Suka Duka MengASIhi: dari Pengalaman Saya, Seorang Ibu Pejuang ASI

Parenting

[Photo credit: Rahcel Utain-Evans]

982
Ketika bayi tertidur lelap karena perutnya sudah kenyang dan ketika ia tersenyum senang dalam tidurnya, itulah hiburan terindah bagi para ibu.

Akhir-akhir ini pemerintah sedang gencar sekali mengampanyekan pemberian ASI kepada bayi-bayi yang baru lahir hingga usia minimal 6 bulan. Maksud dari kampanye ini baik tentunya, karena berdasarkan penelitian, kandungan ASI memang sudah melengkapi seluruh kebutuhan bayi tanpa perlu tambahan zat-zat lainnya. Sementara susu formula dibuat sedemikian rupa agar bisa menyerupai ASI.

Saya ingin berbagi pengalaman saya dalam hal menyusui. Bagi para ibu yang sedang menyusui, bisa jadi Anda mengalami hal yang sama. Bagi para calon ibu, saya harap tulisan saya ini bisa memberikan gambaran mengenai suka duka dalam menyusui.



Lelah tapi sebanding dengan apa yang akan didapatkan

Semenjak melahirkan putri pertama yang kini sudah berusia 2 tahun dan putri kedua saya yang masih berusia 3 bulan, rutinitas saya selama 24 jam didominasi dengan menyusui dan memompa ASI.

Lelah? Tentu saja. Jenuh? Apalagi!

Sewaktu baru lahir, bayi akan menyusu paling tidak dua jam sekali, itu artinya dalam satu hari bisa saja dia menyusu sebanyak 12 kali. Aktivitas Anda akan berubah total dari yang selama hamil bebas tidur sepuasnya atau berjalan-jalan santai dengan keluarga, menjadi harus menyusui bayi Anda terus menerus.

Jam tidur Anda berantakan. Mau jalan-jalan? Ah, mana mungkin ada tenaga untuk hal-hal semacam itu. Untuk mandi saja kadang harus curi-curi waktu. Harus saya akui, lelahnya bukan main!

Lalu senangnya di mana?
Ketika bayi tertidur lelap karena perutnya sudah kenyang dan ketika ia tersenyum senang dalam tidurnya, itulah hiburan terindah bagi para ibu.
[Photo credit: npr.org]

Dan Ibu boleh yakin, Ibu telah memberikan makanan yang terbaik dengan gizi terlengkap kepada si kecil. Ibu mana yang tidak senang melihat anaknya tumbuh dengan sehat, aktif, dan lincah?

Baca Juga: Walau Melelahkan, Saya Memilih Mengurus Anak Tanpa Baby Sitter. Ini 3 Hal yang Selalu Memotivasi Saya



Bagaimana dengan susu formula?

[Photo credit: Getty Images]

Bayi dengan susu formula tidur lebih lama dibandingkan bayi yang meminum ASI karena ASI lebih mudah dicerna oleh tubuh.

Sebenarnya tidak ada masalah jika seorang ibu memutuskan untuk memberikan susu formula kepada bayinya. Setiap ibu pasti memiliki banyak pertimbangan sebelum menentukan yang terbaik bagi dirinya dan terlebih lagi bagi bayinya.

Akan tetapi, perlu diingat, kuantitas produksi ASI dipengaruhi oleh sering tidaknya bayi menyusu. Jadi, jika Ibu ingin memberikan tambahan susu formula kepada bayi, produksi ASI Ibu pasti menjadi akan menurun, menjadi lebih sedikit hingga lama kelamaan berhenti sama sekali ketika Ibu sudah tidak lagi memberikan ASI kepada sang bayi. Oleh karena itu, pertimbangkan dulu baik-baik sebelum Ibu memutuskan memberikan tambahan susu formula kepada bayi.



Jika terlalu lelah, jangan segan meminta bantuan

Jangan memaksakan diri. Di Indonesia memang ada budaya sungkan. Sungkan mau minta tolong pada orang lain, padahal diri sendiri sudah berada di ambang batas.

Akibatnya? Jika Ibu jatuh sakit, bayi - apalagi yang masih kecil - sangat rawan tertular. Kasihan, kan, jika bayi yang terlalu kecil harus meminum obat-obatan.

Oleh karena itu, jangan sungkan meminta bantuan. Saya sendiri sering meminta bantuan Ibu saya. Meskipun terkadang Ibu saya membantu dengan terpaksa dan akhirnya saya diomeli, tapi tetaplah, bantuan sekecil apa pun terasa amat berharga. Paling tidak saya bisa mandi sejenak, makan dengan tenang tanpa khawatir jika si kecil menangis, dan mungkin tidur setengah hingga satu jam jika beruntung.

[Photo credit: sleepingshouldbeeasy]
Mintalah bantuan. Tidak ada salahnya meminta bantuan. Jika Ibu sehat, ASI pun pasti cukup bagi sang bayi.

Baca Juga: Segala Sesuatu yang Perlu Diketahui tentang Baby Blues Syndrome, Mimpi Buruk bagi Para Ibu Baru



Duh, ASI tidak keluar, ASI tidak kental, bayi tidak mau ASI, bayi alergi ASI ...

[Photo credit: Medela Moments]

Banyak sekali alasan yang dikemukakan oleh para Ibu yang akhirnya lebih memilih susu formula. Sekali lagi saya katakan, tidak salah Ibu memberi susu formula. Akan tetapi, harus dipastikan terlebih dahulu, apakah alasan-alasan tersebut benar-benar menjadi penyebab bayi tidak bisa mendapatkan ASI?

Jika ASI tidak keluar, coba konsultasikan dengan dokter kandungan. Biasanya dokter akan meresepkan obat untuk meningkatkan produksi ASI. Kadang-kadang, stres juga bisa menjadi penyebab ASI Ibu tidak keluar. Oleh karena itu, usahakan untuk tidak stres.

Nikmati setiap momen bersama si kecil. Hati yang gembira adalah obat terbaik untuk melancarkan ASI.

Banyak Ibu yang mengeluh ASI-nya terlalu cair sehingga tidak bergizi dan tidak mengenyangkan bayinya. Ini tidak benar. Bagaimana pun bentuknya, ASI memiliki kandungan gizi yang sama bagusnya untuk bayi. Bahkan, ASI mula-mula yang disebut kolostrum, bewarna jernih kadang kuning, memiliki kandungan antibodi terbaik bagi si kecil.

Bagaimana jika bayi tidak mau ASI? Saya tidak pernah menemukan bayi yang menolak meminum ASI. Jika bayi tidak mau menyusu secara langsung, bisa juga diberikan ASI perahan. Bayi kesulitan menyusu langsung pun banyak sebabnya, Ibu bisa berkonsultasi ke konsultan laktasi untuk mengatasi problem ini.

Bayi alergi ASI? Ini salah kaprah. Tidak ada bayi yang alergi ASI. Penyebab alergi tersebut adalah makanan yang baru saja dikonsumsi oleh sang Ibu. Oleh karena itu, jika Ibu memutuskan untuk menyusui, maka Ibu perlu berhati-hati dalam memilh makanan untuk dikonsumsi.

Jika Ibu bekerja, ASI bisa dipompa dan disimpan untuk diberikan kepada sang bayi. Rajin memompa setiap paling tidak dua jam sekali akan membantu menjaga stabilnya produksi ASI. Jangan khawatir, saya mengenal banyak Ibu yang bekerja namun tetap memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.



Memberi ASI adalah memberikan cinta

[Photo credit: shutterstock]

Tahukah Ibu, memberikan ASI sama dengan memberikan cinta? Proses keluarnya ASI dipicu oleh hormon oxytocin atau yang disebut dengan hormon cinta. Itulah sebabnya Ibu akan merasa sangat nyaman dan tidak jarang juga menjadi mengantuk ketika menyusui si kecil.

Baca Juga: Bayi Sering Digendong dan Dipeluk: Bau Tangan, Manja, atau Justru, Sehat Jiwa Raga?



Nikmati setiap momen

[Photo credit: Shutterstock]

Karena setiap momen berharga, ketika momen ini berlalu tidak mungkin kembali lagi. Nikmati setiap momen Ibu bersama si kecil, ketika ia sudah besar kelak Ibu pasti merindukan momen-momen seperti ini. Dan percayalah, si kecil akan dengan sangat cepat bertumbuh, dalam sekejap mata ia sudah bukan lagi bayi kecil yang hanya bisa menangis dan meminta Ibu menggendongnya setiap waktu.

Apa pun pilihan Ibu, berikanlah yang terbaik. Dan bila Ibu memilih untuk memberikan ASI, maka jangan lekas putus asa. Lelah memang, tapi Ibu akan merasa setiap perjuangan memberikan kepuasan tersendiri, apalagi ketika si kecil tumbuh menjadi anak yang aktif dan sehat.

Rawatlah si kecil dengan penuh cinta. Cinta akan memberikan kekuatan kepada Ibu ketika Ibu merasa lelah.

Yakinlah, ASI adalah makanan terbaik bagi bayi yang memberi banyak manfaat bagi tumbuh kembangnya dan juga bagi kesehatannya.

Baca juga: Menjadi Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus, Ini Kekuatan dan Keunikan Kami


Catatan:

Jika ASI ibu berlebih, maka ASI bisa didonasikan kepada bayi-bayi yang membutuhkan, dengan syarat kondisi Ibu dan bayi dalam keadaan sehat, tidak mengonsumsi obat-obatan, minuman keras, dan tidak merokok. Setetes ASI yang Ibu berikan akan sangat bermanfaat bagi kehidupan bayi-bayi yang menerimanya.


Selamat mengASIhi!





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Suka Duka MengASIhi: dari Pengalaman Saya, Seorang Ibu Pejuang ASI". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Beatrice Fella | @Beatricefella

A wife and a mother of two beautiful daughters.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar