RESIGN: 6 Hal yang Perlu Kamu Pertimbangkan Sebelum Memutuskan untuk Berhenti dari Pekerjaanmu Sekarang dan Berburu Pekerjaan Baru

Work & Study

[Image: blog.linkup.com]

6.6K
Yakinkah Anda bahwa dengan pengunduran diri, Anda akan memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi keluarga? Yuk, cek dulu rumus R-E-S-I-G-N ini sebelum Anda benar-benar memutuskan untuk resign!


Bertahun-tahun bekerja di posisi yang sama, di perusahaan yang sama, dapat membuat seseorang menjadi jenuh dan mulai berpikir untuk mengundurkan diri. Belum lagi segala politik kerja yang dialami, rekan-rekan kerja atau atasan yang menjengkelkan, gaji di bawah rata-rata, aturan yang terlalu ketat, pekerjaan yang overload, dan banyak lagi hal lain yang dapat mendorong seseorang untuk mulai menyusun surat pengunduran diri.

Namun, apakah benar memang semudah itu? Pilihan hidup ada di tangan kita, dan oleh karena itu konsekuensi yang menyertai pilihan itu juga tidak bisa dilepaskan dari tangan kita. Misalkan, pilihan untuk resign dengan cara elegan atau dengan kasar, pilihan untuk bertahan demi menimba ilmu atau tidak peduli - yang penting gue keluar dulu deh daripada sumpek, pilihan untuk wait and see atau asal pindah yang penting ada yang mau terima, dan berbagai pilihan-pilihan lainnya. Bagi Anda dan saya yang sudah berkeluarga, pilihan itu akan menjadi semakin berat, karena ada tanggungan keluarga yang harus Anda hidupi, terlebih apabila posisi Anda sebagai kepala keluarga. Jangan sampai Anda melakukan kecerobohan yang akhirnya hanya akan menuai penyesalan. Yakinkah Anda bahwa dengan pengunduran diri, Anda akan memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi keluarga?

Yuk, cek dulu rumus R-E-S-I-G-N ini sebelum Anda benar-benar memutuskan untuk resign!


[R]eputation

Sebagai langkah awal, cek rekam jejak dari perusahaan yang akan Anda tuju. Rekam jejak tersebut bisa meliputi beberapa hal, antara lain:

  1. Pajak| Apakah perusahaan yang Anda tuju pernah terkait dengan kasus pengemplangan pajak? Apakah perusahaan tersebut memotong pajak penghasilan [PPh] karyawan dan memberikan bukti pemotongannya kepada karyawan? Jika tidak, bersiaplah untuk menghitung dan menyetor PPh Anda sendiri ke kantor pajak.
  2. Penyerapan Produk| Selidiki juga apakah perusahaan tersebut mempunyai penyerapan produk yang lancar di pasaran? Apakah produk yang dijual cukup kompetitif, baik dari segi spesifikasi maupun harga? Seberapa luas market share perusahaan tersebut? Penyerapan produk yang lancar berarti cash flow yang lancar dan akan berpengaruh ke kepercayaan investor dan supplier.
  3. Turn Over Karyawan| Apakah cukup banyak karyawan yang mengundurkan diri dalam beberapa waktu terakhir? Kalau kira-kira sudah lebih dari 10% jumlah karyawan keluar masuk, apalagi dari departemen yang sama, maka kondisi organisasi perusahaan tersebut patut dipertanyakan. Seberapa sering timbul gesekan dengan serikat pekerja atau dengan pekerja outsourcing, juga bisa menjadi catatan buat Anda.
Mungkin beberapa hal di atas tidak terkait langsung dengan diri Anda secara personal, namun kalau kelak Anda berada pada managerial level atau di departemen HRD, finance atau procurement, hal-hal tersebut akan sedikit banyak mengusik hati nurani Anda.

Bandingkan kondisi-kondisi di atas dengan tempat kerja Anda sekarang. Jangan sampai terjadi seperti apa kata pepatah, "Keluar mulut buaya, masuk mulut harimau," atau dengan kata lain, keluar dari kantor lama dengan segala masalahnya, lalu masuk kantor baru dan ternyata mengalami masalah yang serupa karena tidak melakukan investigasi terlebih dahulu. Meskipun perusahaan baru menawarkan gaji yang jauh lebih besar dari gaji Anda sekarang, namun apabila tidak sebanding dengan besarnya tekanan yang akan dialami, Anda mungkin perlu berpikir ulang untuk mengambil tawaran tersebut.



[E]nvironment

[Image: teguhperbawa.com]

Lingkungan kerja memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kinerja Anda. Berpikirlah dengan jernih dan evaluasi lingkungan kerja Anda saat ini. Apakah memang Anda sudah benar-benar merasa tidak nyaman atau hanyalah emosi sesaat? Bagaimana kultur kerja di tempat yang baru? Anda bisa bertukar informasi dengan teman-teman sekolah atau kuliah Anda jika mungkin ada yang pernah bekerja di tempat yang akan Anda tuju tersebut.

Kenyamanan bekerja, selain gaji, adalah faktor penting yang menentukan apakah seorang karyawan betah bekerja atau tidak. Kenyamanan menentukan apakah seseorang bisa bekerja dengan optimal atau tidak.

Namun, bagaimanapun pentingnya, kenyamanan bukanlah faktor satu-satunya. Karakter diri sendiri juga harus dibentuk agar menjadi pribadi yang lebih luwes dan fleksibel dalam segala situasi, sehingga “kenyamanan” bekerja juga bisa dicapai lebih cepat.



[S]alary

[Image: vertigopolitico.com]

Penghasilan adalah hal yang sensitif bagi setiap karyawan. Dan, pada dasarnya tidak pernah ada kata puas bagi setiap manusia yang bekerja untuk hal yang satu ini. Namun, kita harus bisa menilai diri kita sendiri, berapa gaji yang pantas untuk kita, sesuai dengan posisi dan pekerjaan yang kita jalani. Anda bisa melakukan komparasi dengan posisi sejenis di perusahaan lain atau dengan membandingkan selisih gaji yang ditawarkan perusahaan baru dengan gaji Anda sekarang. Hitunglah berapa persen kenaikannya, kemudian berapa total gaji yang akan Anda terima dalam setahun. Korelasikan dengan lokasi kota tempat Anda bekerja. Biaya hidup di Jakarta tentu akan berbeda dengan hidup di Surabaya atau Yogya, misalnya. Tinggal di tengah kota, meskipun lebih dekat dengan tempat kerja tentu akan lebih mahal biayanya daripada tinggal di pinggiran kota. Meskipun demikian, Anda perlu juga mempertimbangkan waktu perjalanan ke tempat kerja, yang tentu akan lebih panjang bila Anda bekerja di pusat kota.

Jadikan diri Anda pantas untuk menerima gaji lebih besar, dengan memperbesar kapasitas diri Anda.

Kapasitas diri yang lebih besar akan memberikan kepercayaan besar bagi calon atasan baru ketika Ia mewawancarai Anda. Selain gaji, jangan lupa cek juga benefit-benefit lain yang ditawarkan, seperti tunjangan kesehatan untuk karyawan dan keluarga, jumlah cuti, fasilitas kerja, serta tunjangan transportasi. Membuat tabel sederhana akan cukup membantu dalam pengambilan keputusan.

Baca Juga: Inilah 6 Alasan Mengapa Kamu Harus Memilih untuk Bekerja Sesuai dengan Passion, Walaupun Gajinya Belum Tentu Memuaskan



[I]ndividual Achievement

[Image: managertoday.com.tw]

Apakah dengan pindah kerja Anda akan menemukan jalan yang lebih baik bagi perkembangan karier Anda? Apakah prestasi Anda sebelumnya sudah bisa menjadi portfolio yang bagus bagi Curiculum Vitae [CV] Anda? Kalau anda merasa pengalaman dan prestasi Anda belum cukup, lebih baik bertahan dulu di tempat lama dan cari pengalaman lebih banyak lagi. Anggaplah tempat kerja Anda sekarang sebagai arena latihan untuk mematangkan kemampuan dan karakter Anda, meski tidak nyaman. Namun, apabila Anda merasa bahwa ide dan pencapaian Anda kurang dihargai di tempat kerja Anda saat ini, maka melirik tempat kerja lain layak untuk Anda lakukan.

Dewasa ini, CV yang to the point memaparkan pencapaian pribadi akan lebih dilirik daripada yang sekedar menjabarkan jobdesc. Berikan deskripsi singkat namun jelas mengenai prestasi Anda. Apabila bisa diukur dengan angka, tuangkan juga dalam bentuk numerik, misalnya, "Dalam kurun waktu 2014, mampu mencapai target penjualan 150%," atau "Di tahun 2015, mampu menyelesaikan 85% repair work order, dengan target minimal 80%." Kalimat yang ringkas namun padat tersebut mampu memberikan gambaran yang gamblang tentang bagaimana profesionalitas diri Anda.

Dunia kerja membutuhkan pekerja yang dapat berkontribusi positif, bukan hanya yang sekedar sibuk dengan daily tasks. Menjadi individu yang berdampak akan meningkatkan nilai jual Anda.

Okay, mungkin ide di atas lebih terkait pada bagaimana Anda membuat CV, namun kembali lagi, Anda tentu ingin resign dengan elegan bukan? Maka, jadilah individu yang bernilai kontribusi tinggi, sehingga perusahaan lama akan dengan "sedih" melepas seorang pekerja dengan kualitas sebaik Anda dan perusahaan baru akan dengan senang hati menerima Anda.



[G]oal

[Image: psychologies.co.uk]

Tujuan hidup menentukan apa yang akan Anda lakukan hari ini. Apa yang menjadi mimpi atau cita-cita Anda menentukan apa yang harus Anda kerjakan untuk mencapainya. Cek, apakah posisi jabatan Anda sudah selaras dengan apa yang akan Anda inginkan di masa depan?

Apakah Anda ingin menjadi specialist atau generalist? Specialist berarti seseorang yang berkarier secara mendalam di satu atau dua skill tertentu, misalnya: mekanik, teknisi, service engineer, programmer, akuntan, pengacara, dokter, researcher. Nilai jual para specialists terletak pada kemampuan teknis mereka. Generalist berarti profesi yang menapaki tangga karier untuk mencapai level manajerial, biasanya dalam perusahaan manufaktur yang memiliki organisasi yang cukup gemuk.

Umumnya, seorang generalist mengawali karier sebagai specialist, namun belajar lagi ilmu manajemen dan kepemimpinan agar mampu memimpin sebuah tim kerja, dimulai dari skala kecil hingga kelompok yang lebih besar, atau bahkan, pada akhirnya, memimpin sebuah perusahaan. Misalnya, seorang teknisi elektrik yang sudah bekerja hampir 10 tahun. Tahun pertama hingga tahun kelima bekerja, Ia naik perlahan sampai ke level supervisor. Di posisi itu, Ia mulai belajar ilmu manajemen, penyusunan budget, optimalisasi biaya, sampai akhirnya berprestasi - memberikan keuntungan nyata bagi perusahaan. Dan akhirnya, di tahun kesepuluh, Ia menduduki level manajer.

Tentukan tujuan Anda, kemudian cari tempat kerja yang dapat menunjang langkah Anda mencapai tujuan tersebut.

Pewawancara biasanya juga akan menanyakan apa tujuan hidup Anda dalam 5 sampai 10 tahun ke depan. Pertanyaan tersebut berarti calon atasan ingin mengetahui apa passion Anda. Ingat, mencari kerja itu seperti mencari jodoh. Tidak hanya Anda yang ingin cocok dengan perusahaan, namun pihak perusahaan juga berusaha mencari kecocokan dengan Anda. Tidak berhasilnya Anda dalam wawancara kerja bisa jadi karena memang tidak ada kecocokan chemistry, bukan karena kemampuan Anda kurang.

Baca Juga: Bagaimana Cara Agar Sukses Menaklukkan Wawancara Kerja?



[N]EVER! Submit A Resignation Letter, Unless You've Already Got A New Job

Tahan dulu surat pengunduran diri sampai anda sudah benar-benar diterima di tempat baru. Pastikan posisi Anda dengan dokumen formal di tangan, setelah itu Anda dapat menghadap ke atasan Anda sekarang. Utarakan dengan baik alasan pengunduran diri dan selesaikan masa transisi dengan baik. Meskipun setelah mengundurkan diri sebenarnya Anda sudah tidak ada lagi tanggung jawab struktural terhadap tempat kerja lama, namun secara moral Anda harus tetap meninggalkan kesan yang baik. Satu bulan adalah waktu yang tepat dan wajar untuk proses pengunduran diri. Anda masuk dengan baik-baik, maka keluarlah juga dengan baik-baik.

Don't burn your bridges! Jangan pernah mempertaruhkan nama baik Anda dengan mengundurkan diri dengan cara-cara yang tidak prosedural. Menjadi konyol dengan resign tanpa alasan yang jelas atau tanpa kepastian dari perusahaan lain sepertinya juga bukan ide yang baik.

Nama baik adalah harta karun, Kepercayaan adalah emas.


[Image: theundercoverrecruiter.com]

Selamat menggapai mimpi Anda!


Baca Juga:

Sudah Lama Bekerja namun Tak Kunjung Mendapat Promosi Jabatan? Cobalah 'Karir Maju', 9 Formula untuk Melesatkan Kariermu!

Jangan Hanya Ngefans, Teladani 5 Gaya Kerja Ahok untuk Indonesia yang Lebih Baik!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "RESIGN: 6 Hal yang Perlu Kamu Pertimbangkan Sebelum Memutuskan untuk Berhenti dari Pekerjaanmu Sekarang dan Berburu Pekerjaan Baru". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Widitama Prabanu | @widitamaprabanu

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar