Waspada! Virus 'Acak-Acakan' akan Membunuh Masa Depanmu. Inilah 4 Tandanya

Reflections & Inspirations

[image: The Spruce]

2.6K
Waspadalah, perilaku acak-acakan adalah virus berbahaya yang bisa mematikan potensi anak muda, serta membunuh masa depan.

“Kok kamu terlambat sih, Von?” tegur Sofia.

“Iya, maaf … maaf deh … tadi masih antri mandi di rumah,” jawab Vony cepat sambil melepas helm dari kepalanya.

“Ya sudah, sana cepetan. Terlambat loh. Itu rambutmu dirapikan dulu. Acak-acakan banget,” kata Sofia sambil menunjuk kepala Vony.

“Waduh, bisa nggak keruan nih penampilanku kalo rambutku acak-acakan gini. Pinjemin sisirnya donk! Cepet, cepeeeet!” seru Vony sambil kelabakan mencari pinjaman sisir.

[image: Ukrobstep]

Itu tadi sepenggal dialog antara Sofia dan Vony, murid SMU X, yang terjadi di halaman parkir sepeda motor.

Aku sangat tertarik dengan istilah yang muncul spontan dari mulut si Vony tadi, yaitu ungkapan “acak-acakan”. Sangat kentara si Vony merasa terganggu jika penampilannya berantakan. Aku sih bisa memakluminya. Dia masih remaja, masih single, belum ada yang punya; kecuali Bokapnya (maksudnya ortu). Lha, wong aku saja yang sudah beranak dua, juga punya perasaan seperti itu kok. Rasanya tuh, gimana yah, kurang PeDe. Apalagi kalau tampil di depan umum, mesti rapi. Benar, penampilan itu amat penting. Setuju, nggak?

Lalu, bagaimana kalau ternyata yang acak-acakan itu “jeroannya” atau “dalemannya”? Alias hatinya, moralnya, atau mentalnya? Sebab, tidak sedikit orang yang terlihat rapi di luar, tetapi hatinya sebenarnya acak-acakan.

Adakah yang menyadarinya? Seberapa banyak orang yang merasa terganggu dengan dirinya sendiri yang hatinya “acak-acakan”? Nah, di sini aku ingin membagikan sesuatu yang penting dan dapat menolong kita untuk menyadari tanda-tanda “jeroan” yang acak-acakan tersebut.

Baca Juga: Bukan Kecantikan Fisik, Melainkan 5 Hal ini yang Akan Menjadikanmu Wanita yang Dicintai Semua Orang



Tanda-Tanda Virus “Generasi yang Acak-Acakan”

Mari kita memulai dari sini ...

Telah diakui bahwa generasi sekarang sudah jauh beda dengan generasi sebelumnya. Apalagi dengan generasi nenek moyang kita. Dulu sewaktu kakek-nenek kita masih remaja, saat pacaran jarak jauh dan mau mengirim pesan saja harus menunggu waktu berhari-hari. Harus lewat kantor pos yang jauhnya mungkin berkilo-kilo meter. Itu pun ditempuh dengan berjalan kaki. Padahal mungkin hanya ingin mengirim pesan: “Aku sayang kamu, Beb.”

Beda dengan kita sekarang. Cukup sepersekian detik, hanya dengan jempol aja, tak tik tuk … jrettt ... klung, dan sampailah pesan itu.

Kita harus berterima kasih kepada segala macam kemajuan teknologi dan informasi saat ini. Banyak hal yang bisa menolong kita dalam mengerjakan hal-hal sulit. Di mana pun kita berada, informasi dapat segera kita peroleh. Cukup bertanya kepada “Mbah Gugel”, semua pertanyaan kita bisa dijawabnya. Masih banyak lagi kemajuan yang bisa kita nikmati; salah satunya kemudahan sarana transportasi. Sekarang, hampir semua orang bisa naik pesawat. Hampir semua orang bisa beli mobil. Hampir setiap keluarga juga bisa beli sepeda motor, malah ada yang lebih dari dua buah. Yah, meskipun banyak yang berstatus sebagai barang “kreditan”.

Dalam segala kemajuan di segala bidang tersebut, justru ada kemunduran pada generasi sekarang ini. Ada sesuatu yang senantiasa berkurang, bahkan nyaris hilang. Yaitu nilai-nilai luhur dari nenek moyang yang bernilai positif, yang justru tidak dilanjutkan dengan alasan sudah kuno. Pandangan seperti inilah yang akhirnya menyebabkan generasi sekarang ini menjadi “acak-acakan”.

Berikut ini aku akan menunjukkan tanda-tanda sikap hati yang “acak-acakan” tersebut, di antaranya:



1. Kurang Sopan

Di mana-mana sering dijumpai remaja, berseragam sekolah maupun tidak, saat mengendari sepeda motor, mereka melajukan kecepatan di atas 80 km/jam. Mereka pun tidak memakai helm. Mungkin banyak pula yang tidak punya SIM. Mereka juga sering didapati menerobos lampu merah. Sudah begitu, mereka melakukannya sambil meliak-liuk bak tari ular. Mereka tidak peduli dengan pengendara lain, hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Kalau orang lain jatuh atau mati, mereka tidak peduli.

[image: Senior Correspondent]

Dalam perilaku sehari-hari, sering didapati juga anak-anak remaja tidak mendahului dalam memberi hormat kepada orang yang lebih tua. Mereka justru cuek bebek, enggak menyapa. Kalau dalam budaya Jawa, seperti yang dulu orangtuaku ajarkan, sebagai “bocah”, kita harus hormat kepada orang yang lebih tua. Siapa pun orang itu. Enggak kenal pun, harus menyapa dengan hormat. Kalau berjalan lewat di depan orang lain yang lebih tua, harus permisi terlebih dahulu. Tidak lupa memakai bahasa yang halus (Kromo Inggil). Namun, sekarang, semua itu sudah tidak dilakukan oleh generasi muda masa kini.

Yang lebih parah lagi, setiap kali di Mall, di tempat hiburan, dan di tempat-tempat keramaian yang lain, cewek-cewek ABG mulai berpakaian tidak sopan. Begitu beraninya mengenakan celana pendek ketat yang menyerupai ukuran celdam. Bahkan sering juga kita jumpai di jalanan, ketika berkendara sepeda motor, para cewek ABG sudah bener-bener kehilangan kesopanan. Gaya duduk mereka “mengangkang” dengan celana super pendek. Mungkin bagi cowok-cowok yang masih muda senang-senang saja melihat pemandangan gratis. Namun orang-orang tua, tante-tante, dan emak-emak, bisa “ngelus dodo”. Bahkan ada yang geregetan. Aku pernah menjumpai emak-emak sedang memarahi remaja putri di Mall gara-gara memakai celana seperti itu.

Baca Juga: Dunia Semakin Beringas! Mesum di Mal, Ngebut di Jalan, dan Main Hakim Sendiri. Apa yang Perlu Kita Perbaiki?



2. Sembrono

Sayap kiri dari sikap “kurang Sopan” di atas adalah “sembrono”. Dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, kata sembrono ini berarti: kurang hati-hati, gegabah, kurang pantas, atau ceroboh.

Dalam banyak hal, sering dijumpai remaja-remaja yang sembrono. Mereka kerap mengambil keputusan dengan sembrono. Hanya gara-gara ditegur mamanya karena bangun kesiangan (mungkin semalam habis begadang karena sibuk dengan medsosnya: BBM-an, twitter-an, FB-an, dll), eh, langsung emosi banting pintu, pukul meja, lalu tancap gas kencang-kencang. Belum juga sampai ke sekolah, malah bablas ke Rumah Sakit gara-gara menabrak tukang becak di jalan.

Ada juga remaja putri yang sembrono memaki-maki orang di status medsosnya, eh akhirnya mendapat makian balik dari banyak orang. Bukan hanya makian yang ia dapat, ia juga diperkarakan di kepolisian.

Baca Juga: Jangan Terburu-buru Menyalahkan Orang Lain, Hidup Kita 'Keruh' Bisa Jadi karena Satu Hal Ini



3. WolMal

WolMal ini merupakan gabungan dari kekuatan besar yang bisa bikin jengkel orang lain. Yaitu, WOLES dan MALES. Tidak sedikit generasi muda saat ini yang kinerjanya lamban. Mereka memeluk kepercayaan “santai aja lagee”, alias selow, yang dibaca terbalik menjadi woles. Keyakinan ini sebenarnya didasari oleh “doktrin” males alias “keset” (bahasa Jawa).

[image: CBZ Nieuws]

Sepertinya mereka menganut kepercayaan “mimpi besar”. Mereka memercayai “agama” si Malin Kundang, yang bisa bikin seribu candi dalam semalam. Maka prinsip yang mereka anut adalah SKS alias Sistem Kebut Semalam. Ini biasanya dilakoni oleh para pelajar dan mahasiswa.

Banyak juga anak remaja yang sengaja bangun siang dan tidak merapikan tempat tidur. Malas mencuci dan menyetrika pakaian sendiri, apalagi punya orangtua atau saudaranya. Malas belajar, malas membaca, malas bersih-bersih rumah, malas kerja, dan malas hal-hal lainnya. Rajinnya cuma waktu BBM-an, FB-an, twitter-an, waktu makan, dan waktu pacaran saja.

Baca Juga: Kebiasaan Menunda Menghilangkan Banyak Kesempatan Berharga. Inilah 5 Hal yang Menolongmu Mengalahkan Rasa Malas



4. Sak Karepe Dewe

Selain WolMal yang bisa bikin jengkel orang lain, ternyata masih ada sahabat karibnya. Yaitu, perilaku “sak karepe dewe”, alias semaunya sendiri. Generasi muda saat ini memang sering berlaku semaunya sendiri, suka-sukanya mereka. Kalau hatinya sedang senang, atau lagi “mood”, ya rajin masuk sekolah, rajin pelayanan, dan rajin berdoa. Namun, kalau hatinya sedang tidak senang, alias “enggak mood”, oh jangan ditanya. Raut mukanya pasti menampakkan ketidaksukaannya, sehingga membuat orang lain tidak berani menyapa. Selain itu, orang lain malah bisa jadi jengkel terhadapnya. Apalagi orang yang lebih tua atau memiliki posisi di atasnya. Sebab perilaku tersebut tidak mengikuti irama, enggak beraturan.

Coba bayangkan pertunjukkan orkestra. Seandainya dari sekian banyak pemain musik, ada dua orang saja yang bermain dengan tidak mengikuti partiturnya, alias semaunya sendiri: kapan dia main, kapan dia diam, kapan dia keras, dan kapan dia harus pelan memainkan alat musiknya, pasti lagu tersebut akan acak-acakan.

Orang yang tidak mengikuti aturan bersama, alias “sak karepe dewe” itu, terancam “dideportasi” oleh komunitasnya. Ketika di sekolahan, di pergaulan, di organisasi, atau di masyarakat, orang yang semaunya sendiri pasti akan dijauhi, bahkan tidak dianggap ada keberadaannya.

Baca Juga: Waspadailah Teman-teman yang Mempunyai 3 Perilaku Ini. Mereka akan Merusak Diri dan Masa Depanmu!



Generasi Muda Seperti Apakah Dirimu?

Jika kamu merasa sebagai generasi muda yang punya masa depan cerah, maka bersegeralah berubah dari perilaku “acak-acakan” seperti yang disebutkan di atas.

Waspadalah, perilaku acak-acakan adalah virus berbahaya yang bisa mematikan potensi anak muda, serta membunuh masa depan.

Sungguh amat berbahaya. Waspadailah dirimu atas segala bentuk virus ini. Berperilakulah sopan, teratur, tidak sembrono, tidak malas, dan jangan hidup semaunya sendiri. Raihlah masa depanmu dengan berperilaku baik, tangan yang rajin, dan hidup teratur. Bangsa ini akan menjadi hebat dan makmur ketika "virus acak-acakan" dimatikan.



Baca juga artikel-artikel inspiratif tentang masa depan ini:

Anak Masa Kini Tak Bisa Diajar? Mungkin Guru yang Salah Mengajar. Inilah 3 Hal yang Dinantikan Generasi Platinum dari Para Guru

Inilah 4 Bentuk Warisan Berharga, Namun Tak Pernah Diperebutkan. Orangtua, Siapkan Hal-hal Ini demi Masa Depan Anak-anak

Sadarilah! Masa Depanmu Dibentuk oleh 3 Hal yang Terlihat Sepele tapi Berdampak Besar Ini


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Waspada! Virus 'Acak-Acakan' akan Membunuh Masa Depanmu. Inilah 4 Tandanya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


David Sudarko | @davidsudarko

Seorang Pendeta, pendamping pemuda dan remaja. Suka memulung hikmat dari segala sumber yang didapat; mulai dari membaca buku, majalah, koran, artikel online, dan pengalaman hidup sehari-hari. Dan tidak melupakan sumber utamanya, yaitu Alkitab, Kitab Suci

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar