Veronica Tan Cabut Permohonan Banding Ahok karena Memilih yang Jauh Lebih Penting: Ini!

Reflections & Inspirations

[Image: poskotanews]

13.1K
Sebagai pihak yang merasa diperlakukan tidak adil, mengapa mereka mau menerima keputusan hakim yang memvonis Ahok 2 tahun?

Veronica Tan didampingi kuasa hukum, Fifi Lety, yang juga adik kandung Ahok, mencabut memori banding.

[Image: metrotvnews]
Sebagai pihak yang merasa diperlakukan tidak adil,
mengapa mereka mau menerima keputusan hakim yang memvonis Ahok 2 tahun?

Saya percaya, mereka memilih yang jauh lebih penting. Ini:



1. Firman Tuhan di Atas Hukum Manusia

Saat divonis 2 tahun penjara, Ahok membawa satu-satunya miliknya yang paling berharga: Alkitab. Saya baca di media sosial, dia bahkan bertekad untuk membaca Alkitab itu secara rutin di rumah tahanan.

Di Alkitab jelas tertulis,

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.”

Kita tahu bahwa sejak kasus ini merebak, sikap Ahok kooperatif sekali. Meskipun banyak yang merasa bahwa apa yang dituduhkan kepadanya - penistaan agama - tidak dilakukannya karena ucapannya dipelintir, Ahok menjalani proses demi proses dengan baik.

Dia tidak mau ingkar. Dia tidak mau melarikan diri dari tanggung jawabnya sebagai warga negara yang baik.

Baginya, menaati pemerintah berarti menaati Kitab Suci yang dia yakini.

Baca Juga: Ada yang Jauh Lebih Penting Ketimbang Vonis 2 Tahun untuk Ahok: Ini!



2. Tidak Takut Dibui

Meskipun berulang kali, bahkan di dalam pledoinya di pengadilan, Ahok mengatakan dengan tegas bahwa tidak ada niat sedikit pun untuk menodai agama. Dari rekam jejaknya, Ahok memang merangkul dan dirangkul semua lapisan masyarakat dari berbagai suku, agama, ras dan antargolongan. Dia bahkan membangun masjid dan memberangkatnya pengurusnya umrah ke Tanah Suci untuk mewujudnyatakan sikapnya yang amat toleran dan inklusif.

Itulah sebabnya dia tidak takut dibui. Dalam berbagai kesempatan dia bahkan berkata rela mati demi mempertahankan konstitusi.

Persis seperti keyakinan Kitab Sucinya:

“Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.”

Baca Juga: Pengaruh Tak Bisa Berbohong, Inspirasi Tak Bisa Dipenjara. Yang Terinpirasi Selanjutnya, Mungkinkah Itu Anda?



3. Belajar dari Kasus Yusuf

Sebagai pembaca Alkitab yang rajin, saya percaya Ahok sudah selesai membaca kisah Yusuf yang mengalami banyak perlakuan yang tidak adil. Pertama, dia hampir dibunuh oleh saudara-saudaranya sendiri. Di tengah situasi dan kondisi yang mencekam, seorang saudaranya menyarankan agar dia tidak dibunuh. Meskipun tidak jadi mengalami kematian yang tragis, Yusuf dimasukkan ke dalam sumur kering. Bukankah ini lebih menakutkan, karena bisa jadi dia mati kelaparan. ‘Beruntung’ saudara-saudaranya akhirnya memilih untuk menjualnya sebagai budak.

Kedua, di rumah keluarga Potifar, karena memang pada dasarnya memiliki kualitas unggul, Yusuf justru disayangi oleh tuannya. Bahkan kekuasaannya hanya kalah dari sang tuan rumah. Dia menjadi manajer yang handal di rumah keluarga tuannya. Namun, apa yang dia dapat? Karena istri tuannya jatuh cinta kepadanya, dia justru diajak selingkuh. Sekali lagi, Yusuf menunjukkan karakternya yang lebih takut kepada Tuhan ketimbang manusia. Dia menolak tidur dengan istri tuannya itu meskipun dirayu berulang kali dan ada kesempatan. Sering kita dengar bahwa kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat jahat pelaku, tetapi karena adanya kesempatan. Kesempatan ada, tetapi Yusuf tidak mau mencederai integritasnya sebagai orang beriman. Dia bahkan lari menjauh. Apa yang dia dapat? Dia justru difitnah oleh istri tuannya. Dia dituduh balik hendak memperkosanya. Konsekuensinya? Penjara.

Ketiga, di dalam penjara, Yusuf sekali lagi menunjukkan kualitas emasnya. Kita pernah mendengar bahwa ditaruh di mana pun, emas tetap emas. Hal ini berlaku juga untuk Yusuf. Karena perilakunya yang amat baik, dia justru menjadi orang kepercayaan sipir penjara. Ternyata di sini pun dia mengalami ketidakadilan. Orang yang ditolongnya justru melupakan jasanya. Menyakitkan? Memang, namun Yusuf memilih untuk tetap bersikap positif di tengah atmosfer negatif yang menyelimutinya.

Akhir ceritanya happy ending. Seperti yang pernah saya tulis di RibutRukun sebelumnya, Yusuf memilih untuk tidak dendam terhadap siapa pun yang membuat hidupnya sengsara.

Dia begitu meyakini bahwa saat dia bersikap dan bertindak benar, maka kebenaran akan muncul seperti siang. Di malam yang gelap, Cahaya bulan Purnama justru bersinar semakin terang.
[Image: twitter @hariadhi]

Dengan kekuasaan di tangannya, Yusuf justru memilih untuk memaafkan dan mengampuni saudara-saudaranya. Seperti yang saya kutip di RibutRukun sebelumnya, setiap kali membaca ucapan Yusuf ini, selalu sanggup membuat saya dan bisa jadi pembaca yang lain, tergetar hatinya:

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”

Baca Juga: Apa yang Ahok Lakukan di Balik Terali Besi Membuat Netizen Mbrebes Mili


Saya tidak tahu dan tidak mau berspekulasi apa yang Ahok akan lakukan setelah masa hukumannya selesai. Dari informasi yang saya baca di dunia maya, dia memilih untuk menjadi pembicara publik, meskipun tawaran di dunia politik dan juga bisnis masih ada, bahkan yang datang dari luar pulau, bahkan luar negeri.

Jadi, apa alasan keluarga besar Ahok mencabut memori banding? Ini:


Ada hal lebih besar yang bisa Ahok lakukan,

meskipun di dalam tahanan!



Baca Juga:

Bermata Sembap Namun Tak Hilang Harap. Ini yang Dilakukan Veronica Tan saat Ahok Dipenjara

Jika Ahok Anak Saya, Bisakah Sekarang Saya Berdoa seperti Doa Buniarti Ningsih, Ibundanya?

Ahok Memang Luar Biasa tapi Ia Hanya Manusia. Menyikapi Kekalahan Ahok di Pilkada DKI, Ingatlah 2 Hal Ini



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Veronica Tan Cabut Permohonan Banding Ahok karena Memilih yang Jauh Lebih Penting: Ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar