The Power to Delay: Strategi Memenangkan Pertempuran Tanpa Bertempur. Tunda Reaksi, Hindari Kehancuran Relasi

Marriage

[Image: smallvile.com.au]

6.1K
Menunda pekerjaan, menunda kewajiban, menunda membayar utang sementara uang sudah ada di tangan, memang kebiasaan yang buruk. Akan tetapi menunda bicara, menunda bereaksi, saat situasi tidak kondusif sangatlah berguna. Teknik yang sangat sederhana.

Anita datang dengan mata sembap. Terbata-bata, dia mencoba menceritakan apa yang terjadi. Emosi tinggi yang masih menguasai membuatnya kesulitan mengungkapkan rasa. Setiap kata yang dikeluarkannya bercampur tangis yang tertahan.

Anita terluka. Batinnya perih. Hatinya memberontak.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Saya biarkan Anita beberapa lama. Saya memintanya diam. Akhirnya, setelah Anita bisa mengatur emosinya, mulailah dia bercerita.

Mula-mula suaminya berbagi dengannya tentang masalah bisnis yang dihadapi oleh perusahaan mereka. Suaminya salah mengambil keputusan. Anita merasa jengkel karena sebelumnya dia sudah menasihati agar suaminya mengambil pilihan yang lain. Namun suaminya bergeming. Sekarang, kerugiannya harus ditanggung mereka berdua.

Sebetulnya permasalahan yang dihadapi tidaklah terlalu besar, demikian pula jumlah kerugiannya. Yang membuat masalah lebih besar, Anita terjebak mengungkit kesalahan-kesalahan lama. Sang suami pun membalas! Mereka saling mengeluarkan kata-kata kasar dan menyakitkan. Akibatnya permasalahan jadi lebih besar dan melebar, bukan lagi karena masalah kerugian bisnis melainkan karena mereka sama-sama merasa dilecehkan dan dihina.

Gengsi tersakiti, karena kata-kata kasar yang dikeluarkan pasangan.

Familiar dengan kisah seperti ini?

Kisah seperti ini akan makin heboh saat orangtua dan keluarga ikut campur. Urusan gengsi, harga diri, penghinaan dan berbuntut pencemaran nama baik bisa berakhir di pengadilan. Entah itu perceraian atau tuntutan hukum karena harga diri.



The Power to Delay

Kekuatan untuk menunda, sangatlah berguna dalam kasus seperti ini.

Menunda memang kebiasaan yang buruk. Menunda pekerjaan, menunda kewajiban, menunda membayar utang sementara uang sudah ada di tangan, memang kebiasaan yang buruk.

Akan tetapi menunda bicara, menunda bereaksi, saat situasi tidak kondusif sangatlah berguna. Teknik yang sangat sederhana.

[Image: medium]

Ini prinsipnya:



Jangan pernah bicara saat hati sedang panas

Perlu kedewasaan dan pengendalian diri untuk mempraktikkan prinsip ini. Secara jujur, saya perlu bertahun-tahun belajar sebelum berhasil mempraktikannya.

Hidup berkeluarga tidak pernah lepas dari perbedaan pendapat. Entah dengan pasangan, anak, karyawan, maupun pembantu. Jangan salah, kehilangan pembantu juga bikin repot. Kadang kita lupa soal itu.

Jadi,

saat ada perbedaan pendapat atau ada yang berbuat salah, lalu emosi meninggi dan ingin marah, lebih baik diam. Ambil keputusan demikian.
[Image: focusonthefamily]

Kadang-kadang saya memilih membicarakannya beberapa hari kemudian ketika hati sudah dingin. Saya juga memilih tidak membicarakannya dengan orang lain. Seringkali komentar orang yang kita curhati justru membuat hati makin memanas dan gengsi semakin meninggi.

Baca Juga: Ketika Pertengkaran Tak Terhindarkan, Ingatlah Bahwa Permusuhan adalah Pilihan. Inilah Cara Menyikapi agar Pertengkaran Tak Menghancurkan Relasi



Gali informasi, jangan andalkan persepsi

Saat hati sudah tenang, saya mencoba memikirkan kembali dan mencari fakta sesungguhnya. Seringkali kejadiannya ternyata tidak seperti persepsi kita semula. Penting diingat, kebanyakan orang saat menceritakan sesuatu, informasinya tidak utuh.

Ada karyawan kita yang pulang tanpa izin saat kita sedang di luar kota, itu fakta. Informasi lain - yang tidak diceritakan, karyawan itu pulang mendadak karena anaknya mengalami kecelakaan. Sisi lain yang juga tidak terlihat, si pemberi informasi ternyata karyawan yang memang bersaing dengan karyawan yang pulang itu.

Ketika kita hanya menelan informasi bahwa karyawan ini pulang tanpa izin, maka pikiran kita berkata bahwa ini tidak disiplin. Tidak tahu aturan. Namun setelah kita tahu bahwa anaknya memang kecelakaan, reaksi kita tentu akan berbeda, bukan?

Dengan menggali informasi lebih detail maka kita bisa memahami situasi dengan lebih baik. Pada akhirnya, bisa mengambil keputusan yang lebih bijak.

Kita bisa menegur tanpa emosi negatif dan memilih kata-kata yang lebih santun. Permasalahan pun berakhir dengan lebih manis. Maksud kita tercapai, yang ditegur pun bersedia berubah dengan senang hati.

Demikian pula permasalahan dengan pasangan atau anak. Lebih baik diam dulu. Ketika suasana sudah tenang dan enak, coba tanyakan duduk masalah sebenarnya.

[Image: Glamour]
Belajar mendengarkan dengan tujuan untuk memahami. Bukan untuk menghakimi.

Berusahalah mengerti sudut pandang orang lain sebelum mengungkapkan pemikiran atau perasaan kita.

Baca Juga: Jangan Terlalu Cepat Menghakimi Pasangan, Inilah 5 Bahaya dan 5 Solusinya



Mengungkit dan menuding: menambah masalah

Prinsip yang tidak kalah pentingnya, jangan mengungkit persoalan atau kesalahan lama. Itu hanya akan membuat masalah yang dihadapi saat ini menjadi dobel porsi. Bahas hanya masalah yang saat ini dihadapi.

[Image: davidwolfe.com]
Tanpa dituding kesalahannya, orang yang bersalah sudah menanggung beban yang berat. Jangan ditambahi lagi!

Baca Juga: Tentang Kita, Manusia yang Mudah Menghakimi Orang Lain, Rasa Aman Palsu dan Keengganan untuk Bertumbuh



Hadapi dan tanggung semua, bersama

Biasakan pula untuk menanamkan pada diri sendiri,

Tidak peduli ini salah siapa, kita hadapi permasalahan sebagai satu keluarga. Masalahmu atau masalahku adalah masalah kita bersama. Kita tanggung bersama.
[Image: addictionresearch.com]

Saat berkat datang, kita nikmati bersama. Demikian pula saat masalah datang. Kita selesaikan bersama. Kita harus saling mendukung, memotivasi agar masalah bisa diselesaikan dengan baik dan anggun.

Jika berhasil melakukannya maka hubungan keluarga akan makin erat. Kasih yang mengikat makin kuat. Kita benar-benar merasakan, satu dengan yang lain, kita adalah bagian dari sebuah kesatuan. Bahwa dalam keluarga ada penerimaan dan kasih tanpa syarat, itu akan memberikan rasa aman dan kelegaan yang luar biasa.

Dale Carnegie berujar,

saat Anda berhubungan dengan manusia, Ingatlah bahwa Anda tidak berhubungan dengan makhluk yang logis, melainkan makhluk yang emosional.

Saya mengatakan kepada anak-anak, baik dalam keadaan sukses maupun gagal, sehat atau sakit, dalam keadaan baik atau buruk, Papa dan Mama menerima dan mengasihi kalian apa adanya.

Dan saya perlu membuktikannya!

Sungguh bukan sesuatu yang mudah, namun layak diperjuangkan.


"Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan.

Orang yang menguasai diri melebihi orang yang merebut kota."

Setuju?



Baca Juga:

Inilah Pembunuh Relasi Nomor Satu. Simak dan Hindari, Niscaya Hubungan akan Harmonis Selamanya

Bertengkar dengan Pasangan? Inilah 5 Hal yang Perlu Dilakukan untuk Memperkokoh Hubungan Lewat Pertengkaran

Inilah Satu Kunci Sukses Membina Hubungan, Baik dengan Pasangan, Anak, maupun Rekan Bisnis

Perbedaan Pola Pikir Bisa Membuat Keluarga Berakhir! Ini 3 Cara Mengatasinya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "The Power to Delay: Strategi Memenangkan Pertempuran Tanpa Bertempur. Tunda Reaksi, Hindari Kehancuran Relasi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yenny Indra | @yennyindra

YennyIndra memiliki passion untuk menginspirasi pembacanya agar mengalami peningkatan kualitas hidup, dengan cara memahami prinsip kehidupan yang benar. Menata cara berpikir adalah concern-nya. Ibu 4 anak ini aktif menjalankan family business. Keluarga

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar