Membentuk Anak Menjadi Generasi Tangguh: Orang Tua, Inilah 3 Do's and Don'ts-nya

Parenting

[Image: blog.flunch.fr]

3.5K
Saat ini kita mungkin terheran. Begitu banyak anak menjadi manja, menuntut segala kemudahan. Mereka bernyali ciut, tak suka untuk mencari alternatif solusi dan justru suka menyalahkan keadaan. Apa yang salah dengan pendidikan, di rumah dan di sekolah, selama ini?

Sudah barang tentu kita tahu, kesulitan dapat memaksa kita untuk berpikir ulet nan kreatif. Perjuangan arek-arek Suroboyo melawan Belanda, contoh yang amat tepat. Mereka tak dibekali dengan senjata terbaru. Pengetahuan militer yang dimiliki pun tergolong dangkal. Namun, niat teguh membuat mereka mampu mengubah batang bambu menjadi penakluk penjajah.

Saya jadi teringat soal perlombaan fashion show dalam rangka memperingati Hari Kartini di sekolah tempat saya mengajar. Setiap kelas harus mengirimkan wakil untuk memperagakan busana khas Indonesia secara berpasangan. Saat itu, persiapan untuk busana pria kelas kami memang kurang baik. Awalnya tebersit niat untuk menyewakan pakaian, atau paling mentok, mengizinkan murid-murid saya menyerah. Tapi kemudian saya tergelitik melakukan hal yang sepenuhnya berbeda. Sebuah ide spontan yang pada akhirnya tidak saya sesali sama sekali.

Di ruang kelas saya terjajar tiga jenis kain tradisional: ulos, tenun, dan batik. Saya serahkan kain-kain itu kepada tiga orang siswa dengan sebuah instruksi yang amat sederhana, "Buatlah kostum dengan kain-kain ini." Kemudian, saya mengambil jeda sejenak. Setelah itu, saya lemparkan pertanyaan retorik ini, "Atau kalian mau menyerah?" "Engga, Miss, engga." Jawab mereka refleks, menolak opsi untuk menyerah.

Beberapa waktu kemudian, perwakilan kelas saya dipanggil ke panggung. Mata saya terbelalak. Bangga. Kain-kain itu telah diracik sedemikian, menjadi sebuah busana utuh. Sama sekali tak mempesona, tak jua menang, tapi ada perjuangan di sana. Sebuah nilai yang tak boleh diabaikan.

Apa intinya? Saya rasa setiap orang lahir dengan sebuah insting berjuang. Sifat mudah menyerah hanyalah produk budaya. DNA kita jelas menunjukan bahwa di tengah perubahan ekstrim bumi, kita mampu bertahan. Kita adalah petarung ulet. Meminjam istilah Rhenald Khasali, kita - dan terkhusus generasi muda - seumpama rajawali. Di dalam diri mereka ada naluri kuat untuk bertahan dan menjadi pemenang. Apakah naluri itu diasah atau ditumpulkan, itu sudah lain soal.

Saat ini kita mungkin terheran. Begitu banyak anak menjadi manja, menuntut segala kemudahan. Mereka bernyali ciut, tak suka untuk mencari alternatif solusi dan justru suka menyalahkan keadaan. Kita juga banyak melihat para generasi muda yang tidak mampu membedakan antara pendisiplinan dengan kebencian, hingga terjadi serentetan kasus tuntutan hukum menimpa guru.

Tapi apakah kita sendiri telah mengedukasi para generasi muda dengan tepat? Lantas apa yang bisa kita lakukan? Kita terlalu tua untuk ikut campur? Tidak. Peran kita masih sangat esensial.


1. Mengarahkan, Tanpa Mendiktekan

Kadang orang tua merasa terlampau superior. Pengalaman, dengan usia puluhan tahun, digunakan sebagai klaim untuk menjadi pihak paling tahu. Mereka bukan hanya memasok wawasan dan norma kehidupan, namun parahnya, juga pendiktean soal masa depan. “Kamu harus jadi ini! Kamu tidak boleh itu!”

Orang tua kerap menutup telinga atas bakat minat anak bukan karena tak peduli namun karena terlalu sibuk menyuapi para rajawali itu dengan segala paksaan halus. Hasilnya? Mereka tidak terbiasa mengambil keputusan. Muncul rasa tak aman dan selalu takut salah.

Saat menjadi guru dan wali kelas, saya melihat perbedaan besar antara orang tua yang mengarahkan dengan yang mendiktekan. Orang tua yang mengarahkan, mau mendengar. Mereka tidak memberikan penghakiman soal keputusan tertentu namun menyodorkan wawasan, soal segala benefit pun konsekuensi. Itulah yang seharusnya diberikan pada para rajawali muda, sebuah wawasan yang seimbang akan plus minus sebelum mereka mengambil keputusan. Tanpa disadari hal ini akan melatih kemampuan untuk mengevaluasi sebuah aksi: apakah sudah tepat, apakah berdaya guna, ataukah tidak layak diulang.

Misalkan soal pengalokasian waktu untuk kursus tertentu. Orang tua yang mau mengarahkan akan terlebih dahulu bertanya kepada anak. Apakah memang sesuai dengan minat sang anak, apakah sang anak masih punya cukup energi seusai jam sekolah, dan banyak komunikasi dua arah lain. Keuntungannya, anak lebih bisa menjalani dengan pemahaman kenapa itu perlu, bukan sekedar melakukan dengan terpaksa tanpa tahu apa manfaatnya untuk mereka.

Memang tidak sulit untuk memilihkan sesuatu untuk orang lain, terlebih dengan otoritas dalam genggaman. Namun, jika itu terus terjadi, anak tak kunjung belajar tentang kemandirian dalam memilih.

Pendiktean mungkin tak selalu berujung buruk. Namun, bagaimanapun, memangkas perjalanan anak dalam mengolah dan menganalisa. Pendiktean mungkin efisien, namun menghilangkan kesempatan anak untuk berproses dalam banyak hal. Bukankah jika demikian, amat disayangkan?

Baca Juga: Kesuksesan seperti Apa yang Kita Inginkan untuk Anak-Anak Kita?



2. Menolong, Jangan Menggantikan

Kembali ke peristiwa di perlombaan hari Kartini, saya membayangkan jika saat itu saya menyediakan kostum, mungkin sekumpulan siswa saya tidak akan pernah belajar membingkai tiga kain terpisah menjadi sebuah satuan yang indah. Ketika saya menyodorkan kemudahan, kadang itu tak ubahnya upaya mengamputasi kemampuan mereka untuk menjadi cerdik dan terampil. Menolong memberikan pinjaman kain, tapi tidak menggantikan tugas membuat busana.

Kita selalu ingin menjadi superhero, bukan? Sayangnya nanti akan ada titik masa di mana anak, mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, harus hidup sendiri. Itulah mengapa kemampuan orang tua untuk menahan diri untuk tak selalu menjadi sosok pahlawan amat dibutuhkan.

Suatu hari, saya memberi tugas pada para murid untuk melakukan survey kecil terhadap orang-orang yang tidak mereka kenal. Tukang ojek, dokter, dosen, supir taksi, petugas kebersihan, koki, satpam, dan berbagai golongan lain yang jarang mereka ajak bicara. Tugas ini membuka mata saya terhadap kenyataan akan adanya dua golongan respons orang tua. Beberapa orang tua sangat suportif dalam kaidah yang tepat. Mereka melindungi anak-anak terkasih mereka dalam mengerjakan tugas ini, tapi sama sekali tidak menggantikan peran untuk berkenalan hingga melakukan wawancara kecil. Mereka ada di situ menemani, namun membiarkan anaknya bergerak sendiri. Sebaliknya, beberapa orang tua siswa lain justru melakukan segala tugas itu menggantikan anaknya. Entah karena takut terjadi sesuatu buruk atau semata tak mau repot.

Kasih kita sebagai guru atau pun orang tua seharusnya membuat kita selalu menjadi penolong. Siap sedia memberikan dukungan tanpa sekali pun menggantikan peran anak-anak. Biarkan mereka jadi sosok yang tangguh. Sesekali dengan rendah hati mereka meminta bantuan orang lain, tanpa pernah memiliki motivasi untuk memindah-tangankan kesulitan.

Baca Juga: Anak dan Kelemahan Mereka: 7 Langkah Efektif bagi Orangtua yang Rindu Menolong Anak untuk Bertumbuh Menjadi Lebih Baik



3. Memfasilitasi, Bukan Memanjakan

Di tengah persaingan zaman sekarang ini, banyak sarana yang dapat menunjang pencapaian prestasi optimal dari seorang anak. Tidak mengherankan jika orang tua akhirnya bekerja keras dan mengusahakan yang terbaik bagi buah hati mereka. Sayangnya, saya sebagai guru, menyaksikan bahwa tidak semua orang tua menarik batas yang jelas antara fasilitas yang menunjang atau sekadar kemudahan yang memanjakan.

Kasih sayang tak selalu sinonim dengan penyediaan kemudahan.

Saya turut bersedih jika para anak pejabat selalu diperlakukan seperti apa yang barusan ramai di media: penjemputan nan eksklusif. Rasa sedih saya mungkin adalah wujud sedikit rasa iri karena saya bukan anak pejabat, tapi sebagian besar justru karena rasa kasihan. Dengan fasilitas tanpa pretensi memanjakan, anak-anak hebat dari para pejabat pasti akan belajar sangat banyak.

Tiga tahun lalu kala magang di sebuah negara yang tidak berbahasa Inggris, saya bersama lima kawan lain meraup berlimpah-limpah pengalaman. Nyatanya, itu bukan karena kemudahan tapi justru produk dari dipaksa memutar otak untuk bertahan. Memang kami magang di KBRI. Walaupun demikian, tak sedikit pun fasilitas kami tuntut. Dari situ kami berkenalan dengan persatuan mahasiswa Indonesia, dan akhirnya menjadi kawan hingga hari ini.

Ketika kesulitan dibiarkan leluasa datang di hidup ini, kita justru sedang mengucapkan selamat datang bagi berbagai wawasan dan pertemanan.

Fakta pertama, orang yang tidak pernah perang tidak akan pernah kalah. Orang tua tidak ingin anaknya berperang, supaya tidak perlu kalah. Kekalahan terlalu menyakitkan. Sayangnya, mereka lupa fakta kedua, “Hanya orang yang berperang yang bisa menang.” Jika anaknya bahkan tak pernah berperang, bagaimana mungkin mereka dapat jadi pemenang?

Meniadakan kesulitan alias memanjakan atas dalih kasih sayang adalah upaya tersamar untuk mengeliminasi medan perang. Izinkan generasi muda kita masuk ke medan pertempuran, bukan supaya kita menyaksikan kekalahan tapi supaya lahir banyak pemenang.

Baca Juga: Biarkan Anak Anda Jatuh! Dengan Tidak Selalu Menjaga dan Membentengi, Anda Justru Sedang Mendidik Mereka


Walau belum menjadi orang tua, saya harap beberapa hal yang saya bagikan dapat relevan diterima para orang tua. Semua poin di atas saya intisarikan dengan penuh kerendahan hati dari pengalaman dan pengamatan selama menjadi guru. Kita semua mengasihi generasi muda, mereka yang akan menentukan nasib bangsa ini. Untuk merekalah kita terus mengedukasi diri. Menjadi guru, sahabat, kakak, dan pastinya orang tua yang terbaik.



Baca Juga:

5 Bahaya Masa Kini yang Mengancam Jiwa Anak-Anak Kita

Sebuah Mitos Besar tentang Membesarkan Anak dan 3 Cara untuk Mematahkannya

Inilah Satu Kesalahan Fatal dalam Mendidik Anak yang Seringkali Menjadi Penyebab Utama Konflik Orangtua dan Anak



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Membentuk Anak Menjadi Generasi Tangguh: Orang Tua, Inilah 3 Do's and Don'ts-nya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Claudya Elleossa | @claudyaelleossa

Mencintai literatur dan Indonesia. Guru muda sanguin-koleris yang memiliki 150 mimpi untuk dicapai. Aktif membagi gambar dan mudah dihubungi melalui instagram @adisscte

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar