Menghukum Anak untuk Mendisiplinkan Mereka? Mayoritas Orangtua Melakukan Satu Kesalahan Fatal Ini

Parenting

[Image: herfamily.ie]

2.6K
Kebanyakan orangtua memberikan hukuman pada anak sebagai sebuah reaksi atas pelanggaran. Dengan jarak antara pelanggaran dan hukuman yang begitu pendek, maka apa yang terlintas di kepala, itulah yang orangtua lakukan. Apakah hukuman - yang selintas terpikir - itu efektif?

Sehari sebelum tanggal merah, saya mengajak teman saya untuk menghabiskan waktu libur bersama. Kedua anaknya, yang merupakan teman baik anak saya, pasti akan sangat senang bila bisa bermain bersama dengan anak saya. Untuk anak-anak berusia 5-7 tahun, tempat bermain tidaklah penting. Asal ada teman, segala benda bisa dijadikan mainan dan segala tempat bisa mereka ubah menjadi dunia fantasi. Namun, ternyata kemudian teman saya berkata, “Maaf ya, kami tidak bisa ikut. Kedua anak kami sedang kami hukum karena mereka nakal sekali di acara keluarga kemarin.”

Menurut teman-teman, apakah yang diharapkan oleh rekan saya ketika ia menerapkan disiplin kepada anak-anaknya itu?

Pada waktu yang lain, teman saya berkata bahwa mereka sedang mendisiplin anak sulung mereka. Kami pun bertanya, "Apa yang kalian lakukan?" Ia menjawab bahwa anaknya sedang di-time out. Si anak dibiarkan berada di dalam kamar dan tidak diperbolehkan keluar untuk satu kurun waktu tertentu.

Kira-kira, time-out ini bermanfaat atau tidak, ya?

Saya pun pernah mencoba menghukum anak saya dengan menyuruh dia berdiri tegak menghadap dinding, tanpa boleh bergerak. Sejujurnya, saya tidak terlalu mengerti mengapa banyak orangtua menerapkan ini, tetapi saya merasa tidak ada salahnya menghukum dia dengan cara ini. Jadi, saya meminta anak berusia 6 tahun itu untuk merenung dan menyesali perbuatannya. Saya berikan waktu yang sangat panjang baginya untuk melakukan itu. Tetapi setelah semuanya selesai, saya baru sadar, ia mungkin bahkan belum mengerti apa arti kata 'merenung' itu sesungguhnya.

Jika demikian halnya, apakah hukuman yang saya berikan itu ada gunanya atau tidak?


Kebanyakan kita, termasuk saya, memberikan hukuman kepada anak sebagai sebuah reaksi terhadap pelanggaran, atas sesuatu yang mereka lakukan atau yang tidak mereka lakukan. Dan, karena jarak antara pelanggaran dan hukuman amat pendek, seringkali hukuman yang kita berikan adalah apa yang pertama kali terlintas di kepala kita. Kemudian, setelah memberikan hukuman, kita menganggap bahwa tujuan kita sudah tercapai: mereka jera. Kita berpikir bahwa bila mereka jera, mereka tidak akan melakukan pelanggaran lagi.

Sobatku, apa sih sebenarnya yang kita harapkan ketika kita mendisiplin anak-anak kita? Pernahkah kita mengambil waktu berpikir, bilamana disiplin yang kita terapkan bisa menghasilkan objektif yang kita kejar? Benarkah kita hanya ingin menghukum anak kita - membuat mereka merasa tidak nyaman dan menyesal - ataukah adakah makna yang lebih dalam yang kita ingin mereka pahami lewat disiplin yang kita terapkan?


Disiplin: Sebuah Pemaknaan Ulang

Untuk memulai diskusi tentang tujuan dari disiplin ini, saya merasa perlu bagi kita untuk menyamakan persepsi dan pengertian kita tentang kata 'disiplin' terlebih dulu. Terlepas dari apa yang telah menjadi pengertian kita selama ini, saya ingin mengajak kita untuk membuka pikiran, menerima definisi disiplin yang mungkin baru buat sebagian kita.

Kata 'disiplin' berasal dari bahasa Latin 'disciplina'. Kata ini digunakan dengan tujuan untuk mengajar, belajar, dan memberikan instruksi. Jadi dari asal katanya, disiplin memiliki arti mengajar.

Dengan menggunakan definisi ini, maka ketika kita mendisiplinkan anak-anak kita, itu berarti kita sedang ingin mengajarkan sesuatu kepada mereka. Layaknya murid diajar oleh guru, kita ingin anak-anak kita berubah melalui pembelajaran yang kita berikan. Dan, dari pengalaman saya, pembelajaran yang paling berkesan dan paling mudah diingat bisa terjadi bilamana diberikan dengan instruksi yang jelas dan dibuat menarik. Seorang murid yang terinspirasi oleh gurunya akan menyerap pembelajaran dengan sangat mudah.

Sehubungan dengan itu, permisi bertanya: emosi seperti apakah yang akan muncul dalam diri anak kita ketika kita berkata bahwa kita ingin mendisiplinkan mereka?

Mengenai anak saya, saya tahu apa yang sering ia rasakan. Ia akan merasa takut, akan merasa tak berdaya karena tidak bisa melawan, atau akan merasa sedih. Ia bisa juga merasa bingung dengan hukuman yang saya berikan. Tidak jarang pula ia merasa marah. Dan bila anak-anak Anda mirip dengan anak saya, tidaklah mengherankan bila mereka kembali mengulang kesalahan yang sama, bukan?

Melalui buku 'No-Drama Discipline', Daniel J. Siegel dan Tina Payne Bryson mengajak kita untuk memikirkan ulang konsep disiplin yang selama ini kita percayai. Mereka mengajak kita untuk mulai melihat disiplin sebagai salah satu hal yang paling mengayomi dan mengasihi yang bisa kita lakukan untuk anak-anak kita. Dengan menggantikan arti 'disiplin' dari memegang kontrol atau menghukum menjadi mengajar dan membangun pribadi, waktu-waktu disiplin ini bisa menjadi hadiah yang luar biasa untuk anak-anak kita, untuk keluarga kita, dan untuk dunia.




Tujuan Disiplin, Tujuan Pembelajaran

Ada dua tujuan yang bisa dicapai bila kita melihat proses disiplin kepada anak dari sudut pandang untuk mengajar. Yang pertama, tentu saja agar anak-anak kita mau belajar untuk melakukan hal yang benar. Ketika anak-anak kita membuang mainannya, memukul temannya, atau berkata kasar kepada Mbak, kita ingin mereka bersikap sebagaimana mestinya. Dan buat kebanyakan orang, inilah satu-satunya tujuan yang bisa terpikirkan, sebuah tujuan jangka pendek yang segera memberikan hasil.

Akan tetapi, bila kita benar-benar merenungkannya lagi, bukankah sebenarnya kita menginginkan sesuatu yang lebih? Bukankah kita ingin agar ketika mereka dewasa, pembelajaran ini bisa tertanam dan menjadi bagian dari diri mereka? Tidak ada dari kita yang berharap bahwa sikap memukul teman akan terus dibawa hingga mereka dewasa, bukan? Dan inilah tujuan kedua yang bisa dicapai bila kita memahami disiplin sebagai suatu kesempatan mengajar. Paradigma ini akan membawa kita untuk mencari cara bagaimana memberikan instruksi dan bimbingan yang tepat kepada anak-anak kita agar mereka bisa mengembangkan kemampuan dan cara untuk menghadapi situasi yang tidak nyaman, rasa frustrasi, dan gelombang emosi yang memungkinkan mereka untuk lepas kendali. Tujuan kedua berbicara mengenai bagaimana caranya membantu anak-anak membangun pengendalian diri dan memiliki kompas moral, sehingga walaupun figur otoritas seperti orangtua tidak hadir, mereka tetap bijak dan berbuat yang benar.

Bisakah kita bayangkan kekuatan dari disiplin dan dampaknya terhadap anak bila kita menerapkannya dengan benar? Bisakah kita bayangkan bahwa ketika kita mendisiplinkan anak, kita tidak melakukannya semata sebagai reaksi terhadap pelanggaran yang mereka lakukan, tetapi sebagai pembelajaran yang bertujuan, yang bukan saja memberikan hasil yang lebih baik untuk waktu sekarang, tetapi juga menjadi bibit yang akan membentuk mereka menjadi manusia yang lebih mulia di hari esok?

Maukah kita mencobanya? Maukah kita berubah demi masa depan anak-anak yang lebih baik? Maukah kita mulai mengubah definisi disiplin yang selama ini kita pegang dan melihatnya dari sisi pengajaran?

Tidak ada kata terlambat, sobat. Mari kita mulai pada hari ini!


* Artikel ini merupakan bagian ketiga dari rangkaian 6 tulisan tentang menerapkan disiplin pada anak. Artikel pertama - tentang memukul dan mendisiplinkan anak - dapat Anda baca di tautan ini. Artikel kedua - tentang 4 peran orangtua dalam hidup seorang anak - di sini.



Baca Juga:

5 Bahaya Masa Kini yang Mengancam Jiwa Anak-Anak Kita

Anak Bermasalah? Jangan-Jangan Akibat 5 Gaya Pengasuhan yang Keliru Ini

Awas! 9 Perilaku Orangtua yang Terlihat Sepele ini Ternyata Dapat Memicu Kenakalan dan Bahkan Kejahatan Anak



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menghukum Anak untuk Mendisiplinkan Mereka? Mayoritas Orangtua Melakukan Satu Kesalahan Fatal Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar