Untuk Calon Suamiku, Sejujurnya Hubungan Ini Kuawali dengan Ragu

Marriage

photo credit: woolvertoninn

5.2K
Bagaikan ranting-ranting yang bertahan dengan enggan di batang pohon. Hubungan ini saya awali dengan penuh keraguan.

"Aku senang melajang. Hidup ini indah. Aku tidak terkekang."

Itulah pikiran yang saya yakini selama beberapa tahun lalu. Pada masa ketika berkali-kali saya merasa patah hati dan terperosok pada hubungan yang tidak tepat. Bukan orang yang tidak tepat, bukan saya atau mantan pasangan saya yang tidak tepat, tapi hubungan kitalah yang terasa seperti sebuah kesalahan.

Lalu, pikiran yang saya yakini itu mulai saya ragukan. Ketika seorang pria yang mengakui pernah mencintai saya diam-diam. Pria yang mulanya saya anggap sebagai seorang sahabat yang baik.

photo credit: Favim

Perasaan yang masih rapuh membuat saya mengawali hubungan dengan ragu

Bagaikan ranting-ranting yang bertahan dengan enggan di batang pohon. Hubungan ini saya awali dengan penuh keraguan. Seolah-olah riak angin pun bisa menghempaskan dan menjatuhkan ranting tersebut. Iya, trauma di masa lalu membuat saya takut merasa yakin sepenuhnya. Tanpa saya sangka, hubungan yang semula rapuh ini justru bertahan hingga bilangan tahun.

Baca juga: Bukan Kesempurnaan Pasangan, Dua Hal ini yang Membuat Relasi Langgeng


Dia tahu, namun terus menunggu. Cinta yang tulus membuatnya mampu begitu

Jangan kira semua pria yang mengejar kita adalah pria bodoh yang tidak tahu apa-apa. Dia pun tahu dalam keraguan, saya juga diam-diam menaruh rasa padanya. Tapi, hubungan yang diawali dengan persahabatan ini membuatnya ia leluasa menunggu sambil mengalirkan kasih sayang dan perhatian yang terasa cukup.


Sampai akhirnya, saya merasa luluh

Seiring berjalan waktu, kesabaran dan ketelatenannya menghadapi saya membuat rasa egois dan ragu mulai luruh. Walau pengalaman di masa lalu menyulitkan saya untuk mudah percaya pada orang lain, tapi usaha dan kegigihannya perhalan menghapuskan kenangan buruk itu.

Karena dia tetap selalu di sana. Tak peduli seberapa sering saya bersikap tak peduli, tak peduli saya pernah meragukannya. Dia tetap menunggu dan terus meyakinkan saya. Bahwa hubungan yang akan kita jalani akan berujung indah.


Janji itu akhirnya tinggal menunggu waktu

photo credit: The Knot

Dua tahun menjalani hari bersama. Dia menciptakan harapan pada satu tanggal yang telah ditentukan. Tanggal ketika dia menepati segala janjinya. Tanggal ketika saya mulai yakin dan percaya kembali. Bahwa Tuhan telah menetapkan pasangan yang membuat hidup akan menjadi lebih berarti.

Untuk pria yang akan menjadi suamiku, Terima kasih untuk menjadi sahabat terbaikku. Terima kasih untuk menjadi musuh yang baik di saat tertentu. Terima kasih untuk terus menggenggam tanganku menuju masa depan.

Baca juga: Kenali Tiga Penyebab Hancurnya Pernikahan yang Sering Terjadi Tanpa Disadari


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Untuk Calon Suamiku, Sejujurnya Hubungan Ini Kuawali dengan Ragu". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Black White | @tanriani

Penikmat novel klasik dan neoklasik. Sembari bisnis online.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar