Tolong! Suamiku Anak Mama. Inilah 5 Cara Mengubah Anak Mama menjadi Pria Dewasa

Marriage

[Image: unravel.us]

7.3K
Betapa berat pergumulan wanita yang memiliki suami anak mama. Tak cuma terkuras tenaganya, tetapi - ini yang lebih berat - emosinya. Bukan hanya burn out, lama-lama bisa burn down! Jika suami Anda anak mama, apa yang seharusnya Anda lakukan?

“Pak Xavier, suamiku anak mama. Stress aku!”

“Tunanganku anak mami. Apa sebaiknya aku putusin?”

“Sebel! Aku selalu dibandingin sama mamanya!”

Pernah dengar curhatan kayak gitu? Saya sering! Baik di ruang konseling maupun lewat BB dan WA. Dari hasil curhat maupun konseling, saya bisa memahami betapa beratnya pergumulan mereka, para wanita yang memiliki suami anak mama. Tak cuma terkuras tenaganya, tetapi - ini yang lebih berat - emosinya akan terkuras. Bukan hanya burn out, lama-lama bisa burn down!

Jika suami Anda anak mama, apa yang seharusnya Anda lakukan? Simak 5 hal berikut:



1. Jika masih pacaran, pertimbangkan masak-masak

Masa pacaran, apalagi masih PDKT, adalah masa yang penting bagi Anda: lanjutin atau putusin. Pertimbangannya? Anda bisa menerima dia apa adanya atau tidak?

Ada wanita yang senang memiliki pacar seperti ini karena merasa dirinya berguna. Hati-hati. Anda akan terlalu lelah melayani suami yang kekanak-kanakan seperti ini.
[Image: Post-Book]

Mula-mula Anda bisa saja merasa bangga dan dihargai karena sedikit-sedikit dia minta tolong kepada Anda, tetapi pekerjaan suami tetaplah pekerjaan laki-laki. Biarkan dia menjadi dirinya sendiri. Jangan berharap dia berubah setelah menikah. Justru karena Anda manjakan, dia tidak akan pernah berubah.

Baca Juga: Pacaran: Bukan Tambal Sulam apalagi Gali Tutup Lubang. Mulailah Relasi Cinta dengan 3 Hal ini

Jika sudah menikah, nggak usah menyesali pilihan Anda. Toh sudah terjadi. Bukan saatnya lagi nangis gaya Bombay. Penyesalan justru kontraproduktif. Apalagi Anda sampai berkata, “Aku menyesal menikah denganmu!” Ucapan itu justru membuat suami Anda kembali ke pangkuan dan pelukan mamanya! Ingat, seorang anak kecil yang mengalami rasa takut akan mencari perlindungan. Jika Anda tidak bisa menjadi penolong, suami Anda akan menemukan surga lamanya: pangkuan mama. Lebih baik mencari solusi. Apa saja?

Baca Juga: Salah Memilih Pasangan Hidup? Jangan Terburu-buru Bercerai, Pertimbangkan Solusi Ini!



2. Coba memakai sepatunya

Salah satu cara yang baik untuk bisa memahami suami yang anak mama adalah belajar mengerti mengapa dia bisa seperti itu. Ada bermacam penyebab.

Pertama, anak tunggal | Ingat, tidak setiap anak tunggal menjadi anak mama. Hanya anak tunggal yang dimanja dan menerima perlakuan ini serta menikmatinyalah yang akhirnya menjadi anak mama.

Kedua, orangtuanya overprotective | Anak yang terlalu dilindungi akhirnya justru tidak bisa mandiri. Sedikit saja mengalami kesukaran, dia akan minta tolong orangtuanya.

Ketiga, orangtua yang sangat keras | Akibatnya, dia takut membuat kesalahan, karena setiap kali melakukannya, orangtua akan mendampratnya habis-habisan.

Jika mengerti latar belakang suami, Anda akan lebih bijak menyikapinya. Bukan hanya sekadar kasihan, tetapi cinta!

Baca Juga: Jangan Terlalu Cepat Menghakimi Pasangan, Inilah 5 Bahaya dan 5 Solusinya



3. Jangan tinggal serumah

Sang Pemrakarsa Pernikahan memberikan petunjuk yang jelas: “Seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Kata ‘meninggalkan’ di sini mengandung tiga arti: secara fisik [pisah rumah], secara finansial [mandiri], secara mental spiritual [suami menjadi imam dan kepala rumah tangga].

Jika Anda tinggal serumah dengan mertua, ada dua kepala keluarga di sini: ayah mertua Anda dan suami Anda. Memang tidak mudah meminta suami - apalagi yang anak mama - untuk pindah. Namun, demi kebahagiaan Anda sendiri, mengapa tidak mengajaknya pindah dengan baik-baik?

Baca Juga: Tinggal Serumah dengan Mom[ster] in Law? Inilah 8 Rahasia Saya Bertahan dan Lulus sebagai Menantu Perempuan Kesayangan Mama Mertua

Setelah pindah rumah, tetap jalin tali silaturahmi. Suami Anda tetap anak mereka. Jangan pisahkan hubungan darah ini. Ada dua macam kunjungan: rutin dan insidentil. Seorang sahabat saya punya cara begini: minggu pertama di rumah papa dan mamanya, minggu kedua di rumah papa dan mama mertua. Silakan Anda menentukan pola Anda sendiri. Kedua, insidentil. Beri kejutan. Saat Anda jalan-jalan bersama suami [dan anak-anak], jika melihat masakan kegemaran mertua, mengapa tidak membelikannya? Ketika melihat scarf yang cantik, mengapa tidak membelinya dan menjadikan hadiah yang menyenangkan bagi mertua?

[Image: femside.com]

Intinya, jangan jadikan mertua Anda saingan dalam mendapatkan perhatian dan hati suami.

Dia adalah anak mertuamu, namun dia adalah suamimu. Mengapa tidak mengasihinya bersama-sama?

Baca Juga: Relasi Harmonis Mertua dengan Menantu: Mustahil?



4. Jadikan suami sang pembuat keputusan

Secara halus, ‘ajar’ suami Anda untuk menjadi kepala rumah tangga. Anak mama bukan hanya suami yang manja dengan mamanya, tetapi dengan Anda juga. Suami jenis ini biasanya sukar atau tidak bisa mengambil keputusan. Kalau untuk hal-hal yang sepele tidak masalah, namun kalau untuk urusan dunia dan akhirat - kok jadi serius banget wkwkwk - biarkan suami yang ambil keputusan. Bagaimana kalau keputusannya ternyata tidak tepat atau bahkan salah? Jangan dimarahi, apalagi didamprat habis-habisan. Dia justru akan kembali ke rumah keongnya dan bertambah parah. Bukan saja dia jadi anak mama, tetapi anak keong he, he, he. Beri solusi.

Anak singkong pun bisa jadi kingkong kalau difasilitasi.

Ada beberapa perkataan yang bisa membuat suami Anda kepala dan bukan ekor:

"Wah, tanpa Papa, aku tidak bisa melakukan hal ini."

"Papa hebat. Kok bisa jadi sebagus ini?"

Baca Juga: Belajar dari Istri Ahok, Veronica Tan: 4 Peran Tak Tergantikan Istri yang Membentuk Kesuksesan Suami



5. Buat dia bangga

Meskipun ada keputusan atau tindakannya yang sebenarnya berasal dari Anda - ssst! Jangan bilang-bilang kepadanya, kecuali suami Anda juga baca tulisan ini - biarkan suami yang mendapat kreditnya. Jangan sekali-kali berkata, meskipun di belakangnya, ”Ah, itu kan ideku!” atau “Jika tidak aku suruh, mana dia mau bertindak?” atau “Suamiku kalau tidak dipukul, tidak bunyi!” Emangnya gong?!

[Image: ributrukun.com]

Sebaliknya, coba puji dia seperti ini:

“Kok Papa punya ide berlian seperti ini?”

“Luar biasa ide Papa. Salut!”

Baca Juga: Peran Wanita dalam Relasi dengan Pria: Dijajah, Menjajah, atau Adakah Pilihan Lain?



Baca Juga:

Inilah 7 Tipe Suami Terkait Urusan Rumah Tangga. Tipe yang Manakah Suamimu?

Fenomena Suami Kesepian: Bukan Sekadar Seks, Inilah 6 Hal yang Dapat Dilakukan Istri untuk Mendampingi Suami

Bukan Semata Malas, Inilah 5 Penyebab Suami Enggan Membantu Pekerjaan Rumah Tangga



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tolong! Suamiku Anak Mama. Inilah 5 Cara Mengubah Anak Mama menjadi Pria Dewasa". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar