Untuk Indonesia yang Lebih Baik : Bakti Bagi Keluarga dan Negeri. Inspirasi dari Kartini

Reflections & Inspirations

3.6K
"Apa yang tidak kamu jumpai dari aksara Belanda?" Kartini pun terdiam sejenak, seperti tidak dapat menjawab. Lalu, Yu Ngasirah mengatakan, "Bakti!"

Sebenarnya agak terlambat bagi saya dan istri untuk pergi menonton film Kartini. Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo, tayang beberapa waktu sebelum peringatan hari Kartini, terus terang tidak terlalu menarik minat saya sebetulnya. Namun, sebagai penikmat film akhirnya saya dan istri putuskan untuk menyaksikannya. Ternyata, pikiran dan perasaan saya diaduk begitu rupa oleh sentuhan khas dari sutradara film ini.

Biasanya, penikmat sinema akan bereaksi dan berefleksi secara umum tentang emansipasi, kebebasan, kesetaraan dan beberapa hal berkaitan dengan itu. Hanya sebatas melihat kepada perbedaan kultural, mulai dari budaya ningrat Jawa dengan berbagai tradisi yang dipertontonkan, sampai kepada pemikiran Belanda. Tetapi, bagi saya, ada satu adegan dan percakapan yang mengusik pikiran dan emosi.

Adegan itu adalah pada saat Kartini yang sedang bergulat dengan diri-tradisi-kondisi, dipingit bahkan dikurung di kamar sendiri, kemudian dibebaskan oleh yu Ngasirah, yang adalah ibundanya dan mereka berdua berbicara dari hati ke hati.

Dalam ingatan saya, ada dua pertanyaan yang ditanyakan oleh ibu Ngasirah kepada anaknya, "Ni, apa yang kamu temukan dari aksara Belanda?" Jawab Kartini, "kebebasan, bu!"

Ini yang membuat Kartini terus melakukan perjuangan mewujudkan kesetaraan sosial pada jaman itu. Namun, pertanyaan belum selesai, ibu Ngasirah melanjutkan,

"Apa yang tidak kamu jumpai dari aksara Belanda?" Kartini pun terdiam sejenak, seperti tidak dapat menjawab. Lalu, Yu Ngasirah mengatakan, "Bakti!"

Sontak saya berpikir dengan perasaan yang cukup terkoyak, sembari bertanya, "Apakah artinya 'bakti' itu?" "Bagaimana mungkin kebebasan yang hendak diwujudkan oleh Kartini dapat berjalan beriringan dengan tindakan 'bakti'?"

Semua orang, saya kira sudah membaca dan melihat cerita dari dinamika kehidupan sosok Kartini, bagaimana akhirnya dia memilih dan mengambil keputusan. Namun, saya mencoba untuk melihat sisi dari makna 'bakti' yang diucapkan oleh ibu Ngasirah kepada anaknya, Trinil atau Kartini.


Bakti dimulai dari diri sendiri

photo credit: brightfuture.unilever

Pikiran saya mengarah kepada istilah 'bakti', yang pastinya dimulai dari diri sendiri, ditunjukkan kepada lingkungan keluarga yang dicintai. Bahkan kalau bisa, sampai kepada negara di mana seseorang tinggal. Namun, nampaknya nilai 'bakti' ini semakin terlihat luntur dan mengendur, diterpa oleh berbagai angin jaman. Apakah masih relevan berbicara mengenai 'bakti' di dunia pasca modern dengan percepatan teknologi, informasi dan memengaruhi gaya hidup ini?


Bakti adalah tunduk, hormat, memperhambakan diri, dan perbuatan yang menyatakan kesetiaan.

Itulah sebabnya kita mengenal istilah 'kerja bakti,' di mana setiap orang yang bekerja bersama-sama tersebut, melakukannya atas dorongan 'bakti,' yakni saling tunduk dan menghambakan diri. Bukankah hal semacam ini sepertinya sudah tidak laku di pasaran? Mana ada orang yang mau melakukan sesuatu dengan 'bakti' lagi sekarang? Orang-orang dapat melakukan sesuatu yang diukur dengan harta atau kuasa, yaitu uang dan jabatan. Masih adakah 'bakti' yang dijumpai di dalam keluarga-keluarga Indonesia? Masih adakah 'bakti' dari diri kepada negeri?

Baca juga: Beda Jangan Disamakan, Sama Jangan Dibedakan: Memandang Perbedaan Lewat Kacamata Gus Dur

Mengamati kondisi keluarga-keluarga sampai keadaan bangsa beberapa waktu terakhir, maka 'bakti' perlu untuk dimaknai kembali bahkan dihidupi.

Sebagai seorang anak, sudah sepantasnya terus belajar berbakti kepada orang tua, apapun kondisinya. Hal ini mengajarkan kita, bukan hanya semata-mata posisi dari anak di hadapan orang tua, namun bagaimana seorang anak belajar hormat, bahkan menghambakan diri.


Bakti dilekatkan pada karakter seseorang mulai dari lingkungan keluarga

photo credit : muda

Ini bukan soal harga diri yang seakan lebih rendah dan bisa diinjak-injak, namun bagaimana di dalam keluarga dapat membangun nilai ketundukan dengan kasih dan sukacita, bukan paksaan. Mungkin sebagai anak, seseorang berkata: "Aku tidak bisa berbakti kepada orang tua yang semacam itu!" Entahkah, orang tuanya dalam keadaan yang memprihatinkan, menjengkelkan, bahkan memalukan. Tetap, 'bakti' itu melekat kepada diri yang mengaku sebagai seorang anak. Sebab, di dalam keluarga seseorang akan dilatih kepribadian dan karakternya, sehingga sifat bakti itu teruji.


Dari keluarga itu, 'bakti' selanjutnya dapat mengalir kepada bangsa dan negara

photo credit: One World 365

Jangan berkata, "Bakti kepada negeri" kalau diri tidak teruji bakti kepada keluarga yang ngakunya dicintai. Mungkin bumi persada nusantara ini mempertanyakan kembali, adakah orang-orang yang benar-benar mau membaktikan diri? Atau carut marutnya bangsa ini disebabkan oleh orang-orang yang sudah tidak tahu diri? Jangan berani bernyanyi, "Padamu negeri, kami berjanji, berbakti dan mengabdi" kalau segala daya upaya yang dikerjakan masih berujung kepada kepuasan diri.

Mari tengok kondisi bangsa akhir-akhir ini, dan bertanyalah: "Apa baktiku untuk Indonesiaku?"


Baca juga: Saya Cina. Walau Tak Selalu Mudah, Saya Memilih Tetap Mencintai Indonesia. Ini Kisah Saya


Baca juga tulisan-tulisan inspiratif ini :

Inilah 4 Bentuk Warisan Berharga, Namun Tak Pernah Diperebutkan. Orangtua, Siapkan Hal-hal Ini demi Masa Depan Anak-anak

Ibuku adalah Kartiniku: Inilah Nilai-nilai Kehidupan yang Ia Ajarkan Kepadaku

Jangan Terlalu Cepat Mengatakan Benci, karena Cinta Bersemi Ketika Kita Membuka Diri


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Untuk Indonesia yang Lebih Baik : Bakti Bagi Keluarga dan Negeri. Inspirasi dari Kartini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Natanael DBJ Pratama | @natanaeldbjpratama

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar