Teman tapi Mesra, Kesenangan Sementara dalam Ketidakpastian. Inilah Pelajaran yang Saya Dapatkan dari Menjalani Hubungan Tanpa Status

Love & Friendship

[image : forbes.com]

10.9K
Berawal dari hanya sering menggoda dan menyontek PR dia karena satu bangku waktu sekolah, akhirnya timbul perasaan yang berbeda daripada sekadar teman biasa.

Lima tahun setelah saya lulus SMP, pertama kalinya saya berjumpa dengan dia setelah kami tidak menjadi teman sebangku lagi. Perasaan aneh dan senang kembali timbul mengingat masa lalu kami, segera rasa canggung memenuhi pertemuan kami dan menjadikan kami berdua salah tingkah. Senang karena dapat bertemu dengan orang yang pernah mengisi hari saya dahulu, aneh karena saat itu kami tidak terikat oleh sebuah komitmen.

Berawal dari hanya sering menggoda dan menyontek PR dia karena satu bangku waktu sekolah, akhirnya timbul perasaan yang berbeda daripada sekadar teman biasa. Mau 'nembak', malah takut merusak hubungan yang sudah ada, terlebih lagi masih ada beberapa bulan ke depan yang harus ditempuh di dalam kelas dan di bangku yang sama.

Cerdas, supel dan cantik. Entah malaikat mana yang sedang menaungi saya sehingga beruntung bisa satu bangku dengan dia, bahkan ada beberapa cowok iiri pada saya.

Sistem duduk yang disepakati di kelas saya adalah dengan cara undian. Cukup adil bagi saya, namun tidak bagi beberapa cowok lain yang sudah berencana mendekatinya.


Saling protektif tanpa alasan yang jelas

photo credit: Favim

Entah siapa yang mulai duluan, namun lambat laun sikap saling protektif itu ada. Saya sebagai pengurus OSIS tentu banyak bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang. Jam istirahat dan pulang sekolah, saya langsung menuju ruangan OSIS, terkadang dia cemberut bahkan melempar alat tulis, karena ajakan ke kantin bersama ketika waktu istirahat sering saya tolak. Toh, saya pikir dia juga bakal ke kantin bareng genk-nya dia.

Begitu juga dengan saya, entah mengapa ada perasaan yang janggal ketika melihat dia diantar pulang oleh seorang cowok dari kelas lain. Dan bisa ditebak esok harinya ke-kepo-an saya pun mulai muncul, memberondongnya dengan banyak pertanyaan tentang siapa yang mengantarnya pulang dan apa saja yang dilakukannya setelah pulang sekolah.

Baca juga: Cinta Lama Bersemi Kembali Saat Reuni. Benarkah Cinta Pertama Paling Murni dan Tak Pernah Mati?

Sikap saling protektif ini menjadikan relasi kami tidak sehat. Secara tidak langsung saya mulai mengurangi waktu produktif di OSIS, dan dia mulai menutup diri bagi laki-laki lain yang hadir di kehidupan sehari-harinya.

Tidak sehat karena kami mulai mengurangi waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk hal-hal lain yang lebih jelas tujuannya, namun kami memilih untuk menjalani sebuah relasi tanpa sebuah tujuan.


Komitmen yang tidak pernah terucapkan

photo credit: HD Wallpapers Rocks

Setelah sekitar 6 bulan sejak kami sebangku bersama, entah mengapa terasa ada sebuah komitmen yang tidak terucapkan oleh kami. Saya pada waktu itu mulai meluangkan waktu ke kantin dan makan bersama, setelah itu baru ke ruang OSIS untuk menyelesaikan tugas-tugas organisasi yang ada. Pun dengan dia, setelah saya sempat marah karena dia diantar oleh seorang kakak kelas, tanpa sebuah komitmen juga dia menunggu kegiatan OSIS saya selesai dan meminta saya untuk mengantarnya pulang.

Baca juga: Just Friends alias Sekadar Teman, Mungkinkah dalam Relasi antara Pria dan Wanita?

Senang dan aneh, dua perasaan itu yang terus ada di dalam pikiran saya. Senang karena ada yang menemani di sekolah tapi aneh, karena tidak ada keterikatan atau sebuah komitmen yang kami bicarakan, namun seolah kami terikat janji. Banyak teman yang bilang kami sedang pacaran pada waktu itu, bahkan guru-guru juga banyak yang mulai meledek kedekatan kami itu, saya hanya bisa tersenyum kecut menanggapi mereka.

Bagian ini yang paling menyiksa, percayalah relasi yang hanya tersirat tidak seindah relasi yang tersurat.

Meluangkan waktu bersama tanpa sebuah tujuan? Mungkin tidak masalah jika sedang berada di usia sekolah, namun melakukannya di usia dewasa? Big NO, yang ada hanyalah rasa lelah di dalam hati.


Mengapa TTM (Teman Tapi Mesra)?

photo credit: Favim

Saya tahu betul alasan saya tidak segera ‘nembak’ dia, meskipun sinyalnya sudah kuat, sekuat sinyal 4G di ponsel saya saat ini. Kami berbeda agama, ya itulah satu alasan mengapa hubungan kami sebatas teman, tapi mesra. Sebagai seseorang yang berkeyakinan Kristen, tidaklah mudah untuk bersekolah di sekolah Negeri, karena di sana kami menjadi minoritas secara keyakinan.

“Yailah masih SMP aja nggak mau macarin dia karena beda agama, nggak usah dipikir bro, dijalani aja”, ledek seorang teman.

Kata-kata itu berputar terus di dalam otak saya, ya memang tidak ada ruginya pacaran dengan dia, minimal PR setiap pagi sudah pasti beres, tinggal sontek.

Namun bagi saya lebih dari itu, entah malaikat mana yang sedang membisiki saya, tapi yang pasti saya tidak mau menjalin relasi dengan yang berbeda agama. Relasi tanpa sebuah tujuan, bagi saya tidak pantas rasanya dinaikkan statusnya.

Kami ber-TTM-an kurang lebih satu tahun, di tahun berikutnya, karena banyaknya kegiatan OSIS yang saya ikuti dan frekuensi pertemuan kami yang mulai berkurang, sehingga relasi yang menggantung itu tidak kami lanjutkan, karena memang tidak ada yang dapat dilanjutkan dari relasi tersebut.

Baca Juga : Ketika Cinta Terhadang Perbedaan Suku dan Agama, Lanjut atau Berhenti?


Untung atau Rugi TTM?

Nah, jika ditanya seperti itu saya bingung menjelaskannya. Bagi sebagian orang mungkin akan menguntungkan sebab mereka tidak terikat dengan orang lain dalam sebuah relasi yang disepakati, namun masih mendapatkan perhatian dan waktu dari orang itu.

Namun, mari kita renungkan berapa banyak waktu dan tenaga yang terbuang untuk menjalani TTM tersebut, belum lagi jika ada konflik yang terjadi, mau marah akan salah juga, kan bukan pacar resmi. Tidak marah pun, hati kita juga pasti akan 'dongkol' setengah mati.

Satu yang pasti, menjalani sebuah hubungan tanpa status, kita harus siap mental dan hati, sudah siapkah kita menjalani sebuah relasi dengan ketidakpastian?



Kamu yang sedang mengalami dilema antara cinta dan pertemanan, artikel berikut ini bisa jadi inspirasimu:

Relasi Bukanlah Permainan Apalagi Pertandingan. Tak Ada Menang atau Kalah, Hanya Kehancuran, bila Kita Mempermainkannya

Wanita, Jangan Lakukan 3 Kesalahan Fatal dalam Berkomunikasi Ini jika Tidak Ingin Hubunganmu dengan Pasangan Rusak!

Tak Seindah Dongeng, Inilah 3 Realita yang Saya Pelajari dari Kisah Cinta Orangtua Saya


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Teman tapi Mesra, Kesenangan Sementara dalam Ketidakpastian. Inilah Pelajaran yang Saya Dapatkan dari Menjalani Hubungan Tanpa Status". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Nicho Krisna | @nichokrisna

Auditor | Banker | Blogger

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar