Tanpa Kamu Sadari, 7 Perubahan Setelah Kamu Pacaran Ini Bikin Ortumu Sedih, Lho

Love & Friendship

[Photo credit: Bustle]

3.3K
"Suatu kali saya sakit dan minta diantar ke dokter. Begitu sampai di tempat praktik dokter, dia menurunkan saya di depan pintu dan pergi begitu saja. Dia nonton bersama pacarnya dan meminta saya pulang pakai Uber," ujar ibu itu terbata-bata.


“Kalau nanti you sudah punya pacar, Papa hanya minta satu hal ini: jangan backstreet.

Begitu nasihat saya kepada anak saya.


Sebenarnya, saya bahkan lebih suka jika sejak saat PDKT pun saya diberitahu. Saya bukan tipe orangtua kolot yang melarang anak ini dan itu. Tugas saya sebagai orangtua memberikan bimbingan dan tuntunan. Orangtua mana yang tidak ingin anaknya bahagia?

Prinsip-prinsip utama saya kemukakan, pilihan tetap di tangan mereka. Bukankah Tuhan memberi kita akal budi untuk memilih dan memutuskan?

Guys, 7 hal inilah yang dibenci orangtua tetapi tanpa sadar sering dilakukan anak yang lagi kasmaran.



1. Pacaran di belakang pintu

Seperti nasihat saya kepada anak saya, inilah hal number one yang dibenci orangtua. Jika pacaran dengan orang yang baik dan wajar, mengapa harus sembunyi-sembunyi? Backstreet artinya ada yang disembunyikan.

Biasanya sesuatu yang disembunyikan dari orangtua pasti tidak baik.

Entah karena belum cukup umur untuk pacaran atau karena ada yang salah dengan pacar[an]nya.

Baca Juga: Cinta Terhalang Restu Orangtua Pacar, Inilah 3 Pelajaran tentang Cinta dan Mencintai yang Saya Dapatkan dari Peristiwa Itu



2. Pecah konsentrasinya,

[Photo credit: telegraph.co.uk]

baik sekolah, kuliah, maupun kerja

Bagaimana konsentrasi tidak pecah jika selalu menghubungi sang pacar atau sebaliknya, padahal dia sedang belajar atau bekerja?

Sahabat saya yang sekarang meneruskan studi di AS memutuskan pacarnya karena terus menerus menghubunginya sewaktu dia sedang bekerja di kantor. “Pacar saya memang beda 10 tahun dengan saya. Jadi waktu saya sudah bekerja, dia masih SMA. Sebentar-sebentar kirim pesan, bahkan telepon. Kalau tidak dibalas, ngambek,” ujarnya di sebuah resto Jepang saat pulang ke Indonesia dan mentraktir saya. “Sejak itu, saya memutuskan untuk memilih cewek yang lebih lebih dewasa,” tambahnya.

“Anak saya tidak lulus kuliahnya, Pak Xavier, karena terlalu banyak pacaran,” ujar seorang pengusaha yang mengirim anaknya kuliah ke Australia. “Salah saya juga sih, soalnya tidak bisa mengawasinya.”

Guys, jika kalian sudah kuliah, seharusnya kalian lebih dewasa dan profesional. Artinya, tanpa pengawasan, kalian sudah bisa menjaga diri sendiri. Kalau kuliah, ya kuliah. Kalau bekerja, ya bekerja.

Apa mau dianggap anak kecil sehingga terus diawasi? Orangtua juga tidak kurang kerjaan untuk terus-menerus mengawasi kalian. Jadi, please, be mature!



3. Menganggap orangtua matre

“Pak Xavier, mama saya tidak setuju kalau saya pacaran dengan Agus,” begitu ujar seorang dokter muda kepada saya. “Saya bukan cewek matre. Meskipun Agus ke mana-mana pake motor, saya tidak keberatan.”

Kepada gadis cantik itu saya katakan, mamanya belum tentu matre juga. Namun,

setiap orangtua menginginkan anaknya tidak kekurangan saat menikah nanti.

Beberapa hari kemudian, saya bertemu dengan mamanya. Tanpa saya minta, mamanya cerita, “Saya tahu, Nancy anak saya menemui Bapak. Saya bukan tipe mama yang sangat mendewakan uang. Saya pun dulu berjuang bersama suami sebelum sukses seperti sekarang. Namun, saya sangat tahu anak saya. Dia tidak bisa tidur tanpa AC. Kuliah pun tidak pernah mau naik kendaraan umum, apalagi ojek. Nah, sekarang dibonceng pacar yang belum bekerja, kok mau?”

Saya mempunyai ‘amunisi’ baru untuk mengkonseling Nancy. Setelah saya beri penjelasan, dia mengangguk malu.

“Mama saya benar, Pak Xavier. Cinta saya kepada Agus membutakan saya terhadap realita diri saya sendiri. Saya memang tidak bisa hidup menderita,” ujarnya.

“Wah, omonganmu sudah seperti filsuf,” timpal saya yang dibalas dengan tawa cekikikan.

Baca Juga: Cinta Beda Status Sosial Ekonomi, Akankah Berakhir Bahagia?



4. Menganggap orangtua idealis

Mirip dengan nomor 3 di atas, ketika orangtua memberikan kriteria sekaligus saran pasangan yang terbaik bagi anak-anak, mereka sering kali dipandang sebagai penghalang kebahagiaan anak. Orang yang sudah jatuh cinta biasanya hanya fokus kepada kenikmatan pacaran sehingga tidak lagi kritis. Apa saja yang diutarakan orangtua dianggap melarang dia pacaran.

[Photo credit: psychology today]

Orangtua yang terus-menerus diserang dengan pembenaran oleh anaknya, akhirnya memilih diam, meskipun hatinya menangis.

Seorang ibu sampai menangis sesenggukan di depan saya karena anaknya tidak lagi bisa dinasihati. “Bayangkan, saya malah di-satru [bahasa Jawa = tidak diajak bicara], Pak Xavier,” ujar seorang ibu yang melarang anak perjakanya pacaran dengan ‘wanita dewasa’.



5. Cepat emosi

Anak yang sedang jatuh cinta biasanya emosinya labil. Karena hampir semua perhatiannya tercurah kepada sang pacar, logikanya tidak jalan. Istilah yang cocok untuk ini adalah 'memakai kacamata kuda'.

Apa saja keberatan orangtua terhadap sang pacar—meskipun sangat logis—selalu dianggap sebagai permusuhan. Padahal, orangtua memberikan prinsip-prinsip hidup yang baik.

“Saya hanya memberi masukan bahwa cowok yang tidak mau mengantar pacarnya sampai ke depan rumah itu tidak sopan. Begitu saya bilang seperti itu, Nonik langsung ngamuk, Pak Xavier,” ujar seorang ibu dengan mata membasah. “Seumur-umur dia belum pernah berani menjawab saya dengan kata-kata yang tidak sopan. Apa dia sudah tertular dengan pacarnya, ya?” tambahnya.

Baca Juga: Berniat Kabur dari Rumah dan Melarikan Diri dari Masalah? Renungkan Dulu 3 Hal Ini



6. Meninggalkan kebiasaan yang baik

Banyak orangtua yang terkaget-kaget melihat perubahan sikap dan perilaku anaknya. Misalnya, jadi malas beribadah dan membaca Kitab Suci, tetapi rajin sekali membalas chat sang pacar.

Orang yang lagi pacaran kecenderungannya memang begitu. Ortu juga pernah muda, jadi sangat paham hal itu. Namun, jika hal itu dilakukan melebihi batas—sampai lupa waktu dan tidur larut malam—orangtua mana yang tidak khawatir?

[Photo credit: nextavenue.com]
Jika sakit, orangtualah yang merawat anaknya—bukan pacarnya.

Saya dan istri selalu menasihati anak kami jika mereka pulang atau tidur terlalu malam. “Yo, besok kamu harus kerja, lho,” ingat saya kepada anak cowok saya.

“Apa kamu tidak ngeman badanmu sendiri?” tambah istri saya jika anak saya banyak terlibat kegiatan di luar rumah sampai malam hari, meskipun kegiatannya positif—ngelembur di kantor.



7. Dinomorsekiankan

Anak jadi lebih responsif terhadap pacarnya ketimbang orangtuanya sendiri. “Saya yang melahirkan dan membesarkannya sampai usia 20 tahun eh dikalahkan oleh pacarnya yang baru dikenalnya dua bulan,” ujar seorang pemilik depot. “Suatu kali ada dua pelayan resto yang tidak masuk. Saya kerepotan melayani pelanggan yang ramai sekali malam itu. Eh, begitu pacarnya muncul, saya ditinggal begitu saja,” kata ibu itu lagi.

“Yang lebih menyakitkan, suatu kali saya sakit dan minta diantar ke dokter. Begitu sampai di tempat praktik dokter, dia menurunkan saya di depan pintu dan pergi begitu saja. Dia nonton bersama pacarnya dan meminta saya pulang pakai Uber,” ujar ibu itu terbata-bata.

Baca Juga: Bukan 'Aku Sayang Padamu' Melainkan Ini: Satu Kalimat yang Akan Membahagiakan Ibumu Hari Ini


[Photo credit: faboverfifty]

Guys, banyak keberatan orangtua yang diucapkan atau tidak berkenaan dengan perilaku anaknya yang sedang pacaran, namun ada orangtua yang memilih diam ketimbang berdebat dengan anaknya. “Ketimbang dianggap kuno dan kolot,” ujar seorang kontraktor bangunan.

Di atas semua keberatan itu, ada satu yang paling didambakan orangtua: didengarkan. Itu saja!

Orangtua yang baik akan mendengarkan anaknya. Demikian juga sebaliknya. Pembicaraan orangtua-anak dari hati ke hatilah yang terbaik untuk masa depan anak. Anak minta dihargai. Orangtua rindu dihormati.


"Saat menyalakan api cinta, hati-hati dengan baranya."

- Xavier Quentin Pranata





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tanpa Kamu Sadari, 7 Perubahan Setelah Kamu Pacaran Ini Bikin Ortumu Sedih, Lho". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar