Walau Melelahkan, Saya Memilih Mengurus Anak Tanpa Baby Sitter. 3 Hal Ini yang Selalu Memotivasi

Parenting

[image : mother guide to sanity)

1.1K
Sesungguhnya, masa-masa mengasuh anak saat ia masih kecil adalah masa yang indah. Masa ini akan segera berlalu dan tidak bisa diputar balik lagi.

Sekian lama saya tidak berkumpul dengan komunitas A. Pada pandangan pertama yang tampak adalah orang-orang yang sama, tak bertambah, mungkin malah berkurang. Para mommy tetap nyaris tak berubah, berdandan cantik dan ceria. Justru pada anak-anaklah yang menunjukkan perubahan, makin bertambah tinggi, makin genduk, atau kurus. Duduk bersama-sama mereka di 30 menit pertama, saya baru merasakan ada perubahan selain segi fisik anak-anak tersebut. Beberapa di antara mereka menjadi lebih agresif, atau sangat pasif.

Oh, ternyata ada hal lain yang juga berubah, para baby sitter telah berganti orang. Tak saya sangka pergantian baby sitter berpengaruh besar pada emosional anak.

Teringat beberapa tahun lalu, saya dan suami berdebat sengit soal menyewa baby sitter. Waktu itu saya bersikeras untuk menyewa seorang baby sitter, agar dapat membantu meringankan tugas saya, karena selain mengurus anak, saya juga masih tetap bekerja. Kami hidup merantau jauh dari keluarga, tanpa bantuan dari saudara, teman maupun tetangga, saya melihat bahwa mengurus anak sendiri tanpa bantuan baby sitter adalah mustahil.

Baca Juga : Working Mom, Rasa Bersalah dan Cara Mengatasinya

Walaupun kantor dan rumah sama, saya butuh konsentrasi dan konsistensi dalam bekerja agar usaha bisa bertahan dan maju. Suami saya memang seorang pengusaha, namun kenyataan bahwa kondisi ekonomi dunia yang berubah, dan tidak setiap bulan ada orderan datang kepada suami membuat saya cemas dan ngotot untuk tetap bekerja. Demi sesuap nasi yang terus ada, begitu pikir saya.

Pandangan saya beralih kepada buah hati saya sendiri, ia begitu lincah dan ceria, makin mengerti dan sopan. Sekalipun ia mengalami hambatan tertentu dalam pertumbuhannya, ia berlaku sopan, sigap mendengar arahan orangtua, dan matanya bersinar bahagia selalu.


Berakit-rakit dahulu berenang-renang kemudian

Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Membesarkan anak bukan urusan mudah dan praktis. Banyak orang tua yang memilih jalan yang lebar dan leluasa dalam mengasuh anak tapi berujung pada kehancuran bahkan maut bagi anak.

Andai suami saya bersedia dipaksa untuk menggunakan jasa baby sitter yang secara berkala berganti, tentunya hidup kami, khususnya saya akan lebih mudah. Saya bisa tetap jalan-jalan dengan teman, bisa nampak sebagai ibu gaul yang mampu beraktivitas sosial, penghasilan bisa terus melaju naik sekalipun memiliki anak yang masih kecil. Tetapi apalah artinya, jika kemudian saya harus menuai badai dari pengasuhan praktis tersebut?

Hubungan emosi yang terputus dari anak, ditambah duka dan kemarahan di hatinya karena tak mendapatkan kasih dan perhatian yang sebagaimana mestinya dari saya, kesemuanya hanya akan membawa hubungan buruk justru di masa tengah baya hingga masa tua kami.

Pada akhirnya, saya harus menutup mata dengan sedih jika melihat ia memilih jalan yang salah dan tak patuh pada kami, orang tuanya.

Baca juga : Baby Blues Syndrome: Ketahui Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi dan Mengurangi Kemungkinan Terjadinya Mimpi Buruk Bagi Para Ibu Baru Ini


Pikirkan risikonya bagi anak

photo credit: MomJunction

Tidak semua keluarga "bernasib" baik dengan mendapat baby sitter yang baik. Ada juga yang mula-mula mendapat baby sitter, tapi baru beberapa tahun harus berhenti dan harus bergonta-ganti baby sitter. Tanpa kehadiran ibu yang konsisten di sampingnya, mengandalkan kehadiran baby sitter, maka anak menjadi bingung, ada rasa kehilangan, bahkan sebagian mengalami kegoncangan emosi.


Buah hati tak selamanya menjadi anak kecil

Waktu demi waktu sang permata hati semakin bertumbuh besar, dan akan tiba waktunya ia menjadi dewasa. Saat itu mungkin saya akan merindukan saat-saat bisa memeluknya sesering mungkin, saat-saat menggendongnya, main petak umpet, dan mendengar celoteh lucunya.


Baca Juga : Inilah 5 Hal Istimewa yang Dimiliki oleh Para Super Moms, Ibu Rumah Tangga yang Luar Biasa

Sesungguhnya, masa-masa mengasuh anak saat ia masih kecil adalah masa yang indah. Masa ini akan segera berlalu dan tidak bisa diputar balik lagi. Manfaatkan masa-masa ini semaksimal mungkin untuk mengasuh dan membangun kedekatan emosi dan trust dari anak pada diri kita sebagai orang tua, adalah langkah yang paling tidak akan kusesali seumur hidupku.

Sepanjang mengasuh anak adakalanya putus asa melanda atau air mata mengalir.

Sungguh, hal indah bukan berarti mudah. Hal yang membuat saya bertahan adalah harapan di masa depan dan pertolongan Tuhan yang senantiasa baru setiap pagi.

Mama-mama muda yang punya anak dan tidak punya baby sitter, jangan menyerah ya. Kamu pasti bisa juga!



Buat mama-mama muda yang berjuang mengasuh anak, artikel-artikel ini akan memberikan inspirasi :


9 Tipe Mama-Mama Muda di Media Sosial

Untuk Pearl, Si Mungil yang Berjuang Melewati Pre-Eklampsia dan Kelahiran Prematur Bersama Mama: Besar Kekuatanmu, Nak!

Bayi Sering Digendong dan Dipeluk: Bau Tangan, Manja, atau Justru, Sehat Jiwa Raga?

Bayi Bukan Boneka, Anak Bukan Mainan: 5 Etika Penting tentang Menjenguk Bayi dan Balita



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Walau Melelahkan, Saya Memilih Mengurus Anak Tanpa Baby Sitter. 3 Hal Ini yang Selalu Memotivasi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Bartimeus Efata | @tata263

BAGAIMANA MENURUTMU ?