Waspada! Media yang Jahat Merusak 3 Nilai Kehidupan Penting Ini. Selamatkan Indonesia dengan Berbagi Kebaikan dan Kebenaran!

Reflections & Inspirations

photo credit: madlab

4.3K
Yang paling berbahaya adalah ketika kita terhanyut dan tenggelam dalam rayuan media yang jahat tersebut dan secara tidak sadar mulai mentolerir, kemudian menganut nilai-nilai yang sedang ditawarkannya.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sebuah seminar yang dibawakan oleh dokter Handrawan Nadesul. Beliau adalah seorang dokter yang sangat peduli dengan dunia kesehatan dan menjadi narasumber di berbagai media. Beliau juga sering diundang di berbagai kota di Indonesia untuk membicarakan topik tentang kesehatan.

Dalam presentasi yang berdurasi kurang lebih 3 jam tersebut, beliau berulang kali mengatakan bahwa kesehatan itu diinvestasikan sejak masih kecil, karena itulah menurut beliau sudah seharusnya sehat itu murah dan tidak harus membayar ongkos yang mahal.

Baca juga: Tak Selalu Menangis Berarti Lemah. Menangislah Kapan pun Hatimu Memerlukannya. Bukankah Kita Memang Cuma Manusia?

Hal yang menarik dari presentasi beliau bukan hanya tentang materi yang disampaikan, tetapi mengenai motivasi beliau membawakan seminar tersebut. Dalam usianya yang hampir kepala tujuh tersebut, beliau begitu bersemangat pergi ke banyak kota di Indonesia, untuk satu tujuan yakni menyampaikan “informasi sehat” mengenai kesehatan. Menurut beliau, pada zaman teknologi yang sudah berkembang ini, orang-orang Indonesia banyak dibohongi oleh “media-media tertentu”.

Banyak masyarakat yang tertipu karena iklan yang memukau, tetapi pada faktanya nihil.

Salah satu contoh yang beliau berikan adalah iklan produk makanan siap saji yang mengatakan dirinya 100% sehat dan bergizi. Faktanya, banyak yang tidak tahu bahwa produk tersebut ternyata mengandung banyak bahan kimia yang mampu menafkahi sel-sel kanker untuk bertumbuh dalam tubuh seseorang. Namun, tidak banyak yang tahu! Kenapa? Karena media berhasil membungkus kebohongan itu bak putri cantik dari Thailand, menghipnotis pria-pria dengan kecantikan yang melebihi perempuan yang sesungguhnya.

Namun, tulisan ini tidak bermaksud untuk menggebuki media, seolah media tidak memiliki muatan kebaikan di dalamnya. Ada juga media yang konsisten dalam menyampaikan kebenaran dan hal ini perlu diapresiasi. Tetapi jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan media yang bermuatan merusak moral.

Kenyataan inilah yang membuat saya tertarik dan memiliki renjana untuk ikut berperang melawan media-media yang merusak moralitas umat manusia.


Mengapa harus berperang? Jawabannya: kalau tidak berperang inilah tiga nilai yang akan sedang dikaburkan dan perlahan dihancurkan oleh media si jahat itu.


Nilai kesucian hidup

photo credit: pexels

Kesucian itu adalah identitas kita, karena Sang Pencipta kita adalah suci adanya. Kesucian membuat kita setingkat lebih tinggi dari keburukan dunia ini. Namun, realitas menunjukkan media yang jahat berusaha mengaburkan nilai kesucian itu. Contoh yang paling konkret adalah media yang berkonten pornografi.

Tidak terhitung jumlah konten-konten berbau pornografi mengelilingi kita. Fantasi seks yang ditawarkan berupaya mengatakan kepada dunia bahwa: “seks itu bebas, seks bisa dilakukan kepada siapa saja, tidak dibatasi oleh usia, tidak harus diikat oleh pernikahan”. Tentu saja, nilai ini tidak sesuai dengan nilai kesucian yang harusnya kita junjung tinggi.

Baca Juga : Inilah Trik dan Rayuan Pria untuk Mendapatkan Keperawananmu Sebelum Menikah. Kamu Harus Bisa Menolak! Begini Caranya


Nilai kebenaran

photo credit: Unsplash

Media apapun itu, punya kebenarannya masing-masing. Seharusnya media yang benar adalah media yang bermanfaat untuk mendidik, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mengajak orang dalam kebenaran.

Sebaliknya, media yang jahat malah mendefinisikan ulang kebenaran dengan cara merekayasa sebuah fakta dan memutarbalikkan kebenaran.

Konsekuensi dari cara kerja media seperti ini bukan hanya mengaburkan kebenaran, tetapi ia mampu membunuh kebenaran itu sendiri.

Baca juga: Sudahkah Kita Benar-Benar Bahagia? Mari Periksa, Bagaimana Uang, Waktu, dan Tenaga Membentuk Kebahagiaan Kita


Nilai keadilan

photo credit: rawpexels

Tidak ada istilah adil bagi media, penguasa medialah yang punya kuasa menentukan keadilan. Para penguasa media menyamakan dirinya seperti Tuhan yang Maha Adil. Tidak peduli siapa yang salah atau benar, semua tergantung kepada para penguasa media. Akibatnya, media yang jahat itu tidak lagi mengenal definisi keadilan dan secara sengaja menunggangi media untuk memojokkan, menghina, bahkan melenyapkan hidup seseorang.

Yang paling berbahaya adalah ketika kita terhanyut dan tenggelam dalam rayuan media si jahat tersebut dan secara tidak sadar mulai mentolerir, kemudian menganut nilai-nilai yang sedang ditawarkannya.

Baca juga: Kecanduan Gadget? Inilah Jurus-jurus Ampuh yang akan Membebaskanmu


Dengan melihat realitas seperti ini, seharusnya kegelisahan sekaligus keberanian muncul dalam hati kita. Kita “gelisah” menyaksikan bahwa ternyata media punya pengaruh yang jahat, tetapi kita juga “berani” untuk ikut berperang melawan media jahat itu.

Dalam hal ini, menurut saya, situs ributrukun.com adalah salah satu media yang mempunyai visi untuk melawan media si jahat itu.

Meskipun keberadaan situs ini tidak mampu memusnahkan keberadaan media si jahat, tetapi setidaknya media ini mampu memperlambat daya gerak dari media jahat itu. Anda yang merasakan keresahan yang sama dengan saya, bisa ikut memperbanyak tulisan atau informasi positif, dengan menuliskannya di sini.


Mari kita berbagi kebaikan dan kebenaran bagi Indonesia. Tulisan-tulisan ini akan memberikan inspirasi bagimu :

Kecanduan Gadget? Inilah Jurus-jurus Ampuh yang akan Membebaskanmu

Awas! Inilah 7 Tanda Anda Bermedsos Ria dengan Tidak Sehat

Awas! Media Sosial Merampas dan Membunuh 3 Hal Penting ini dari Hidupmu. Segera Lakukan Sesuatu!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Waspada! Media yang Jahat Merusak 3 Nilai Kehidupan Penting Ini. Selamatkan Indonesia dengan Berbagi Kebaikan dan Kebenaran!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yunus Septifan Harefa | @yunusharefa

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar