Thor: Ragnarok, Dua Pelajaran Berharga demi Kebahagiaan Keluarga

Reflections & Inspirations

[image credit: Marvel Studios]

750
Walau kita mungkin tidak terlalu peduli dengan Asgard dan bahaya kehancuran yang ia hadapi, cerita “Thor: Ragnarok” tetap menarik karena inti dari permasalahan yang dihadapinya berpusat pada keluarga. Sesuatu yang relevan dengan dunia kita.

Musim film-film dengan biaya besar kembali bermunculan. Cerita yang mengundang rasa penasaran, special effect yang akan memanjakan mata dan telinga, serta pemain yang rupawan hadir untuk menawarkan istirahat sementara dari kesibukan dan masalah yang sedang kita hadapi. Dalam waktu sekitar dua jam, kita akan dihibur dan dipuaskan. Segelas coca-cola dingin dan sekantong popcorn pun akan menjadi teman setia yang memanjakan mulut dan perut kita.

Dimulai dengan alunan musik yang menunjukkan kehebatan teknologi suara dalam ruangan yang dingin dan gelap itu, kita kemudian dibawa ke dunia antah berantah, sebuah dunia mimpi di mana tidak ada yang mustahil. Dalam dunia itu, kita akan memiliki satu atau dua karakter yang menjadi avatar kita. Inilah pahlawan kita. Mereka ini yang akan bertarung menghadapi masalah yang kelihatannya mustahil untuk diselesaikan.

Terkadang mereka akan berjuang untuk merebut cinta. Atau, mereka akan berjuang menyelamatkan dunia dari kehancuran. Di lain waktu, mereka berjuang untuk bisa bertahan hidup hingga dua jam itu berakhir.

Sedikit banyak, kita mengerti perjuangan yang mereka hadapi. Kita mengerti bagaimana rasanya dikucilkan masyarakat. Atau terbuang dan tidak dianggap orang di sekitar kita. Kita mengerti bagaimana rasanya terjepit ketika persoalan bertambah besar, musuh bertambah kuat, dan harapan seakan lenyap. Kita mengerti bagaimana sebuah masalah dalam keluarga akhirnya dapat menghancurkan semua usaha dan kesuksesan yang sudah kita bangun.

Seperti film “Thor: Ragnarok” yang baru saya tonton.

“Thor: Ragnarok” ini merupakan kelanjutan dari dua film Thor sebelumnya yang terbit pada tahun 2011 dan 2013. Dengan cerita yang berpusat pada Asgard, kota kelahirannya, Thor kali ini memiliki misi untuk melindungi Asgard dari kehancuran. Kehancuran yang disebabkan oleh Hela, kakak perempuan Thor.

Walau kita mungkin tidak terlalu peduli dengan Asgard dan bahaya kehancuran yang ia hadapi, cerita “Thor: Ragnarok” tetap menarik karena inti dari permasalahan yang dihadapinya berpusat pada keluarga. Sesuatu yang relevan dengan dunia kita. Kita semua bisa belajar tentang keluarga dalam usaha kita menghadapi dinamika keluarga kita sendiri.

Lewat “Thor: Ragnarok”, ada dua hal yang ingin saya bagikan tentang dinamika sebuah keluarga:



1. Rahasia bukanlah solusi untuk menutup kesalahan masa lalu

Hela yang merupakan anak tertua Odin tidak pernah muncul dalam cerita sebelumnya. Pribadi ini dengan sengaja dirahasiakan oleh Odin dari kedua saudaranya: Thor dan Loki.

Odin mengurung Hela setelah ia merasa bahwa hasrat dan ambisi Hela terlalu besar dan tidak dapat lagi dikendalikannya. Akan tetapi, kini rahasia itu terbongkar. Hela mampu melarikan diri dari penjara yang dibuat Odin dan kini ia berhasrat untuk melanjutkan ambisinya menaklukkan dunia.

[image credit: Marvel Studios]

Seperti keluarga Odin, keluarga kita pun memiliki rahasia. Rahasia itu mungkin berupa sebuah peristiwa memalukan yang terjadi di waktu lampau, sebuah noda hitam, atau seorang anak yang murtad.

Dengan segala usaha, kita juga berusaha menyembunyikan dan mengunci rapat rahasia itu hingga tidak ada orang yang tahu. Kita mengirim anak yang cacat itu ke panti asuhan. Kita lari dan pindah kota, atau bahkan lari ke luar negeri. Kita menguburkan rapat-rapat dan menganggap hal itu tidak pernah terjadi.

Film ini mengingatkan kita bahwa rahasia keluarga tidak akan pernah terkubur selamanya. Tidak pernah. Suatu hari nanti, ia akan terbongkar. Ketika hal itu terjadi, kita akan berharap bahwa kita memiliki lebih banyak waktu untuk menjelaskan dan meminta maaf. Ketika rahasia itu terbongkar, sering kali kita berada pada posisi kehabisan waktu. Seperti yang dialami oleh Odin

Itulah sebabnya, hari ini merupakan hari yang baik bagi kita untuk memikirkan kembali tentang noda hitam kehidupan kita. Apakah yang akan kita lakukan dengan rahasia itu? Adakah kemungkinan untuk kita bercerita dan meminta nasihat dari seorang penasihat atau konselor tentang rahasia gelap itu?

Jangan biarkan rahasia yang sudah merusak masa lalu itu tetap memiliki kekuatan untuk merusak masa depan kita. Janganlah biarkan penyesalan menjadi harga yang harus dibayar ketika rahasia itu terbuka dan kita sudah tidak punya waktu untuk menjelaskan.

Baca Juga: Jangan Biarkan Kesalahan Menghancurkan Hidupmu! Bangkit dan Keluarlah dari Jerat Rasa Bersalah dengan 5 Langkah ini



2. Hukuman bukanlah solusi untuk mengubah seorang anak

Odin memilih hukuman sebagai cara untuk meredam ambisi Hela. Ia berpikir bahwa setelah menjalani hukuman, Hela bisa berubah. Jadi bukan saja ambisi Hela ditolak, tetapi kurungan itu juga menutup pintu hati Hela dari ayah yang pernah menjadi rekan perjuangannya.

Akan tetapi, untuk kita yang pernah menjadi anak, berapa banyak dari kita yang bisa berkata bahwa hukuman adalah cara yang tepat dan efektif?

[image credit: Marvel Studios]

Kita tahu bahwa hukuman bukanlah solusi. Sebaliknya, seperti yang dialami Hela, hukuman terkadang mengeraskan hati seorang anak untuk tetap pada pendiriannya. Ketika hukuman itu diberikan, seorang anak akan makin menguatkan tekadnya untuk membuktikan bahwa ia mampu mencapai ambisinya ini.

Cerita yang baru dibagikan oleh Pak Xavier pada artikel “Meninggalkan Orangtua demi Pacar, Saya Terjebak di Pernikahan yang bagai Neraka” menyadarkan saya bahwa hukuman itu bisa muncul dalam berbagai bentuk.

Seperti kurungan yang diderita Hela, anak-anak juga akan mengalami pengucilan, penolakan, dan kurungan emosi dari orangtuanya ketika kata “Tidak!” itu dikeluarkan. Penolakan dari orangtua seringkali membuat anak membuat keputusan yang bodoh, keputusan yang akan mereka (dan orangtua) sesali di kemudian hari.

Apakah hari ini kita sedang menghukum anak-anak kita yang memiliki pendapat yang berbeda dengan kita? Apakah ambisi dan mimpi anak-anak kita terlalu asing untuk kita mengerti dan kita dukung? Apakah sebenarnya kita sedang menolak mereka ketika kita berpikir bahwa kita sedang bertindak atas dasar kasih? Apakah kita memilih untuk memberi dan menahan kasih karena bentuk tubuh, kepintaran, atau hasil kerja dari anak-anak kita?

Hari ini adalah hari yang baik untuk kita mulai melihat hukuman yang kita berikan dari sisi anak dan relasi kita dengan mereka.

Mampukah kita memberikan hukuman dan kasih sayang pada saat yang bersamaan? Adakah cara lain untuk memberikan nasihat tanpa menimbulkan rasa penolakan dalam diri anak? Apakah hukuman itu pantas dibayar dengan harga sebuah relasi?

Masing-masing kita memiliki keunikan dalam berkeluarga. Kita memiliki budaya makan yang berbeda, kebiasaan berdiskusi yang berbeda, dan cara membesarkan anak yang berbeda. Namun dalam perbedaan yang ada, terdapat kesamaan dalam tantangan-tantangan yang dihadapi.

Itulah sebabnya film seperti “Thor: Ragnarok” ini bisa kita mengerti dengan mudah. Tidak ada dari kita yang merasa bahwa kerumitan konflik dalam keluarga Odin terlalu sulit untuk dimengerti. Tidak ada review yang mengatakan bahwa cerita keluarga itu tidak relevan dengan apa yang kita hadapi.

Kita tahu benar betapa wajar (dan sering) masalah seperti itu muncul dalam sebuah keluarga. Dari film ini, kita kembali diingatkan bahaya dari rahasia dan hukuman yang diberikan dengan salah.

Baca Juga: Menghukum Anak untuk Mendisiplinkan Mereka? Mayoritas Orangtua Melakukan Satu Kesalahan Fatal Ini



Buat rekan-rekan yang suka menonton film, silakan pergi dan nikmati keindahan dari film yang berdurasi sekitar dua jam ini. Anda akan dibuai dan keluar dari ruangan itu dengan penuh kepuasan. Sehari kemudian, cobalah kembali ke sini dan sekali lagi, bacalah artikel ini. Setelah itu, coba bagikan hal apa yang Anda dapatkan dari film tersebut.

Have fun!


Baca juga artikel-artikel inspiratif yang diambil dari kisah film ini:

Moana: 5 Pelajaran Penting tentang Mempersiapkan Masa Depan Anak

9 Life Lessons dari 9 Karakter Zootopia yang Akan Membuatmu Memandang Hidup dengan Lebih Bijak





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Thor: Ragnarok, Dua Pelajaran Berharga demi Kebahagiaan Keluarga". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar