu tegak berdiri, semua hal dilakukan dengan penuh ketelitian dan dikerjakan dengan sebuah perencanaan yang baik.

Demikian juga dengan sebuah pernikahan. Pernikahan bukan sekadar ditentukan dengan pesta resepsi yang megah atau bulan madu yang indah. Pernikahan adalah sebuah perencanaan. Baik jangka pendek ataupun panjang. Jika pernikahan membutuhkan perencanaan, maka mulailah merencanakan dan membangun komunikasi yang baik dengan pasangan.

Musuh terbesar pernikahan adalah pemikiran bahwa pernikahan dapat terus berjalan tanpa sebuah rencana.

Bahwa pernikahan dapat terus berjalan tanpa 'material' yang terus menerus dicari, dikembangkan, dan dicampur dengan komposisi yang tepat.

[Image: bizhijidi.com]

Itulah sebabnya tak sedikit orang merasa pernikahan mereka telah menjadi dingin dan berjalan begitu saja. Banyak pasangan yang bahkan hanya asyik dengan kesibukan masing-masing. Mereka mungkin tak sadar, bangunan pernikahan mereka sedang goyah dan akan segera runtuh.

Perhatikan juga hal-hal kecil. Karena hal-hal kecil dalam sebuah bangunan seringnya berdampak besar terhadap bangunan itu sendiri.

"Perhatikan dan setialah dalam perkara kecil, maka kamu akan dipercaya dengan perkara yang besar."



Baca Juga:

Tak Seindah Dongeng, Inilah 3 Realita yang Saya Pelajari dari Kisah Cinta Orangtua Saya

4 Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh

2 Hal Sederhana yang Menciptakan Pernikahan Bahagia, Namun Terlupakan



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Yakin Sudah Siap Menikah? Inilah 5 Kenyataan yang Harus Kamu Ketahui sebelum Memasuki Gerbang Pernikahan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Joy Manik | @joymanik428

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar