Telanjur Menyerahkan Keperawanan, Teman Saya Ingin Bunuh Diri. Kini, Ia Bangkit Kembali. Inilah Kisahnya

Ex & Broken Hearts

photo credit : pexels

17.3K
Bagi perempuan, keperawanan memiliki arti penting. Sangat penting bahkan bagi beberapa orang. Setelah menyerahkannya pada sang pacar yang kemudian meninggalkannya, teman saya berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

Sebuah Kejutan

Telepon genggamku berdering. Kulihat nomor yang muncul di layar; ternyata itu adalah nomor telepon salah satu kenalanku. Kuterima panggilan itu dengan rasa senang yang luar biasa. Betapa tidak! Sudah sering kucoba untuk menghubungi temanku ini, namun selalu saja panggilan telepon dariku tidak pernah diangkatnya. Ia pun tidak pernah menelepon aku balik. Sudah lama juga kami tidak pernah bersua, padahal kami tinggal sekota. Dia seperti hilang ditelan bumi!

Dari ujung sana, kudengar temanku menangis tersedu-sedu. Aku diam. Menunggu. Kulihat jarum jam di dinding rumahku bergerak detik demi detik, menit demi menit.

Akhirnya, aku memulai percakapan dengan bertanya, “Kamu sekarang ada di mana?”

Alih-alih menjawab pertanyaanku, dia malah berkata terbata-bata, “Aku ... mau ... bunuh diri.”

Jantungku yang tadi hampir keluar dari dada karena senang, sekarang terasa berhenti berdetak sejenak. Kaki dan tanganku pun serasa gemetar.

Segera aku bertanya lagi, “Kamu ada di mana? Aku ke tempatmu sekarang.”


foto credit: usercontact2.emaze

Kejutan yang Lebih Besar

Dia menyebutkan suatu tempat dan setelah memastikan detil alamat kepadanya, aku pun bergegas ke sana. Segera!

Pintu pagar terkunci. Agak lama tombol bel kutekan, barulah kudengar pintu rumah dibuka. Aku terbelalak melihat sosok yang keluar dari pintu. Kenalanku keluar rumah dengan pakaian yang rapi, rambut tertata, dan senyum mengembang di wajahnya.

Sesaat aku merasa tertipu, kenalanku ternyata baik-baik saja. Wajahnya tidak menampakkan wajah orang yang mau bunuh diri. Bukankah seharusnya dia tampil tak terurus? Kulihat senyumnya. Ah, bagaimana ia masih bisa tersenyum manis sambil membukakan pintu? Aku masuk ke dalam rumah dengan banyak pertanyaan di dalam benakku.

Kami duduk berhadap-hadapan di ruang tamu. Untuk menenangkan diri sendiri, aku segera meneguk segelas air kemasan yang tersedia di atas meja. Kuperhatikan sekelilingku. Tampaknya di rumah ini kenalanku tinggal sendirian.

Aku menyembunyikan perasaaan tertipuku. Sambil tersenyum aku bertanya lagi kepadanya, “Kamu sendirian? Aku sudah di sini. Kamu mau cerita apa?”

“Aku mau bunuh diri,” katanya lagi dengan lirih.

Kulihat dia sedang berusaha keras melihat ke arahku. Air mata mengallir di pipinya. Aku melihat dia seperti sedang menahan derita di hatinya. Dengan serius kuajukan satu pertanyaan lain yang sebenarnya sempat membuatku merasa menjadi orang ter'kepo' di dunia.

Baca Juga : Menjadi Tempat Curhat Kadang Melelahkan. Namun, Bukan Tak Membawa Keuntungan. Inilah 6 Manfaat Menjadi Tempat Curhat


Tak Lagi Merasa Suci hingga Ingin Bunuh Diri

“Kenapa kamu ingin bunuh diri?”

Aku memilih bersikap serius dan tidak menertawakannya karena jika berhadapan dengan orang yang katanya mau bunuh diri, kita tak boleh meremehkannya. Seandainya ternyata orang tersebut membohongi kita, itu lebih baik daripada kita salah bersikap dan berbuntut penyesalan panjang seumur hidup di hati kita karena orang itu serius dengan niatnya.

Aku menunggu jawabannya.

Sambil terisak, dia berkata, “Pacarku putusin aku.”

" What? Hanya karena itu lantas mau bunuh diri?" aku berkata di dalam hatiku.

Tetapi aku berusaha menenangkan diri. Kutarik napas sepanjang-panjangnya, dan perlahan aku bertanya lagi, “Lalu?” Kudengar suaraku sedikit tegas.

Dia mulai bercerita lagi, dan kali ini sambil terisak-isak, terbata-bata, dan sangat emosional. Aku berusaha duduk tegak dan mendengarkannya. Tiba-tiba aku merasa pusing. Kurasakan seperti ada gemuruh angin kencang yang berputar-putar di kepalaku. Hatiku perih. Tak kusadari, airmataku pun mengalir seiring ketika temanku menutup ceritanya.

“Bagaimana? Aku sudah tidak perawan. Bagaimana?”

Temanku berkata berulang kali. Kami duduk dalam diam.

“Jadi, kamu mau bunuh diri?” tanyaku akhirnya.

“Apakah itu jalan satu-satunya?” Aku bertanya lagi.

Dia tak menjawab.

Kutanya lagi, “Apakah bunuh diri adalah jalan terbaik?”

“Jadi bagaimana?” Dia balik bertanya.


Aku tak dapat segera merespon. Melakukan hubungan seksual suami istri diluar pernikahan adalah dosa, tetapi bunuh diri juga dosa.

“Aku sudah kotor. Apakah ada yang mau berteman denganku?” Temanku berkata.

“Hei! Menurutmu aku akan sejahat itukah?” Aku agak marah kepadanya.


photo credit: Mappingignorance

Kulihat dia terkejut. Aku pun terkejut dengan nada suaraku. Aku melihat ada sedikit senyum di wajahnya. Namun, jujur saja, di dalam hatiku terbersit sebuah pertanyaan, “Apakah aku sungguh bisa menjadi temannya?”

Baca Juga : Pacar Mengaku Tak Lagi Perawan atau Perjaka. Lakukan 3 Pemeriksaan Penting ini Sebelum Mengambil Keputusan tentang Kelanjutan Hubungan


Bunuh Diri bukan Solusi, Masih Ada Harapan!

Aku bukan Tuhan yang berhak menghakimi dia dan menghukumnya dengan memutuskan persahabatan kami. Yang penting aku sudah mendapati bahwa temanku sudah menyadari perbuatan dosanya. Aku melihat ada penyesalan mendalam di matanya. Bukankah sebagai manusia aku juga tak luput dari berbuat dosa?

Aku dan temanku sama-sama membutuhkan pertolongan Tuhan untuk menghapus dosa-dosa kami. Menerima temanku apa adanya adalah sama dengan menerima diriku sendiri.

Setelah pertemuan kami itu, temanku menjalani tahun-tahun hidupnya dengan lebih berani dan lebih dekat kepada Sang Khalik. Ia pindah ke kota lain, aku juga berpindah-pindah kota karena satu dan lain hal. Kami tetap berhubungan. Kudengar dia pun kini sudah berkeluarga, dan menjadi ibu yang baik dari anak-anaknya. Aku bersyukur untuk hidupnya.

Begitulah, hidup punya banyak cerita. Setiap keputusan hidup yang kita ambil akan berpengaruh, bukan saja terhadap kita sendiri, tetapi juga terhadap orang-orang di sekitar kita.

Bertobat dari dosa dan kesalahan akan selalu membawa hidup kita menjadi lebih berarti dan lebih damai. Sang Khalik pasti menghitung airmata penyesalan kita.


Buat kamu yang sedang menata hidup dan relasimu, tulisan-tulisan ini akan memberikanmu inspirasi :

Seks Pranikah: Selain Keperawanan dan Keperjakaan, Tiga Hal Penting Ini Ikut Lenyap

Dari Pacaran Menuju Pernikahan, Inilah 5 Tanda Kamu dan Pacar Sudah Siap Mengubah Status Relasi

Pencarian Cinta Sejati, Seperti Pilkada yang Berlangsung Dua Putaran: Melelahkan, Namun Amat Layak Diperjuangkan





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Telanjur Menyerahkan Keperawanan, Teman Saya Ingin Bunuh Diri. Kini, Ia Bangkit Kembali. Inilah Kisahnya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Lina Sugondo | @linachandrasugondo

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

mike donald | @LOANFIRM

Hola, ¿Está buscando libertad financiera? ¿Está en deuda, necesita un crédito para iniciar un nuevo negocio? ¿O doblar financieramente, usted necesita un crédito, un coche para comprar o una casa? ¿Alguna vez ha rechazado las finanzas de su banco? ¿Quieres mejorar tu situación financiera? ¿Necesita un préstamo que sus cuentas pagan? No busque más, le damos la bienvenida a una oportunidad para obtener todo tipo de préstamos, a un precio muy asequible 3% de interés para obtener más información, póngase en contacto con nosotros ahora por correo electrónico a: (stevedanielloanfirm@gmail.com)