Walk Out: 3 Pelajaran Hidup yang Tersisa dari Kontroversi yang Ada

Reflections & Inspirations

static.republica

1.4K
Rasa percaya diberikan kepada mereka yang memiliki kejujuran dan integritas. Pengakuan dan ketaatan diberikan kepada yang mereka yang baik dalam memberi keteladanan.

Ananda Sukarlan (dan diikuti oleh beberapa teman-temannya) melakukan aksi 'walk out' saat Gubernur DKI Jakarta menyampaikan pidato pada acara peringatan 100 tahun Kanisius. Terjadi Pro dan kontra sebagai reaksi atas tindakan Ananda tersebut. Sebagian warganet memuji keberanian dan ketegasan sikap Ananda. Sebagian yang lain mencela dan menganggap tindakan tersebut tidak pantas dilakukan terhadap seorang gubernur yang resmi terpilih.

merdeka.com

Saya sama sekali tidak ingin membahas pendapat siapa yang benar dan pendapat siapa yang salah. Bagi saya, sebagai seorang seniman yang bekerja dengan menggunakan otak kanannya, yaitu dengan menggunakan kecerdasan emosinya, sikap Ananda merupakan cerminan spontanitas kejujurannya terhadap hati nuraninya sendiri. Sementara sebagian orang lain bersikap berdasarkan pertimbangan otak kirinya, yaitu dengan memertimbangkan akibat-akibat apa yang bisa muncul dari tindakan yang diambil Ananda tersebut.

Baca juga: Jokowi Mantu, Setnov Tersangka, WhatsApp Diblokir. Apa yang Anda Baca


Terlepas dari respon-respon yang muncul, kejadian ini mengajarkan sedikitnya 3 hal kepada kita:


1 . Relasi Lebih Penting daripada Hirarki

Kedudukan kita saja tidak cukup bisa mendatangkan respon berupa rasa hormat dari orang-orang di sekitar kita kecuali jika menyertakan sikap rendah hati dalam berelasi dengan orang-orang tersebut.

Kedudukan dapat membuat orang lain merasa sungkan terhadap kita, tetapi tidak berarti orang tersebut memiliki rasa hormat terhadap kita.

markmanson

Contohnya, orangtua yang mau menjadi sahabat sekaligus juga terjun langsung untuk mengajar anak-anaknya tentang barbagai hal pasti memiliki relasi yang lebih baik dan akan lebih didengarkan oleh anak-anaknya dibandingkan dengan orangtua yang hanya bisa menyuruh-nyuruh atau menasehati dari jarak jauh. Fenomena ini berlaku untuk bentuk relasi apa pun, mulai dari lingkup keluarga, lingkup tempat kerja, lingkup pemerintahan dan lain-lain.


2. Ada Ekspektasi Terhadap Posisi

Setiap orang pasti akan memiliki ekspektasi atau harapan mengenai kejujuran,integritas, dan keteladanan terhadap orang yang memiliki posisi tinggi. Saya berendapat, rasa percaya diberikan kepada mereka yang memiliki kejujuran dan integritas. Pengakuan dan ketaatan diberikan kepada yang mereka yang baik dalam memberi keteladanan.

Baca juga: Jujur walau Menyakitkan atau Bohong demi Kebaikan?

Contoh tentang orangtua lagi bisa menjelaskan dengan gamblang. Orangtua tak hanya harus melarang anaknya untuk terlibat dalam pornografi, namun mereka sendiri juga harus menjaga diri agar tak melanggar aturan yang telah mereka buat sendiri. Orangtua yang tindak-tanduk dan perkataannya selaras seperti ini tentu lebih akan dipercaya dan ditaati perkataannya oleh anak mereka. Lagi-lagi fenomena ini berlaku untuk lingkungan apa saja.

3. Rasa Tak Dapat Dipaksa

Poin sudah jelas sekali. Rasa hormat, rasa kagum, rasa simpati dan lain-lain kepada seseorang tak dipaksa. Perasaan setuju atau tidak setuju yang benar-benar tulus, lugas dan tanpa agenda apa pun juga tak bisa dipaksa. Yang keluar dari tindakan seseorang tentu didasarkan pada perasaannya.


Tertarik membaca artikel-artikel menarik lainnya? Klik di sini:

Thor: Ragnarok, Dua Pelajaran Berharga demi Kebahagiaan Keluarga

#MeToo: Fenomena yang Membuktikan Seks Bukan Sekadar Hubungan Fisik

Menjadi Korban Rasisme, Ini Kisah Saya sebagai Keturunan Tionghoa


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Walk Out: 3 Pelajaran Hidup yang Tersisa dari Kontroversi yang Ada". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Heren Tjung | @herentjung

Public speaker. Pendiri Gerakan Kekudusan Seksual Kaum Muda True Love Waits Indonesia (pemegang lisensi resmi TLW International). Penulis buku Membongkar Rahasia Pornografi-bimbingan terpadu lepas dari jerat pornografi. Kontak:tlwindonesia@gmail.com

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar