Soulmate: Inilah 3 Panduan Berdasarkan Riset Psikologi untuk Menemukannya

Singleness & Dating

[image: Pinterest]

3.1K
Memang benar, seseorang yang bisa memenuhi kriteria soulmate akan menjadi pasangan hidup yang ideal. Hanya saja, yang perlu ditanyakan adalah, apakah konsep soulmate ini realistis?

Dengan semakin tingginya angka perceraian dan semakin rendahnya kepuasan bagi pasangan yang tengah menjalani pernikahan mereka, banyak orang merindukan pasangan yang dapat membuat mereka berbahagia. Tidak mengherankan jika konsep soulmate semakin populer. Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan soulmate?


Bermula dari Teori Plato: Androgini

[image: Poliside]

Konsep soulmate ini pertama kali dikemukakan oleh Plato. Ia mengatakan, dahulu kala ada makhluk androgini. Mahluk yang merupakan kesatuan dari pria dan wanita dalam satu tubuh. Mahluk ini sangat kuat dan berusaha melawan kekuasaan para dewa, sehingga mereka ketakutan. Oleh karena itu, Zeus membelah mereka menjadi dua, sehingga dalam satu tubuh hanya ada satu jenis kelamin. Mahluk yang terpisah ini menjadi lemah dan tidak akan tenang sampai menemukan pasangannya. Begitu mereka menemukan pasangan mereka, mereka akan merasa bahagia. Mereka pun akan terus bersama sampai maut memisahkan mereka.


Apa itu Soulmate?

Konsep Plato tentang soulmate ini terus berkembang hingga saat ini. Soulmate mempunyai arti beragam, tetapi intinya menggambarkan seseorang yang dapat melengkapi hidup kita. Seseorang yang dapat mencintai kita lebih dari siapapun dan bisa menerima kita dalam kondisi apa pun.

Richard Bach mendefinisikan soulmate sebagai seseorang yang mempunyai lubang kunci yang cocok dengan anak kunci kita, dan anak kunci yang cocok dengan lubang kunci yang kita miliki. Pendek kata, soulmate adalah seseorang yang membuat kita merasa nyaman, sehingga kita berani menampilkan diri apa adanya dan mengembangkan potensi yang kita miliki.

Gambaran soulmate di atas tentu saja merupakan representasi pasangan hidup yang didambakan oleh hampir semua orang. Memang benar, seseorang yang bisa memenuhi kriteria soulmate di atas akan menjadi pasangan hidup yang ideal. Hanya saja, yang perlu ditanyakan adalah, apakah konsep soulmate ini realistis? Untuk bisa menjawab hal ini, sangatlah penting untuk meneliti asumsi di balik konsep soulmate ini.

Baca Juga: Hati-Hati, 7 Slogan Cinta Populer ini Ternyata Keliru dan Malah Menjauhkanmu dari Cinta Sejati!


Soulmate: Antara Perasaan dan Logika

Konsep soulmate ini beranggapan ada satu orang di luar sana yang diciptakan untuk menjadi pasangan hidup kita dan oleh karena itu pasti akan cocok dengan kita. Sekalipun terdengar baik, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Antara lain, sarana apakah yang dipakai untuk menilai seseorang yang dijumpai itu soulmate atau bukan? Lalu, apakah konsep ini membuat kita cenderung mempunyai harapan yang tidak realistis mengenai pernikahan?

Mereka yang percaya akan adanya soulmate tentu harus mempunyai alat yang dipakai untuk menentukan apakah orang yang mereka sukai itu soulmate atau tidak. Kalau sarana yang dipakai untuk menilai dapat dipertangungjawabkan, misalnya melalui pertimbangan rasional, risiko untuk salah menilai dapat dikurangi.

Sayangnya, sebagian besar orang yang percaya pada konsep ini lebih banyak menggunakan perasaan untuk menilai. Padahal perasaan bukanlah alat ukur yang bisa dipercaya. Hal ini khususnya terjadi pada mereka yang mempunyai pola attachment yang tidak sehat, latar belakang keluarga yang bermasalah, atau pengalaman traumatis yang lain.

Selain itu, mereka yang percaya pada konsep soulmate mengharapkan pernikahan mereka akan lancar. Mereka pikir, karena mereka sudah menikah dengan orang yang memang diciptakan untuk mereka, sudah seharusnya pernikahan mereka pun mulus.

Padahal, tidak ada pernikahan yang tanpa masalah. Dua orang yang berasal dari keluarga berbeda, jenis kelamin yang berbeda, kepribadian yang tidak sama, dan kebiasaan yang berbeda, tidak mungkin tidak mengalami konflik.

[Image: More Than Words]

Begitu mengalami konflik, mereka akan mulai meragukan apakah benar pasangan yang dinikahi adalah soulmate mereka. Kemudian mereka mulai berpikir mungkin mereka telah salah pilih. Hal ini berarti pula soulmate mereka masih ada di luar sana dan harus segera dicari. Tidak heran jika mereka mengakhiri hubungan mereka demi menemukan soulmate yang sesungguhnya.

Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa konsep soulmate ini bisa membawa akibat yang cukup fatal jika tidak diterapkan dengan berhati-hati. Sekalipun tidak berarti konsep ini tidak mempunyai aspek positif. Konsep bahwa Tuhan sudah menyiapkan pasangan bisa membuat seseorang lebih tenang karena merasa Tuhan tidak meninggalkan mereka dalam usaha pencarian teman hidup. Tentu saja jika diterapkan dengan bijaksana.


Tiga Kriteria dalam memilih Soulmate

Kembali ke pertanyaan awal. Apakah sebenarnya konsep soulmate ini mitos atau realita? Terlebih lagi, beberapa agama sepertinya mempunyai konsep yang mirip dengan konsep soulmate ini. Menurut saya, yang lebih penting bukanlah menjawab pertanyaan ini. Namun, bagaimana menyikapi konsep ini dengan baik. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi efek negatif dari soulmate seperti yang disebutkan di atas. Yaitu kriteria yang dipakai untuk menentukan siapa yang menjadi soulmate dan harapan tentang pernikahan.

Alat yang dipakai untuk menentukan apakah seseorang adalah soulmate kita atau bukan sangat penting. Menggunakan alat yang salah dalam menentukan keputusan penting ini dapat menimbulkan akibat yang tidak diinginkan.

Ada tiga alat yang mungkin dipakai untuk menilai apakah seseorang adalah soulmate kita atau bukan, yaitu: perasaan, intuisi, dan rasio.

Perasaan jelaslah bukanlah alat yang baik untuk dipakai, karena perasaan tidak sepenuhnya dapat dipercaya. Apalagi perasaan mereka yang sedang jatuh cinta. Intuisi memang bisa memberi petunjuk, asalkan intuisi ini telah dilatih dengan baik. Oleh karena itu, saya cenderung memilih untuk menggunakan pikiran atau rasio sebagai penentu.

Baca Juga: Cinta Tak Berarti Cocok. Ini Saran Pakar Psikologi tentang Memilih Pasangan Hidup!


Tiga Pertimbangan Memilih Pasangan Hidup

Pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang harus dipertimbangkan dalam penentuan soulmate ini. Paling tidak ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk penentuan ini, yaitu:


1. Tujuan Pernikahan

Tujuan pernikahan memegang peranan penting dalam menentukan apakah seseorang adalah soulmate atau tidak. Tujuan pernikahan ini tidak selalu sama untuk semua orang. Di lain pihak, tujuan pernikahan ini banyak menentukan penilaian apakah seseorang cocok atau tidak. Tujuan pernikahan yang berbeda tentu membutuhkan kriteria pasangan hidup yang berbeda pula. Misalnya, seseorang yang menikah untuk menjalankan misi Tuhan dalam hidupnya tentu membutuhkan pasangan yang berbeda dengan orang yang menikah untuk membuatnya menjadi kaya.


2. Pengenalan Terhadap Diri Sendiri

Setelah seseorang tahu tujuan pernikahannya, mereka perlu mengenal diri mereka dengan baik. Mereka perlu tahu siapa diri mereka sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangan mereka, bahasa kasih, trait, pola attachment, dan sebagainya. Dengan pengenalan diri yang baik, mereka pun bisa memilih pasangan yang cocok dengan lebih baik. Yang dimaksud dengan pasangan yang cocok di sini adalah pasangan yang dapat membantu mereka memenuhi tujuan pernikahan.


3. Pengenalan Pasangan

Poin terakhir yang perlu diperhatikan adalah pengenalan pasangan dengan baik. Pengenalan yang baik ini diperlukan untuk menilai apakah pasangan kita merupakan orang yang kompatibel dengan kita dan dapat membantu kita mencapai tujuan pernikahan.


Mari Temukan Pasangan Hidup yang Tepat

[image: Crated With Love]

Seseorang yang menggunakan tiga poin dalam pemilihan pasangan di atas kemungkinan dapat menemukan pasangan dengan lebih baik dibandingkan dengan mereka yang memilih hanya berdasarkan perasaan. Hal ini karena pemilihan mereka lebih rasional, sehingga lebih dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, tidak peduli apakah seseorang percaya atau tidak pada konsep soulmate, kemungkinan besar mereka akan dapat menemukan pasangan yang tepat.


Baca juga:

Menikah karena Cinta? Salah! Riset Pakar Psikologi Menunjukkan Inilah Satu Alasan Tepat untuk Menikah

Tak Seindah Dongeng, Inilah 3 Realita yang Saya Pelajari dari Kisah Cinta Orangtua Saya

Tentang Cinta yang Tak Selalu Indah: Sebuah Kenyataan, yang Tidak Muluk-Muluk, Apa Adanya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Soulmate: Inilah 3 Panduan Berdasarkan Riset Psikologi untuk Menemukannya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yonathan Goei | @yonathangoei

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar