Tax Amnesty dan Sebuah Kenyataan Pahit tentang Relasi Orangtua - Anak yang Disingkapkannya

Parenting

[Image: forumpajak.org]

3.4K
Banyak orangtua yang, tanpa sadar, mendidik anak-anak mereka dengan menunjukkan bahwa kejujuran hanya akan membawa penderitaan. Mungkin itulah sebabnya walau "orangtua" kita telah memberikan jaminan pengampunan jika kita mengaku, bukannya sukacita, melainkan ketakutan yang muncul dalam diri kita.

Belakangan ini, masyarakat Indonesia dipusingkan dengan salah satu program pemerintah yang dikenal dengan istilah Tax Amnesty. Program pengampunan pajak ini adalah sebuah program yang disediakan untuk masyarakat umum yang selama ini memiliki harta tetapi belum melaporkannya. Melalui program ini, denda yang seharusnya dikenakan kepada pemilik harta tersebut dihilangkan dan bebannya diperkecil menjadi beberapa persen saja.

Pemerintah bekerja sama dengan berbagai instansi dan organisasi masyarakat dengan gencar sudah dan terus melakukan penyuluhan dan seminar untuk mensosialisasikan program pengampunan pajak ini kepada semua golongan masyarakat. Call center dan meja-meja pelayanan masyarakat sudah tersedia di hampir semua kantor pajak. Pemerintah berharap program pengampunan pajak ini dapat dinikmati oleh seluruh warga negara Indonesia.

Seharusnya semua orang yang memiliki harta yang belum dilaporkan menjadi senang, bukan? Siapa sih yang tidak mau diampuni kesalahannya? Berapa banyak dari kita yang akan bersyukur bila denda sebesar lebih dari 50 persen yang harusnya kita bayar itu kini bisa diampuni, asal kita bersedia membayar 2 atau 5 persen saja?

Namun kenyataannya, hingga saat ini, lebih banyak orang yang merasa pusing karena harus lapor pajak dibandingkan senang karena diberi pengampunan dan keringanan dalam hal denda.

Kini, setiap kali melihat orang-orang berkumpul, bisa dipastikan bahwa salah satu topik pembicaraan yang akan muncul adalah tentang Tax Amnesty. Apa-apa yang harus dilapor, soal ketakutan bertemu orang pajak, mengenai surat dari kantor pajak yang diterima, hingga kepada kekhawatiran bila suatu hari nanti mereka akan ditangkap atau didenda hingga 90 persen dari nilai harta bila kedapatan ada harta milik yang belum dilaporkan.

Ternyata minta ampun tidak semudah itu, bukan? Ternyata, walau sudah ada jaminan pengampunan dari pihak yang berwenang, mengaku dosa itu sulit, bukan?



Kejujuran Hanya Akan Membawa Penderitaan?

Di sini saya melihat bahwa pemerintah itu mirip seperti orangtua, dan kita, masyarakat adalah anak-anak mereka. Dan, mengamati reaksi saya dan teman-teman terhadap program pengampunan pajak yang ditawarkan pemerintah, saya mau tak mau jadi tertawa sendiri. Reaksi kita tadi, adalah reaksi yang sama yang seringkali muncul dari anak-anak kecil.

Ketika anak kita tidak mau makan, bukankah kita lebih berharap anak itu berkata bahwa ia tidak suka sayur yang kita sediakan daripada berkata bahwa ia sudah kenyang? Ketika si kakak memukul adiknya, bukankah kita akan lebih menghargai bila ia mau mengaku daripada berbohong dan berkata bahwa si adik terjatuh? Ketika si anak menyantap vitamin lebih dari dosis yang ditentukan karena ia menyukai rasa sirup, bukankah kita lebih senang bila ia mengaku daripada memilih diam?

Sebagai orangtua, kita tahu bahwa apa pun kesalahan yang dilakukan oleh anak kita, pengampunan itu selalu tersedia.

Sebagai orang yang lebih berhikmat, yang menginginkan anak kita untuk bertumbuh dengan karakter yang mulia, kita menyadari bahwa kejujuran itu merupakan aset yang sangat berharga. Itulah sebabnya ada orangtua-orangtua yang memilih untuk tidak menghukum anak-anaknya selama mereka berkata jujur. Para orangtua ini tahu bahwa kejujuran itu jauh lebih berharga dibanding kenakalan dan pelanggaran yang anak-anak mereka perbuat.

Sayangnya, ada orangtua yang dengan mulutnya menuntut agar anak-anak mereka berkata jujur, tetapi kemudian tidak mampu menahan tangannya dari menjatuhkan hukuman kepada si anak. Orangtua tipe demikian sering berkata bahwa konsekuensi atas kenakalan harus tetap diberikan, walau anak-anak itu sudah mengakui kesalahan. Mereka mungkin tak menyadari, bahwa sesungguhnya mereka sedang mengajarkan nilai yang berlawanan dengan nasihat yang mereka berikan.

Tanpa sadar, mereka mendidik anak-anak mereka dengan menunjukkan bahwa kejujuran itu hanya akan membawa penderitaan.

Tidaklah heran, anak-anak yang bertumbuh dalam lingkungan seperti ini akan sulit untuk berkata jujur di kemudian hari.

[Image: babysitting.academy]

Baca Juga: Inilah Satu Kesalahan Fatal dalam Mendidik Anak yang Seringkali Menjadi Penyebab Utama Konflik Orangtua dengan Anak


Dan, sama seperti anak-anak tersebut, banyak dari kita - masyarakat bangsa Indonesia - yang lebih sering merasakan “hukuman” demi “hukuman” karena berkata dan berbuat jujur daripada menikmati buah manis dari kejujuran. Kita melihat para pelanggar hukum menikmati hasil curian dan KKN mereka. Kita membaca berita bagaimana hukuman tidak kurun dijatuhkan kepada mereka yang bersalah. Dan mereka yang berusaha berjalan jujur? Mereka terus mendapatkan tekanan dan kesulitan, bahkan untuk urusan sepele seperti membuat Surat Izin Mengemudi [SIM].

Permisi bertanya, apakah benar SIM itu tidak akan diterbikan bila calon pengemudi tidak tahu berapa meter jarak terdekat antara segitiga pengaman dari mobil yang berhenti di pinggir jalan? Pilihan jawabannya: 3 meter, 3,5 meter, atau 4 meter. Anda tahu jawaban yang benar? Saya tidak pernah tahu ada pengemudi yang dimasukkan ke dalam penjara selama 2 bulan hanya karena jarak antara segitiga pengaman dengan mobilnya terlalu dekat.

Mungkin itulah sebabnya, ketika “orangtua” kita berkata bahwa ada pengampunan yang akan diberikan bila kita mau jujur mengungkapkan harta yang selama ini tidak pernah kita beritahukan kepada mereka, banyak dari kita yang menjadi pesimis.

Bagaimana kalau keterbukaan itu dijadikan alat untuk menghukum kita lagi? Bagaimana kalau kejujuran ini justru akan menjerumuskan kita ke dalam berbagai persoalan di kemudian hari? Bagaimana kalau tindakan yang muncul di lapangan tidak sejalan dengan perkataan yang diucapkan?

Mungkin, sobatku, itu menjadi salah satu alasan mengapa bukannya sukacita, melainkan ketakutan yang muncul, ketika program pengampunan pajak ini diwartakan. Bukannya orang berlomba-lomba untuk lebih awal meminta pengampunan, tetapi malah saling menunda menanti perubahan yang mungkin akan dikeluarkan oleh pemerintah.



Pengampunan Seharusnya Indah

Sekali lagi, bila kita hanya berteriak dan berkeluh kesah tentang pemerintah kita, maka apa bedanya kita dengan anak-anak kecil yang hanya menangis dan merengek ketika orangtua mereka memberitahu kepada mereka hal yang tidak mereka sukai?

Saya mengajak kita untuk melakukan apa yang bisa kita lakukan. Dan sekali lagi, hal itu dimulai dari rumah kita.

Bila kita menyadari betapa tidak enaknya ketika pemerintah berkata A dan berlaku B, maka baiklah kita memiliki keserasian antara perkatan dan perbuatan. Bila lewat program pengampunan pajak ini kita mendapati diri susah untuk percaya kepada pemerintah, marilah kita, sejak saat ini mengajarkan kejujuran kepada anak-anak kita dan menghidupi kejujuran itu sehingga anak-anak kita bisa bertumbuh dengan memiliki rasa percaya kepada kita, orangtua mereka. Bila kita merasa tidak adilnya hidup sebagai warga yang tidak berdaya, maka seharusnya itu berarti kita bisa mengerti kesulitan anak-anak kita ketika mereka berada di rumah atau di sekolah. Dan, sebagaimana kita berharap agar pemerintah bisa melakukan tugas dengan baik, marilah kita melakukan tanggung jawab kita sebagai orangtua dengan baik.

Pengampunan itu seharusnya indah.

Karena itu, marilah membuatnya indah, mulai dari keluarga kita.

Dan mari kita belajar percaya sekali lagi, serta mensyukuri kesempatan pengampunan yang ditawarkan saat ini.

[Image: ributrukun.com]

Jadi, gigi emas ini perlu dilaporkan atau tidak?



Baca Juga:

Anak Bermasalah? Jangan-Jangan Akibat 5 Gaya Pengasuhan Anak yang Keliru Ini

Sebuah Mitos Besar tentang Membesarkan Anak dan 3 Cara untuk Mematahkannya

4 Perkataan Orangtua yang Ternyata Malah Membuat Anak Makin Menjauh

5 Bahaya Masa Kini yang Mengancam Jiwa Anak-Anak Kita



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tax Amnesty dan Sebuah Kenyataan Pahit tentang Relasi Orangtua - Anak yang Disingkapkannya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar