Cinta Terhalang Restu Orangtua Pacar. Inilah 3 Pelajaran - tentang Cinta dan Mencintai - yang Saya Dapatkan dari Peristiwa itu

Singleness & Dating

[Image: coolkadin.com]

17.3K
Sesungguhnya cinta itu empati. Bagaimana kita mampu menyadari bahwa orang lain, yang juga mengasihi orang yang kita kasihi, juga memiliki hak yang sama dengan kita untuk menyatakan cinta kepada orang tersebut.

Pertemuan itu memang tak terduga. Bahkan sejak tangan kami saling berjabat untuk pertama kalinya, entah mengapa saya sudah merasa yakin, Dialah pasangan yang telah Tuhan tentukan buat saya! Sejak pertemuan pertama itu, kami jadi sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Hingga akhirnya, pada suatu hari dalam perjalanan pulang dari kampus, saya memutuskan untuk mengungkapkan perasaan kepadanya. Tak ada yang dapat menggambarkan bahagia yang saya rasakan, ketika Ia pun ternyata menyimpan juga perasaan yang sama. Siang itu, di dalam mobilnya, kami memutuskan untuk jadian. Cinta ternyata memang bisa hadir sejak pandangan pertama, hubungan kami adalah buktinya.

Hari-hari selanjutnya terasa indah bagaikan surga dunia. Waktu sebanyak apapun, tak pernah terasa cukup, selalu kurang, saat dihabiskan bersamanya. Perpisahan kami di malam hari pun masih terus dilanjutkan dengan pertemuan di udara, lewat chat, ngobrol di telepon, atau janjian berjumpa di dalam mimpi masing-masing.

Hingga akhirnya di suatu hari, Ia mengajak saya untuk mampir ke rumah dan berkenalan dengan orangtuanya. Bertemu orangtua pasangan, sebuah awal yang baik untuk masa depan dari sebuah hubungan yang serius, bukan? Saya pun menunggu di ruang tamu depan rumahnya. Ia berkata, "Tunggu ya, saya panggilkan Mami." Tak lama kemudian, ibu pacar saya keluar menemui saya dan kami berbincang bertiga. Awalnya, percakapan kami mengalir dengan amat baik. Tiba-tiba, ibu pacar saya bertanya, "Tadi ke sini naik apa? Itu motornya, ya?" Tanpa sedikit pun rasa curiga, saya menjawab, "Iya, Tante." Seketika percakapan menjadi dingin, dan Ia masuk ke dalam.

Beberapa menit kemudian, ibu pacar saya memanggil pacar saya untuk masuk ke dalam. Saya masih belum mengerti, apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Tak lama berselang, terdengar teriakan dan isak tangis pacar saya dari dalam rumah.

"Waduh, ada apa ini?" Tanya saya dalam hati.

Dengan tergopoh, kakak pacar saya keluar dari dalam rumah menjumpai saya. "Mas, maaf. Mas bisa pulang dulu saja, ya. Ada yang harus kami bahas. Ini untuk keluarga kami saja." Masih mencoba mencari titik terang dari perubahan suasana yang terjadi dengan amat mendadak itu, saya bertanya, "Saya ada salah, Mbak?" Sebelum kakak pacar saya sempat menjawab pertanyaan itu, pacar saya berlari keluar menghampiri saya sambil menangis terisak-isak, "Maafkan saya. Kamu gak salah apa-apa. Maaf. Maaf." Saya semakin bingung.

Akhirnya ibu pacar saya keluar. Dengan wajah datar, Ia menatap saya sambil berkata, "Nak, maafkan. Kami tak bisa menerima anak kami berteman dengan pemuda mantan pemakai narkoba. Saya tahu Tuhan sudah mengampunimu, tapi kami bukan Tuhan. Jadi, tolong tinggalkan rumah kami." Lugas. Jelas. Dingin.

Tajam.

Tepat menusuk ke dalam hati saya.

Ya, saya memang seorang mantan pemakai narkoba. Anda bisa membaca kisah hidup saya dan pelajaran yang saya dapatkan dari pengalaman itu dalam artikel-artikel berikut: Orangtua, Lakukan 4 Hal ini Untuk Menyelamatkan Anak-Anak dari Godaan Narkoba; Pesan dari Dalam Kubur: 3 Pelajaran Hidup yang Penting Diketahui Sebelum Terlambat.

Saya shock dan bingung, tak tahu harus berbuat apa. Pacar saya masih terus saja menangis dengan keras. Keadaan begitu semrawut saat itu. Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi. Mungkin itu pilihan yang terbaik, pikir saya. Saya pun pamit. Melihat saya melangkah pergi, pacar saya berteriak, Ia makin histeris. Di luar, orang-orang berkerumun mencoba melihat apa yang sedang terjadi. Saya menaiki motor dan pergi meninggalkan rumah itu.

Kisah di atas adalah sebuah kisah lama. Saya kembali mengingatnya karena akhir-akhir ini mendengar keluhan dari beberapa pemuda yang kurang lebih sedang mengalami hal yang serupa. Karenanya, saya ingin berbagi pelajaran yang saya dapatkan dari sebuah kisah cinta yang terhalang restu orangtua. Inilah pelajaran-pelajaran itu:


1. Cinta itu Membutuhkan Keberanian

[Image: pinterest]

Ketika diperhadapkan dengan situasi semacam ini, pastikan kamu sudah siap untuk menjadi pemberani. Pastikan kamu memiliki fighting spirit, semangat juang yang tinggi. Keberanian di sini bukan sekadar berani memperjuangkan cinta, tapi lebih dari itu, keberanian untuk tetap menjadi seorang ksatria. Seorang ksatria akan berjuang dengan gigih, walaupun belum tentu meraih kemenangan. Mengapa? Karena sesungguhnya perjuangan itulah kemenangan sejati dari seorang ksatria.

Setelah hari 'bersejarah' itu, saya dan pacar memutuskan untuk backstreet. Kami pacaran diam-diam sambil terus berdoa dan berdoa, berharap orangtuanya luluh melihat perjuangan kami, lalu memberikan restu. Pernah suatu hari, handphone saya berbunyi. Ketika saya angkat, ternyata ibu pacar saya yang bicara. "Saya dengar nanti malam kamu mau nonton sama anak saya? Dengar Tante, ya. Kali ini Tante ijinkan, tapi tidak boleh bawa mobil anak Tante, naik motor kamu saja! Dan satu lagi, nanti kalau nonton, bayarnya masing-masing!’ Sambil terkaget-kaget, saya hanya bisa menjawab, "Iya, Tante. Iya, Tante. Iya, Tante." Baru kali itu saya tahu, bahwa rasa bahagia dan terhina ternyata bisa bersanding bersama. "Gila apa! Emang gua cowok apakah? Emang gua gak bisa bayar tiket? Kalau Tante mau, ikut aja, gua bayarin deh!" Sehina itukah saya di matanya? Tapi ya happy juga sih. berharap bahwa ini akan menjadi sebuah awal yang baik. Lihat positifnya aja, pikir saya.

Apa boleh buat. Setahun kami berjuang, akhirnya pacar saya dibawa pergi ke luar kota. Tidak lama kemudian, Ia dinikahkan dengan pria lain. Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai, bukan judul novel, ini kisah nyata.

Tapi, hari ini saya belajar bahwa cinta itu keberanian. Keberanian untuk menerima segala konsekuensi dari keputusan yang kita ambil. Kalau kamu berani berkomitmen untuk berpacaran, maka kamu harus siap dengan segala yang akan terjadi. Bahwa pacarmu sekarang belum tentu akan menjadi istri atau suamimu kelak.

Berharap dan berjuang menuju pernikahan adalah sebuah kebaikan, tapi keberanian untuk menerima apa yang dirancangkan Tuhan adalah kebenaran.

Baca Juga: 7 Alasan Kenapa Anda Beruntung Kalau Belum Berjodoh



2. Cinta itu Memiliki Rasa Empati

[Empathy: seeing with the eyes of another, listening with the ears of another, and feeling with the heart of another]

Kadang, tanpa kita sadari, kita membuat cinta jadi kehilangan makna yang sesungguhnya. Ya! Cinta seringkali membuat kita menutup mata. Cinta berubah menjadi egois, padahal cinta itu seharusnya tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

Saat peristiwa itu terjadi, saya tanpa sadar telah menjadi pelaku dari cinta yang sombong. Mengapa demikian? Karena saya merasa bahwa cinta kami berdualah yang benar, sedangkan cinta orangtua pacar saya salah. Sekarang, setelah menjadi orangtua, saya baru bisa berempati dengan orangtua pacar saya dulu. Tidak mudah tentunya membiarkan anak yang telah dikandung selama 9 bulan 10 hari, diberi makan, dirawat, dibesarkan, disekolahkan, memilih seorang mantan pemakai narkoba yang hanya bermodalkan sepeda motor untuk menjadi pasangannya.

Sekarang saya baru tersadarkan, bahwa sesungguhnya cinta itu empati. Bukannya membutakan, cinta seharusnya membukakan mata – termasuk mata hati kita – untuk dapat melihat segala sesuatu dengan jernih dan seimbang.

Ketika kami berdua berdoa agar cinta kami disatukan, pada saat yang sama saya yakin orangtua pacar saya berdoa agar cinta sang anak kembali kepada mereka. Tentu kita akan berkata, "Kalau gitu, orangtua yang tidak mengizinkan anaknya berpacaran dengan saya juga egois dong?!" Ya, tentu saja. Tapi bukan itu pokok permasalahannya.

Inti dari empati adalah bagaimana kita mampu menyadari bahwa orang lain, yang juga mengasihi orang yang kita kasihi, juga memiliki hak yang sama dengan kita untuk menyatakan cinta kepada orang tersebut.

Brothers and sisters, cinta memang perlu diperjuangkan, tapi hargailah juga perjuangan orang lain yang mengasihi pacar kita. Jangan ‘melawan’ orangtua demi keegoisan cinta. Ingat! Bagaimanapun juga merekalah yang melahirkan dan membesarkan kita. Bukankah ada tertulis, "Hormatilah orang tuamu, supaya lanjut umurmu di tanah yang dijanjikan Tuhan kepadamu"?

Baca Juga: Ketika Cinta Terhadang Perbedaan Suku dan Agama, Lanjut atau Berhenti?



3. Cinta itu Berbicara Trialog, Bukan Sekadar Dialog

[Image: limeredstudio.com]

Ketika itu, yang ada di pikiran saya hanyalah bagaimana caranya agar orangtua pacar mau menerima cinta kami berdua. Segala cara saya rencanakan. Mulai dari mencari pekerjaan sampingan supaya bisa mencicil mobil, sampai meminta surat keterangan berperilaku baik ke kepolisian. Segala cara, bahkan yang aneh bin ajaib muncul dalam perencanaan, tapi herannya, tidak terpikir sama sekali untuk membuka ruang dialog dengan orangtua pacar. Saya hanya terus berusaha untuk membuktikan kepada mereka bahwa diri saya tidak seperti yang mereka duga, tanpa mencoba untuk berdialog dengan mereka.

Pada waktu itu, saya hanya memikirkan tentang diri saya dan pacar. Kesadaran ini baru muncul sekarang: kami sibuk berdialog, tidak bertrialog; kami melulu bicara tentang ‘saya dan dia’, tapi tidak ‘saya, dia, dan mereka’. Saya tidak mencoba untuk melibatkan orangtuanya dalam hubungan kami.

Lagi-lagi, meskipun ideal, ini bukan hal yang mudah, saya sadar betul.

'Trialog’ di sini tidak hanya terbatas pada melibatkan orangtua kita dan pacar. Lebih luas dari itu, juga melibatkan mereka yang kita ‘tuakan’. Mereka yang memiliki hikmat dan kebijaksanaan untuk memberikan nasihat dan bimbingan. Entah itu pendeta, kyai, paman, atau siapapun yang kita percaya dapat menolong kita. Seorang bijak pernah menulis demikian, "Hai anakku, dengarkanlah didikan orang tua!"

Saat cinta hadir, seringkali kita seolah tertawan oleh cinta itu sendiri. Kita malah menutup diri dan cenderung mengambil langkah-langkah yang kurang bijaksana; bukannya menggali, membaca, dan membuka komunikasi dengan orang lain.

Jadilah ksatria! Ksatria bukan hanya berani, berempati, tapi juga membuka ruang kerendahan hati untuk menerima pendapat dan nasihat orang lain.



Baca Juga:

Terima Kasih Mantan, Darimu Aku Belajar 7 Hal Penting untuk Masa Depanku

5 Cara untuk Berhenti Mencintai Ia yang Tak Dapat Dimiliki

Buat Kamu yang Percaya Jodoh di Tangan Tuhan, 5 Panduan ini Akan Menuntunmu ke Orang yang Tepat



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Cinta Terhalang Restu Orangtua Pacar. Inilah 3 Pelajaran - tentang Cinta dan Mencintai - yang Saya Dapatkan dari Peristiwa itu". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Joy Manik | @joymanik428

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar