Tidak Puas dengan Keputusan Kenaikan Gaji Tahunan dari Atasan? Tanyakan 3 Hal Penting ini Agar Dapat Menerima Keputusan Tersebut

Work & Study

[Image: shutterstock.com]

3.8K
Seberapapun besarnya kenaikan gaji yang kita dapatkan, akan selalu ada kecenderungan dalam diri kita untuk tetap merasa tidak puas. Kalau bisa lebih besar, kenapa harus puas dengan yang sekarang didapatkan? Puas atau tidak puas pun menjadi sulit diukur. Namun, ada satu hal yang dapat membantu karyawan untuk puas atau tidak puas: pemahaman tentang proses di balik penentuan kenaikan gaji.

Bulan Januari sampai dengan Maret adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh banyak karyawan. Di bulan-bulan tersebut biasanya para karyawan mendapatkan kenaikan gaji tahunan. Dalam dunia kerja, pada umumnya kenaikan gaji diberikan di setiap awal tahun, walaupun ada juga perusahaan yang melakukannya di tengah atau akhir tahun. Umumnya juga hanya diberikan satu kali setiap tahun, kecuali bagi karyawan-karyawan yang berprestasi luar biasa, ada perusahaan yang memberikan kenaikan gaji lebih dari sekali dalam setahun untuk mereka.

Bagi kebanyakan atasan, memberikan kenaikan gaji merupakan pekerjaan yang gampang-gampang susah. Jika perusahaan sudah mempunyai aturan main yang jelas dan baku mengenai hal tersebut, maka tentunya akan sangat mudah bagi atasan. Tinggal mengikuti aturan yang ada, selesai. Akan tetapi, kalau perusahaan tidak mempunyai aturan yang baku, atasan punya keleluasaan untuk menentukan kenaikan gaji. Keleluasaan ini tentunya akan membuat penentuan tersebut diwarnai oleh subyektivitas.

Bagi kita para karyawan, kita tidak bisa berbuat banyak. Kita seakan hanya tinggal "menunggu nasib", karena memang bukan kewenangan kita untuk menentukan berapa besar kenaikan gaji kita, bukan? Sampai detik terakhir sebelum informasi disampaikan oleh atasan, tidak akan ada clue sama sekali berapa besar kenaikan gaji yang kita peroleh. Kita hanya bisa berharap sambil menantikan kemurahan dan kebaikan hati atasan untuk memberikan kenaikan gaji yang besar untuk kita.

Memang benar teori yang mengatakan bahwa besarnya gaji akan memengaruhi motivasi kerja atau kepuasan kerja. Akan tetapi, jika kita berbicara mengenai gaji, manusia adalah tetap manusia yang tidak akan pernah selamanya bisa dipuaskan. Selalu akan ada satu ruang kosong di hati kita yang tidak akan pernah dipuaskan hanya dengan uang.

Seberapa pun besarnya kenaikan gaji yang kita dapatkan, akan selalu ada kecenderungan dalam diri kita untuk tetap merasa tidak puas. Kita pasti punya kecenderungan untuk mengharapkan mendapatkan kenaikan gaji yang lebih besar. Puas atau tidak puas menjadi sulit diukur. Tidak banyak karyawan yang dapat mengatakan bahwa Ia puas dengan kenaikan gaji yang diterimanya, karena kalau bisa mendapatkan lebih besar, kenapa harus puas dengan yang sekarang didapatkan?

Menurut pengamatan dan pengalaman saya, ada satu hal yang dapat membantu kita untuk puas atau tidak puas, yaitu pemahaman tentang proses di balik penentuan kenaikan gaji kita. Oleh karena bukan kita sendiri yang memutuskan kenaikan gaji kita, maka keputusan itu seakan merupakan keputusan sepihak: keputusan yang diambil entah dari mana oleh atasan kita. Kita tidak mengetahui proses yang melatarbelakangi keputusan itu dan karenanya mulai membangun segala asumsi dan perkiraan. Ini memengaruhi puas dan tidak puasnya kita.

Oleh karena itu, apabila atasan tidak memberitahukan latar belakang penentuan keputusan kenaikan gaji kita, sebaiknya kita menanyakannya. Ini penting agar kita mempunyai gambaran yang lebih menyeluruh dan obyektif terhadap keputusan kenaikan gaji yang diberikan kepada kita.

Inilah 3 hal yang harus berani kita tanyakan pada atasan terkait dengan kenaikan gaji yang diberikan pada kita:


1. Penilaian Kinerja oleh Atasan

[Image: i.ytimg.com]

Tidak semua perusahaan punya sistem evaluasi atau penilaian kinerja bagi karyawannya. Kalaupun ada, tidak ada sistem penilaian yang dapat menjamin kesempurnaan dalam prosesnya. Tidak ada pula sistem, sebaik apapun, yang dapat mengesampingkan subyektivitas. Semua sistem penilaian kinerja pasti akan diwarnai oleh sedikit banyak subyektivitas dari atasan. Itu lumrah terjadi dan tidak bisa dihindari. Akan tetapi, semakin jelas dan spesifik target kerja yang ditentukan bagi kita, maka akan semakin jelas pengukuran keberhasilannya, dan semakin tinggilah obyektivitas penilaian yang dapat diberikan.

Jika saat ini kita bekerja di perusahaan yang manajemennya lebih tertata, dalam arti punya kejelasan dalam mengevaluasi kinerja kita, maka kita dapat lebih mudah mengetahui bagaimana penilaian atasan terhadap kinerja kita. Apakah baik dan memenuhi harapan? Atau bahkan melebihi harapan? Atau sebaliknya, jauh dari harapan?

Karena tentunya, tidak ada atasan yang akan memberikan kenaikan gaji yang tinggi bagi karyawannya yang dianggap tidak memenuhi harapan. Dan seharusnya, tidak akan ada juga atasan yang akan menutup hatinya untuk menaikkan gaji lebih tinggi bagi karyawan-karyawannya yang berprestasi baik. Ada juga memang beberapa perusahaan memberikan kenaikan gaji sama besar untuk seluruh karyawan, tanpa memandang tinggi atau rendahnya pencapaian serta baik atau buruk kinerja tiap-tiap karyawan.

Jika kita bekerja di perusahaan yang tidak mempunyai ketentuan penilaian kinerja, maka kita perlu menanyakannya langsung pada atasan kita. Make it simple saja. Tanyakan apakah kinerja kita dinilainya:

• Melebihi harapan

• Memenuhi harapan

• Di bawah harapan

Dari penilaian yang diberikan tentunya kita mempunyai gambaran yang jelas mengenai kinerja kita dibandingkan dengan rekan-rekan kerja yang lain di mata atasan kita.


2. Kondisi Kinerja Perusahaan

[Image: www.investingprime.com]

Saat ini, belum banyak perusahaan lokal yang menerapkan manajemen yang transparan, apalagi dalam menyampaikan kinerja perusahaan. Akan tetapi, sebagai karyawan kita juga mempunyai hak untuk menanyakannya pada atasan mengenai kondisi kinerja perusahaan. Apakah akan dijawab dengan jujur atau samar-samar, apakah dengan detil atau secara garis besar, sepenuhnya hak atasan kita. Namun, sebagai karyawan yang baik, tentunya kita ingin memberikan kontribusi yang terbaik untuk kemajuan perusahaan. Kalau perusahaan terbuka terhadap kita, maka kita pun sebagai karyawan semakin tahu apa yang harus diprioritaskan dan difokuskan untuk mendukung pencapaian perusahaan.

Kita tidak bermaksud menanyakan laporan keuangan atau menanyakan keuntungan perusahaan. Yang ingin kita tanyakan dan ketahui sebenarnya hanyalah garis besarnya saja: bagaimana kondisi kinerja perusahaan pada tahun yang baru dilewati. Kita tidak perlu tahu detil, karena kita tidak memiliki kepentingan untuk itu. Selain itu, kita juga bukan orang yang expert untuk menganalisanya. Kita hanya perlu tahu gambaran mengenai bagaimana keadaan perusahaan tempat kita bekerja, apakah mencapai sasaran atau target yang telah dicanangkan, apakah hasil yang didapat lebih baik atau lebih buruk dari tahun sebelumnya.


3. Kebijakan Perusahaan atau Atasan Tentang Kenaikan Gaji Tahun Ini

[Image: payscale.com]

Setiap tahun, pasti ada arahan dari manajemen perusahaan yang dituangkan dalam aturan atau kebijakan mengenai kenaikan gaji tahun tersebut. Ada perusahaan yang menyampaikannya kepada seluruh karyawan secara terbuka, tapi ada pula yang hanya menyampaikan kepada atasan atau bagian HRD untuk digunakan sebagai panduan kerja dalam menentukan kenaikan gaji karyawan. Kebijakan inilah yang perlu kita ketahui.

Namanya saja "kebijakan perusahaan", sudah pasti tidak bisa disamakan antara satu perusahaan dengan perusahaan lain. Bisa jadi kebijakan suatu perusahaan malah jauh berbeda dengan yang pada umumnya dilakukan perusahaan lain. Bahkan, bisa jadi ada kebijakan yang hanya berlaku di perusahaan tempat kita bekerja.

Kebijakan ini akan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terkait dengan perkembangan bisnis perusahaan dan kondisi ekonomi secara keseluruhan. Misalnya kondisi kinerja perusahaan tahun sebelumnya, rencana kerja perusahaan ke depannya, baik tahun berjalan maupun tahun-tahun berikutnya, dan juga kondisi dan perkembangan ekonomi di industri bisnis yang sama, besarnya inflasi, maupun perkembangan ekonomi Indonesia dan dunia.

Ada satu faktor lain yang juga banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar dalam menentukan kenaikan gaji tahunan, yaitu rasio pembanding antara besarnya gaji yang diberikan perusahaan untuk posisi atau jabatan tertentu yang dibandingkan dengan yang ada di pasaran yang diberikan perusahaan-perusahaan lain untuk posisi atau jabatan sejenis. Biasanya data ini diperoleh setelah perusahaan melakukan survei gaji yang dibantu oleh konsultan yang ahli dalam bidang ini.

Sebagai karyawan, informasi serupa bisa Anda dapatkan melalui internet. Anda dapat mengakses situs yang menyediakan informasi mengenai kisaran gaji untuk berbagai posisi di berbagai perusahaan di Indonesia, Qerja, contohnya. Situs-situs tersebut biasanya memiliki database yang terdiri atas ribuan data gaji dan review mengenai tempat kerja.

Semua faktor inilah yang akhirnya menjadi dasar bagi perusahaan dalam menentukan kebijakan mengenai kenaikan gaji tahunan: apakah akan ada atau tidak pemberian kenaikan gaji pada tahun tersebut serta berapa besaran kenaikan gaji yang akan diberikan untuk masing-masing karyawan sesuai rentang kinerja karyawan.



Again, sebagai karyawan kita semua memang tidak akan pernah bisa menentukan berapa kenaikan gaji kita sendiri, serta berapa kenaikan yang seharusnya, sepantasnya, atau selayaknya kita dapatkan. Akan tetapi, dengan mendapatkan semua informasi di atas, saya yakin proses di balik keputusan kenaikan gaji akan menjadi lebih ‘terang benderang’ bagi kita.

Semua informasi yang telah kita peroleh tanpa kita sadari akan menggiring kita kepada ‘kesimpulan’ mengenai tepat atau tidak tepatnya penentuan kenaikan gaji kita. Memang sangat subyektif sekali, karena bisa jadi menurut kita tidak obyektif tapi menurut atasan kita sudah sangat obyektif.

Berani menanyakan hal-hal yang perlu ditanyakan pada atasan juga bukan sekadar untuk mendapat tambahan informasi, dengan cara itu kita juga belajar untuk lebih gentle, lebih terbuka dalam menyikapi ketidakpuasan kita terhadap kenaikan gaji yang kita peroleh.

At the end, dengan mendapatkan informasi-informasi tersebut kita pasti akan lebih bisa menerima keputusan atasan tentang kenaikan gaji kita, berapapun besarnya itu. Menerima bukan berarti puas, tapi dengan menerimanya kita bisa lebih puas.

Puas atau tidak puas menjadi relatif, karena di balik kepuasan atau ketidakpuasan itu, saya percaya kita semua masih tetap dapat memaknai kenaikan gaji yang kita peroleh dengan penuh syukur.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tidak Puas dengan Keputusan Kenaikan Gaji Tahunan dari Atasan? Tanyakan 3 Hal Penting ini Agar Dapat Menerima Keputusan Tersebut". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Herlina Permatasari | @herlinapermatasari

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar