Terjebak Hubungan tanpa Status Gara-gara Online Dating, Inilah Cara Saya untuk Tetap Tenang

Singleness & Dating

[image : Psicologo a Milano]

3.3K
Sudahlah online dating, hubungan tanpa status pula. 'Kutukan' apa yang sedang saya terima? Namun, tetap ada pelajaran dibaliknya!

“Janji, kamu tidak akan kencan dengan orang lain hingga kita bertemu?”

“Yes, you got my commitment.”

Pernyataan ini akhirnya saya dapatkan setelah berdebat dan berkelit beberapa jam lamanya. Mengandalkan layanan Internet voice call, percakapan kami tidak selalu berlangsung mulus. Sering saya harus menahan tangan di suatu posisi tertentu agar sinyal tidak hilang. Belum lagi, duduk di balkon lantai dua, sambil mengenakan jaket dan syal untuk menghalau angin malam.

Setelah bertahun-tahun single, kali ini saya "memiliki" teman kencan yang telah bertahan hampir dua bulan.

Tadinya saya ingin menuliskan pengalaman ini ketika sudah resmi jadian. Namun karena kegalauan yang makin menjadi, mungkin ada baiknya saya membagikan cerita ini agar kamu bisa mengambil pelajaran.

Baca Juga : Cinta di Dunia Maya, Cinta di Dunia Nyata: Belajar Mencintai di Era Sosial Media


Awal Mula Mencoba Online Dating

[image : first bangla]

Sebenarnya, membuat akun di online dating website bukanlah suatu hal yang ingin saya lakukan. Saya setengah terpaksa ketika seorang sahabat menyarankan saya untuk mengenal lebih banyak lelaki. Mungkin ia frustrasi karena saya begitu nyaman sendiri, tak tampak usaha tertentu untuk menjemput jodoh. Saya pun membuat akun di salah satu website, mengisi profil saya, dan menunggu website tersebut memberikan "match" pilihan lelaki yang menurut hitungan algoritma mereka cocok dengan profil saya.

Seminggu berselang, saya menemukan beberapa lelaki yang menarik, namun tidak ada yang membuat saya ingin bertukar nomor handphone. Pada dasarnya saya merasa malas untuk melanjutkan, saya berpikir untuk mendisable akun saya hari itu.

Namun, mata saya tertumbuk pada sebuah foto lelaki tampan yang berasal dari Asia Selatan. Saya pun merancang pesan, dan mengklik "send".

Esoknya, dan esoknya lagi, percakapan kami yang penting-tidak-penting ternyata terus berlanjut. Saya cukup terkejut, terutama ketika pada hari keenam, ia meminta nomor handphone saya. Sejak saat itu, jika dirata-rata kami berbincang setiap dua hari sekali, dengan durasi panggilan masing-masing satu jam. Not bad, right?


Masalah Muncul Ketika Mulai Berharap

Saya merasa ada chemistry di antara kami karena kami tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Selera humornya punya andil yang sangat besar menjadikan percakapan ini lebih menarik. Namun, berhubung kami berdua memang mencanangkan untuk mencari pasangan hidup – bukan kencan semata – pembicaraan menjadi semakin serius.

Dua minggu berselang, kami mulai merencanakan siapa yang akan mengunjungi siapa. Saya sebagai perempuan tentu berharap dia yang akan datang ke Indonesia. Apa daya, keterbatasan waktu dan perbedaan situasi menjadikan saya yang harus mengatur jadwal untuk menemuinya.

Pada waktu yang sama, ia menyatakan bahwa ia tidak ingin mengikat saya. Menurutnya, tidak masuk akal jika kami meresmikan hubungan sebelum bertemu. Saya pun protes dan mulai memutar otak untuk mendapatkan suatu kejelasan. Bukankah akan sangat menyedihkan, jika ketika saya mendatanginya, ternyata ia sudah memiliki kekasih?

Saya risau, cemas, dan memikirkan banyak kemungkinan buruk. Apakah ia mempermainkan saya? Apakah saya melakukan kesalahan sehingga membuat ia ilfil? Apakah saya kurang baik untuknya? Atau memang kami tidak ditakdirkan untuk bersama?

Baca Juga : Wanita, Inilah 7 Tanda Cowok Playboy. Waspadalah sebelum Menjadi Korbannya


Mencoba untuk Berpikir Jernih dan Tetap Optimis

[image; Nie-Jenite.bg]

Saya beruntung memiliki banyak teman dari berbagai latar belakang. Setelah saya amati, beberapa diantaranya ada yang berhubungan dengan pria kewarganegaraan asing. Ada juga yang pernah mencoba online dating hingga berhasil menikah. Saya pun meminta saran dari mereka tentang apa yang sebaiknya saya lakukan. Inilah cara untuk tetap tenang di tengah ketidakpastian status hubungan.


1. Lihat Sisi Baik dari Hubungan Tanpa Status

Pada dasarnya, hubungan tanpa status memberikan keuntungan tersendiri. Selama kita belum meresmikan suatu hubungan, kita masih punya kesempatan untuk mempertimbangkan hal ini dengan lebih matang. Bukan berarti kita akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dari "pasangan" kita saat ini, akan tetapi kecocokan jiwa dan proses menemukan alasan yang tepat untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius membutuhkan waktu.

You can’t rush love. Kamu tak dapat mempercepat cinta. Rasa cinta membutuhkan waktu

Di samping itu, kamu tergolong masih single dan tidak ada kewajiban untuk memenuhi suatu ekspektasi tertentu dari orang lain. Ingin potong rambut, ikut kelas Thai Boxing, atau membuka lini bisnis baru. Semuanya sah-sah saja untuk kamu lakukan, bahkan tanpa harus meminta saran dari orang lain. Your life, your decision.


2. Jalani Hari Demi Hari

[image : women'siLab)

"Kamu terlalu banyak berpikir!"

Kalimat ini diucapkan oleh sepupu lelaki saya, yang mengajarkan saya untuk lebih santai dalam menghadapi hubungan ini. Menyakitkan memang, jika mengingat si "pasangan" bisa saja meninggalkan kita suatu saat nanti. Namun, kamu pun memiliki kesempatan yang sama jika suatu waktu ingin berhenti dan move on.

Menyesakkan memang, ketika kamu ingin merencanakan masa depan, namun si "pasangan" tidak ingin melakukan hal yang sama. Akan tetapi, menjalani hubungan seperti ini hari ke hari akan membuatmu banyak merenung dan merefleksikan apa sebenarnya keinginan diri. Apakah kamu telah siap menjalin hubungan serius? Apakah kamu benar-benar menginginkan si dia dalam kehidupanmu?

Baca Juga : Wanita, Periksa Kesiapan Pasanganmu untuk Menikah Lewat 4 Pertanyaan Ini


3. Ubah Cara Pandangmu dalam Melihat si ‘Pasangan’

Setiap pagi, saya mengingatkan diri sendiri bahwa saya bersyukur memiliki teman baru yang lucu, baik, dan tampan. Terlepas dari nantinya kami berjodoh atau tidak, saya menghargai setiap percakapan yang tercipta. Saya menganggap hal ini latihan sebelum terjun ke hubungan yang sesungguhnya. Kalaupun saya jadi menemuinya di negeri matahari terbit (karena dia bekerja di sana), saya sudah cukup senang bisa memiliki tour guide gratisan.

Saya juga mencoba untuk tidak membebani pikiran saya dan fokus kepada apa yang ada di depan saya saat ini. Bekerja, menulis tesis, dan berorganisasi.

Dia adalah tambahan yang menyenangkan dan membuat hidup saya semakin berwarna. Namun, dia bukanlah suatu bagian yang tak tergantikan hingga membuat saya harus memprioritaskannya.

Kenyataannya, hubungan tanpa status memang membuat makan hati. Apalagi jika sejak awal si "pasangan" sudah memberikan pernyataan tentang status hubungan kalian. Percayalah bahwa jika Tuhan menjodohkan kalian, tidak ada satupun yang akan menghalanginya. Relax, and keep shining!


Buat kamu yang berjuang untuk menemukan cinta sejatimu, tulisan-tulisan ini akan memberikan pencerahan :


Buat Kamu yang Percaya Jodoh di Tangan Tuhan, Lima Panduan ini akan Menuntunmu ke Orang yang Tepat

Jangan Sampai Salah Pilih Jodoh, Jangan Juga Terlalu Pilah-Pilih. Pertimbangkan 3 Hal ini Saja!

Gelisah karena Jodoh Tak Kunjung Datang? Saya Pernah Mengalaminya. Inilah Kisah Saya: Menemukan Pasangan Hidup di Usia Lebih dari 30 Tahun

Kalijodo, Jodoh Kali Ya? Inilah 3 Penghambat Utama yang Menyebabkan Jodoh Tak Kunjung Datang


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Terjebak Hubungan tanpa Status Gara-gara Online Dating, Inilah Cara Saya untuk Tetap Tenang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Primadita Rahma | @primaditarahma

Currently juggling between writing thesis and posting my thoughts on http://theprimadita.blogspot.co.id. Lately enjoying zumba and cold-pressed juice. Obsessed with the Crown Prince of Dubai.

BAGAIMANA MENURUTMU ?