Jangan Biarkan Orang Lain atau Keadaan Mengendalikan Hidupmu. Kalahkan Ketakutan, Beranilah Mengambil Keputusan!

Reflections & Inspirations

[Image: lifeandlattes.com]

4.6K
Tidak mengambil keputusan sama saja dengan membiarkan keadaan atau orang lain yang memutuskan.

Pagi-pagi buta pesan singkat melalui WhatsApp muncul:

"Anies meninggal dunia."

Hati ini tercekat pilu. Serasa diiris sembilu.

Sahabat sejak kecil ini sudah lama tahu bahwa klep jantungnya bermasalah. Namun sungguh tak disangka, dia pergi secepat ini.

“Klep jantung yang bermasalah menyebabkan darahku mudah menggumpal. Tahun lalu ada saluran darah di pahaku yang buntu. Untung segera terdeteksi oleh dokter sehingga malam itu juga aku diharuskan operasi. Puji Tuhan, sembuh. Ini benar-benar anugerah Tuhan”, Anies berkisah saat kami bersua, ”Tetapi untuk operasi jantung, aku takut. Bayangkan, itu operasi besar.”

Kami semua mendorongnya segera dioperasi, apalagi dana sudah disiapkan sang suami. Namun Anies masih bersikukuh menolaknya. Belum siap, katanya.

Anies tidak berani menghadapi ketakutannya dan memilih untuk tidak kontrol ke dokter lagi. Tiga dokter berbeda sudah memberikan vonis serupa: harus segera operasi.

"Biarlah hidupku seperti air yang mengalir saja," Anies berkilah.

Satu hal yang ia lupa,
air senantiasa mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Lama tanpa kabar berita, tiba-tiba muncul pengumuman di grup WhatsApp: "Anies opname." Sekarang sahabat cantik ini bersedia untuk dioperasi. Namun apa mau dikata, kondisi fisiknya sudah tidak memungkinkan lagi. Dia pergi sebelum operasi dijalankan.

Kisah lainnya, Mama saya yang berusia 84 tahun menderita katarak dan harus dioperasi. Katarak sesungguhnya masalah umum yang tidak perlu dikhawatirkan. Namun, berbeda untuk Mama, beliau menderita diabetes sejak 40 tahun lalu dan menggunakan insulin setiap hari. Baik Mama, anak-anak, dan para menantu takut dengan risikonya: kalau gagal, berarti buta.

Lalu bagaimana cara cerdas menyikapinya?



1. Rasa Takut Tidak Nyata

[Image: Mind of An In-Depth Woman]
Perasaan takut itu berasal dari pikiran negatif yang kita kembangkan dan nikmati.

Pada saat takut, pikiran akan terus mencari kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Semakin dipikir, semakin meluas dan menakutkan. Akibatnya, rasa cemas menghantui.

Sesungguhnya, dari hasil penelitian terbukti, 80% ketakutan kita tidak pernah terjadi. Namun saat cemas, pikiran menjadi tidak logis dan sulit membuat pertimbangan dengan jernih.

Anies begitu ketakutan akan operasi ‘besar’ di jantungnya. Ia lupa, banyak teman yang bypass jantung pun sukses. Mama, karena terlalu takut buta, tanpa sadar terbiasa dengan penglihatan yang makin berkurang secara bertahap. Akhirnya mata kanannya tidak bisa melihat total dan mata kiri tinggal 20%. Tetapi jika ditanya ia hanya bilang ‘buram’ untuk menghindari operasi. Mama takut gagal operasi seperti pengalaman temannya yang harus tergantung dengan air mata buatan.

Membiarkan hanya akan membuat kondisi memburuk. Sungguh penuh risiko. Belum tentu masih ada kesempatan untuk memulihkannya.

Baca Juga: Sahabat Saya Meninggal, Konon Ia Kena Kutuk. Ramalan, Kutukan, Santet, Feng Shui, Bagaimana Menyikapinya?



2. Hadapi Rasa Takut dengan Tegar dan Ambil Pilihan yang Terbaik

[Image: onfaith.co]

Akhirnya kami sekeluarga sepakat ‘memaksa’ Mama untuk operasi mata kanan dulu. Nothing to lose, karena saat ini mata kanan memang sudah ‘buta’.

Upaya pertama adalah mencari info dari teman-teman untuk menentukan dokter yang ahli dan berpengalaman menangani kasus operasi mata yang berat. Sambil mempersiapkan mental Mama, kami mengambil waktu beberapa minggu untuk menjaga makanan Mama supaya gula darahnya rendah. Ia pun rutin diberi asupan berbagai vitamin.

Saya mencari info lebih lanjut penyebab gagalnya operasi teman Mama. Ternyata kasusnya berbeda dan saya mendapatkan banyak tips untuk mencegah kegagalan operasi.

Beruntung dokter yang kami pilih, selain seorang spesialis syaraf mata yang ahli, juga komunikatif dan baik. Ketika mendapat info dari mama seorang teman yang matanya dioperasi tanpa ada luka, saya segera bertanya pada sang dokter. Beliau menjelaskan bahwa kalau kasusnya katarak tetap ada luka kecil untuk mengeluarkan kataraknya dan memasang lensa kecil. Mata hanya akan ditutup sehari lalu keesokan harinya dibuka. Sedangkan kasus mamanya teman, adalah komplikasi di retina sehingga cukup dibakar dengan sinar laser, tanpa harus ditutup matanya.

Pada saat menunggu giliran konsultasi sebelum operasi, saya mengobrol dengan seorang ibu yang kontrol setelah operasi minggu sebelumnya. Kasusnya ternyata lebih parah. Selain menderita diabetes, tekanan darahnya pun naik turun cukup drastis, maka operasi sempat ditunda, menanti hingga tekanan darahnya stabil. Baru pada kesempatan kedua, operasi bisa dilakukan dan hasilnya sukses. Oh, ternyata banyak kasus yang lebih parah dari Mama pun sukses.

Tuhan memberikan ‘peneguhan-Nya’. Kami jadi berbesar hati, semakin yakin.

Informasi yang jelas dan lengkap memupuskan rasa takut serta meneguhkan iman.

Ketakutan besar yang dihadapi dengan tegar akan semakin mengecil.

Mama pun antusias, ingin segera operasi.

Baca Juga: Memilih Mempertahankan Kandungan meski Janin Tak Berkembang Baik. Sebuah Pelajaran Berharga tentang Hidup yang Diperoleh dari Mengalami Kehilangan



3. Do Our Best and Let God Do the Rest

[Image: scoopnest.com]
Serahkanlah kekhawatiran kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara kita!
Kemampuan manusia memang terbatas tetapi kita memiliki Allah yang tak terbatas.

Setelah melakukan upaya terbaik, maka serahkan segalanya pada kedaulatan Tuhan.

Allah mengasihi kita melebihi kemampuan kita untuk mengasihi diri sendiri. Rancangan-Nya senantiasa yang terbaik bagi masa depan kita. Apalagi yang harus kita khawatirkan?

Hasil operasi Mama sangat baik. Beliau senang bisa melihat lagi dengan jelas. Sekarang, ia tidak sabar menantikan operasi mata kirinya yang akan dilakukan dua atau tiga bulan lagi.

Baca Juga: Hidup Saleh Malah Banyak Masalah. Jika Orang Baik Hidup Menderita, Percumakah Percaya kepada Allah?



"Tidak mengambil keputusan sama saja dengan
membiarkan keadaan atau orang lain yang memutuskan,"
demikian ungkapan para bijak.

Terbukti. Dokter yang memutuskan, malam itu Anies harus operasi di pahanya. Keadaan pula yang akhirnya memutuskan, ia tidak bisa operasi jantung.

Ambil keputusan terbaik selagi masih ada waktu. Lebih baik kita yang memegang kendali atas hidup kita sendiri daripada menyerahkannya pada orang lain atau keadaan.

Kalahkan rasa takut dan cemas dengan berani. Bersama Tuhan tidak ada yang mustahil!


"Fear is the brain's way of saying that there is something important for you to overcome."

- Rachel Huber



Baca Juga:

Tak Berani Mengambil Risiko? Takut Menghadapi Kegagalan? Satu Pertanyaan Penting Ini Akan Membantumu Mengalahkan Rasa Takut dan Melangkah Maju

Masa Lalu Suram, Masa Kini Terasa Berat? Melangkah Maju dan Yakinlah, Ada 4 Hal Indah di Balik Tiap Kepahitan yang Kamu Alami

Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga Ini




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jangan Biarkan Orang Lain atau Keadaan Mengendalikan Hidupmu. Kalahkan Ketakutan, Beranilah Mengambil Keputusan!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yenny Indra | @yennyindra

YennyIndra memiliki passion untuk menginspirasi pembacanya agar mengalami peningkatan kualitas hidup, dengan cara memahami prinsip kehidupan yang benar. Menata cara berpikir adalah concern-nya. Ibu 4 anak ini aktif menjalankan family business. Keluarga

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar