Yakin Mau Balikan Sama Mantan? Pertimbangkan 3 Hal Penting Ini Sebelum Membuat Keputusan

Ex & Broken Hearts

[Image: understandingrelationships.com]

4.3K
“Aku pengen balikan sama kamu. Aku tahu terakhir kali itu aku yang salah. Dan aku juga salah lagi karena sudah mutusin kamu.” Seketika, terlintas 3 hal ini di pikiran sebelum akhirnya saya memberikan sebuah jawaban kepadanya.

Jumat sore. Mata kuliah terakhir baru saja selesai. Telepon genggam saya tiba-tiba berbunyi. Saya segera memeriksanya. Bukan sebuah panggilan telepon. Bukan pula bukan sebuah chat WhatsApp, BBM, atau Line. Kisah ini terjadi di suatu masa ketika fitur telepon genggam masih terbatas pada fungsi SMS dan telepon saja.

Ternyata sebuah pesan singkat.

Dari sebuah nomor yang saya beri nama khusus, “Sang Mantan”

Sebenarnya saya agak malas membuka dan membaca pesan dari nomor ini. Karena, terus terang, bagi saya tidak ada yang perlu dilanjutkan lagi dari hubungan kami yang telah berakhir itu. Namun, entah kenapa kali itu secara ajaib tangan saya refleks membuka pesan singkat itu.

“Nic, kalau masih di kampus ketemu donk. Aku pengen ngobrol. Aku lagi di kantin.”

Demikian. Singkat, padat, to the point.

...

“Ah, anak ini tau bener kalau aku masih di kampus,” batin saya.

Dengan langkah kurang bersemangat, saya memaksa diri berjalan menuju tempat yang ia maksud. Tidak jauh memang, karena fakultasnya berada persis di belakang fakultas saya. Sepuluh menit berjalan kaki saja jaraknya. Sampai di kantin, segera setelah memesan jus melon favorit saya, kami berpindah mencari tempat untuk bicara. Sebuah tempat yang agak private, teduh, dan tidak terlalu ramai oleh hiruk pikuk maba [mahasiswa baru] yang saat itu sedang menjalani masa orientasi.

Lima belas menit berlalu. Jus melon saya tinggal separuh. Namun, saya belum juga bisa menangkap inti ajakan bertemu sore itu. Ia nampaknya mencium gelagat saya yang sudah merasa nggak betah. Sambil menunduk, ia mengatakan rentetan kalimat ini dengan suara yang amat lirih namun tegas:

“Aku pengen balikan sama kamu. Aku tahu terakhir kali itu aku yang salah. Dan aku juga salah lagi karena sudah mutusin kamu.”

...

...

“Duh, bener kan ngajak balikan!” gumam saya dalam hati.

Sebagai gambaran, mantan saya ini cukup cantik. Ia adalah seorang wanita keturunan campuran Chinese-Indonesia dengan badan yang proporsional. Ia juga anggota salah satu agensi model di Surabaya saat itu.

Saya meminta waktu untuk berpikir sebelum memberikan jawaban atas pernyataanya itu. Namun, entah mengapa ia mendesak saya untuk segera memberikan jawaban. "Sekarang aja," pintanya.

Seketika, terlintas 3 hal ini di pikiran sebelum akhirnya saya memberikan sebuah jawaban kepadanya:


1. Apa yang Menyebabkan Relasi Berakhir

Saya ingat betul, kami dulu putus karena hal yang sangat sepele. Namun, mungkin karena saat itu kami sama-sama masih muda, hal sepele tersebut entah mengapa berubah menjadi hal yang seolah-olah sangat penting. Adrenalin yang mengalir dalam darah muda kami membuat masing-masing kami rela berjuang mati-matian, sampai titik darah penghabisan, demi mempertahankan posisi dan memenangkan pertengkaran.

Baca Juga: Relasi Bukanlah Permainan Apalagi Pertandingan. Tak Ada Menang Kalah, Hanya Kehancuran, jika Kita Mempermainkannya

Meskipun bertengkar, saya sebisa mungkin berupaya menghindari mengeluarkan kata-kata makian atau membawa-bawa soal fisik dalam argumen saya. Jadi, ketika dipikir-pikir lagi sekarang, sebenarnya agak lucu juga cara bertengkar kami saat itu.

Saya yakin betul hal seperti ini pasti dialami oleh setiap pasangan. Pertengkaran adalah “bumbu-bumbu relasi,” kata orang. Yang, tanpa itu, relasi dianggap jadi kurang nikmat dan sedap.

[Image: lmt-lss.com]

Nah, sebelum memutuskan menjawab, “Ayuk balikan,” atau “Maaf, saya nggak bisa,” mari ingat lagi hal apakah yang membuat relasi berakhir. Jika disebabkan oleh hal yang benar-benar sepele, atau hanya faktor ketidakdewasaan kedua belah pihak, rasanya relasi kalian berdua masih mungkin untuk diperbaiki dan dibangun kembali. Namun, jika relasi tersebut berakhir karena sesuatu yang bersifat prinsip [perbedaan agama atau suku, pengkhianatan] atau membahayakan jiwa [kekerasan dalam hubungan] lebih baik pertimbangkan lagi masak-masak.

Percuma melanjutkan relasi, jika akar permasalahan dari berakhirnya relasi yang terdahulu belum diselesaikan.

Pengulangan, itulah yang akan terjadi nantinya. Kalian berdua akan kembali saling menyakiti. Dan pastinya, akan ada hati yang sekali lagi terluka.

Baca Juga: Buat Kamu yang Sering Bertengkar dengan Pasangan, 10 Cara ini Bisa Membuat Harmonis Hubungan Cintamu



2. Kemauan Dua Belah Pihak untuk Saling Menyesuaikan Diri

Memutuskan untuk kembali menjalani relasi berarti juga menerima kemungkinan bahwa 'permasalahan' yang sama - yang pernah menyebabkan kalian berdua putus - dapat kembali muncul dan mengganggu jalannya hubungan. Oleh karena itu, penting untuk membuat semacam 'kesepakatan' dengan pasangan. Bagaimana cara terbaik untuk menyikapi perbedaan dan apa yang dapat dilakukan masing-masing pihak untuk membuat hubungan lebih 'nyaman' dijalani bersama.

“Lho yang salah kan dia? Kenapa aku juga harus berubah?

Inilah respons yang biasanya timbul. Apalagi jika salah satu pihak masih merasa sebagai korban dari kegagalan relasi sebelumnya. Ketahuilah, ini bukan sikap yang baik, terutama jika kalian berdua ingin memperbaiki hubungan. Kedua belah pihak perlu dengan rendah hati mengakui bahwa ada bagian kesalahannya pula dalam kegagalan relasi sebelumnya. Bahwa masing-masing perlu berubah, perlu menyesuaikan diri.

Jika pasanganmu bersedia berubah, itu adalah langkah awal yang amat baik. Sadari bahwa itu bukanlah hal yang mudah, penuh perjuangan. Hargai upayanya dengan memberi dukungan, baik lewat kata-kata, maupun dengan perbuatan nyata. Mengubah kebiasaan burukmu yang tak disukainya, misalnya.

Kesediaan untuk menyesuaikan diri adalah juga salah satu bentuk kasih.

Baca Juga: Tentang Kasih, Dua Pribadi Tak Sempurna, dan Perjuangan Menyempurnakan Kasih yang Mereka Punya



3. Pikirkan Masa Depan Relasi

Mau tidak mau kita memang harus memikirkan tentang hal ini. Percuma kan jika setelah balik ternyata relasi yang baru dibangun itu kandas lagi dalam hitungan bulan?

Coba bicarakan goal-goal apa saja yang ingin masing-masing capai dalam hidup ke depannya. Apakah tujuan ke depan kalian sama, atau malah sebaliknya, benar-benar berbeda? Lalu, jika ternyata benar-benar berbeda, bagaimana cara menyikapinya? Apakah kompromi bisa jadi salah satu pilihan?

Baca Juga: Yakin Sudah Siap Menikah? Inilah 5 Kenyataan yang Harus Kamu Ketahui sebelum Memasuki Gerbang Pernikahan


Dengan 3 hal di atas terus berputar-putar di dalam benak, saya akhirnya memberanikan diri membuat keputusan. Bukan berdasarkan ego semata, namun sebuah keputusan yang diambil demi kebaikan kami berdua ke depannya.

“Maaf saya nggak bisa. Kamu punya passion yang totally different dengan saya,” jawab saya.

Saya tahu jawaban tersebut membuatnya kecewa. Butiran air yang menetes dari matanya, turun perlahan membasahi pipinya menjadi bukti. Namun, tidak pernah saya menyesal pernah membuat keputusan itu. Saya tahu betul, itu pilihan terbaik untuk kami berdua.


[Image: theodysseyonline.com]

Beberapa tahun kemudian, saya mendapatkan kabar darinya. Mantan saya itu sekarang berdomisili di Belanda. Ia menikah dengan seorang laki-laki Belanda. Dari feeds Facebooknya, terutama dari foto-foto yang diunggahnya, saya mengetahui bahwa ia telah memiliki karier modeling yang cukup baik di sana. Saya gembira untuknya. Ia telah menghidupi passion-nya, yang sejak dulu telah saya ketahui - totally different dengan saya.



Baca Juga:

Terima Kasih Mantan, Darimu Aku Belajar 7 Hal Penting untuk Masa Depanku

Ketika Cinta itu Pergi, Percayalah yang Lebih Baik akan Datang

9 Tipe Mantan Pacar: Salah Satunya Pasti Pernah Hadir Mewarnai Perjalanan Cintamu

5 Cara untuk Berhenti Mencintai Ia yang Tak Dapat Dimiliki



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Yakin Mau Balikan Sama Mantan? Pertimbangkan 3 Hal Penting Ini Sebelum Membuat Keputusan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Nicho Krisna | @nichokrisna

Auditor | Banker | Blogger

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar