Tidak ada yang Mustahil! 7 Pelajaran Hidup dari Kisah Nyata Anton : Anak Desa yang Bermimpi Menjadi Rohaniwan

Reflections & Inspirations

photo credit: Mahindra Rise

5.4K
Impian adalah modal kehidupan. Tanpa impian, kita tak tahu harus melakukan apa. Namun, impian tanpa kerja keras tak akan membawa hasil apapun.

Setiap orang tentu mempunyai mimpi untuk memiliki masa depan yang baik. Hidup yang berkenan kepada Sang Pencipta kehidupan dan bermakna bagi sesama. Meskipun itu bukan perkara yang mudah. Melalui kisah nyata Anton seorang anak petani desa, dapat dipetik 7 pelajaran yang harus dilalui untuk mencapai mimpi tersebut.

Baca juga: Keluarga : Bukan Surga, Bukan Neraka. Tiga Hal ini yang akan Membuat Kita Mencintai Keluarga Apa Adanya


1. Setiap orang mesti mempunyai mimpi

photo credit: usseek

Anton adalah anak seorang petani desa yang hidupnya pas-pasan. Sejak kecil hidupnya sudang berkecimpung dengan kesusahan dan penderitaan. Membantu orang tua mengatasi persoalan keluarga besarnya, mencari rumput untuk hewan peliharaannya, dan mencari air untuk kebutuhan seisi rumah tangga orang tuanya. Semua itu dilakukan seusai pulang sekolah.

Sebagai anak kedua dari tujuh orang bersaudara, pada saat berada di kelas lima, ia mulai berpikir dan bergumul bahwa dirinya harus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Itu harus dilakukan untuk meolong dirinya dan keluarganya. Meniti masa depan yang lebih baik, itulah mimpinya.

Ia sadar bahwa itu bukan sesuatu yang mudah. Pada zamannya, teman sekampungnya belum ada yang bersekolah di tingkat lanjutan.

Sayang, saat ia lulus sekolah dasar, dana penunjang yang dibutuhkan belum tersedia. Sapi peliharaan ayahnya masih mengandung, sehingga ia harus menunda cita-citanya. Ia harus sabar menunggu waktu yang tepat. Setahun kemudian, barulah ia bisa memenuhi niatnya belajar di sekolah menengah pertama

.

2. Meraih mimpi, tak semudah yang dibayangkan

photo credit: Mahindra Rise

Di tengah perjalanan belajarnya, Anton menghadapi masalah besar. Dua tahun berada di sekolah lanjutan pertama, ayahnya menderita sakit keras, hingga keluarga memintanya keluar dari sekolah karena tidak ada biaya lagi.

Namun, ia bergeming untuk terus belajar. Ia meyakini bahwa dirinya tidak boleh putus asa menghadapi kenyataan pahit tersebut. Ia berusaha sendiri menyelesaikan persoalan belajarnya, sambil memohon pertolongan Yang Mahakuasa. Tuhan menolong melalui sang paman, yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di sekolah untuk calon rohaniwan. Beliau melayani sebuah jemaat di kota kecil. Beliau mengajak Anton tinggal bersamanya.

Baca juga: It's OK to Not Be OK, Kasihilah Dirimu Sendiri Tanpa Syarat. Sesungguhnya Mengasihi dan Dikasihi Bermula dari itu Saja

Tinggal bersama pamannya selama enam bulan, ia belajar banyak hal dalam membangun kehidupan. Menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. Mengatur waktu dengan baik. Bergaul secara sehat dan mengangatur kondisi hidup yang terbatas dengan bijaksana. Melalui perjuangan dan kerja keras, pada akhirnya ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan baik.


3. Setiap tantangan merupakan kesempatan dan anugerah

photo credit: mateenchallenge

Pada saat harus masuk SMA , ia kembali menghadapi persoalan baru. Pamannya mendapat panggilan pelayanan di tempat lain yang jauh dari jangkauan sekolah di kotanya. Mau tidak mau ia harus berpisah dengan sang paman dan kembali bergumul dengan situasi barunya.

Setelah mempertimbangkan segala kemungkinan yang ada, ia memutuskan untuk masuk Sekolah Pendidikan Guru Negeri . Di sekolah ini, ia mendapat ikatan dinas yang memungkinkan ia bisa belajar dengan tenang, tanpa harus merepotkan orang tua. Hal ini disyukuri sebagai anugerah Tuhan yang luar biasa. Untuk hidup, ia belajar mandiri. Berbagai usaha dilakukan untuk mencukupi kebutuhannya.

Lulus sekolah, ia berharap dapat langsung bekerja karena sistem ikatan dinas, tapi ternyata rancangan Tuhan berbeda dengan rencananya.

Setelah lulus, ternyata peluang menjadi guru tertutup oleh lulusan Crash Program Kursus Pendidikan Guru (KPG). Program yang diciptakan Pemerintah untuk memenuhi kekurangan Guru paska perang saudara 1965. Anton belum sempat menjalani Ikatan Dinas yang seharusnya lakukan.


4. Rencana Tuhan, kadang belum tentu selaras dengan rencana manusia


Paman pun akhirnya menyarankan dirinya untuk mencoba melanjutkan di Pendidikan Teologi, sebuah sekolah untuk calon rohaniwan Kristen. Siapa tahu Tuhan memanggilnya untuk menjadi rohaniwan di kemudian hari. Tawaran itu ia tanggapi dengan pesimis, karena ia sama sekali tidak memiliki cita-cita di bidang tersebut. Namun, Ia tetap mencoba mendaftar serta mengikuti tes masuk ke salah satu perguruan tinggi teologi ternama di Indonesia. Betapa terkejutnya ketika temannya memberi tahu bahwa diantara 116 peserta tes, 30 orang diterima dan dirinya termasuk di dalamnya.

Sebenarnya ia tidak berminat untuk menjadi seorang rohaniwan. Karena ia tahu, bahwa hidup sebagai rohaniwan bukanlah hal yang mudah. Sedangkan temannya yang sangat ingin menjadi seorang rohaniwan justru tidak diterima, Hal tersebut menunjukkan bahwa rencana Tuhan kadang belum tentu sesuai dengan rencana kita. Tetapi rencana Tuhan selalu lebih baik dari rencana manusia.

Baca juga: Kebiasaan Menunda Menghilangkan Banyak Kesempatan Berharga. Inilah 5 Hal yang Menolongmu Mengalahkan Rasa Malas


5. Setiap kesempatan adalah anugerah yang harus disyukuri

photo credit: ufs

Masuk ke pendidikan teologi justru membuat Anton bingung. Bingung, karena tidak tahu dari mana ia bisa mendapatkan biaya pendidikan. Pada saat tes, ia ditanya tentang biaya untuk menunjang pendidikannya yang secara jujur ia jawab dengan tidak ada. Baik orang tua maupun Gereja, tidak mungkin bisa menopang, karena merupakan Jemaat sederhana di kota kecil. Saat itu, ia hanya berkata, apabila ia berhasil lulus tes masuk, ia akan berusaha mendapatkan beasiswa.

Anton sangat menghormati orang tua yang telah membesarkannya selama ini. Ia tidak ingin mencemarkan nama baik mereka. Oleh karena itu, ia mohon kepada orang tuanya, jika berkenan untuk menjual kayu seluas dua hektare miliknya sebagai persiapan awal pendidikannya. Baginya, ini sesuatu yang berat, sebab orang tuanya belum terlalu mengenal Tuhan saat itu.

Syukur kepada Tuhan, ayahnya mengabulkan permohonannya. Setelah kuliah dimulai, uang hasil penjualan kayu tersebut dibawanya dan disimpan dengan baik di kampus. Ketika simpanan itu habis dan tidak ada beasiswa baginya, Anton berpikir untuk keluar.


6. Sabar menunggu apa yang diharapkan

Menanti sesuatu yang diharapkan, memerlukan kesabaran. Kadang, harap-harap cemas. Tetapi saat kepastian tiba, tentu kebahagiaan menyelimutinya..

Ditunggu-tunggu, tidak pernah ada panggilan untuk membayar beasiswa tinggal di asrama maupun uang kuliah. Sampai pada bulan ketiga masa kuliah, ia dipanggil ke kantor tata usaha untuk menerima uang saku sebesar tiga ratus ribu rupiah setiap bulannya pada waktu itu. Anton juga tak perlu memikirkan biaya kuliah dan asrama. Mendengar kabar tersebut, Anton pun tertegun, bak menghirup embun pagi yang menyegarkan. Hati, pikiran dan perasaannya menjadi tenang.

Ia bersyukur kepada Tuhan. Tuhan sudah membuka jalan untuk setiap pergumulannya. Ia kemudian mengambil keputusan memakai uang yang selama ini disimpan untuk membeli sepeda sebagai sarana transportasi pelayanan setiap Minggu. Ia mengambil bagian dalam pelayanan Sekolah Minggu, Persekutuan Pemuda dan Pemahaman Alkitab di gereja terdekat dari kampusnya. Semua itu dilakukan sebagai tanda syukurnya kepada Tuhan yang senantiasa memberikan yang terbaik menurut pemandangan-Nya. Hal itu dilakukan sampai akhir pendidikannya.


7. Mencari kehendak Tuhan untuk hidup dan masa depan

photo credit: pexels

Dengan telah dimilikinya sertifikat kelulusan dan mengikuti Wisuda, Anton telah memiliki bekal yang baik untuk membangun hidup dan masa depannya. Ia bisa memilih menjadi rohaniwan atau mengajar di sekolah. Ibarat seorang petani, cangkul itu sudah dimilikinya. Ia bergumul di dalam doa kepada Tuhan untuk kehidupan berikutnya.

Tidak terlalu lama menunggu. Satu bulan usai wisuda, Anton mendapat panggilan untuk melayani sebuah fereja di kota kecil. Namun, karena dari semula belum ada kerinduan untuk menjadi seorang Hamba Tuhan, ia pun mengambil keputusan sebagai tenaga kontrak dulu selama enam bulan. Setelah itu, barulah tiap pihak memutuskan untuk lanjut atau tidak jika sesuatu terjadi di tengah jalan.

Baca juga: Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga ini

Selama menjalani pelayanan sebagai tenaga kontrak ini, Anton berusaha bekerja sebaik mungkin dengan senang hati melakukan apa yang dipercayakan kepadanya. Menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat sekitar, sekali pun tempat pelayanannya termasuk yang tidak gampang.

Setelah dilayani kurang lebih empat tahun, jemaat berkembang lumayan cepat dari pengunjung awal tiga puluhan menjadi sekitar seratusan. Jumlah tersebut memenuhi syarat untuk menjadi jemaat mandiri. Namun, hal tersebut belum membuat Anton mantap menjadi seorang rohaniwan. Ia masih merasa belum pantas menjadi seorang rohaniwan sepanjang hidupnya. Maka berkonsultasilah ia dengan para seniornya dari kampus yang sama dan para mantan pengasuhnya .

Dari merekalah Anton mendapat nasihat dan doa yang menenangkan hatinya. Anton pun berusaha menyerahkan seluruh hidupnya untuk apa yang Tuhan mau dan bukan apa yang ia mau. Anton kemudian bertemu kembali dengan orang yang pernah ia cintai, mereka kemudian menikah dan berkeluarga. Setelah itulah, Anton menjalani penahbisannya sebagai rohaniwan sepenuh waktu.

Demikianlah panggilannya sebagai rohaniwan itu yang ternyata timbul di tengah perjalanan pelayanannya dan bukan pada awalnya. Itulah keindahan hidup yang bersandar pada rencana-Nya. Sungguh indah rencana Tuhan bagi hidup dan masa depan Anton.

Biarlah contoh perjuangan dan pergumulan Anton meniti masa depan ini menginspirasi siapa pun orang-orang muda yang sedang bergumul mencari jati diri dan berusaha menata masa depannya.

Keberanian melangkah adalah modal dasar menciptakan masa depan. Semangat jangan melemah, karena adanya hambatan dan tantangan.

Berjuanglah terus sekuat tenaga menghadapinya dengan bersandar pada: ”Apa yang Tuhan mau dan bukan apa yang aku mau”.


Buat kamu yang sedang berjuang menata masa depan, tulisan-tulisan ini akan memberikan inspirasi :

Kini: Satu-satunya Waktu untuk Mencintai. Esok Mungkin Tak Pernah Ada, Cinta Bisa Pergi Kapan Saja

Dari Kisah Nyata Ken, Renungkan 4 Hal Ini untuk Mengembalikan Semangat Juang dan Bangkit dari Keterpurukan

Kisah Nyata: Ketika Kelembutan Hati Ibu Membebaskan Anak dari Jerat Narkoba

Dari Antrian BPJS, Saya Menemukan Kisah Cinta Sejati dan Hal-hal Menakjubkan Lainnya


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tidak ada yang Mustahil! 7 Pelajaran Hidup dari Kisah Nyata Anton : Anak Desa yang Bermimpi Menjadi Rohaniwan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Stefanus Semianta | @stefanussemianta

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar