Suami Selingkuh, Istri Cerdas Bertindak Realistis. Begini Strategi Teman Saya Mengatasi Perselingkuhan Suaminya

Marriage

[Image: grayfords.co.uk]

161.2K
Jika suami telah berselingkuh, apa yang dapat seorang istri lakukan? Hanya meratap dan kemudian membalas? Tentu tidak. Ini strategi cerdas dari pengalaman rekan saya.

Punya Istri Cantik, Kok Suami Masih Saja Selingkuh? Ini 3 Penyebabnya

Mengapa Pria Berselingkuh? Inilah Pengakuan Mengejutkan 5 Pria Peselingkuh

adalah dua artikel apik di RibutRukun.com yang membahas dengan lugas, tuntas, dan terbuka alasan-alasan mengapa para suami berselingkuh. Sila teman-teman membaca dahulu kedua artikel tersebut sebelum melanjutkan membaca solusi dalam artikel ini.


[Image: thecoverage.my]


Jika disimpulkan, ada 2 kelompok besar penyebab suami berselingkuh:

1. Masalah Relasi

Hubungan suami dengan istri yang bermasalah. Suami berselingkuh karena:

- Ada yang hilang dalam relasi,

- Merasa salah memilih pasangan,

- Istri tidak bisa diatur,

- Istri dominan - suami merasa dilecehkan,

- Untuk membalas dendam karena direndahkan keluarga istri.


2. Masalah Kepribadian Suami

- Tidak puas dengan satu pasangan,

- Butuh variasi,

- Memang sudah nakal sejak muda


Tentunya perlu strategi yang berbeda untuk menyelesaikan kedua kelompok masalah ini.


Kelompok Pertama

Alasan berselingkuh kelompok pertama menunjukkan ketidakdewasaan seorang pria:

Memilih lari dari masalah, bukannya mencari solusi dan menyelesaikannya. Menjadikannya sebagai alasan, pembenaran diri untuk berselingkuh.

Pria adalah pemimpin, panutan, guru, dan imam dalam keluarga. Keberhasilan sebuah keluarga amat sangat ditentukan oleh kualitas dan kebijaksanaan sang pemimpin.

Pria yang matang dan bertanggung jawab memahami bahwa pernikahan adalah komitmen seumur hidup. Dalam mengarungi bahtera perkawinan tidak mungkin segalanya berjalan mulus. Pernikahan adalah pembelajaran sepanjang hayat, dari dua pribadi yang berbeda, yang memutuskan untuk hidup bersama dalam suka dan duka hingga maut memisahkan. Mereka siap menghadapi tantangan serta mengalahkannya, lalu mencipta kebahagiaan versi mereka untuk membangun keluarga yang sakinah.

Zig Ziglar berujar,

"I have no way of knowing whether or not you married the wrong person. But I do know that if you treat the wrong person like the right person, you could well end up having married the right person after all. It is far more important to BE the right kind of person than it is to marry the right person."

Adalah lebih penting memperlakukan pasangan kita dengan benar, daripada memperoleh pasangan yang benar.

Meski telah memperoleh pasangan yang tepat, jika diperlakukan dengan salah, pada akhirnya akan menjadi pasangan yang salah pula.

[Image: Huffington Post]

Solusi cerdas untuk kelompok ini, carilah seorang konselor pernikahan yang mumpuni. Kaji permasalahannya, lalu belajar mempraktikkan solusi yang diberikan.

Beberapa fondasi relasi dalam pernikahan:

Penting bagi pribadi yang akan menikah memiliki gambar diri yang utuh, sehingga aman menjadi diri sendiri. Yakin pada nilai dirinya. Dia tidak sibuk mencari pengakuan dan penerimaan orang lain. Dipuji merasa senang, tapi ketika tidak pun, tidak merasa kehilangan.

Sesungguhnya tidak ada istri dominan atau berani melecehkan secara tiba-tiba. Demikian juga dengan keluarga istri, tidak akan berani meremehkan kalau sikap suami/keluarganya memang patut dihargai. Semua dimulai karena suami mengizinkan ketika istri/keluarganya mulai melewati batas, lalu makin lama makin berani.

Bersikaplah tegas namun santun. Hargai diri sendiri dan jaga sikap yang pantas. Niscaya siapa pun akan berpikir dua kali untuk bertindak melampaui batas.

Pada beberapa kasus, hal ini terjadi karena suami melakukan beberapa kesalahan yang melanggar komitmen pernikahan. Tidak jujur dalam hal keuangan atau kesetiaan, misalnya. Ada pula suami yang diremehkan karena keluarga suami memang suka memanfaatkan kesempatan. Semua hendaknya dibicarakan terbuka dengan memberikan pemahaman yang pas.

Alangkah baiknya jika sebelum keputusan menikah dibuat, kedua belah pihak sudah terlebih dahulu saling memahami beban dari keluarga orangtua apa saja yang harus ditanggung keluarga baru mereka kelak. Membiayai adik, membantu orangtua atau hutang yang dimiliki, contohnya, sehingga calon pasangan tidak merasa membeli kucing dalam karung.

Baca Juga: Merasa Jadi 'Sapi Perah' Orangtua? Inilah Cara Membantu Orangtua Tanpa Harus Mengorbankan Diri Sendiri

Mira, sahabat saya yang kaya raya, menikah dengan Don, pria cerdas berbakat dari keluarga sederhana. Pada mulanya, pernikahan mereka mendapat tentangan keluarga Mira. Perbedaan sosial ekonomi mereka terlalu jauh. Namun Don pintar menempatkan diri dalam keluarga Mira. Dia pandai bekerja, berprestasi, dan membuktikan diri mampu membiayai keluarga barunya dengan baik, meski masih jauh dari level kesuksesan materi keluarga Mira. Don aktif dalam berbagai organisasi dan memegang berbagai jabatan penting. Dia tidak pernah sekali pun memanfaatkan hubungannya dengan keluarga Mira untuk kepentingan pribadi.

Keluarga orangtua Don, meski sederhana, mandiri dan berkarakter baik. Orangtuanya tidak pernah membebani keluarga Don dan Mira. Sahabat saya kagum dengan keluarga mertuanya. Mereka memiliki hubungan yang hangat, saling menghargai, penuh kasih serta ketulusan. Jika Don ingin memberikan uang atau hadiah, semua dilakukan atas kesepakatan bersama Mira. Tidak ada seorang pun dari keluarga Mira yang berani meremehkan mereka.

Baca Juga: Relasi Harmonis Merua dengan Menantu: Mustahil? Inilah Rahasia yang Terkuak dari Mertua yang Berhasil Menjadikan Menantu-menantunya Bak Malaikat



Kelompok Kedua

Sedangkan untuk kelompok yang kedua: tidak puas dengan 1 pasangan, butuh variasi dan memang sudah nakal sejak muda; lebih bersifat kejiwaan. Cari psikolog atau psikiater untuk menangani masalah tersebut. Jika masih gagal, mungkin apa yang dilakukan sahabat saya, Shinta bisa menjadi salah satu alternatif.

Sejak muda Bram, suami Shinta, memang playboy. Pria tampan ini selalu dikelilingi banyak wanita cantik. Bak James Bond, demikian teman-teman menjulukinya. Itu kebanggaannya. Alasan inilah yang menyebabkan ibu Shinta berat memberikan restu saat mereka menikah.

Benar dugaan ibunya, Bram tidak berubah meski telah memiliki 3 anak. Kegemarannya main perempuan terus berlanjut. Shinta sudah putus asa karena segala cara untuk menghentikan hobi sang suami tidak berhasil. Akhirnya Shinta berpesan, "Silakan 'jajan' di luar tetapi buang 'bungkus'nya. Ingat kamu punya tiga anak. Jangan menambah masalah di kemudian hari."

Hal itu cukup meredam permasalahan keluarga mereka selama 15 tahun. Pada awal tahun 2008, Bram minta izin untuk menikahi seorang gadis muda berusia 20 tahunan. Kali ini Bram betul-betul kasmaran. Segala upaya untuk mencegahnya gagal total. Shinta berpikir jernih dan realistis. Dia mengambil keputusan: mengizinkan Bram menikah lagi, tetapi Bram harus vasektomi. Ini untuk memastikan bahwa Bram tidak akan memiliki anak dari perempuan lain dan seluruh harta mereka diwariskan untuk anak-anak Shinta. Dua tahun berlalu, ketika 'madu'-nya mengumumkan dia hamil, baik Bram maupun Shinta mahfum, wanita itu berselingkuh. Bram pun menceraikan istri mudanya.

Kisah selesai? Tidak juga! Bram menikah lagi, tidak hanya dengan 1 wanita muda tetapi 3 sekaligus dalam kurun waktu berbeda. Shinta tidak peduli. Dia berprinsip, anak-anaknya masih butuh figur seorang ayah. Dan ayah yang terbaik untuk mereka, ya Bram, karena ia ayah kandung mereka! Shinta rela berkorban, demi anak-anaknya.

[Image: RibutRukun.com]

"Darahku sudah tidak merah lagi. Putih ... Sudah tidak bisa merasakan apa-apa," tuturnya. "Tetapi aku belajar dari Donald Trump. 'Secinta apa pun dengan seorang wanita cantik, harus tetap membuat perjanjian pra-nikah,' katanya. Itu yang aku terapkan pada 'wanita-wanita'nya Bram. Harus ada perjanjian di depan agar mereka tidak bisa menuntut harta anak-anakku,” ujar Shinta, memberikan penjelasan strateginya. Sebagian besar keuangan dikelolanya, dan para 'madu' hanya mendapat jatah tertentu sesuai budget yang diberikan.

Di mata masyarakat, keluarga Bram-Shinta kelihatan rukun dan harmonis. Ternyata ada pasangan yang berhasil menjalani kehidupan keluarga yang 'damai' dengan cara demikian. Tidak sempurna, tetapi masih lebih baik, terkendali.

Bagaimana pendapat Anda?



Baca Juga:

Pasangan Berselingkuh, Duniamu Tak Harus Runtuh. Inilah 5 Cara Bertahan ketika Pasangan Tak Setia

Selingkuh itu Indah? Inilah Sisi-Sisi Gelap yang Seringkali Tak Terungkap

Suami Selingkuh: Bukan Cerai, 4 Hal ini yang Dilakukan Sahabat Saya untuk Menyelamatkan Pernikahannya




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Suami Selingkuh, Istri Cerdas Bertindak Realistis. Begini Strategi Teman Saya Mengatasi Perselingkuhan Suaminya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yenny Indra | @yennyindra

YennyIndra memiliki passion untuk menginspirasi pembacanya agar mengalami peningkatan kualitas hidup, dengan cara memahami prinsip kehidupan yang benar. Menata cara berpikir adalah concern-nya. Ibu 4 anak ini aktif menjalankan family business. Keluarga

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar