Biarkan Anak Anda Jatuh! Dengan Tidak Selalu Menjaga dan Membentengi, Anda Justru Sedang Mendidik Mereka

Parenting

[Image: omahamagazine.com]

5.4K
Terkadang, dalam keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada anak, kita justru merampas sesuatu yang berharga dari diri mereka. Kita selalu membantu dan menjaga mereka, kita memasang benteng di sekeliling mereka. Namun sesungguhnya, ada harga yang harus mereka bayar untuk sikap kita itu, dan terkadang, harga itu jauh lebih mahal daripada pilihan untuk membiarkan mereka terjatuh dan menangis.

Beberapa waktu lalu, keluarga saya mendapat undangan makan di sebuah restoran. Karena jumlah tamu undangan banyak, digunakanlah sebuah ruangan yang memiliki panggung. Umumnya, ruangan itu digunakan untuk acara ulang tahun atau acara pernikahan. Namun, hari itu panggung tidak digunakan dan dibiarkan kosong.

Setelah acara berjalan beberapa lama, anak-anak kecil yang datang bersama dengan orangtua mereka mulai merasa gelisah dan bosan. Satu per satu mereka meninggalkan meja makan dan mulai bermain-main. Sammy (5 tahun), anak saya, akhirnya juga ikut bergabung dengan anak-anak yang lain. Mereka berlarian ke sana ke mari. Dan, tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya mereka naik ke atas panggung yang kosong tadi. Di sana, mereka berlarian dari ujung panggung yang satu ke sisi lainnya. Kemudian, mereka mulai berimajinasi seolah-olah sedang menjadi superhero favorit mereka. Mereka bergaya, mengeluarkan jurus andalan, dan melakukan lompatan dari panggung sebagai bagian dari proses untuk “Berubah!!”

Saat itu, para orangtua masih menikmati makanan dan perbincangan di meja samping panggung sambil mengamati tingkah laku anak-anak tersebut. Tidak lama kemudian, satu orangtua yang duduk dekat saya berkomentar bahwa melompat dari panggung itu berbahaya karena berisiko jatuh. Ia pun akhirnya berjalan ke arah panggung dan melarang anaknya untuk melompat lagi.

Permainan masih terus berlanjut. Tidak lama kemudian, salah seorang anak yang badannya lebih kecil mulai diganggu oleh anak berbadan paling besar. Dengan tubuhnya yang lebih besar, anak itu berusaha menakut-nakuti si kecil. Saya mengamati dan mencoba menerka apakah yang akan terjadi selanjutnya. Ternyata, beberapa anak lain kemudian bergabung dan ikut mengganggu anak kecil itu. Walau merasa gerah dengan hal itu, saya mencoba menahan diri untuk tidak langsung turun tangan melerai dan menegur anak-anak di sana.

Melindungi anak adalah insting alamiah yang dimiliki setiap orangtua. Sejak masih bayi, kita ingin melindungi mereka dari bahaya, dari sakit penyakit, dan penderitaan. Kita takut mereka jatuh, kita khawatir mereka kena pukul. Ketika mereka bermain dengan posisi yang berbahaya, kita segera mendekat untuk menjaga. Kita tidak tahan melihat mereka diejek. Kita ikut lesu ketika anak kita jatuh sakit. Kita bahkan lebih memilih untuk menderita bila hal itu bisa menghilangkan penderitaan dari anak-anak kita. Buat kita, anak-anak adalah surga kita dan kita tidak ingin surga itu tercemar oleh kepahitan yang ada di dunia ini.

Namun terkadang, dalam keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada anak, kita justru merampas sesuatu yang berharga dari diri mereka.

Dalam salah satu seminar parenting yang saya ikuti, seorang pembicara menjelaskan pentingnya kita sebagai orang tua mengatur insting membantu dan melindungi kita dengan baik. Penting bagi kita untuk tidak selalu segera melakukan intervensi ketika ada risiko bahaya yang muncul.

Jika kita selalu membantu dan menjaga mereka, ada kerugian-kerugian yang akan dialami oleh anak kita. Jika kita selalu memasang benteng di sekeliling mereka, maka ada harga yang harus mereka bayar, dan terkadang, harga itu jauh lebih mahal daripada pilihan untuk membiarkan anak kita terjatuh dan menangis.

Tiga hal yang saya pelajari dan sangat membantu saya dalam menjaga keseimbangan antara membantu atau membiarkan anak-anak saya terjatuh adalah:


1. Kesempatan Belajar yang Berharga

Kita perlu melihat peristiwa yang pahit dan sakit dari sisi pembelajaran dan pengalaman. Setiap pengalaman di masa kecil merupakan kesempatan berharga untuk proses pembentukan diri anak.

Ketika mereka bermain dan kemudian terjatuh, itulah kesempatan untuk membimbing mereka tentang pentingnya memiliki sikap berhati-hati. Ketika mereka mengadu karena merasa dianaktirikan oleh guru di sekolah, itulah kesempatan kita untuk mengajar bagaimana mereka harus bersikap ketika otoritas yang dipercaya ternyata berlaku tidak adil dan pilih kasih.

Berbagai pelajaran tentang nilai hidup, pertemanan, keluarga, bahkan nilai-nilai agama bisa ditanamkan lewat pengalaman yang mungkin terasa pahit. Ketika anak-anak kita mengalami kejatuhan, kegagalan, dan kepahitan, sebagai orangtua yang bijak, kita membimbing mereka dan memberikan pegangan untuk masa depan mereka. Kita menjadikan pengalaman buruk sebagai batu loncatan untuk membentuk dan mempersiapkan anak-anak kita menghadapi hari esok.


2. Risiko yang Kecil

Mengapakah hal ini penting untuk dilakukan ketika mereka kecil? Bukankah di masa kecil, mereka justru masih lemah dan rentan? Itulah dua pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya ketika ide untuk membiarkan anak mengalami kekecewaan dan kesakitan ini dibagikan.

Pembelajaran kedua mampu menjawab pertanyaan di atas. Tindakan membiarkan anak mengalami kegagalan dan kekecewaan di waktu mereka kecil adalah hal yang tepat karena itulah masa di mana akibat yang muncul masih sedikit. Harga yang harus dibayar untuk mendapatkan pembelajaran dari pengalaman yang tidak enak masih relatif kecil dan risiko yang dihadapi pun masih sangat rendah.

Contoh yang mudah adalah ketika anak kita merengek meminta permen di supermarket. Bila kita tidak memberikan, maka kemungkinan besar anak kita akan menangis dengan keras dan menarik perhatian orang di sekitar. Lalu, apakah yang akan kita lakukan? Jalan pintas yang diambil kebanyakan orangtua adalah segera membelikan permen agar si anak bisa tenang. Akan tetapi, orangtua yang bijak akan peka dan menggunakan peristiwa ini untuk mengajarkan sesuatu kepada anak. Anak perlu diajar bahwa tidak semua yang Ia ingini bisa Ia dapatkan, menggunakan cara menangis dan mencari perhatian tidaklah ada gunanya.

Bila anak tidak diajar di usia muda, ketika risikonya hanyalah tangisan dan rasa malu kita sebagai orangtua, apa jadinya ketika Ia sudah dewasa dan mendapati bahwa keinginannya tidak bisa dipenuhi?

Pernah membaca berita tentang seorang wanita di China yang mengamuk hingga nekat bugil di depan umum karena pacarnya tak mau membelikan iPhone 6S untuknya? Bila anak tak diajar sejak dini, bukan tak mungkin mereka akan berlaku seperti yang dilakukan oleh wanita di China itu.


3. Membangun Kekuatan untuk Bangkit Kembali

Bila kita bisa melihat ke masa lalu dengan objektif, maka kita akan menemukan bahwa kebanyakan peristiwa yang anak-anak kita hadapi ternyata dapat terselesaikan dengan sendirinya. Saya disadarkan akan hal ini setelah saya mulai melepas sedikit demi sedikit kecenderungan untuk membantu anak setiap saat.

Ternyata, anak kita akan kembali berteman dengan “musuhnya”. Mereka akan bangkit kembali setelah menangis sebentar karena terjatuh. Di sekolah, mereka akan bisa beradaptasi dengan metode mengajar dari si guru galak.

Di hampir semua situasi, campur tangan kita untuk “menolong” mereka ternyata tidak sepenting yang kita pikirkan.

Biarkan mereka menghadapi risiko-risiko dan menanggung akibat, lalu lihatlah cara mereka bangkit. Anak-anak kita ternyata jauh lebih kuat dari yang kita pikirkan. Ketika terjatuh, mereka akan menemukan mekanisme untuk bangkit kembali, dan setelah itu, mereka akan menjadi semakin kuat.



Kembali ke permainan anak-anak di pesta ulang tahun yang saya ceritakan di atas. Tidak lama setelah melihat mereka mengejek dan mendorong anak yang lebih kecil itu, sesuatu yang indah terjadi. Sammy, anak perempuan saya, bergerak maju dan melindungi adik kecil yang sedang terkepung itu. Ia membentengi adik kecil itu dengan tubuhnya dan mengangkat tangan sebagai tanda agar anak-anak lainnya berhenti mengganggu. Saya sendiri terkejut dengan pilihannya. Bukannya memilih untuk ikut-ikutan atau lari dari masalah, Ia justru membuat pilihan terbaik saat itu.

Kebanggaan sebagai orangtua terpancar dari raut muka saya. Buat saya, dalam proses bermain saat itu, di antara kenakalan yang dilakukan dan risiko sakit karena jatuh atau terpukul yang mungkin muncul, inilah pembelajaran yang paling berharga untuk pembentukan karakter bagi anak saya. Tentu saja, saya pun sadar bahwa pembelajaran ini bukanlah pembelajaran satu kali, tetapi perlu diulang berkali-kali agar karakter itu bisa terbentuk dalam diri seorang anak. Dan, tidak tertutup juga kemungkinan bahwa di hari lain, anak saya malah bisa saja menjadi bagian dari mereka yang mengganggu temannya. Tetapi hari itu, Ia melakukan sesuatu yang benar dan membanggakan buat kami.


[Image: koleksi pribadi]

Dengan membiarkan anak-anak ini menghadapi risiko dan bahaya dipukul dan diganggu, terbuka pintu kesempatan bagi saya untuk menanamkan sikap membela yang lemah. Kalaupun saat itu anak saya mengambil pilihan lain, saya sebagai orangtua tetap memiliki kesempatan untuk mengangkat pengalaman itu dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk anak saya.

Mari kita sama-sama belajar dalam peran kita sebagai orangtua.

Mari kita ingat bahwa terkadang ada pembelajaran yang jauh lebih berharga yang bisa diberikan kepada anak kita di usia muda mereka ketika kita memilih untuk membiarkan mereka menghadapi kepahitan hidup.

Ada kalanya membiarkan buah hati kita terjatuh adalah pilihan terbaik yang dapat kita ambil sebagai orangtua.


Dari penulis yang sama, tentang mengasuh dan mendidik anak:

Ingin Punya Anak Sukses seperti Joey Alexander? Orangtua, Renungkanlah Hal-Hal Ini

Sebuah Mitos Besar tentang Membesarkan Anak dan 3 Cara untuk Mematahkannya

3 Warisan Berharga dari Darth Vader yang Harus Anda Ketahui agar Anda dapat Menjadi Ayah yang Lebih Baik


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Biarkan Anak Anda Jatuh! Dengan Tidak Selalu Menjaga dan Membentengi, Anda Justru Sedang Mendidik Mereka". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami dengan dua anak yang masih terus belajar untuk menjaga keseimbangan antara keluarga dan karir, antara hidup dengan fokus dan hasrat untuk mengambil setiap kesempatan yang ada.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar