Tentang Aku, yang Menghabiskan Sebagian Besar Waktu Hidup Membenci Bapakku

Reflections & Inspirations

3.5K
Aku menuliskan ini karena aku sadar, akan datang saatnya aku menjadi seperti dia, berada di posisinya, dengan tingkat kesulitan yang mungkin lebih tinggi darinya.

Tidak banyak ingatan di masa lalu, terutama masa kecil menjelang remaja, masa remaja menjelang pemuda hingga masa pemuda, yang nyaman untuk diceritakan kembali.

Ketika mencoba mengingat tentang masa lalu, yang muncul selalu adalah ingatan tentang bagaimana badan ini dihajar, dipertemukan dengan benda keras seperti sabuk, sapu, seblak, kemoceng oleh Bapak.

Tidak ada masa bermain yang indah, masa sekolah yang menyenangkan, masa liburan yang asyik yang tidak tercampur dengan kerasnya didikan Bapak. Saking kerasnya didikannya, sabetan dari sapunya, ayunan sabuknya, tempelengan telapak tangannya, tabokan tangannya, aku tidak mampu mengingat kapan terakhir kali kami bercanda, layaknya anak bercanda dengan bapaknya.

Mungkin pernah sekali, dua kali, atau tiga kali kami bercanda pada saat aku belum bisa mengingat suatu hal apa pun. Atau barangkali kami memang tidak pernah bercanda sebelumnya.



Tentang Aku dan Bapakku.

Aku adalah sulung dari empat bersaudara. Sejak berumur empat tahun aku telah dipaksa berbagi perhatian dan kasih sayang orangtua, karena saat itu adik pertamaku lahir.

Menjadi sulung awalnya enak. Kau seolah punya teman bermain abadi. Setelah adikku yang kedua lahir, selang 3 tahun kemudian, pendapatku mulai berubah. Kesulungan ternyata hanya menjadi sebuah beban. Hari-hariku didominasi dengan keharusan mengalah kepada adik-adikku. Kakak selalu salah, adik selalu benar. Jika adik salah, kembalilah baca pernyataan sebelumnya. Demikian peraturan tidak tertulis yang berlaku di rumahku.

Bapakku adalah seorang melankolis koleris yang bergolongan darah A. Sempurna. Sangat sempurna.

Itu berarti tidak ada sedikit pun toleransi kegagalan darinya untuk segala sesuatu, walau masih dalam tahap belajar sekalipun. Rapi dan sangat terorganisasi, tidak ada yang namanya berbuat tanpa perencanaan sebelumnya. Jikalau melakukan satu kesalahan saja di hari itu, aku tahu harus bersiap diri. Hari itu akan menjadi hari yang paling tidak ingin aku ingat di sepanjang hidupku.

Datang menghampiri Bapak sama saja dengan menyediakan diri untuk diomeli. Selalu saja ada yang salah dan selalu saja ada yang tidak beres, walaupun menurutku semua sudah benar dan beres. Karena itulah aku memilih menjauh darinya, berusaha tidak terlihat ketika aku di dekatnya. Mendengar namaku disebutnya merupakan ketakutan terbesarku. Pasti ada yang salah, pasti ada yang tidak beres. Walaupun bukan aku yang melakukan, walaupun dengan jelas adikku yang melakukannya, pasti akan berujung dengan omelan kepadaku sepanjang hari.

Kata-kata semacam 'like father like son', 'ayah adalah hadiah terbesar dari Tuhan' adalah dagelan terlucu terbesar yang pernah aku dengar. Semua tidak sesuai dengan kenyataan yang kualami. Bullshit! Omong kosong!

Siapa pun yang mencoba sok bijak, menasihatiku dengan quotes tentang ayah, hanya akan mendapatkan tanggapan sinis dariku.

“Hmmmhhh, kau tidak tahu apa yang kurasakan, Coy!”

“Kehidupanmu jauh berbeda dengan kehidupanku.”

Hatiku telah menjadi tawar dan keras, terlebih terhadap apa pun yang berkaitan dengan ayah dan kelembutan seorang ayah.

Baca Juga: Inilah Satu Kesalahan Fatal dalam Mendidik Anak yang Seringkali Menjadi Penyebab Utama Konflik Orangtua dan Anak



Tidak perlu kau mati dulu untuk merasakan bagaimana neraka itu.

Cukup pulang saja ke rumah. Kau bisa rasakan dan nikmati neraka versi mini di sana. Begitu pikiran seorang Argha kecil yang sedang beranjak remaja.

Jenuh merasakan neraka kecil, Argha yang berusia remaja mulai mencari cara, bagaimana tinggal dalam neraka tanpa harus merasakan neraka. Mulailah aku berkenalan dengan rokok dan teman-temannya. Aku bergaul akrab dengan mereka sebagai bentuk pemberontakanku kepada Bapak, sebagai bentuk kekecewaanku terhadap keluargaku.

Di luar sana, aku mencari sendiri kedamaianku. Kuciptakan ketenteraman hati, versiku sendiri. Sambil menepuk dada, aku berkata, "Aku tidak butuh kedua orangtuaku." Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Aku mampu mencari penyelesaian sendiri.

Hampir 2/3 masa hidup kuhabiskan di fase ini.

Baca Juga: Rupanya Ini yang Membuat Anak Berontak terhadap Orangtua. Terapkan 3 Cara Ini sebelum Terlambat!



Lalu datanglah saat itu.

Saat di mana aku berada di titik paling bawah dalam hidupku.

Saat aku merasa tidak mempunyai apa-apa dan siapa-siapa. Saat aku tidak tahu ke mana lagi aku harus berlari. Saat hal-hal yang selama ini menjadi tempatku bergantung ternyata tak bisa lagi kuandalkan.

Saat kesombonganku runtuh.

.

.

Saat itu, ada sesuatu yang besar menuntunku. Sesuatu yang aku yakini bukan berasal dari dalam diriku. Sesuatu yang dengan lembut berbisik,

"Apa yang kau cari sesungguhnya ada di dalam apa yang kau benci selama ini."

"Apa yang kau perlukan ada di dekatmu. Hanya kau tidak pernah menyadarinya."

"Apakah kamu tidak capek berusaha berlari menjauh terus?"



[Photo credit: pixabay]

"Pulanglah."



Aku, yang menghabiskan sebagian besar masa hidupku untuk berkonfrontasi melawan Bapakku sendiri, akhirnya menyerah. Amarah, dendam, gengsi, kutanggalkan semua.

Kupeluk Bapakku sambil berkata, "Pak, maafkanlah Argha."

Saat itulah, untuk pertama kalinya dalam sejarah perjalanan hidupku, aku menemukan kedamaian yang selama ini selalu kucari-cari. Pelukan Bapakku, tempat terdamai di muka bumi.

Baca Juga: Relasi Bukanlah Permainan Apalagi Pertandingan. Tak Ada Menang atau Kalah, Hanya Kehancuran, Bila Kita Mempermainkannya



Rumah selalu punya caranya sendiri untuk memanggilmu pulang. Percayalah.

Sekuat apa pun kamu melatih kakimu agar mampu berjalan ribuan mil, setangguh apa pun kamu menempa pundakmu agar mampu membawa beban yang terberat sekalipun, segigih apa pun kamu membulatkan tekad agar mampu menghadapi setiap tantangan di luar sana, sekukuh apa pun kamu berkata, "Ah, aku tidak perlu kembali ke sana," sekadar untuk meyakinkan diri bahwa pilihanmu benar.

Percayalah,
Rumah selalu punya caranya sendiri untuk memanggilmu pulang.

Untuk kembali menjadi tempat menaruh beban,
untuk kembali menjadi tempat tujuan,
untuk kembali menjadi tempat paling hangat yang pernah kamu datangi.


Pagi ini, dengan sebuah pelukan hangat, sehangat sinar matahari yang menembus masuk kaca jendela rumah, kubisikkan pelan di telinga Bapakku,

"Selamat ulang tahun, Bapak.

Terima kasih telah membentukku hingga seperti ini.

Terima kasih telah mengajarkanku tentang banyak hal, walaupun untuk itu Bapak harus mengorbankan banyak waktu, menjadi pribadi yang dibenci oleh anakmu."


Bapa, terima kasih telah mengizinkan semua ini terjadi dalam perjalananku. Terima kasih telah menempatkan aku di titik terendah sepanjang hidupku, karenanya aku keluar dari kenyamananku yang semu. Terima kasih telah mengubah 180 derajat pikiran skeptisku dan sudut pandangku terhadap Bapak.

Semoga Bapa selalu menganugerahkan kesehatan kepada Bapak.



Baca Juga:

Lewat Orangtua yang Otoriter dan Overprotektif, Saya Menemukan 7 Pelajaran Hidup Penting Ini

Berniat Kabur dari Rumah dan Melarikan Diri dari Masalah? Renungkan Dulu 3 Hal Ini

Keluarga: Bukan Surga, Bukan Neraka. Tiga Hal Ini yang Akan Membuat Kita Mencintai Keluarga Apa Adanya










Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tentang Aku, yang Menghabiskan Sebagian Besar Waktu Hidup Membenci Bapakku". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Argha Christyanto | @synvschky

Bassist dan Travel-Enthusiast yang memilih jalan hidup menjadi seorang pendiam

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar