Tak Selalu Menangis Berarti Lemah. Menangislah Kapan pun Hatimu Memerlukannya. Bukankah Kita Memang Cuma Manusia?

Reflections & Inspirations

[Image: Psychology Today]

3.9K
Kalau memang menangis itu salah, mengapa Tuhan menciptakan manusia berair mata?

Waktu kecil saya termasuk anak yang cengeng. “Sudah besar kok nangis,” adalah kalimat yang sering ditujukan kepada saya. Tanpa sadar, konsep ini tertanam di dalam diri, menangis itu haknya bayi atau anak kecil, tidak boleh dilakukan oleh anak besar.

Ketika beranjak dewasa, kalimat lain lagi yang sering saya dengar, “Laki-laki harus kuat. Tidak boleh menangis.” Tentu sebagai laki-laki sejati, saya harus ingat dan lakukan nasihat ini. Pantang ada air menetes dari mata seorang laki-laki.

Seiring dengan bertambahnya usia, saya pun bertemu dengan banyak peristiwa kedukaan. Entah mengapa, mereka yang paling berduka justru seringnya berkata, “Aku memang berduka, tetapi aku tidak boleh menangis.” Mengapa? Supaya yang lain tidak ikut merasa sedih. Harapannya, ketabahan itu akan menguatkan orang lain. Akhirnya, ada begitu banyak orang yang menahan tangis.

Kontras dengan itu, akhir-akhir ini saya dipertemukan dengan banyak orang 'baper'an. Mereka yang amat perasa dan mudah menangis. Mereka yang oleh banyak orang dianggap cengeng dan menjalani hidup yang begitu menyedihkan. Mungkin tak banyak yang tahu, betapa mereka sering sekali menyalahkan kegagalan menjadi manusia tangguh. Mengutuki kelembutan hati yang membuat mereka begitu mudah menitikkan air mata.


"Jangan menangis!"

Seolah itu yang diteriakkan seisi dunia kepada kita.


Tak peduli betapa hancurnya hati kita, betapa inginnya kita menumpahkan beban yang menyesakkan dada, kita harus berusaha keras menahannya. Dan ketika segenap kekuatan kita tak mampu lagi membendung rasa sedih itu, maka kita akan mencari tempat paling tersembunyi untuk sekadar melegakan kegundahan, menangis sepuas hati.

Kalau memang menangis itu salah, mengapa Tuhan menciptakan manusia berair mata? Jika menangis tak wajar, mengapa itu justru salah satu hal pertama yang dilakukan ketika seorang anak manusia lahir di dunia?

Sedih dan bahagia, tawa dan tangis, bukankah keduanya bagian dari kehidupan kita? Selalu akan ada waktu ketika kita tak bisa menahan air mata. Jika demikian, air mata seperti apa yang layak kita teteskan?



Air Mata Keberserahan

Menangis sering dianggap sebagai tanda kelemahan. Namun, bukankah memang begitulah keadaan kita? Manusia yang fana, rapuh dan penuh keterbatasan.

Suatu ketika, kita semua akan tiba pada titik di mana kita harus mengakui, kita memang tidak bisa mengendalikan semua hal dalam hidup.

Adakalanya tembok tebal menghadang. Kaki kita pun terhenti, kita tak bisa melangkah lagi.

Akan tetapi justru di dalam kelemahan itulah kita bisa melihat ada Tuhan yang kuat dan berkuasa atas hidup kita. Saat itulah air mata kita boleh menetes. Air mata keberserahan penuh.

[Image: The Daily Star]

Aku yang lemah sudah tidak sanggup melangkah lagi, aku hanya bisa berserah penuh kepada Tuhan, Sang Pemilik hidup.

Itulah air mata yang seringkali menetes di sela bait-bait doa. Air mata yang menetes ketika mulut kita tak sanggup mengucap bahkan sepatah kata.

Saat itulah akan ada kelegaan yang besar di dalam jiwa kita. Kelegaan karena tahu, bahwa tanpa perlu berkata-kata, air mata mampu berbahasa. Ada Dia yang tahu arti setiap tetesan air mata. Dia mengerti apa pun isi hati kita.

Baca Juga: Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga Ini



Air Mata Keberanian

Menangis kadang juga identik dengan kekalahan. Padahal tidak selalu air mata meleleh karena kalah. Bisa jadi justru karena tahu, ada sebuah kemenangan besar menanti di balik sana. Air mata bisa menetes di dalam haru karena mengucap syukur akan hal besar yang akan kita jalani di depan.

Tangisan yang bernilai kebanggaan, karena kita berani keluar dari zona nyaman. Tangisan karena aku mampu membuat keputusan penting bagi keluargaku. Meskipun kadang terselip kegentaran, tetapi ada keyakinan, Tuhan mempercayakan sebuah hidup yang luhur untuk aku jalani. Sesuatu yang mungkin melampui batas kekuatanku, tetapi aku yakin Dia akan selalu menyertaiku.

[Image: yalescientific.com]

Air mata yang menetes karena kita berani.

Air mata yang tidak perlu disembunyikan. Air mata yang bisa menginspirasi orang lain untuk bisa memiliki keberanian yang sama. Dan bukan sesuatu yang memalukan untuk kita menangis bersama, ketika melihat tujuan mulia yang hendak kita kejar bersama.

Baca Juga: Untukmu yang Merasa Gagal dalam Hidup: Inilah 3 Inspirasi dari Mereka yang Berhasil Melampaui Keterbatasan, Bangkit dari Keterpurukan dan Keluar sebagai Pemenang



Air Mata Kepedulian

Kenapa harus merasa malu jika kita memang sangat perasa? Perasaan tidak selalu bermakna buruk jika bisa dikelola dengan baik.

Memiliki hati yang bisa merasa, bukankah itu satu pemberian Ilahi yang patut disyukuri? Mereka yang berhati lembut biasanya memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap sesama. Manusia-manusia ini mudah menempatkan diri di posisi orang lain dan selalu memiliki empati. Merekalah yang mampu menangis bersama dengan orang yang sedang menangis. Dalam kelembutan mereka, tersimpan kekuatan luar biasa.

Setiap air mata yang menetes sebagai tanda kepedulian adalah sebuah pesan: kita tidak sendirian.
[Image: shutterstock]

Lewat air mata yang kita teteskan, kita pun mengirimkan pesan yang sama, "Kamu tidak sendirian."

Semoga dengan air mata yang kita teteskan, ada orang yang akan dihiburkan dan tahu bahwa Tuhan pun ada bersama dengan mereka yang sedang berduka.


[Image: yeahthatscene.wordpress.com]

Menangislah.



Baca Juga:

Rahasia di Balik Tangisan Ahok: 5 Alasan Mengapa Seorang Pria Menangis

Kata Siapa Pria Tidak Bisa Menangis? Inilah 6 Peristiwa yang Dapat Membuat Pria Meneteskan Air Mata

Biarkan Anak Anda Menangis: 5 Rahasia Kehidupan yang Terungkap Lewat Air Mata



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tak Selalu Menangis Berarti Lemah. Menangislah Kapan pun Hatimu Memerlukannya. Bukankah Kita Memang Cuma Manusia?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Davy Hartanto | @davyedwin

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar