Untuk Kita yang Masih Diberi Waktu, dari Berpulangnya dr. Oz Indonesia, Ryan Thamrin

Reflections & Inspirations

[Photo credit: instagram @dr_ryanthamrin]

3.5K
Penyesalan paling dalam sering kali bukan karena apa yang sudah kita lakukan, melainkan apa yang tidak pernah kita lakukan.

“Pi, dr. Oz Indonesia mati, lho,”

demikian ujar anak perempuan saya.


Terus terang saya terkejut dan merasa kehilangan. Mengapa?

Di samping ganteng, dokter ini membawakan acara 'dr. Oz Indonesia’ dengan baik sekali. Saya bisa menikmati dunia dan ilmu kedokteran - yang menjadi cita-cita masa kecil saya dulu - dengan lebih lahap. Caranya menjelaskan penyakit dan pernak-perniknya begitu memukau. Santai tapi serius.

Namun, siapa sangka di balik wajah yang tampan dan tubuh yang atletis ada sakit misterius yang menggerogoti tubuh dan akhirnya membuatnya tumbang. Dalam kondisi masih lajang!

Ada berita yang menulis bahwa almarhum sempat menderita maag akut. Dokter sahabatnya mengatakan ia kecapekan dan kurang tidur. Mana yang benar, saya tidak tahu. Namun, ini yang saya tahu: Dokter sekalipun membutuhkan keseimbangan dalam hidup.

Di tengah kesedihan saya - mengapa orang muda berpotensi seperti dr. Ryan Thamrin cepat sekali berpulang - saya merenungkan tiga hal ini:



1. Hidup ini adalah kesempatan

Ketika anak saya berulang tahun yang kedua puluh, saya kadoi dia buku What I Wish I Knew When I Was Twenty karya Tina Selic. Bagi saya, bukan hanya apa yang saya harap saya tahu ketika saya berusia dua puluh tahun yang penting, tapi ini: Apa yang saya harapkan sudah saya lakukan ketika saya berusia dua puluh tahun.

Mengapa?

Karena apa yang ingin saya lakukan dulu belum tentu,
bahkan bisa jadi sudah tidak mungkin lagi,
saya lakukan kini.

Misalnya, sejak dulu saya ingin sekali bisa belajar saxophone. Bahkan sampai hari ini, keriduan itu masih membuncah dalam hati saya. Saat itu, meskipun sempat mencicipi belajar sebentar, harga alat musik itu tidak terjangkau bagi kantong saya. Kalau yang ini sampai sekarang juga belum terjangkau ... hehehe. Terlebih faktor waktu! Masa tidak bisa sih menyisihkan waktu untuk sekadar belajar meniup sax? Bisa, tetapi ada prioritas lain.

Baca Juga: Kini: Satu-satunya Waktu untuk Mencintai. Esok Mungkin Tak Pernah Ada, Cinta Bisa Pergi Kapan Saja



2. Selama masih ada waktu

Bagi saya, ‘waktu’ bukan sekadar 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.

“Saya pernah berharap Tuhan memberi saya waktu 30 jam sehari,” ujar Wahyu, seorang rekan dosen yang sangat saya kenal karena dulu mahasiswa saya.

Jadi, waktu bukan sekadar ukuran kuantitas, melainkan juga kualitas. Artinya, 24 jam sehari bagi seseorang bisa lebih dari cukup, tetapi masih kurang bagi orang lain.

Yang paling penting bukan panjang pendeknya waktu,
namun apa yang kita kerjakan untuk mengisi waktu itu.

Apakah kita telah melakukan yang terbaik bagi Sang Pencipta dan ciptaan-Nya di dalam alokasi waktu yang Dia sediakan? Atau kita menghambur-hamburkannya untuk sesuatu yang tidak bermakna?

Tanpa kita sadari, waktu berjalan - lebih tepatnya berlari, bahkan terbang! - demikian cepatnya. Dari mana kita tahu? Pertama, kondisi fisik kita. Dalam perjalanan menyusuri Rocky Mountains, tiba-tiba saja saya mengamati tangan saya yang terpapar oleh matahari musim panas yang menerobos dengan ganas melalui kaca jendela kendaraan. Saya kaget ketika melihat kulit yang mulai keriput. Astaga! Sudah tua saya. Lho, baru tahu, ya? Wkwkwk.

Kita sering kali terlena dengan kehidupan yang berjalan begitu cepat sehingga lupa bahwa usia kita pun beranjak senja.

Baca Juga: Jangan Sesal Jadi Ujung Suksesmu. Belajar dari Sakitnya Jet Li, Persiapkan Ini Selagi Muda



3. Lakukan yang terbaik

Saya percaya, meskipun dr. Ryan Thamrin dipanggil Tuhan dalam usia yang masih relatif muda, 39 tahun, dia sudah melakukan yang terbaik.

Kecerdasan dan ketampanannya sudah dia persembahkan secara maksimal. Berkali-kali menang, dalam lomba cover boy dan ajang Abang dan None, menunjukkan bahwa dia ingin membaktikan hidupnya untuk Tuhan dan sesama. Acaranya di televisi amat bermanfaat bagi para pemirsa, termasuk saya. Saya begitu senang mendengarnya mempresentasikan dunia kedokteran dengan cara yang begitu fun dan elegan.

Baca Juga: Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga Ini


Belajar dari berpulangnya dr. Ryan Thamrin, apa yang bisa kita lakukan?

Ini:
Jangan sampai kita menyesal karena belum atau bahkan tidak melakukan apa yang seharusnya bisa kita lakukan.
[Photo credit: Julie Davis]

Penyesalan paling dalam sering kali bukan karena apa yang sudah kita lakukan

- meskipun ada kesalahan dan kegagalan di sana sini -

melainkan apa yang tidak pernah kita lakukan

dan - tentu saja - tidak tahu dan tidak ada hasilnya.




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Untuk Kita yang Masih Diberi Waktu, dari Berpulangnya dr. Oz Indonesia, Ryan Thamrin". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar