Membagikan Berita Kriminal lewat Media Sosial? Hati-Hati, Ungkapan Keprihatinan Anda Malah Bisa Menjadi Inspirasi bagi Para Pelaku Kejahatan!

Reflections & Inspirations

[Image: gentside.com]

2.7K
Peniruan Kejahatan. Seorang anak menonton adegan orang meletakkan ular berbisa di tempat tidur musuhnya. Ketika anak itu marah kepada adiknya, ia meletakkan ular di tempat tidur adiknya. Copycat crime.

Seorang gadis remaja ditemukan tewas. Setelah diselidiki, gadis ini bernama Yuyun. Ia tewas setelah mengalami tindak kekerasan seksual yang dilakukan oleh 14 orang laki-laki ketika ia pulang sekolah. Publik marah, sekaligus merasa pedih tiada tara. Gerakan 'Nyala untuk Yuyun' kemudian muncul di mana-mana sebagai ungkapan keprihatinan. Hampir semua orang membagikan berita tentang Yuyun di sosial media mereka. Berbagai kalimat ikut menyertai, entah itu umpatan, makian, doa, atau rasa putus asa terhadap moral bangsa. Berita semakin tersebar.

Hari ini, belum satu bulan dari berita Yuyun, muncul lagi di media massa: di Kalibokor Surabaya, seorang gadis berumur 13 tahun dicabuli oleh 8 teman lelakinya - yang umurnya juga masih ingusan.

Beberapa waktu lalu, saya membaca berita di media massa Surabaya, seorang anak balita dicabuli oleh tetangga kos rumahnya. Seorang tukang jualan jajanan. Beritanya begitu detail. Bocah itu ditemukan setengah telanjang, menangis, mulutnya ditutup lakban bening. Pelaku, yang kaget karena aksinya dipergoki orang, menutupi bagian bawah tubuhnya dengan handuk lalu kabur melarikan diri. Ibu si bocah menangis, berteriak, marah, dan melemparkan semua yang ada.

Belum juga beranjak satu minggu, ada berita lagi di media tersebut. Seorang kakek tuna rungu, melakukan pencabulan pada bocah berumur 7 tahun. Mulut bocah itu ditutup lakban. Kejadian itu terungkap karena teman korban mengintip dan melaporkan hal tersebut kepada ibu korban.

Oke, mari tarik nafas panjang sejenak.

Saya tidak sedang mencoba menanamkan memori sadis atau mengerikan dalam benak Anda. Namun, cobalah lihat polanya. Pola kejahatannya. Apakah Anda melihat ada unsur kemiripan atau kesamaan? Apakah bisa kita katakan, kejahatan itu ditiru?


Copycat Crime

Ada banyak perdebatan soal ini, orang cenderung melakukan kejahatan karena mereka melihat hal yang sama ditampilkan di media. Walaupun kejahatan telah ada sejak jaman dulu, bahkan juga sejak hukum dan undang-undang dibuat, tetapi masih saja selalu ada kejahatan baru yang polanya sesuai dengan pola kejahatan sebelumnya - yang dilihat, didengar, atau dibaca oleh pelakunya lewat media. Inilah yang disebut copycat crime, kejahatan yang timbul karena peniruan.

Peniruan Kejahatan. Seorang anak menonton adegan orang meletakkan ular berbisa di tempat tidur musuhnya. Ketika anak itu marah kepada adiknya, ia meletakkan ular di tempat tidur adiknya. Copycat crime.

Walaupun media tidak berniat untuk menarik orang agar melakukan tindak kriminal, tetapi dalam pemberitaannya sering menunjukkan dengan detail bagaimana sebuah tindak kejahatan dilakukan. Tidak hanya soal tindak kriminal, pemberitaan tentang bunuh diri pun demikian. Sesungguhnya, etika pemberitaan berita kriminal telah mengatur bagaimana berita-berita semacam itu harus disampaikan. Berita-berita tersebut tidak boleh disampaikan dengan detail. Karena, siapa saja bisa menonton berita tersebut, termasuk orang yang sedang berada dalam kondisi mental yang kurang stabil. Mereka yang dikhawatirkan bisa meniru dan melakukan tindakan-tindakan yang diberitakan, bunuh diri misalnya.

Memang, pekerja media tentu akan mengalami kesulitan untuk menyampaikan berita apa adanya, apalagi jika diperhadapkan dengan tuntutan rating.

Jika pihak media tidak bisa mengelak dari pemberitaan detail yang bisa memicu copycat crime, maka kita, para pengguna media, yang harus mempunyai kesadaran tersebut.

Hati saya pedih sekali saat membaca status Facebook seorang ibu - yang saya tahu sepak terjangnya begitu baik di dunia pendidikan. Ia membagikan berita tentang pencabulan anak yang terjadi di Kalibokor Surabaya itu. Di dalam statusnya, ia mengatakan prihatin dengan kondisi moral anak Indonesia. Ia pun lalu mengaitkannya dengan sistem pendidikan nasional, buruknya mental bangsa, dan sebagainya.

Saya membaca status itu dengan getir, bukan karena meratapi moral bangsa ini. Melainkan karena mencoba mengerti, untuk apa Beliau menuliskan hal tersebut? Untuk menggugah kesadaran para followers-nya agar membenahi moral anak-anak? Apakah itu terlaksana? Manakah yang akan lebih cepat terjadi, berita itu beredar dan menyebar secara viral ataukah perbaikan moral anak bangsa?

Jawaban pertamalah yang, menurut saya, lebih cepat terjadi. Berita itu semakin viral. Semakin banyak yang membaca. Bisakah yang terjadi akhirnya, berita tersebut terbaca oleh orang yang mempunyai kesehatan mental yang kurang stabil? Apakah yakin yang membaca itu adalah para pemerhati moral bangsa saja? Mungkinkah salah satu di antara mereka yang membaca adalah orang yang tidak sehat akal pikirannya? Dan, siapakah yang mengantarkan 'bahan' kepada mereka untuk dimakan mentah-mentah, ditiru, lalu dilakukan juga? Kita, bukan? Jangan-jangan, kita yang membuat mereka menjadi penjahat baru. Masuk akal?

For God's sake. Hal ini bisa terjadi. Semua orang, tua, muda, miskin, kaya, mempunyai dan menggunakan smartphone. Wifi gratisan tersebar di mana-mana, bahkan di warung kopi yang kecil dan lusuh sekalipun. Sosial media, seperti Facebook terutama, begitu mudah dan banyak diakses oleh para pengguna ponsel pintar.



Jadi, harus bagaimana?

Jika ada “kekejaman”, apakah lantas berarti kita diam saja, tidak peduli, apatis?

Rasanya ingin sekali setiap ada momen viral sharing berita kriminal seperti ini, saya menulis status dengan huruf besar-besar:

"DIAM BUKAN BERARTI TIDAK PEDULI. TIDAK MEMBAGI LINK BERITA BUKAN BERARTI MENUTUP MATA."

Namun saya tahu, mereka yang dengan begitu reaktif membagi apa saja di sosial medianya, tentunya akan bersikap lebih reaktif lagi terhadap orang-orang yang mengambil pilihan sikap berbeda. Saya tidak mau mengambil jalur berdebat dengan twitwar, facebook war, dan berbagai jenis perang lainnya. Sebaliknya, saya memilih melakukan hal-hal ini:

1. Menahan diri. Tidak memberikan komentar atau respons apapun kepada orang yang berbagi di sosial media.

2. Membuat berita tersebut berhenti beredar dengan tidak membaginya. Jika sudah ada teman yang membagi, ya sudah dibiarkan saja. Jika ingin membaca, silakan. Jika tidak, lewati. Dengan melakukan hal ini, setidaknya saya telah ikut mengurangi efek viral berita kriminal tersebut.

3. Mencermati isi berita dan menarik sebuah garis panjang: apa yang bisa saya lakukan untuk mencegahnya?

Berkaitan dengan poin terakhir, saya berusaha menerjemahkannya menjadi hal yang lebih riil untuk dilakukan. Saya lakukan hal yang paling bisa saya lakukan sesuai dengan kondisi saya saat ini. Saya adalah seorang ibu dari dua anak laki-laki. Yang bisa saya lakukan adalah memberikan pengertian - sedalam dan sesering mungkin - kepada mereka tentang betapa pentingnya menjaga kehormatan perempuan.

Saya ajak mereka untuk memandang perempuan seperti mama mereka; perempuan adalah ibu. Bahwa tubuh perempuan, termasuk payudara, bukan mainan dan bukan bahan tertawaan. Saya beri pengertian kepada mereka, bahwa payudara diciptakan Tuhan sebagai alat untuk memberi makan adek bayi, termasuk memberi makan mereka hingga bisa sehat dan tumbuh besar seperti sekarang ini. Saya membatasi dan mengawasi akses mereka terhadap hal-hal yang dapat memberikan input buruk. Segala bacaan, game, film, atau animasi yang menampilkan tubuh perempuan untuk dijadikan mainan dan objek tertawaan, mereka harus berhenti melihatnya.

Selain itu, sebisa mungkin saya membenahi diri dan pola komunikasi dalam keluarga, agar terbina ikatan emosional yang kuat di antara kami. Saya berharap, dalam kondisi apapun dan kejadian apapun, anak akan mencari saya dan suami sebagai tempat untuk berbagi cerita. Semoga.

Mungkin pola-pola ini tidak sama dengan keluarga lain, itu sah-sah saja. Yang penting adalah upaya pencegahan apa yang bisa kita lakukan.

Baca Juga: Cegah Anak dan Remaja Anda Berbuat Mesum dengan 5 Langkah Efektif dan Teruji ini!



Diri Sendiri, Kunci Perubahan

Banyak ahli kriminal mengulas, penyebab utama dari kejahatan adalah karena kemiskinan dan kurangnya pendidikan. Perut lapar, tak punya pekerjaan, akses pornografi bertubi-tubi, miras oplosan yang murah - godaan kesenangan sesaat, itulah yang bisa mengantarkan pelaku untuk melakukan kejahatan-kejahatan baru, yang semakin lama semakin sadis di luar nalar manusia. Untuk itu, saya berpegang pada keyakinan, jika ingin mengubah keadaan, kita harus berkontribusi pada dua hal tersebut: meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas pendidikan.

Ada tiga kunci perubahan yang saya dengar dari seorang ulama besar:

Mulai dari hal yang sederhana. Mulai dari diri sendiri. Mulai sekarang juga.

Penerapan sederhananya bisa seperti ini, jika Anda seorang online seller yang aktif di dunia per-online-an, Anda bisa membagikan pengetahuan untuk berbisnis secara online di lingkungan terdekat, di arisan PKK, misalnya. Jika para ibu di sana masih 'gaptek', tak apa, cobalah memberikan porsi sebagai pengrajin kepada mereka. Libatkan mereka untuk membuat sesuatu, apakah membuat kerajinan tangan, memasak kue, atau hal-hal lainnya. Ketika beberapa ibu sudah mau terlibat, buatlah sistem dan program, misalnya dalam suatu waktu tertentu setiap bulan, Anda membagikan ilmu parenting, manajemen keuangan, spiritual, atau apapun yang bermanfaat kepada mereka. Jika mereka sudah terbina dengan baik, maka anak-anak mereka pun akan mendapat perhatian, pendidikan, serta kesejahteraan yang lebih baik. Pengawasan sosial pun semakin bisa dilakukan karena segala unsur masyarakat terlibat di dalamnya.

Hal ini memang tidak mudah dan tentu tidak akan menghasilkan sesuatu yang instan. Akan tetapi, ini adalah solusi pencegahan tindak kejahatan paling konkrit yang bisa kita lakukan. Dan, yang jelas, jauh lebih baik daripada membagikan berita di sosial media dan berdoa di sana.

Mari, pertimbangkan dengan bijak sebelum membagikan berita kriminal di media sosial pribadi kita. Jangan sampai 'Nyala untuk Yuyun' malah menjadi 'Api Unggun untuk Yuyun' karena semakin banyak muncul kejahatan baru yang serupa.



Baca Juga:

Berhenti Menyebarkan Foto-Foto Vulgar Korban Kekerasan melalui Media Sosial! Ini 3 Alasannya

Awas! Media Sosial Merampas dan Membunuh 3 Hal Penting ini dari Hidupmu. Segera Lakukan Sesuatu!

Orangtua Gagap Laku: Bisa Menasihati, namun Gagal Memberi Teladan. Bagaimana Mengupayakan Perubahan?



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Membagikan Berita Kriminal lewat Media Sosial? Hati-Hati, Ungkapan Keprihatinan Anda Malah Bisa Menjadi Inspirasi bagi Para Pelaku Kejahatan!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Heni Prasetyorini | @heniprasetyorini

Blogger | Digital Explorer. Ngeblog di www.prasetyorini.com.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar