Tak Berani Mengambil Risiko? Takut Menghadapi Kegagalan? Satu Pertanyaan Penting ini Akan Membantumu Mengalahkan Rasa Takut dan Melangkah Maju

Reflections & Inspirations

[Image: discover.sap.com]

3.6K
Bila kamu tidak mengalahkan rasa takutmu, maka kamu akan kehilangan banyak hal luar biasa dalam hidup ini.

Liburan sekolah yang lalu, saya mengajak Sammy - anak kami yang berusia 6 tahun - berlibur ke Surabaya. Di sana berdomisili keluarga adik-adik saya, yang kebetulan juga memiliki anak-anak berusia seumuran, sehingga Sammy bisa bermain bersama-sama dengan mereka.

Suatu hari, kami mengajak mereka ke Chipmunks - sebuah tempat bermain anak-anak yang berlokasi di sebuah mall. Setelah masuk, mereka pun berlarian dengan gembira dan segera menikmati satu per satu permainan yang tersedia.

Setelah hampir 30 menit bermain luncuran, memanjat, dan berlari-lari, kepada saya - yang baru pertama kali ke Chipmunks - diperlihatkan sebuah luncuran paling curam yang ada di arena main tersebut. Adik saya menyarankan saya untuk mengajak Sammy dan anak-anak lain untuk bermain luncuran tersebut.

[Image: Koleksi Pribadi Penulis]

Dengan bersemangat, saya memanggil Sammy dan menawarkan kepadanya untuk mencoba luncuran itu. Saya berpikir, bila ia sudah berani bermain luncuran itu, maka akan lebih mudah untuk mengajak sepupu-sepupunya yang lebih kecil darinya untuk ikut bermain.

Kami pun menuju tangga di samping dan mulai memanjat. Sammy meminta saya menemaninya naik. Karena semua permainan di Chipmunks bisa dimainkan juga oleh orang dewasa, maka saya dengan bersemangat mengikutinya memanjat dari belakang.

[Image: Koleksi Pribadi Penulis]

Sesampainya di atas, Sammy menoleh ke belakang. Dan seketika itu pula, hatinya menjadi ciut. Curamnya tangga yang baru kami naiki itu telah membuatnya takut. Terus terang, saya sendiri juga kaget dengan betapa tinggi dan curamnya luncuran itu.

[Image: Koleksi Pribadi Penulis]

Kami kemudian melangkah ke bagian tengah luncuran dengan berhati-hati. Dan segera setelah mengarahkan pandangan ke bawah, kami berdua pun terdiam. Saat itu, hanya kami berdua yang ada di atas. Dalam hening, kami berdua saling memandang, dan saya menemukan kegentaran terpancar dari mata Sammy.

[Image: Koleksi Pribadi Penulis]

Itulah sebabnya saya tidak terlalu terkejut ketika mendengar kata-kata ini keluar dari mulut Sammy, “Pa, Sammy tidak mau main. Sammy mau turun saja.” Ia nampak begitu gentar.

“Kita duduk saja dulu, nanti lihat lagi,” jawab saya kepadanya. Saya berharap bahwa setelah menenangkan diri, keberaniannya akan muncul kembali. Tetapi karena ia terus memaksa untuk turun, maka kami pun bergerak kembali ke tangga naik tadi.

Ketika hendak turun, kami melihat dua anak seusia Sammy sedang memanjat naik. Dan karena itu, saya berkata, “Sammy, kita tunggu dulu ya. Biarkan mereka naik.”

Kami pun duduk, mengamati mereka naik dengan lincahnya. Sesampainya di atas, mereka dengan segera berjalan, mengambil posisi duduk, bersiap, dan kemudian meluncur turun. Mereka turun sambil berteriak kegirangan, penuh sukacita. Dan, begitu sampai di bawah, mereka kembali berlari naik ke atas untuk meluncur lagi.

Setelah menyaksikan dua anak itu bermain dengan riang, semangat Sammy - yang tadinya sudah sirna itu - kembali muncul. Dan, ketika saya kembali mengajaknya untuk mencoba, kali ini ia tidak langsung menolak. Ia terus memerhatikan anak-anak itu dan setelah berpikir sesaat, ia berkata, “Papa temani ya?”

Ia kemudian duduk di pangkuan saya dan dengan posisi memeluk dia dari belakang, kami berdua pun meluncur turun.

Dalam sekejap, kekhawatiran dan ketakutan yang tadi membayanginya tergantikan dengan excitement dan sukacita yang besar. Sesampainya di bawah, Sammy dengan raut muka yang begitu gembira menunjukkan kesenangannya dan kemudian mengajak saya naik lagi untuk bermain. Setelah itu, ia dengan berani, tanpa rasa takut sedikit pun, menikmati luncuran paling curam yang ada di Chipmunks.


Sobatku,

dalam proses bertumbuh, meniti karier, dan menyambut hari esok, seringkali kita juga dihinggapi dengan perasaan yang sama seperti yang muncul ketika Sammy pertama kali berada di atas luncuran curam itu dan menatap ke bawah. Kekhawatiran akan risiko yang mungkin terjadi mengisap seluruh energi kita. Melumpuhkan. Membuat kita menjadi takut untuk mengambil keputusan, untuk menghadapi risiko yang mungkin akan muncul.

Berapa banyak dari kita yang memiliki ide-ide yang luar biasa, tetapi kemudian memilih untuk diam di tempat dan tak mau melangkah? Berapa banyak orang yang kita kenal yang mengubur dalam-dalam potensi mereka, hanya karena orang-orang di sekeliling mereka berkata bahwa mimpi itu terlalu tinggi untuk digapai? Bukankah kita mengenal orang-orang yang selalu mengeluh tentang kondisi perusahaan mereka, tetapi enggan mengubah kebiasaan buruk yang ada? Dan berapa banyak orang yang berkata bahwa Indonesia ini perlu perubahan demi kemajuan, lalu berharap agar pemimpin negara/daerah yang telah dipilih mampu melakukan perubahan itu, sementara ketika perubahan itu mengganggu kenyamanan dan mengharuskan kita berubah, kita malah mengomel - bukannya bergerak untuk berubah?

Alasan yang melatarbelakangi kebanyakan orang memilih diam dan menguburkan ide-ide mereka adalah ketakutan akan ketidakpastian yang ada di depan.

Mereka tidak yakin bahwa ide itu akan berhasil. Mereka takut diremehkan dan ditertawakan. Mereka tidak mau keluar dari zona nyaman mereka. Mereka berpikir:

Luncuran di depan terlalu curam untuk dijalani.

Tetapi sebagian orang lain bukan hanya punya ide, mereka juga mewujudkan ide itu. Mereka berani melangkah. Mereka berani mengambil risiko. Mereka berani bersuara dan menyampaikan pendapat kepada atasan mereka. Mereka berani memberikan waktu, tenaga, dan uang untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Tidak sedikit dari mereka yang pada akhirnya menemukan jalan buntu. Tidak sedikit pula yang terjatuh dan terluka; menderita kerugian dan menerima cemooh dari lingkungan. Tetapi mereka kemudian bangun dan mencoba lagi.

Apakah yang membedakan kelompok orang yang pertama dengan yang kedua? Apakah orang-orang yang berani melangkah ini tidak memiliki rasa takut? Apakah mereka tidak gentar dengan ketidakpastian dan kemungkinan gagal yang menentang mereka dari depan?

Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman meluncur bersama anak saya ini mungkin bisa membantu kita untuk lebih memahami perbedaan yang ada. Dan lewat satu pertanyaan yang akan saya bagikan, saya berharap kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang lebih berani untuk bertindak ketika ketidakpastian menunggu kita di depan, ketika langkah maju kita seakan membawa kita jatuh ke jurang yang dalam.


Berani bukan berarti tidak memiliki rasa takut

Kelompok pemberani ini bukanlah orang-orang yang tidak memiliki rasa takut. Bila ditanyakan kepada mereka, maka mereka akan menjawab bahwa ketakutan dan kekhawatiran yang sama itu juga datang menghampiri mereka. Tetapi mereka tidak berhenti di situ. Mereka tidak membiarkan rasa takut menguasai, apalagi membuat mereka turun meninggalkan tangga luncuran itu.

Mereka mengambil kendali atas pikiran mereka dan mengarahkan pikiran mereka ke hal yang lain.

Sama seperti ketakutan dalam diri Sammy yang perlahan menghilang setelah melihat anak lain meluncur dengan sukacita, para pemberani ini mengarahkan pikiran mereka kepada kenikmatan dan kesuksesan yang akan muncul bila mereka menyelusur, keluar dari zona nyaman mereka. Para pemberani ini mengingat bahwa keinginan untuk berubah akan membawa mereka kepada kondisi yang lebih baik.

Dan, dengan mengarahkan hati untuk memandang visi yang dikejar, keberanian itu akan berjaya - mengalahkan ketakutan yang ada.

Sepulangnya kami dari Chipmunks, Sammy masih terus mengulang kembali betapa ia amat menikmati waktu-waktu bermain dengan luncuran yang tinggi itu. Dan saya jadi membayangkan, betapa besarnya kerugian yang akan kami alami bila tadi permainan itu tidak jadi kami mainkan. Saya membayangkan pengalaman dan kegembiraan yang tidak bisa dinikmati seandainya ketakutan tadi menang dan Sammy tidak berani untuk bermain.

Ketika kita ingin membangkitkan keberanian dalam diri kita dan meniru para pelopor dan pemrakarsa perubahan, salah satu pertanyaan yang bisa kita tanyakan kepada diri kita di saat-saat kebimbangan itu menyerang adalah:

Apakah keputusan ini akan menjadi salah satu keputusan yang membuat kita berkata, “Untung tadi kita lakukan!” setelah semuanya berakhir?

Pernahkah kita memiliki pengalaman demikian? Ketika kita untuk pertama kalinya mencoba makan sushi mentah atau mungkin ditawari steak medium rare - dengan darah yang masih nampak di serat-serat daging. Kita merasa aneh, tidak nyaman, tetapi setelah kita makan dan merasakan surga di mulut kita, semuanya menjadi tidak sama lagi. Atau ketika kita gemetar, ketika ditantang untuk melakukan bungee jumping atau flying fox, tetapi kemudian mendapati bahwa tiada yang dapat menggantikan perasaan bebas dan lepas yang muncul menggantikan rasa takut itu setelah kita melakukannya. Lalu, satu hal ini akan muncul di pikiran kita: Untung tadi saya berani mencoba! Saya tidak bisa membayangkan betapa ruginya saya bila tadi menolak ajakan tersebut.

[Image: quotefancy.com]


"Apakah keputusan ini akan menjadi salah satu keputusan yang membuat kita berkata, “Untung tadi kita lakukan!” setelah semuanya berakhir?"

Cobalah ajukan pertanyaan ini kepada diri kita ketika kita mendapati ketakutan menghalangi langkah maju kita. Marilah kita mengingat pertanyaan ini dan tidak membiarkan ketidakpastian akan hari esok merampas sukacita yang akan muncul dari kita yang mencoba untuk melangkah, keluar dari zona nyaman kita.

Seorang ayah menanamkan nasihat ini kepada anak-anaknya sejak mereka kecil, “Bila kamu tidak mengalahkan rasa takutmu, maka kamu akan kehilangan banyak hal luar biasa dalam hidup ini.”

Sobatku, banyak hal luar biasa yang menanti kamu dan saya dalam hidup ini. Beranikanlah diri kita. Turuni luncuran yang curam itu. Meluncurlah!

[Image: ributrukun.com]

Kamu mungkin terluka. Permintaan maafmu mungkin dianggap remeh. Tetapi kamu juga mungkin menemukan keberhasilan. Pernyataan cintamu bisa saja ditolak. Dan bukan mustahil kamu akan ditertawakan.

Tetapi satu hal yang pasti: kamu tidak akan menjadi orang yang sama lagi.

Kamu tidak akan menyesali keputusan itu.

Kamu akan mau mengulanginya lagi, memanjat dan kembali meluncur turun.

It’s that fun!

Dan bonusnya, kamu akan punya cerita menarik untuk dibagikan di kemudian hari.


[Image: ributrukun.com]

Cheers, wahai para pemberani!



Baca Juga:

Masa Lalu Suram, Masa Kini Terasa Berat? Melangkah Maju dan Yakinlah, Ada 4 Hal Indah di Balik Tiap Kepahitan yang Kamu Alami

4 Hal Indah yang Akan Kamu Temukan setelah Mengubah Pandanganmu tentang Hidup, yang Ternyata, Tak Melulu Sekadar Soal Kompetisi

Bukan Semata tentang Tujuan, Hidup, Sesungguhnya, adalah Sebuah Perjalanan



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tak Berani Mengambil Risiko? Takut Menghadapi Kegagalan? Satu Pertanyaan Penting ini Akan Membantumu Mengalahkan Rasa Takut dan Melangkah Maju". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar