Tak Bisa Dibeli, Hanya Bisa Diraih. Loyalitas Relasi, Begini Cara Meraihnya

Reflections & Inspirations

[Photo credit: sestek]

4.3K
Selalu menarik, bukan, melihat cara kerja para pemimpin?

Saya suka membaca berita tentang tantangan dan permasalahan yang muncul di kehidupan kita sehari-hari. Soal gangguan satelit Telkom yang baru-baru ini terjadi, contohnya.

Semakin besar permasalahan, semakin besar pula kemungkinan pemimpin tertinggi dari sebuah organisasi untuk turun tangan, menangani dan menyelesaikan masalah tersebut. Bagi saya yang terus belajar untuk memimpin, ini adalah sebuah kesempatan yang baik. Saya bisa belajar dari mereka yang jauh lebih ahli dengan permasalahan dan risiko yang jauh lebih besar.



Wajar, jika memposisikan diri sebagai korban kondisi.

Pada gangguan mesin Anjungan Tunai Mandiri [ATM] kali ini, pimpinan Telkom dengan segera mengatakan bahwa gangguan tersebut muncul dari anomali yang terjadi pada satelit Telkom 1. Bukan saja meminta maaf, mereka juga bekerja secepat mungkin untuk menjaga kepentingan kita, kamu dan saya, para pengguna ATM di berbagai daerah. Untuk itu, saya salut kepada mereka.

Akan tetapi, sementara mereka berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut, sejumlah nasabah dari Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BCA terus mengalami ketidaknyamanan. Ada harga yang harus para nasabah tanggung untuk gangguan ini.

Setelah menerima penjelasan dari Telkom, kita sebagai nasabah tentunya paham, gangguan yang terjadi bukanlah dikarenakan kesalahan pihak bank. Oleh sebab itu, wajar bila bank-bank tersebut memposisikan diri sebagai korban dari kondisi yang ada.



Namun ternyata, tidak semua berpikir sama.

Hanya saja, tidak semua bank berpikir demikian. Bersama dengan segenap jajaran pimpinan Bank Central Asia [BCA], Bapak Jahja Setiaatmadja, selaku presiden direktur BCA melihat masalah ini dari sisi nasabah. Dengan komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi para nasabah, mereka mengambil langkah, mencari solusi dan tidak pasif berdiam diri.

Solusi yang diambil tentunya haruslah memudahkan para nasabah. Mereka harus tetap dapat mengambil uang dan menggunakan ATM kapan saja, termasuk ketika mesin ATM BCA sendiri tidak dapat beroperasi.

Tidak sampai 24 jam setelah masalah muncul, Pak Jahja sudah hadir dengan sebuah solusi untuk para nasabah BCA. Beliau mengatakan, dalam kurun waktu sekitar 2-3 minggu ke depan, semua nasabah akan dibebaskan dari biaya tarik tunai ketika melakukan transaksi di ATM bank lain.

[Photo credit: wartaekonomi.co.id]

Keputusan - yang kemungkinan harus menelan biaya hingga 70 miliar rupiah ini - dibuat karena manajemen mengutamakan kepentingan nasabah. Para pemimpin itu tidak ingin kegiatan harian nasabah mereka terganggu oleh masalah yang berada di luar kontrol mereka.

Menarik, bukan, melihat cara kerja para pemimpin organisasi berskala nasional seperti mereka?

Baca Juga: Jangan Hanya Ngefans, Teladani 5 Gaya Kerja Ahok Ini untuk Indonesia yang Lebih Baik!



Bagi saya, poin pembelajarannya ada dua:

1. Ketika ada masalah, waktu untuk merespons dan memberi penjelasan itu sangat penting. Lebih cepat dan jelas, lebih baik buat kita yang berada di bawah.

2. Tidak ada iklan atau promosi apa pun yang bisa meyakinkan konsumen/nasabah bahwa sebuah perusahaan berpihak pada mereka dibandingkan keputusan yang dibuat pimpinan perusahaan tatkala sebuah masalah terjadi.


Mari, dari mereka, kita belajar untuk menjadi pemimpin yang lebih baik.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tak Bisa Dibeli, Hanya Bisa Diraih. Loyalitas Relasi, Begini Cara Meraihnya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar