Belajar Memuji dengan Tulus Namun Maknyus dari Pak Bondan

Reflections & Inspirations

[image : metro tempo]

617
Demikianlah Pak Bondan telah mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia: dengan pujian yang tulus dan ulasan yang bijak.

Menikmati kuliner dari layar televisi bersama Pak Bondan merupakan "kemewahan" bagi saya. Biasanya saya bisa mengikuti wisata kuliner Beliau hanya ketika pada masa liburan. Program kuliner Beliau memang dulunya tayang di siang hari, waktu di mana saya harus pergi kuliah dan tak mungkin bersantai di rumah untuk bersantai.

Saya tak pernah lupa episode itu, ketika Beliau menjelajahi Jawa Timur dengan rute dari Malang menuju Surabaya. Beliau mampir di salah satu depot makan di Lawang. Keluarga kami sering juga mampir di sana membeli jajanan. Onde-onde!

Dalam tayangan tersebut, Pak Bondan mencicipi berbagai jenis onde-onde yang ditawarkan di depot itu. Memang depot tersebut dikenal dengan onde-onde sebagai signature dish. Onde-onde berbahan dasar tepung ketan putih berisi olahan kacang hijau sudah umum dijumpai di mana-mana. Tetapi onde-onde dengan isi kelapa dan onde-onde berbahan dasar tepung ketan hitam menjadi sorotan dalam ulasan Beliau.

Saya menantikan komentar "maknyus" dari Beliau. Namun komentar tersebut tak pernah muncul.

Di situlah saya belajar...


Pak Bondan menilai secara tulus

Awal melihat tayangan kuliner Beliau, saya pernah berpikir skeptis, "Ya, pasti semua dibilang 'maknyus'."

Namun saat itulah saya mendapati ketulusan beliau dalam menilai kuliner yang dicicipi. Mungkin saja lidah Beliau baru berkenalan dengan onde-onde ketan hitam atau onde-onde isi kelapa. Mungkin saja memang citarasa yang unik itu tidak cocok dengan selera Beliau. Beliau mengungkapkannya dengan tulus, tanpa di-mark-up hanya untuk mendapat rating yang tinggi.

Jarang kita temui orang yang tulus di zaman now. Orang tua menyombongkan anak yang tidak sejenius yang mereka gambarkan, foto produk yang "seindah" ketika barang tersebut ada di tangan, hasil touch up dan editing berlebih agar napak lebih ramping dan lebih cantik. Dunia kita seakan mempromosikan sesuatu yang berbeda dengan realita.

Dari Pak Bondan, saya belajar bahwa ketulusan itu penting. Katakan apa adanya.


[image: detik]


Namun, tulus bukan berarti tidak bijak

Mengenai onde-onde yang tak mendapat predikat "maknyus", Beliau berkata, "Teksturnya mulus banget...ini kenyal sekali... Wow! Ngga salah sih teman saya bilang, (ini) juara dunia onde-onde. Harus dibawa sebagai oleh-oleh."

Beliau selalu punya cara yang elegan untuk memuji keunggulan yang ada di setiap kuliner yang Beliau cicipi, "maknyus" maupun tidak. Sesekali dalam ulasannya, Beliau akan menyebutkan kelemahan dari masakan tersebut tanpa sikap yang negatif dan merendahkan.

Dalam berelasi dengan sesama, prinsip yang ini sering dilupakan. Kita lebih sering berfokus pada kelemahan orang lain, namun tak punya niat baik untuk membangun. Di ekstrem yang lain, kita sering memuji-muji kawan tertentu hingga lupa untuk menegur dengan kasih kekurangan yang ada.

Seorang Guru Agung pernah mengajarkan, "Jadilah cerdik seperti ular, namun tulus seperti merpati."

Seorang kawan yang baik tentu dengan sangat mudah akan memuji sahabatnya, tetapi juga tak sulit mengoreksi kesalahan sahabatnya dengan maksud membangun. Demikian juga orang tua yang bijak akan memuji anak-anak mereka ketika melakukan hal yang baik, tetapi juga menegur dan mendisiplin saat mereka melakukan hal yang tidak baik; semuanya dalam porsi yang pas dan tidak berlebihan.

Hati yang tulus memuji dan dengan cerdik mengoreksi akan menolong kita menjadi kawan yang baik.

Demikianlah Pak Bondan telah mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia: dengan pujian yang tulus dan ulasan yang bijak.

Selamat jalan, Pak! Terima kasih untuk teladan yang "maknyus".


Baca Juga:

Maknyus! Inilah 5 Warisan Bondan Winarno bagi Indonesia

Maknyus! 3 Pelajaran Hidup Berharga dari Kiprah Bondan Winarno


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Belajar Memuji dengan Tulus Namun Maknyus dari Pak Bondan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Margie Yang | @margieyang

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar