Terima Kasih Mantan, Darimu Aku Belajar 7 Hal Penting untuk Masa Depanku

Ex & Broken Hearts

133.7K
Tidak semua orang ditakdirkan untuk 'tinggal' di kehidupan kita, ada juga mereka yang dikirimkan Tuhan untuk singgah sebentar guna memberi kita pelajaran. Dan inilah 7 pelajaran yang saya dapatkan dari mantan-mantan pacar saya.

Entah kebetulan, atau saya sedang ‘sial’; dua mantan pacar saya, yang satu mantan pacar saat kuliah dan satunya mantan pacar waktu SMA, melangsungkan pernikahan pada bulan November 2015. Si mantan pacar waktu SMA mengundang saya casually - dengan cara men-tag foto undangan di Facebook, lalu bilang, "Prima, datang ya!" Sementara mantan pacar saat kuliah, boro-boro mengundang, dia mem-block saya di Facebook. Jadi, saya tau tentang pernikahannya dari teman-teman saya yang masih berteman dengannya di Facebook (bukan kepo, please deh!).

Baca juga: Mengapa Relasi Tak Bertahan Lama? Temukan 4 Penjelasannya di Artikel Ini

Saat itu saya sempat berpikir, "Apa salah saya, Tuhan?" Hampir lima tahun saya masih betah jadi single, sedangkan DUA mantan pacar saya sudah menemukan tambatan hati mereka. Namun begitu, di tengah pergulatan batin apakah saya harus menghadiri pernikahan si mantan, saya mengucap syukur bahwa saya pernah menjalani hidup dengan dua lelaki yang manis, meski tidak semuanya berjalan sesuai harapan kami. Agaknya, saya harus berterima kasih kepada mereka, karena tanpa mereka, saya tidak akan menjadi who I am today. So, why not thank them through RibutRukun?

Inilah 7 pelajaran yang saya dapatkan dari mantan(-mantan) pacar saya:


1. Ternyata Tanpamu, Langit Masih Biru

[Image: prisonerofhopeblog.com]

Saya bukan orang yang suka tergantung pada orang lain. Jangankan dengan pacar, saya sudah berhenti minta uang saku kepada orang tua sejak masuk kuliah! Tapi nyatanya, saya cukup banyak menghabiskan waktu bersama si mantan. Karena kami berbeda jurusan, kami akan bertemu saat makan siang, makan malam, saat meeting di klub Bahasa Inggris, dan juga di akhir pekan. Setelah 3,5 tahun bersama, ketika putus saya sempat khawatir, bagaimana dengan kehidupan saya kedepannya? Hari pertama putus, saya hampir tidak ingin keluar rumah. Tapi ketika menghirup udara pagi, dan melihat langit, ternyata tidak ada yang berubah. Burung masih berkicau, angin masih bertiup, semuanya tampak normal. Mungkin terdengar berlebihan, tapi kemudian saya sadar bahwa sedih itu wajar, tapi saya tidak boleh berhenti beraktivitas dan mencari kebahagiaan saya yang lain.

Baca juga: 'In a Relationship' Setelah Lama 'Single'? Perhatikan 5 Hal Ini untuk Hubungan yang Lancar Sampai ke Pernikahan


2. Selalu Prioritaskan Sahabat daripada Pacar

[Image: amaze.com]

Untunglah saya dan si dia beda jurusan, jadi saya masih sering berkumpul dengan teman-teman sekelas. Tapi kadang ada perdebatan saat teman-teman mengajak hang out, dan di waktu yang sama si dia mengajak kencan. Ugh, gimana dong? Awalnya saya selalu memprioritaskan pacar, namun beberapa waktu kemudian, si dia pun tersadar bahwa dia hanya memiliki sedikit teman! Akhirnya saya mendorong dia untuk lebih banyak berkumpul dengan komunitasnya, supaya saya juga punya waktu untuk membersamai sahabat saya. Tidak terbayang rasanya jika dulu saya bersama dia terus dari pagi sampai malam. Bisa-bisa, saat ini saya tidak punya kenangan indah tentang masa kuliah.


3. Akan Ada Orang yang Menerima Saya Apa Adanya

Dengan segala kelebihan dan kekurangan saya, kami bertahan hampir 4 tahun. Banyak hal yang sebenarnya membuat saya minder di depan orang-orang lain – dari mulai keadaan keluarga, situasi finansial, dan sebagainya. Walaupun demikian, si dia tetap menyayangi dan mendukung saya.

Terlepas dari apa-apa yang membuat kami harus putus, saya belajar untuk lebih percaya diri selama bersamanya. Fokus saja pada kelebihan, tonjolkan prestasi, and I will shine!


4. Belajar Memperbaiki Diri

Kami sering bertukar pikiran tentang impian dan target sesudah lulus kuliah; serta bagaimana kami bisa mencapainya. Kami juga sering ngomongin orang dan pasangan lain (eh), sambil mengintrospeksi diri dan mengambil ilmu supaya kami bisa langgeng. Saya harus mengakui bahwa I was bossy and selfish at that time, tapi bersamanya saya belajar untuk mendengarkan dan memahami orang lain. Honestly, ketika mendengar kabar bahwa dia menikah, saya sempat kaget karena tadinya saya berpikir bahwa dia orang yang susah serius. Jadi, boleh dong saya berbangga diri, he too, should have learn something when he was with me.

Baca juga: 5 Cara untuk Berhenti Mencintai Ia yang Tak Dapat Dimiliki


5. Belajar Bilang Tidak

Dulu, mantan pacar saat SMA memaksa saya untuk berhijab sementara saya belum siap. Saya mencoba-coba satu dua hobi yang tidak sesuai dengan keinginannya, dan meskipun dia marah, saya tetap menjalankannya. Saya punya hak prerogatif atas kehidupan saya – dan hal ini tidak akan berubah hanya karena saya ‘miliknya’. Pada tahun-tahun berikutnya, saya berani mengatakan ‘tidak’ pada hal-hal yang mengganggu, yang dipaksakan kepada saya, atau yang tidak saya sukai. Saya menyadari pentingnya memegang prinsip diri – karena kalau kita tidak menghargai diri kita sendiri, who will?


6. Kita Tidak Dapat Memaksakan Kehendak
[Image: recovery society.org]

Ketika mantan pacar saat kuliah meminta putus, saya sempat bilang, "Engga, kita engga bisa putus!’ Tapi karena situasi dan kondisi, saya mau tidak mau harus merelakannya.

Kadang hidup tampak begitu indah, sampai ketika kita mendapatkan cobaan dari Tuhan, kita marah dan merasa bahwa tidak seharusnya kita menerima hal ini.

Saat itu, pikiran saya mengatakan, ‘takdirmu bersamanya hanya sampai hari ini.’ Seiring berjalannya waktu, ketika kemudian dia sudah bersama dengan pacar barunya – dan saya menemukan alasan-alasan lain untuk terus bersemangat, saya merasa beruntung untuk bisa melepaskannya. Ternyata, waktu-waktu saya sebagai single woman sampai saat ini, merupakan waktu-waktu terbaik dalam hidup saya. Hingga nanti saya bersama dengan pria yang baru, I will cherish the life and accept what God gives me.


7. Mencintai dengan Tulus

[Image: flickr.com]
Konon, cinta itu setulus kita melihatnya berbahagia meski tidak bersama kita.

Sebenarnya, di balik keterkejutan saya melihat kedua mantan menikah (sambil sedikit nyesek, kok bukan saya duluan?), saya bahagia melihat mereka bahagia. Saya senang melihat orang-orang yang pernah berjasa dalam mendewasakan saya, menemukan cinta mereka. Hal ini juga menjadi bukti dan motivasi: suatu hari nanti saya akan menemukan cinta saya juga.

Baca juga: Buat Kamu yang Percaya Jodoh di Tangan Tuhan, Lima Panduan ini akan Menuntunmu ke Orang yang Tepat



“If you're brave enough to say goodbye, life will reward you with a new hello.” Saya mengalaminya, dan saya mendapatkan tantangan-tantangan hidup yang baru – yang menjadi alasan bagi saya untuk terus maju. Terima kasih, mantan!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Terima Kasih Mantan, Darimu Aku Belajar 7 Hal Penting untuk Masa Depanku". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Primadita Rahma | @primaditarahma

Currently juggling between writing thesis and posting my thoughts on http://theprimadita.blogspot.co.id. Lately enjoying zumba and cold-pressed juice. Obsessed with the Crown Prince of Dubai.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar