Tak Seindah Dongeng, Inilah 3 Realita yang Saya Pelajari dari Kisah Cinta Orangtua Saya

Love & Friendship

[Image: ubertopic.com]

5.2K
Cinta sejati bukanlah cinta yang menggebu-gebu pada saat darah muda bergejolak, tetapi cinta di usia tua saat waktu telah mengubah segalanya. Cinta sejati tak harus selalu hadir pada pandangan pertama, tetapi dibuktikan dalam bentangan waktu dengan berbagai kondisi yang sulit sebagai penguji.

Saya akan menceritakan sebuah kisah cinta. Tentang A Kit dan Su Kiang, dua orang manusia biasa dengan cinta yang luar biasa. Sebuah kisah cinta sejati - yang nyata, yang Tuhan perlihatkan di depan mata saya sendiri. Kisah cinta kedua orangtua saya.


Tumbuh Bersama di Bangka

Papa [A Kit] dan Mama [Su Kiang] sebenarnya sudah saling mengenal sejak kecil. Mereka tumbuh bersama di sebuah pulau yang dikenal karena timah putihnya, Bangka. Bangka adalah pulau kecil yang memiliki pantai yang yang sangat indah, kaya dengan fauna laut. Meskipun sudah lama saling mengenal, tidak pernah ada pikiran apa pun tentang Papa di dalam diri Mama. Perbedaan usia sebabnya, Papa tujuh tahun lebih tua darinya. Komunikasi mereka sebatas saling menyapa ketika berpapasan di jalan. Lagipula, ketika itu ada seorang teman baik Papa yang sedang naksir Mama. Papa sering mengantar temannya itu ke rumah Mama.

Di Bangka, Mama sempat berpacaran dengan seorang anak pemilik toko kain, namun hubungan itu tak berhasil. Pria itu perlahan semakin menjauh dan akhirnya memutuskan Mama. Orangtua pria itu merasa keberatan karena mama orang Tio Ciu. Menurut mereka, menikahi seorang wanita Tio Ciu memerlukan mas kawin yang banyak, mereka tidak sanggup memenuhi itu. Well, it's his loss. Betapa menyesalnya pria itu ketika pada akhirnya ia tahu, Mama dipinang Papa tidak dengan mas kawin bejibun. Setelah putus dengan Mama, pria itu tidak berpacaran dengan siapa pun. Ia baru menikah setelah mengetahui Mama telah menikah dengan Papa, itu pun lewat perjodohan yang diatur oleh orangtuanya.

Saat itu kondisi perekonomian sangat sulit. Orang harus mengantre untuk mendapatkan beras dan air bersih. Mama adalah anak ketiga dari 10 saudara, sedangkan Papa sulung dari 9 saudara. Mereka harus berjuang untuk membantu perekonomian keluarga. Kakek saya, ayah dari Mama, menjual acar di belakang sebuah bioskop di jalan Maras. Penghasilan dari penjualan acar tidaklah seberapa. Mama bekerja apa saja untuk mendapatkan uang, mulai dari membuat dan menjual opak singkong, membantu jual acar, sampai akhirnya menjadi penjahit.

Kakek saya dari pihak ayah sudah meninggal dunia saat Papa masih remaja. Sebagai anak sulung, Papalah yang menjadi tulang punggung keluarga. Uang yang didapatkan dari hasil keringatnya ia berikan seluruhnya kepada ibunya untuk membiayai kehidupan adik-adiknya. Papa pernah bekerja membantu pedagang martabak manis, pernah pula mengangkut karung beras di pelabuhan sampai akhirnya naik pangkat menjadi mandornya.



"Kalau Jodoh, Tak Akan Ke Mana."

Untuk mencari penghidupan yang lebih baik, Papa dan Mama sama-sama pergi merantau ke ibukota. Tidak, mereka tidak janjian. Tapi ya, mereka sama-sama pergi. Di Jakarta, Mama mendapatkan pekerjaan sebagai tukang potong kain di sebuah konveksi, sedangkan Papa bekerja di pabrik piston. Mereka menjalani kehidupan masing-masing tanpa pernah bertemu satu sama lain. Mama sempat pacaran dengan seorang pria meski akhirnya putus. Papa? Papa nampaknya waktu itu masih terus saja menikmati statusnya sebagai jomblo akut [dan sepertinya ini menurun kepada anaknya: saya, hahahahaha].

Setelah beberapa tahun bekerja di Jakarta tanpa pernah bertemu sekali pun, waktu akhirnya mempertemukan mereka kembali. Di bandara, ketika lagi-lagi walaupun tanpa janjian, sama-sama akan kembali ke Bangka. Mereka terbang menumpang satu pesawat yang sama. Saat itulah mereka kembali bertegur sapa setelah bertahun-tahun berpisah.

Mama pernah bercerita, suatu ketika, di pernikahan seorang teman, Mama membantu menjadi panitia yang mengurusi konsumsi. Di situ mereka kembali bertemu. Tetapi kali ini Papa tidak datang seorang diri. Ia datang menemani seorang wanita. Anehnya, sepanjang acara bukannya menemani wanita itu, Papa malahan terus-menerus mengajak Mama ngobrol. Akhirnya wanita itu jengkel dan mengajak Papa pulang! Hahahahhaha ... wanita mana yang ga jengkel kalau begitu ceritanya, kan? Mama yakin kalau saat itu Papa tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita itu. [Soalnya mama memang jauh lebih cantik daripada wanita itu juga sih, hehehe]

Tak ada kemajuan berarti dalam hubungan Papa dan Mama, hingga suatu ketika Mama pergi makan dengan sahabatnya di Prensent, sebuah pusat hiburan di zaman itu. Ketika mereka sedang makan, sahabat Mama, A Mi, tiba-tiba melihat Papa, ”Kiang, itu ada A Kit!” Mama sebenarnya tak terlalu peduli, tetapi A Mi malah melambai-lambaikan tangan dan memanggil Papa. Papa pun datang menghampiri mereka. Sejak itulah Papa dan Mama menjadi semakin dekat. Hingga akhirnya mereka menikah di Bangka.

[Dokumentasi Pribadi Penulis]

Sejujurnya, Mama memperoleh tentangan saat memperkenalkan Papa ke saudara-saudaranya. Tentangan datang terutama dari sepupu Mama, ”Apanya sih yang kamu lihat dari A Kit? Dia bukan pria mapan!” Saya mendengar sendiri pengakuan itu dari khiew me saya setelah Mama meninggal. Satu hari setelah kepergian Mama, sambil memandangi foto keluarga kami Khiew Me berkata, ”Lihat Su Kiang. Dia cantik sekali. Dia hebat bisa mendidik ketiga anaknya sampai jadi semua. Dulu kita mah ga kasih dia sama A Kit. Apanya yang dilihat coba! Sudah dinasehati, eh dia tetap mau.” Sepupu Mama itu juga berkata kepada saya, ”Saya salut sama papa kamu. Dia bisa berusaha dari nol besar sampai bisa punya rumah di Jakarta.”

Baca Juga: Cinta Terhalang Restu Orangtua Pacar. Inilah 3 Pelajaran - tentang Cinta dan Mencintai - yang Saya Dapatkan dari Peristiwa itu



Tak Seindah Kisah Dongeng

Benar, Papa tidak punya apa-apa. Ketika kembali ke Jakarta, mereka bahkan tak punya tempat tinggal. Karena sudah menikah, Papa tidak diperbolehkan lagi untuk tinggal di mess yang disediakan oleh perusahaan seperti sebelumnya. Sebuah perubahan rencana mendadak, karena Papa dan Mama tidak mengetahui soal itu sebelumnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengontrak rumah di daerah kumuh. Sebuah rumah kecil dengan satu kamar tidur. Di rumah kontrakan kecil dan kumuh itulah koko saya lahir dan menjalani masa kecilnya selama beberapa tahun. Setelah menikah, Mama berhenti bekerja dan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Meskipun tinggal di rumah kecil dengan satu kamar tidur, terkadang mereka masih memberikan tumpangan kepada adik-adik mereka yang butuh menginap, tentu dengan ala kadarnya.

Papa adalah seorang pekerja keras yang pantang menyerah. Ia bekerja 2 shift setiap hari. Itulah sebabnya waktu kecil, saya jarang sekali bertemu dengan papa. Mama adalah seorang istri yang rela berkorban. Ia menggadaikan perhiasan emas yang dimilikinya sejak masih gadis untuk membantu Papa agar kami dapat membeli rumah. Di kemudian hari, perhiasan emas itu ditebus kembali oleh Papa.

Baca Juga: 3 Cara Suami Mengatakan I Love You yang Sering Tak Terdengar oleh Istri

Meskipun tidak lagi bekerja, Mama adalah seorang manajer keuangan yang baik. Ia bisa mengatur pengeluaran dan pemakaian uang dan barang dengan efisien dan efektif. Bukan hanya itu, ia juga seorang manajer investasi yang baik. Ia bisa mengelola bahkan mengembangkan uang yang diberikan oleh Papa. Pada akhirnya Papa bisa membeli rumah di Sunter dan sebuah mobil Honda Accord. Itu semua karena kerja sama tim suami-istri yang baik. Papa mencari uang, Mama mengelola dan mengembangkannya. Kami sering berandai-andai, seandainya Mama pernah kuliah ekonomi dan bekerja di perusahaan, pastilah ia sudah menjadi seorang manajer keuangan yang andal.

Kehidupan tidak selalu berjalan dengan mulus. Tahun 1998 krisis moneter melanda Indonesia. Keluarga kami turut terkena dampaknya, papa dirumahkan dan tidak mendapat gaji selama beberapa bulan. Pada saat itu, koko saya masih kuliah, saya duduk di bangku SMA, dan adik masih SMP. Tidak ada penghasilan masuk sama sekali sedangkan biaya kehidupan terus meroket semakin tinggi seiring dengan kenaikan nilai tukar USD. Di tengah kondisi sesulit itu, mama tetap mampu mengatur keuangan dengan baik. Kami sekeluarga tetap dapat makan, anak-anak tetap dapat bersekolah dengan baik. Tak pernah ada yang tahu bagaimana caranya uang sesedikit itu bisa menghidupi satu keluarga.

Betapapun kuat dan luar biasanya Mama, ia tetaplah seorang manusia yang bisa khawatir. Di saat-saat itu, saya selalu berusaha menguatkan Mama, "Jika burung di udara saja Tuhan pelihara, apalagi kita anak-anak-Nya." Dan ya, Tuhan benar-benar menunjukkan kasih setia dan pemeliharaan-Nya atas keluarga kami. Papa akhirnya dipanggil kembali bekerja walaupun dengan gaji yang jauh lebih kecil daripada sebelumnya, dan paman saya bersedia membantu membiayai uang masuk kuliah saya.

Sejak kecil, saya jarang bahkan tidak pernah melihat kedua orangtua saya bertengkar. Bukan berarti mereka tidak pernah bertengkar, mereka hanya tidak pernah memperlihatkan di depan anak-anaknya. Saya baru benar-benar melihat adanya konflik di antara mereka ketika saya menginjak dewasa. Mungkin saat itu mereka berpikir anak-anak mereka sudah dewasa dan dapat mengerti. Saat itu saya jadi menyadari, kehidupan rumah tangga tidaklah seindah gambaran di film-film Korea ataupun dongeng Disney. Bahwa sebuah hal kecil bisa menjadi sumber konflik besar. Namun saya juga menyaksikan bahwa setelah setiap pertengkaran - sehebat apa pun juga, pada akhirnya Papa dan Mama akan kembali berbaikan.

Baca Juga: Terlalu Banyak Nonton Drama Korea dan Hal-Hal Lain yang Dapat Membunuh Relasi



Kanker Mengubah Segalanya

Kisah ini menjadi sedih ketika Mama terkena sakit kanker. Mama adalah seorang wanita yang cantik pada masa mudanya. Namun kanker mengubah segalanya, mengambil banyak hal dari diri Mama. Saat tubuh Mama tidak lagi sempurna, ia sangat takut Papa tidak dapat menerimanya. Sebuah ketakutan yang wajar dan amat dapat dipahami. Tetapi Papa membuktikan, bukan hanya menerima Mama sebagaimana adanya, ia bahkan merawat Mama dalam kondisi tak mudah dan tak mengenakkan sekalipun. Benar adanya, bahwa dengan masa sulitlah kekuatan sebuah cinta diuji.

Di saat Mama tidak mampu lagi berjalan ke toilet, Papa yang membantu Mama buang air di tempat tidur. Layaknya perawat pribadi, Papa 24 jam siap sedia untuk Mama. Saat Papa harus pulang ke rumah untuk beristirahat setelah menjaga Mama di rumah sakit, seringkali ia malah jadi tidak tenang. Ia sering menelepon saya atau siapa pun yang sedang dalam giliran jaga di rumah sakit untuk menanyakan keadaan Mama. Pernah suatu ketika koko saya terlambat menjemput Papa di rumah, Papa nekat naik ojek agar dapat segera kembali ke rumah sakit. Ketika kondisi Mama memburuk, Papa tidak mau pergi kerja, ia juga kehilangan nafsu makan.

Mama sempat berobat ke Guangzhou. Di sana, seseorang pernah mengatakan ini kepadanya, "Kamu harus berjuang untuk hidup, karena kamu memiliki seorang suami yang sangat mencintaimu." Pengasuh keponakan saya berkata ke asisten rumah tangga yang bekerja di rumah kami, "Kamu kalau cari suami, seperti Bapak itu loh." Orang lain pun dapat melihat besarnya cinta Papa pada Mama.

Bahkan sekarang, setelah Mama tiada, Papa masih terus mengenang Mama. Kalau dulu Papa adalah orang yang berantakan, sekarang ia menjadi orang yang rapi. Ia berkata, ia ingat Mama selalu ngomel kalau ia berantakan. Ketika Papa merapikan barang setelah selesai mengerjakan sesuatu, saya melihat itu sebagai tanda cintanya pada Mama.

Papa dan Mama adalah manusia-manusia biasa, menjalani kehidupan mereka yang juga biasa-biasa saja. Mereka tidak pernah mengucapkan janji pernikahan di depan altar, akan tetap saling mengasihi dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan ataupun kekurangan, dalam sehat ataupun sakit. Tanpa mengucapkan janji, mereka telah menggenapinya. Mereka melakukan itu semua. Hidup rumah tangga mereka adalah teladan, sebuah warisan berharga bagi anak cucu mereka. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, saya bersyukur memiliki orangtua seperti mereka.

[Dokumentasi Pribadi Penulis]

Lewat perjalanan kisah cinta mereka, saya jadi mengerti,

cinta sejati bukanlah cinta yang menggebu-gebu pada saat darah muda bergejolak, tetapi cinta di usia tua saat waktu telah mengubah segalanya. Cinta sejati tak harus selalu hadir pada pandangan pertama, tetapi dibuktikan dalam bentangan waktu dengan berbagai kondisi yang sulit sebagai penguji. Cinta sejati tidak berarti indah berbunga-bunga sepanjang masa. Ketika konflik terjadi dan kita mau saling mengerti, memaafkan, lalu menerima kembali, di situlah sebuah cinta bisa disebut sejati.

Cinta sejati adalah pantulan dari cinta Tuhan yang tak bersyarat, sebuah anugerah Ilahi yang diberikan pada dua insan manusia.



Baca Juga:

Tentang Kasih, Dua Pribadi Tak Sempurna, dan Perjuangan Menyempurnakan Kasih yang Mereka Punya

4 Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh

Tak Ingin Terjebak Penyesalan Karena Salah Pilih Pasangan Hidup? Renungkan 3 Nasihat Ini!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tak Seindah Dongeng, Inilah 3 Realita yang Saya Pelajari dari Kisah Cinta Orangtua Saya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Vonny Thay | @vonnythay

Seorang finance yang memiliki panggilan untuk menulis. Buku pertamanya telah di rilis pada bulan Mei 2017 yang berjudul, "Wonderful Single Life" telah terjual laris manis. Jika ingin mengenalnya lebih jauh, kamu dapat membaca blog pribadinya di www.vonny

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar