"Saya ingin Anak Saya Bangga pada Ayahnya" Sebuah Kisah Nyata tentang Ungkapan Cinta Ayah yang Tak Mewujud dalam Kata

Reflections & Inspirations

photo credit: pexels.com

4.8K
Pria, ayah, seringkali memang tak terampil merangkai kata di hadapan anak dan istri untuk mengungkapkan isi hatinya. Barangkali itulah mengapa banyak pria jarang mengungkapkan cinta dengan kata-kata.

“Mas, mau pulang ke Jawa? Ke kota apa?” tanyaku ketika kami bertemu pandang

“Malang, Mas. Kepanjen,” jawabnya.

Kami bertemu di antrian menuju pesawat berbiaya murah di KLIA 2. Pesawat yang hendak terbang menuju ke Surabaya itu kemungkinan besar 80% penumpangnya adalah tenaga kerja Indonesia di Malaysia.

Percakapan selanjutnya berlangsung dalam bahasa Jawa Timuran. Saya tuliskan dalam bahasa Indonesianya.

“Mas, mainan seperti itu banyak yang jual kok di Surabaya,” kataku sambil menunjuk mainan robot-robotan yang dibawanya ke pesawat.

“Ya, beda Mas. Ini dibelinya di Malaysia, bukan di Indonesia. Dari luar negeri untuk anak saya,” jawabnya.

Saya tak ingin merusak kebanggaan dan sukacitanya dengan menyampaikan bahwa mainan robot-robotan itu sebenarnya made in China yang bisa dengan mudah ditemui di toko-toko mainan kecil di Indonesia. Tentu, dengan harga yang lebih murah.

Antrian naik pesawat menjadi tak beraturan. Pengumuman bahwa nomor kursi sekian yang masuk duluan, sehingga yang telah mengantri menjadi tak ada arti. Orang-orang menerobos antrian dengan seenaknya. Ah, barangkali memang takut tak kebagian tempat untuk menaruh luggage.

“Mbak, ini seharusnya nomor tempat duduk saya,” kata saya pada seorang perempuan muda.

“Enggak apa-apa mas, pilih sembarang saja asal nomornya sama,” jawab wanita itu.

Saya menengok ke sekeliling dan menemukan ada satu tempat duduk kosong, tepat di sebelah pria yang membawa mainan untuk anaknya itu. Bukan kebetulan, bukan?

Pria itu, sebut saja namanya Yanto, usianya ternyata hanya dua tahun lebih muda dari saya. Tiga tahun yang lalu, ia meninggalkan Malang untuk bekerja di Malaysia. Ya, tiga tahun saat anaknya yang kedua baru berumur sebulan.

Yanto menceritakan perjalanan hidupnya sembari berjuang untuk menahan agar air matanya tak jatuh. Di balik penampilannya yang terlihat mirip rocker itu, ternyata ia juga adalah seorang ayah. Ayah yang tak mampu bertahan di tengah gempuran rindu anak dan istri.

Di tengah penerbangan itu, Yanto tertarik untuk membeli mainan pesawat-pesawatan yang dijual pihak maskapai. Bukan mainan yang luar biasa menurut saya. Mainan yang sama bisa didapatkan di luar dengan harga yang lebih murah.

“Ini belinya di pesawat terbang, Mas. Anak saya pasti senang sekali,” jawabnya sambil menoleh ke arah saya. Seakan ia mengerti keberatan saya dengan tindakan membeli mainan di pesawat itu.

“Hari-hari pertama kerja di Malaysia, saya nangis terus, Mas. Pingin pulang. Begitu pula ketika anak saya sudah mulai belajar bicara. Wah, makin pingin pulang saya. Tapi, saya paksa bertahan. Saya mau pulang dengan membawa uang. Saya mau pulang dengan membawa mainan untuk anak saya pertama dan kedua. Khususnya untuk anak kedua yang saya tinggal waktu umur sebulan itu,” kisah kehidupan ini mengalir begitu saja.

“Oh, jadi Mas belikan mainan supaya anak bisa senang ya?” jawab saya.

Ia menengok ke arah saya, menatap saya sambil berkata, "Bukan sekadar supaya senang, mas. Tapi, supaya anak saya tahu kalau ayahnya itu sayang padanya."

Saya terdiam. Mencoba meresapi kata-katanya.

“Saya ingin anak saya bisa bermain dengan tetangga sambil menunjukkan kalau mainannya itu dari luar negeri. Saya ingin anak saya bangga pada ayahnya,” jawabnya mantap

Pria. Ayah. Kadangkala memang tak terampil merangkai kata di hadapan anak dan istri untuk mengungkapkan isi hatinya. Itu sebabnya barangkali banyak pria jarang mengungkapkan cinta dengan kata-kata.

Seorang ayah mengungkapkan cintanya melalui tindakan dan karya. Itulah ungkapan cinta yang paling tulus dari seorang pria.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel ""Saya ingin Anak Saya Bangga pada Ayahnya" Sebuah Kisah Nyata tentang Ungkapan Cinta Ayah yang Tak Mewujud dalam Kata". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar