Di Ruang antara Kesalahan Anak dan Respons yang Kita Berikan, Tanyakanlah 3 Hal Ini agar Disiplin yang Diterapkan Berdampak Baik dan Besar pada Anak

Parenting

[Image: examiner.com]

1.7K
Jarak waktu antara pelanggaran yang dilakukan anak dan respons kita merupakan titik penting bila kita ingin menjadi lebih baik dalam mendisiplinkan anak-anak. Renungkan sejenak 3 pertanyaan yang akan membuat disiplin yang diterapkan menjadi efektif.

Sammy, anak sulung kami, kini sudah berusia 6 tahun. Ia sangat suka bermain sepeda. Bila cuaca memungkinkan, kami akan menyempatkan waktu untuk bermain sepeda bersama di hari Minggu pagi. Semangatnya terkadang begitu besar sehingga ia bisa bangun lebih pagi dari waktu sekolahnya demi bermain sepeda. Ia bahkan pernah bangun jam 4.30 pagi di hari Minggu dan mengajak saya untuk menemaninya bermain sepeda. Hanya setelah saya membawanya ke luar rumah dan melihat kondisi yang masih gelap gulita, barulah ia mau mengerti bahwa belum saatnya untuk bermain sepeda.

Suatu hari Minggu, seperti biasa, kami turun mengambil sepeda dan mulai bermain. Jalan paving di depan rumah kami dan garasi mobil menjadi arena balap baginya. Wilayah tanjakan yang ada menjadi kegemarannya karena jalanan menurun itu bisa mempercepat laju sepedanya. Ia pun bermain-main dengan sepedanya, termasuk memegang setang [handlebar] setir dari kursi boncengan sepeda.

Untuk setiap kenakalan yang ia buat, saya hanya berkata, “Hati-hati, ya!” Saya merasa tidak ada gunanya untuk melarangnya, dan oleh karena itu, hanya mengingatkan akan risiko yang mungkin muncul bila ia tidak berhati-hati. Ketika melihat ia mulai bermain dengan setang sepeda, saya mulai merasa khawatir. Saya ingatkan dia lagi, karena saya tahu bahwa risiko untuk kehilangan kendali menjadi sangat besar. Tetapi ia memilih untuk terus membelokkan setang itu ke kiri dan ke kanan sambil mengayuh sepeda.

Dan benar saja, tak lama kemudian,

ia terjatuh di tengah jalan.

Saya langsung datang mendekat. Ketika saya melihat bahwa dia hanya lecet-lecet, dengan segera perkataan ini keluar dari mulut saya, “Papa sudah bilang apa? Ini akibatnya kalau tidak dengar-dengaran. Ini risikonya kalau tidak hati-hati,” dan dengan nada keras, saya memarahi dia, seketika itu, di tempat itu juga.

Bukannya empati, tetapi pembenaran diri yang menguasai saya.

Bukannya belas kasih, tetapi teguran yang keluar dari mulut saya.

Air matanya yang jatuh menetes beberapa saat kemudian menyadarkan saya. Saya pun membuka tangan untuk memeluknya. Saat itu, lebih dari segala teguran dan disiplin dan pembelajaran, anak ini sesungguhnya membutuhkan pelukan penuh empati dan kekuatan. Dan di dalam pelukan saya, ia menangis dengan lebih keras lagi.


Rekan-rekanku,

jarak waktu antara pelanggaran yang dilakukan anak dan respons kita merupakan titik penting bila kita ingin menjadi lebih baik dalam mendisiplinkan anak-anak kita.

Seringkali, seperti saya, kita langsung meresponi pelanggaran dan kesalahan si anak di tempat itu juga tanpa memberi diri kita waktu untuk berpikir. Dan, sama seperti sekelompok warga desa yang main hakim sendiri ketika menangkap basah seorang pencuri ayam - memukuli orang itu hingga babak belur, kita juga sering menghantam anak kita dengan kata-kata atau dengan rotan - seakan mereka melakukan sebuah dosa besar yang tidak dapat dimaafkan.

Tetapi sesungguhnya, mereka hanya tidak berhati-hati dalam bermain. Atau mereka hanya menjatuhkan piring - yang sebenarnya sangat mudah untuk dibersihkan. Atau mereka tidak sengaja merusak mainan ketika mengambil itu dari tangan saudaranya. Mereka hanyalah anak-anak yang melakukan kesalahan dan kenakalan yang dilakukan oleh anak-anak pada umumnya.

Bila kita ingin menerapkan disiplin yang menghasilkan perubahan, maka kita perlu menguasai diri di waktu yang kritis ini: waktu antara terjadinya pelanggaran dan respons yang kita berikan. Bila kita ingin menjadi orangtua yang bisa menerapkan disiplin yang efektif, maka kita perlu menanamkan dalam diri kita sebuah mekanisme berpikir yang baru, yang mampu membuat kita menunda memberikan reaksi terhadap pelanggaran yang muncul.

Di dalam buku ‘No-Drama Discipline’, Daniel J. Siegel dan Tina Payne Bryson menawarkan tiga pertanyaan yang perlu kita pikirkan sebagai ganti reaksi instingtif yang biasa kita lakukan ketika menerapkan disiplin kepada anak-anak kita. Bila kita mampu memikirkan dan menjawab ketiga pertanyaan ini, maka disiplin yang kita berikan akan mampu memberikan dampak yang jauh lebih besar dan jauh lebih baik kepada diri anak-anak kita.

Inilah tiga pertanyaan yang perlu kita pikirkan ketika kita berada di zona penting antara pelanggaran yang kita lihat dengan respons yang akan kita berikan kepada anak-anak kita:


1. Mengapakah anak kita melakukan hal ini?

Pertanyaan ini mengajak kita untuk memikirkan ulang asumsi yang sering menjerat pikiran kita.

Apakah Sammy sengaja melawan perkataan saya? Apakah ia sengaja mencari alasan untuk membuat saya marah? Ataukah tindakan memainkan setang sepeda ketika bermain sepeda adalah perilaku yang wajar untuk anak berusia 6 tahun?

Dalam seketika, aura kejadian ini berubah, bukan? Fokus menyalahkan anak dan membenarkan diri sendiri menjadi tidak penting lagi. Pikiran dan perasaan kita akan terbuka dan kita akan menyadari bahwa ini bukanlah tentang kita. Pertanyaan ini akan membantu kita untuk melihat kejadian dengan lebih objektif dan tidak menjadikannya sebagai hal personal.


2. Apakah pembelajaran yang ingin saya ajarkan lewat kejadian ini?

Karena tidak hati-hati, maka Sammy kini jatuh dan terluka. Tetapi, apakah itu pembelajaran yang ingin saya ajarkan: Bahwa karena Sammy tidak dengar-dengaran, maka ia kini harus menanggung akibatnya? Adakah pembelajaran yang lebih penting yang bisa saya ajarkan lewat peristiwa ini?

Saat itu, saya tidak bisa memikirkan pembelajaran yang lain yang bisa muncul dari kejadian tersebut. Akan tetapi saat ini, saya merasa bahwa salah satu pembelajaran yang bisa saya berikan adalah pembelajaran untuk tidak mudah menyerah. Kalau jatuh, bangunlah kembali. Jangan biarkan kesakitan karena jatuh mengurangi semangat untuk bersepeda dan bermain lagi. Bangunlah kembali ketika kamu jatuh. Bukankah ini pembelajaran yang jauh lebih berharga untuk anak-anak kita?


3. Bagaimanakah cara terbaik untuk mengajarkan pembelajaran ini kepadanya?

Yang pasti, bukan di saat ia masih menangis kesakitan. Bukan juga dengan cara memarahi dia. Kini saya sadar, satu-satunya efek yang muncul dari amarah yang saya keluarkan adalah rasa takut kepada saya. Ia tidak akan mengingat apapun yang saya ucapkan karena itu bukanlah waktu dan cara terbaik untuk mengajarnya.

Cara lain yang juga tidak tepat adalah menegur anak-anak kita di depan orang banyak atau di depan teman-temannya. Bila kita memang merasa perlu untuk menegurnya saat itu juga, maka akan jauh lebih baik bila kita mengajak anak-anak kita untuk menyendiri dan berbicara empat mata dengan dia. Dengan menegur secara pribadi, maka kita mendapatkan fokus perhatian penuh dari si anak. Mereka tidak perlu khawatir dengan rasa malu dilihat orang, dan mereka pun mendapat kesempatan untuk memberikan pandangan mereka.

Hingga saat ini, berbicara pada malam hari sebelum tidur adalah cara yang kami pakai untuk mengajarkan disiplin kepada anak. Saya dan istri mengambil waktu untuk menanamkan pembelajaran atau membicarakan hal-hal yang terjadi sepanjang hari kepada Sammy.


[Image; istockphoto.com]

Seperti yang Anda lihat, saya masih perlu belajar banyak untuk menjadi ayah yang baik. Saya sering melakukan kesalahan-kesalahan, bahkan setelah mengetahui teori dan cara yang lebih baik dalam mendidik anak. But that’s ok. Itulah proses menjadi orangtua. Janganlah kita membiarkan kegagalan menghalangi kita untuk mencoba kembali.

Yang mengagumkan adalah bahwa anak kita memiliki kekuatan cinta yang luar biasa besarnya untuk terus mengampuni serta tetap mengasihi kita. Kita bisa gagal dan gagal kembali, tetapi kasih mereka seakan tidak pernah ada habis-habisnya tersedia untuk kita. Oleh karena itu, mari kita jadikan rasa cinta itu sebagai dorongan untuk kita menjadi orangtua yang lebih baik dari hari kemarin.


* Artikel ini merupakan bagian kelima dari 6 rangkaian tulisan tentang menerapkan disiplin pada anak. Artikel pertama - tentang memukul dan mendisiplinkan anak - dapat Anda baca di tautan ini. Artikel kedua - tentang 4 peran orangtua dalam hidup seorang anak - di link ini. Artikel ketiga - tentang hukuman dan disiplin - di sini. Artikel keempat - tentang memilah dan memilih perilaku anak yang perlu didisiplikan - di tautan ini.



Baca Juga:

4 Perkataan Orangtua yang Malah Membuat Anak Semakin Menjauh

Biarkan Anak Anda Jatuh! Dengan Tidak Selalu Menjaga dan Membentengi, Anda Justru Sedang Mendidik Mereka

Bangga dan Cintalah pada Anak, Bukan karena Medali atau Piala yang Berhasil Mereka Raih, tetapi karena Diri Mereka - Apa Adanya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Di Ruang antara Kesalahan Anak dan Respons yang Kita Berikan, Tanyakanlah 3 Hal Ini agar Disiplin yang Diterapkan Berdampak Baik dan Besar pada Anak". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami dengan dua anak yang masih terus belajar untuk menjaga keseimbangan antara keluarga dan karir, antara hidup dengan fokus dan hasrat untuk mengambil setiap kesempatan yang ada.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar