Kejujuran, Satu-satunya Jalan Penyembuhan. Inilah 7 Pengakuan yang Akan Membebaskan Diri dari Rasa Sakit karena Menyimpan Luka Batin

Ex & Broken Hearts

[Image: isthishonesty.wordpress.com]

23.2K
Semakin kita terbuka dengan luka batin kita, semakin ringan beban kita untuk menghadapi dan menyelesaikannya. Semakin kita pendam mendalam, semakin luka itu mencari jalan untuk memanifestasikan kehadirannya.

Setiap manusia pasti pernah mengalami luka. Luka bisa bersifat fisik pada salah satu bagian tubuh, ada juga luka yang bersifat non fisik. Luka yang bersifat fisik pada umumnya terlihat, sedangkan luka non fisik tidak terlihat. Luka non fisik itulah yang populer disebut sebagai luka batin. Luka batin adalah kondisi jiwa seseorang yang tidak sehat, sehubungan dengan penderitaan yang terjadi dalam hidupnya.

Berbeda dengan luka fisik yang terlihat, dan dengan demikian, mudah untuk mendapatkan perawatan, luka batin seringkali tidak nampak jelas. Orang yang mengalami luka batin bahkan seringkali tidak menyadari kehadiran luka itu di dalam hidupnya. Orang-orang di sekitarnyalah yang merasa bahwa ada yang kurang beres dengan ucapan atau tindakan orang yang terluka itu. Itulah mengapa, tugas penyembuhan luka batin mesti diawali dengan mengenali luka itu.

Inilah tujuh pengakuan yang akan menyembuhkan luka batin:


1. Saya menyadari bahwa luka batin adalah bagian tak terhindarkan dalam perjalanan hidup

Luka batin bukanlah hal yang luar bisa. Seperti juga luka yang bersifat fisik, luka batin adalah bagian tak terhindarkan dalam perjalanan hidup kita. Di dalam hidup ini, kita bertemu dan berelasi dengan orang-orang yang bisa menyebabkan penderitaan. Di sisi sebaliknya, dengan segala kelemahan dan keterbatasan, kita juga bisa menjadi sumber luka batin bagi orang lain. Di mana ada dua atau lebih manusia bertemu, maka terbuka kemungkinan terjadinya luka batin. Sepanjang perjalanan hidup, luka batin adalah bagian yang tak terhindarkan.


2. Saya memahami bahwa luka batin itu seringkali terkait dengan orang-orang terdekat

Ada tiga sumber luka batin di dalam kehidupan kita: trauma, rasa bersalah dan rasa tertolak.

Sumber pertama, trauma. Trauma adalah pengalaman emosional yang mengejutkan dan mempunyai dampak yang berkelanjutan. Misalnya, paman melakukan pelecehan seksual terhadap diri Anda. Trauma ini akan mengakibatkan luka batin.

Sumber kedua, rasa bersalah. Rasa bersalah adalah perasaan tidak enak yang muncul dari penyesalan, tertekan, malu dan penghakiman diri sendiri, ketika kita telah memikirkan atau melakukan apa yang menurut kita salah, atau gagal melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Misalnya, karena terlambat menjemput adik di sekolah, adik yang terpaksa berjalan kaki sendiri mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke rumah. Rasa bersalah ini menyebabkan luka batin.

Sumber ketiga, rasa tertolak. Rasa tertolak adalah perasaan yang dihasilkan akibat peristiwa tidak diterima atau tidak diakuinya keberadaan seseorang. Misalnya, orangtua mengharapkan anak perempuan setelah mempunyai tiga anak laki-laki. Ternyata hasil pemeriksaan memastikan bahwa anak keempat ini juga berjenis kelamin laki-laki. Orangtua sepakat untuk menggugurkan, namun toh akhirnya bayi tersebut lahir dengan sehat. Namun demikian, sejak di dalam kandungan, Ia mengalami penolakan yang ternyata berlanjut sampai masa kanak-kanak. Orangtuanya terus mendandaninya dengan pakaian perempuan.

Jika kita perhatikan tiga sumber luka batin itu, maka kita akan menemukan bahwa sumber luka batin itu seringkali terkait dengan orang-orang terdekat. Mengapa justru orang-orang terdekat yang menimbulkan luka itu? Karena merekalah yang ada di dalam dan dekat dengan hati kita.

Mereka yang berada dekat dengan hati kita, berada dalam posisi yang tepat untuk mengasihi dan juga melukai.


3. Saya memahami bahwa orang bisa tidak sengaja ataupun sengaja melukai

Luka batin itu seringkali terkait dengan orang-orang terdekat. Namun, kita tidak boleh mengartikan bahwa setiap luka itu terjadi karena orang-orang terdekat itu memang merencanakan yang jahat untuk menghancurkan kehidupan kita. Tentu saja ada yang melukai dengan sengaja. Namun juga tidak menutup kemungkinan ada yang terjadi tanpa unsur kesengajaan.

Misalnya, orangtua kita sedang berkonflik. Dalam kadar kemarahan yang tinggi, ayah menyebut bahwa anak-anak adalah pembawa sial. Perkataaan ini sebenarnya ditujukan kepada ibu, namun kita juga sayup-sayup mendengarnya. Batin kita menjadi terluka. Tentu saja dalam kadar kemarahan yang tinggi, orang tidak dapat berpikir jernih. Terbuka kemungkinan bahwa ayah tidak benar-benar memaksudkan apa yang dikatakannya. Berbeda misalnya apabila ayah, sambil menatap tajam ke mata kita, tangannya menunjuk sambil berkata,” Dasar, kamu anak pembawa sial!”

Kita harus mampu membedakan dua hal ini, agar tidak jatuh dalam generalisasi bahwa semua terjadi dengan sengaja. Agar kita tidak meletakkan semua kesalahan pada diri kita sendiri. Kita merasa diri kita begitu buruknya. Padahal belum tentu kenyataannya seperti itu. Ketika kita mampu mengenali dan membedakan keduanya, maka itu akan mempermudah kita ketika berurusan dengan luka itu dalam proses penyembuhan.


4. Saya mengerti bahwa setiap luka batin mempunyai dampak di dalam perjalanan kehidupan selanjutnya

Di dalam Alkitab ada kisah menarik tentang seorang hakim bernama Yefta. Roh Allah turun ke atas Yefta dan Ia bernazar, apabila mereka memenangkan peperangan melawan Bani Amon maka apapun yang keluar dari pintu rumahnya akan dipersembahkannya sebagai korban bakaran kepada Tuhan. Yefta ternyata menang, namun sayangnya, yang keluar dari pintu rumahnya adalah anak perempuan satu-satunya.

Sebuah Nazar yang sembrono. Mengapa Yefta mengucapkan nazar ini? Tentu saja karena Ia ingin menang. Apa arti kemenangan ini bagi Yefta? Itu berarti Ia akan kembali ke kampung halamannya sebagai pahlawan dan menjadi pemimpin atas orang Israel. Hal ini adalah hal yang sangat penting baginya, mengingat dahulu Yefta pernah diusir dari kampung halamannya, karena ia adalah anak dari hasil hubungan Gilead dengan seorang perempuan sundal. Pengalaman tertolak di masa kecil telah menimbulkan luka batin bagi Yefta. Dampaknya terasa beberapa tahun atau puluh tahun kemudian. Walaupun Ia dipenuhi Roh Allah, namun dalam kerinduan akan penerimaan yang amat sangat, Yefta mengucapkan nazar yang sembrono.

Mari cermati sikap dan perilaku kita. Apakah di dalam hidup kita ada beberapa hal yang menjadi penanda hadirnya luka batin itu?

Sikap dan perilaku seperti cepat menyalahkan orang lain, terlalu percaya diri sehingga mengabaikan orang lain, kurang percaya diri sehingga tidak berani melangkah, obsesi tanpa henti terhadap sesuatu, merusak diri, dan terus melakukan sesuatu yang diketahui salah namun tidak dapat berhenti adalah sebagian tanda dari kehadiran luka batin itu.


5. Saya berjuang bersama Tuhan untuk memaafkan mereka yang telah menyebabkan luka batin

Tidak ada masa depan tanpa pengampunan.

Pengampunan memang tidak dapat mengubah masa lalu, namun pasti akan mengubah cara kita menjalani hidup di masa kini dan masa depan. Jika kita pernah mengalami trauma dan penolakan yang menyebabkan luka batin, maka pengampunan akan menjadi jalan penyembuhan. Siapa yang harus kita ampuni? Mereka yang telah menjadi pelaku penolakan dan penyebab trauma itu. Bagaimana dengan luka batin akibat rasa bersalah? Siapa yang harus kita ampuni? Diri kita sendiri.

Mengampuni berarti melepaskan hak untuk membalas. Mengampuni juga berarti menyerahkan pembalasan di tangan Tuhan. Terhadap diri sendiri, mengampuni berarti berhenti menghukum dan menyalahkan diri.

Tentu bukan perkara mudah untuk mengampuni orang lain atau diri sendiri. Namun sesuatu yang tidak mudah ini, sesungguhnya, adalah hadiah paling berharga yang bisa kita berikan pada diri sendiri.


6. Saya akan meminta pertolongan orang lain untuk mendapatkan kekuatan dalam proses penyembuhan luka batin

Proses penyembuhan luka batin akan berjalan lebih efektif ketika kita berjuang bersama dengan orang-orang lain. Kita dapat menghubungi pendeta, psikolog, atau mengikuti retret-retret pemulihan untuk membukakan perspektif kita tentang luka batin dan mendapatkan pertolongan yang semestinya. Penyembuhan dengan pertolongan orang lain atau kelompok menuntut kita untuk membuka diri terhadap luka yang ada.

Uniknya, semakin kita terbuka dengan luka batin kita, semakin ringan beban kita untuk menghadapi dan menyelesaikannya. Semakin kita pendam mendalam, semakin luka itu mencari jalan untuk memanifestasikan kehadirannya.


7. Saya berupaya membagikan hikmah dari luka batin itu bagi pergumulan orang lain

Satu hal terpenting yang kadangkala terlupakan adalah bahwa kita bukan satu satunya orang dengan luka batin di dunia ini.

Masih ada banyak orang dengan luka batin yang relatif sama. Ketika kita belajar untuk menyembuhkan luka, maka proses itu bisa menolong orang lain yang ingin mendapatkan pemulihan. Jatuh bangun kita dalam proses pemulihan akan membuka jalan bagi orang lain dalam proses penyembuhan luka batin.


[Image: ourdailybread.org]

Mari kita belajar berbagi tentang luka kita. Niscaya kita akan menemukan betapa banyak orang yang mempunyai luka yang sama. Kita tidak akan lagi merasa sendirian dalam proses penyembuhan ini. Kita akan menjadi lebih mantap menjalani langkah-langkah penyembuhan, sebab kita sadar, ada orang lain yang juga sedang berjalan bersama kita.


Baca Juga:

Cara Memulihkan Diri dari Pengkhianatan Orang Terdekat

Memandang Diri Sendiri dengan Tepat: Berharga, Apapun yang Kita Rasakan. Istimewa, Apapun Kata Orang




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kejujuran, Satu-satunya Jalan Penyembuhan. Inilah 7 Pengakuan yang Akan Membebaskan Diri dari Rasa Sakit karena Menyimpan Luka Batin". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @wahyupramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar