Tragis! Teman Saya Harus Menerima Penghakiman akibat Kesalahan Orangtuanya. Inilah 3 Pelajaran Berharga dari Peristiwa itu

Love & Friendship

[Image: hcpthink.com]

1.8K
Ada hal-hal yang tak dapat kita pilih dalam hidup ini, termasuk lahir dari keluarga seperti apa dan bagaimana kondisi orangtua. Nah, bagaimana jika kita ternyata harus menanggung penghakiman karena kesalahan yang dilakukan orangtua? Teman saya mengalami hal yang menyedihkan itu. Inilah 3 pelajaran berharga dari kisah tragisnya.

Dapatkah seorang anak memilih dari rahim mana dia akan tumbuh dan lahir?

Kalau jawabannya 'ya', saya yakin hampir seluruh anak yang lahir dengan keluarga yang memiliki keterbatasan-keterbatasan akan memilih menukar orangtua mereka dengan orangtua lain. Semua bayi yang dilahirkan ke dunia tentu tidak diberikan kesempatan untuk memilih, begitu juga dengan orangtua, tak bisa memilih anak seperti apa yang akan dilahirkan.

Mirna, teman saya, adalah seorang gadis periang. Namun, mendadak saja ia menjadi amat tertutup dan menarik diri. Perubahan yang ekstrim dan tiba-tiba itu terjadi sejak kesalahan masa lalu orangtuanya, yang tertangkap tangan korupsi, terkuak. Ia dikucilkan teman-temannya.

Dampak tekanan yang diterima Mirna begitu kentara, kinerja belajarnya menurun drastis hingga membuatnya sampai dua kali tinggal kelas. Tidak hanya itu, interaksinya dengan dunia sekitar pun menjadi terbatas. Ia takut kalau ada orang lain lagi yang mengetahui kesalahan orangtuanya. Ia merasa tak akan mampu menerima penolakan dan pengucilan sekali lagi. Menyedihkan.

Adakah yang bisa kita pelajari dari kisah tragis Mirna, teman saya itu?


1. Menghakimi Sama Sekali Tidak Menguntungkan

[Image: fourlook.com]

Semua orang berbuat kesalahan. Saat kita menguar-nguarkan kesalahan orang lain, pada saat yang sama pula kita juga sedang melakukan kesalahan. Menghakimi justru bisa melukai pihak yang sebenarnya tidak bersalah, pernahkah kita berpikir demikian? Mirna, misalnya. Ia bukanlah penjahatnya. Ayahnya, bukan dia, yang tertangkap tangan korupsi. Namun, karena penghakiman sepihak dari orang lain, Mirna justru menerima ganjaran yang malah lebih parah: mental dan batinnya tersiksa karena perlakuan orang-orang yang mengucilkannya. Di sisi lain, Mirna tetaplah seorang anak. Seburuk apa pun orangtuanya, ia tetap membutuhkan dan menyayangi mereka. Jelas dia berada di posisi tegencet kanan-kiri.

Jadi, berhentilah menghakimi kesalahan orang lain. Tidak perlu kita menjadi hakim dadakan. Bukannya menguntungkan, menghakimi malah menambah dosa.



2. Kalau Semua Orang Bersalah Berhak Diberi Kesempatan, Apalagi yang Tidak Bersalah?

[Image: ributrukun.com]

Semua orang dapat belajar dari pengalaman orang lain. Demikian juga seorang anak, ia bisa menarik pelajaran dari kesalahan yang dilakukan orangtua. Yang jelas, anak tersebut jadi tahu betul dampak apa yang akan diterima sebagai konsekuensi jika ia terjebak di kesalahan yang sama dengan orangtuanya. Oleh karena itu, memberikan kesempatan kepada si anak untuk membuktikan dirinya - bahwa meskipun ia adalah seorang anak, ia juga adalah pribadi yang berdiri sendiri, lepas dan tidak terkait dengan kesalahan yang diperbuat orangtuanya - merupakan hal yang penting bagi kestabilan kondisi batin si anak.

Perasaan minder yang dialami Mirna adalah reaksi alami yang timbul akibat tidak diterimanya ia oleh banyak orang. Ia jadi menutup diri, tidak berani berinteraksi, dan menjadi amat pasif. Sebuah kerugian yang amat besar bagi masa depan seorang Mirna, yang bahkan tak melakukan kesalahan itu.



3. Kesalahan Orangtua Bukan Kesalahan Anak

Kebanyakan orangtua, jika mengetahui bahwa seorang teman anaknya memiliki orangtua koruptor, hampir pasti akan melarang anaknya bergaul bahkan dekat-dekat dengan teman tersebut. Alasannya? Khawatir teman itu akan membawa pengaruh buruk. Sayang sekali, itu adalah sebuah pemikiran yang amat sempit.

Saat orangtua membatasi pergaulan anak, saat itu pula orangtua tidak memercayai anak mereka sendiri.

Seorang anak, dengan bekal pendidikan yang cukup dari orangtua, akan tahu bagaimana seharusnya bersikap. Ia tidak akan membiarkan dirinya diombang-ambingkan oleh teman. Orangtua dengan pemikiran terbuka pasti akan menyadari bahwa title anak koruptor itu tidak memiliki korelasi langsung dengan membawa pengaruh buruk.


[Image: ributrukun.com]

Berkaca dari kisah teman saya itu, hendaknya kita menjauhkan diri dari melakukan tindakan yang merugikan sesama. Sekalipun ayah Mirna memang terbukti bersalah, orang lain sesungguhnya tidaklah berada dalam kondisi sempurna tanpa cacat cela, sehingga berhak untuk menghakimi serta mengucilkan sebuah keluarga.

Kesalahan ayah Mirna sendiri sudah menjadi sebuah duri dalam daging yang begitu menyakitkan untuk keluarganya. Mereka, walaupun tak ingin, tanpa sadar telah menghukum diri sendiri. Rasa malu telah muncul dan menyandera hati tiap anggota keluarga. Karenanya, tidak perlu ditambah lagi dengan perilaku atau hujatan kasar dari pihak lain.

Memang tak dapat dipungkiri, sebagai manusia, akan timbul rasa tak adil jika harus begitu saja melepaskan pengampunan untuk orang yang sudah jelas-jelas melakukan kesalahan. Mengampuni ayah Mirna, misalnya. Jika belum bisa mengampuni, adalah lebih bijaksana untuk menahan diri dari berkata atau bertindak yang akan melukai anggota keluarga lain.

Bukalah pikiran: kesalahan orangtua tidak harus menjadi kesalahan anak juga. Jangan mencampuradukkan keduanya. Jadilah bijak!



Baca Juga:

Tentang Kita, Manusia yang Mudah Menghakimi Orang Lain, Rasa Aman Palsu, dan Keengganan untuk Bertumbuh

Jangan Biarkan Kesalahan Menghancurkan Hidupmu! Bangkit dan Keluarlah dari Jerat Rasa Bersalah dengan 5 Langkah Ini

Kamu Berharga, Apapun yang Kamu Rasakan tentang Dirimu. Kamu Istimewa, Apapun yang Orang Lain Katakan Kepadamu. 3 Hal Inilah Buktinya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tragis! Teman Saya Harus Menerima Penghakiman akibat Kesalahan Orangtuanya. Inilah 3 Pelajaran Berharga dari Peristiwa itu". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Stella azasya | @stellaazasya

Mencintai matahari terbit sebagai alasannya bangun besok hari

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar