Tentang Kekecewaan dan Kemampuan Kita untuk Merangkulnya

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Stevany Alves]

2.4K
Tak mudah menerima kekecewaan tanpa penyesalan. Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Saya rasa kita mengerti apa itu kekecewaan. Bukan hanya mengerti, berulang kali kita harus menghadapinya.

Kita tertarik dengan baju yang dijual sebuah toko online. Kita memesan dan berharap akan segera datang. Namun, pesanan kita nyangkut entah di mana sehingga tak kunjung tiba. Kita kecewa. Begitu datang, kita membuka dan mencermatinya, eh ternyata penjualnya salah mengirimkan ukuran. Kita makin kecewa.


Kekecewaan adalah jarak antara harapan dan kenyataan.

Harapan adalah apa yang membuat hidup kita berjalan, seperti pijakan kaki pada pedal gas di mobil. Sementara kekecewaan seperti jalan penuh lubang dan polisi tidur, menghambat laju perjalanan.



Bisakah kita hidup tanpa kekecewaan?

Tentu bisa! Ada dua jalan.


Pertama, hiduplah tanpa harapan.

Ya, tak pernah berharap apa pun dari siapa pun. Namun, mungkinkah itu?

Mungkinkah menjalani pacaran tanpa harapan akan pernikahan? Mungkinkah bekerja tanpa harapan apresiasi finansial yang memadai?

Rasanya tidak mungkin. Harapan adalah bahan bakar kehidupan.


Kedua, sangkalilah kenyataan.

Jika kekecewaan adalah jarak antara harapan dan kenyataan, dan kita tak mampu hidup tanpa harapan, maka tolak untuk melihat realita apa adanya. Inilah cara yang sering kali dipakai misalnya ketika seorang pemimpin jatuh dalam pelanggaran moral tertentu. Tolak realita itu dengan mengatakan bahwa kabar kejatuhannya adalah dusta dari lawan-lawannya.

Berapa lama kita sanggup terus menerus menolak realita? Bagi sebagian orang itu perjuangan terus menerus agar tak memendam kecewa. Sampai kapan? Sampai tak mampu lagi membedakan halusinasi dan kenyataan. Sampai sakit ada di jiwa karena mata tak mau terbuka.


Jadi, barangkali jauh lebih sehat bagi jiwa kita untuk menerima kekecewaan, daripada hidup tanpa harapan atau terus menyangkali keadaan.

Menerima kekecewaan, mengakui luka, dan kemudian memikirkan ulang harapan-harapan itu. Merevisi harapan dan bukan meniadakannya.

Menerima kekecewaan, mengakui luka, dan kemudian melihat kembali kenyataan-kenyataan itu. Mengubah sudut pandang dan bukan menyangkalinya.

Tak ada pemulihan tanpa pengakuan, bukan?

Anda setuju?



Bagi Anda yang harus berhadapan dengan begitu banyak masalah kehidupan, simak tulisan inspiratif ini:

Berulangkali Ingin Mati. Inilah Kisah Hidup Saya bersama Depresi Klinis

Jangan Terburu-buru Menyalahkan Orang Lain, Hidup Kita 'Keruh' Bisa Jadi karena Satu Hal Ini

Hadapi 5 Kenyataan Hidup yang Sering Menyebabkan Putus Asa. Ini Caranya!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tentang Kekecewaan dan Kemampuan Kita untuk Merangkulnya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar