Untuk Pearl, Si Mungil yang Berjuang Melewati Pre-Eklampsia dan Kelahiran Prematur Bersama Mama: Besar Kekuatanmu, Nak!

Parenting

[Image: unwallpapers.com]

3.2K
Tercekat, Mama bisikkan empat kata ini kepadamu, “Pearl yang kuat, ya.” Hanya itu, tak sanggup Mama berkata lebih.

Pearl tersayang,

Kehadiranmu sudah lama Papa dan Mama nantikan. Hari ketika Mama tahu engkau ada di dalam hidup ini, merupakan salah satu hari yang paling bahagia. Kamu menjadi sebuah bukti nyata, bahwa keajaiban itu masih ada. Bahwa itu bukanlah sekedar harapan kosong. Kehadiranmu memberi kami sebuah semangat dengan cara yang tidak terduga. Masih terekam di ingatan, hari itu ulang tahun Papa - kebetulan bersamaan dengan jadwal pemeriksaan kandungan Mama. Di pemeriksaan itu, Papa dan Mama melihatmu menari lewat layar. Ya, kamu bergerak seirama musik yang mengalun di ruang periksa, seakan memberitahu kepada kami, betapa sukacitamu bertumbuh di dalam perut Mama - yang waktu itu belum terlihat besar. Malam itu, kami pulang dengan hati penuh syukur, tak terukur. Papamu bahkan tak meminta hadiah tambahan, kamulah hadiah paling berarti baginya di hari itu.

Kamu bertumbuh sehat. Mama yakin tentang itu dari gerakanmu, terutama setiap malam ketika Papa menceritakan tentang kegiatannya seharian itu kepadamu. Kamu akan mulai tenang ketika Papa membacakan ayat-ayat Kitab Suci dan memimpin kita berdoa bersama. Kamu bertumbuh kuat. Mama tahu itu dari daya tahanmu mengikuti kegiatan Mama yang bukannya semakin ringan, tetapi semakin berat. Dalam rasa bersalah karena tingginya mobilitas, terselip rasa syukur karena ketangguhanmu. Kamulah penghiburan bagi Mama; ketika raga ini seakan ingin menyerah, jiwa kecilmu menularkan semangat untuk bekerja dengan giat.



Pearl, anakku,

Kelahiranmu sungguh tidak terduga. Kamu hadir ke dalam dunia di saat kami bahkan belum siap menyambut kedatanganmu, dalam masa krisis yang tak pernah terpikirkan. Mama bahkan tidak pernah ingat detik-detik kelahiranmu. Papa, yang selalu mendampingi kita, seringkali masih merasa takut akan kehilangan kamu. Malam itu, suara tangis dari tubuh mungilmu memecah ketegangan yang memenuhi ruangan. Papa harus menahan air mata melihat tubuh kecilmu dihinggapi oleh selang, tabung, dan peralatan medis. Menyaksikan kamu memperjuangkan nafas demi nafas, bahkan di detik-detik awal kehidupanmu di dunia. Tangismu mereda ketika Papa memanggil namamu sambil memegang jari kecilmu.

Mama ingat saat memandangimu yang terbaring di dalam inkubator. Kamu tertidur lelap di bawah kehangatan sinar terapi, tiga hari setelah keluar dari perut Mama. Tanpa sadar, air mata Mama jatuh menetes, menyaksikan kamu yang begitu kecil, memperjuangkan hidup. Tak lama, tidurmu yang tenang itu terusik. Kamu menggeliat, bergerak cemas. Suster kemudian mengizinkan Mama memegang tanganmu. Jarimu, yang terlihat begitu ringkih itu menggenggam tangan Mama.

Tercekat, Mama bisikkan empat kata ini kepadamu, “Pearl yang kuat, ya.” Hanya itu, tak sanggup Mama berkata lebih.

Baca Juga: Mengalami Pre-Eklampsia Membuat Saya Memahami Apa Arti Menjadi Seorang Ibu yang Sesungguhnya

Bahkan di masa-masa awal kehidupanmu, dunia sudah menunjukkan sisi tak bersahabatnya kepadamu. Dingin menusuk kulit tipismu, tanpa basa basi menyambutmu begitu kamu keluar dari rahim Mama yang hangat. Oksigen memaksa masuk-keluar dari paru-parumu, yang sebenarnya belum siap sempurna untuk bekerja begitu keras - menampung melepas. Berbagai uji medis harus kamu lewati, sendiri; bukan karena Papa dan Mama tak mau menemanimu, tapi kami harus puas untuk hanya dapat menungguimu dari balik pintu. Seandainya kami bisa mengerti makna tangisanmu, segala gambaran ketidaknyamanan mungkin ada di sana. Tapi, kamu kuat, melewati tahap demi tahap, hingga dokter mengizinkan satu demi satu kabel dan selang dilepaskan dari tubuhmu.

Nak, awal kehidupanmu mengingatkan kepada kami betapa rapuhnya kehidupan ini, betapa tipisnya jarak antara hidup dan mati.

Hati kami hancur melihat betapa banyak dan sulitnya proses yang harus kamu lalui. Namun, di balik tubuh kecil yang seakan tak berdaya itu, kamu mengirimkan sebuah harapan: ada kekuatan tersimpan di dalamnya, siap digunakan sebagai bahan bakar untuk perjuangan ini. Kami berserah dalam ketidakmampuan, namun kami diizinkan mengalami anugerah: melihat kamu tidak menyerah mengatasi kelemahan. Benarlah perenungan seorang bijak, "Sebab jika aku lemah, maka aku kuat."

[Pearl usia 1 bulan - Dokumentasi Pribadi Penulis]



Pearl, buah hati Papa dan Mama,

Membawamu pulang membuat kami terbangun dari buaian mimpi indah tentang memiliki anak dan menjadi orangtua. Papa dan Mama memang berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin menyambutmu. Tapi kami menyadari, sebagai orangtua baru, kami masih harus banyak belajar, terutama belajar darimu. Terkadang kami tak mampu menenangkanmu yang menangis, kami tak tahu apa penyebabnya. Ada waktu-waktu di mana Mama menangis bersamamu; bukan karena kamu tak mau diam, tetapi Mama menangisi ketidakmampuan Mama untuk membantumu. Ada malam-malam yang menjadi saksi betapa lelahnya tubuh ini, hingga terkadang Mama terlelap dan tak mampu mendengar keluhanmu minta tolong. Ada masa di mana kami merasa kami telah gagal dan tak pantas disebut sebagai orangtua.

Melewati minggu demi minggu, kami menyaksikan pertumbuhanmu - bahkan dalam ketidakpahaman kami yang terus berusaha memberikan apa yang menurut kami terbaik bagimu. Di bulan-bulan awal, Mama harus menahan rasa malu karena tak mampu memberikan ASI eksklusif bagimu. Mama menerima tatapan mata penghakiman dari banyak orang ketika mereka mendengar tentang asupan gizimu saat itu. Bukan tak mau, Mama hanya ingin melakukan sesuai anjuran dokter agar kamu terus bertumbuh sehat. Di saat dokter mengizinkan untuk tak lagi memberikan susu formula padamu, Mama dan Papa pun berjuang sekuat tenaga agar kamu tak perlu menangis kelaparan karena kurangnya pasokan ASI.

Baca Juga: Bayi sering Digendong dan Dipeluk: Bau Tangan, Manja, atau Justru, Sehat Jiwa Raga?

Tantangan terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu; Mama harus kembali bekerja. Mama ingat, itu pagi pertama mengantarmu ke rumah Oma. Hati Mama merasa tenang karena Mama yakin Oma akan merawatmu dengan sangat baik; Oma jugalah yang membantu Mama merawatmu sejak awal. Namun, hati Mama seketika terbelah, melihat kamu terlelap di pelukan Oma dan Mama harus berbalik, segera melangkah pergi.

Di balik semua pergumulan ini, kamulah yang membantu Papa dan Mama melewati segalanya. Ketika kamu terjaga, membuka kedua mata kecilmu dan mengajak kami berkomunikasi, sesingkat apapun, kamu seakan mendorong kami untuk tidak berhenti melangkah. Kamu cukup sabar meladeni kami yang terus belajar merawat dan mengasuhmu. Kamu tidak mengizinkan kami menyerah atas petualangan yang kita jalani bersama ini. Belajar dan berjuang bukanlah pilihan, itulah bahan bakar utama kehidupan. Dalam lelapmu, melihat senyum kecil di wajah mungilmu, kami belajar untuk menjalani sehari demi sehari dengan hati yang lapang. Kamu menunjukkan kepada kami ajaran Kitab Suci, "Kesusahan satu hari cukuplah untuk satu hari."



Pearl kesayangan Papa dan Mama,

Tak terasa, minggu ini kamu sudah berusia enam bulan; setengah tahun lamanya kita belajar dan bertumbuh bersama. Pertumbuhan terbesarmu bukanlah beberapa kilogram tambahan berat badanmu, bukan juga berapa sentimeter pertambahan tinggi badanmu. Kami tak pernah tak bersyukur melihat kamu bertumbuh sebagai anak yang ramah dan murah senyum. Tahukah kamu, bahwa senyummu telah menjadi penghiburan bagi kami dan banyak orang? Tahukah kamu, bahwa celotehmu mengajak kami bercakap-cakap telah menghangatkan hati kami? Kamu mengajarkan pada kami bahwa dunia ini membutuhkan kehangatan relasi yang tulus dan sederhana.

Tak perlu hadiah mahal atau gawai terbaru untuk membangun hubungan baik. Sebuah senyuman tulus adalah hadiah terbaik merekatkan relasi insan manusia.

Hari-hari Papa dan Mama tak pernah lagi sama. Setiap hari, selalu ada hal baru yang kamu tawarkan tanpa pamrih. Setiap pagi, kamu seakan memberi kami dorongan untuk melihat dunia ini dari kacamata yang berbeda, melihat keindahan yang tersembunyi di balik peristiwa. Kamu tak pernah menyerah; tubuh kecilmu bukanlah halangan untuk memberi dampak. Di tubuh semungil itu, kami menemukan kekuatan luar biasa yang kamu bagikan melalui ekspresimu yang apa adanya.

[Pearl usia 4 bulan - Dokumentasi Pribadi Penulis]


Selamat ulang bulan, Sayang!

Terima kasih, kamu tak pernah menyerah pada kami. Kehadiranmu membawa sukacita, tetapi juga mengajak kami untuk tak pernah berhenti menjadi pembelajar kehidupan. Papa dan Mama terus berdoa agar kamu terus bertumbuh, tak hanya menjadi kuat tapi juga memiliki kelembutan hati. Teruslah belajar dan berkembang dengan segala keunikan dalam dirimu. Bersyukurlah untuk semua dan setiap berkat yang kamu terima di hidup ini. Papa dan Mama berharap kamu akan bertumbuh membawa kehangatan bagi banyak orang dengan cara yang istimewa.

[Tangan mungil Pearl, 6 bulan dan terus bertumbuh - Dokumen Pribadi Penulis]



Baca Juga:

Single Parents: Segenap Hati Mencintai di Tengah Keterbatasan Diri

Working Mom, Rasa Bersalah dan Cara Mengatasinya

Odil, Gadis Kecil dengan Kelainan Struktur Wajah Langka yang Membuat Saya Belajar Memaknai Kembali 7 Hal yang Sungguh-Sungguh Penting tentang Hidup



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Untuk Pearl, Si Mungil yang Berjuang Melewati Pre-Eklampsia dan Kelahiran Prematur Bersama Mama: Besar Kekuatanmu, Nak!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Margie Yang | @margieyang

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar