Skip Challenge: Ketika Telanjur Terkapar dan Berhenti Bernapas, Tahukah Bagaimana Cara Menolong yang Tepat?

Work & Study

[Image: rimanews, indowarta, waktuku.com]

17.5K
Daripada bersusah payah menyalahkan media sosial dan tren permainan masa kini di kalangan remaja lalu membanding-bandingkan dengan permainan masa lalu, bukankah lebih bermanfaat untuk mengetahui bagaimana cara mencegah dan menolong bila hal itu terjadi?

Fenomena viral di media sosial mengenai skip challenge yang dilakukan anak remaja di Indonesia sungguh membuat adrenalin meningkat. Bukan hanya untuk mereka yang melakukannya, juga para orang tua dan guru di sekolah, cemas bukan kepalang.

Terhenyak saya saat mengetahui fenomena ini. Skip challenge atau skip your life? begitu pikir saya. Sesak napas, kejang, pingsan, dijadikan tertawaan. Sungguh saya tak habis pikir!

Selama dua hari mengikuti berita, saya mencoba menempatkan diri di posisi mereka yang memainkan permainan berbahaya itu. Sebenarnya apa yang mereka pikirkan? Bagaimana jika permainan ini membawa kepada kegawatan? Bagaimana mereka menolong korban jika terjadi hal yang tidak diinginkan?

"Maut bukan untuk ditertawakan, Kawan. Malaikat maut pasti akan datang menjemput entah kapan. Mengapa repot-repot menjemputnya?" keluh saya prihatin dalam hati.

Bekerja sebagai petugas medis, kami bertanggung jawab untuk menolong orang yang mengalami kegawatan. Bahkan, kami melakukan berbagai usaha preventif supaya orang tidak jatuh sakit dan menjalani hidup yang sehat. Saat kami berusaha melakukan upaya pencegahan, yang menjadi tren di media sosial justru permainan mengancam nyawa demikian. Rasanya mau tepok jidat!

Daripada jidat saya kemerahan karena ditepok terus, lebih baik saya berbagi beberapa kiat untuk menolong mereka yang telanjur melakukan skip challenge.



Ketahui Bahaya yang Mengancam

Dengan waspada dan mengetahui bahaya yang menjadi akibat, kita bisa menghindari kecelakaan sebelum terlambat.

Sebagai orang tua atau guru di sekolah, hendaknya kita tidak menutup mata terhadap kenyataan, media sosial telah menjadi bagian penting hidup anak-anak kita. Komunikasi yang asertif dan konstruktif dengan anak-anak remaja diperlukan untuk menggali pengetahuan mereka yang memainkan skip challenge, yang kebanyakan berada di kelompok usia itu. Saya cukup yakin, tak banyak dari mereka yang mengetahui akibat yang mungkin terjadi jika mereka menekan dada dengan keras dan menghentikan napas temannya.

Kini informasi dapat diperoleh dengan mudah dengan internet, mari ajak para remaja mempelajari permainan ini dengan lebih mendalam. Buat mereka paham, apa yang mungkin terjadi kepada mereka jika memainkan permainan berbahaya ini. Dada lebam, memar karena jatuh, luka berdarah, sesak napas, kurang asupan oksigen ke otak, kejang, pingsan, bahkan sampai patah tulang rusuk dan berujung kematian.


[Image: CNN Indonesia]



Apa yang dapat dilakukan jika terjadi memar sampai luka terbuka?

Luka memar terjadi karena tekanan keras di dada yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah kecil.

Jika berwarna merah, kompres memar dengan air dingin. Hindari kompres air hangat karena akan menyebabkan pembuluh darah melebar dan dapat memperberat bengkak dan nyeri. Jika memar bewarna biru, oleskan salep yang dijual bebas di apotik.

Bagaimana jika ada luka terbuka? Luka terbuka, jika mengeluarkan banyak darah, bisa langsung ditekan menggunakan perban/kassa steril. Tekan beberapa saat pada luka hingga darah berhenti. Setelah tak lagi mengeluarkan darah, cuci dengan air bersih dan beri antiseptik. Segera bawa ke dokter atau klinik terdekat untuk mendapat pengobatan lanjutan.



Apa yang dapat dilakukan jika terjadi kejang dan pingsan?

Kejang dapat terjadi karena kurangnya asupan oksigen ke otak. Orang kejang jangan ditontoni dan dikerumuni. Beri ruang yang cukup agar ia mendapat oksigen. Salah kaprah yang juga sering terjadi di masyarakat adalah menolong orang kejang dengan memasukkan sendok atau kayu ke dalam mulut korban. Hal itu sebaiknya dihindari, karena dapat menyebabkan cedera tambahan dengan patahnya sendok, kayu, bahkan gigi penderita.

Orang kejang jangan dikerumuni. Jangan pula memasukkan apa pun ke mulut orang yang sedang kejang. Beri ruang, lindungi ia dari cedera karena terbentur.

Jika korban kejang menjadi tidak sadar, lanjutkan dengan pertolongan orang yang pingsan. Segera periksa kesadaran, cek nadi dan pernapasan korban.

Banyak kejadian pingsan yang salah penanganan.

Kesalahan penanganan orang pingsan antara lain: diberi bantal di kepala, diberi minum, beberapa kejadian bahkan ditampar pipinya.

Hal-hal tersebut membahayakan karena menyebabkan aliran darah ke otak kurang lancar, risiko tersedak dan air masuk ke paru-paru, serta luka baru di pipi akibat tamparan.

Jika menemukan korban pingsan, segera panggil nama korban dan tepuk pundaknya. Jika korban tidak sadar, panggil bantuan medis. Kurang dari 2 menit segera cek nadi dan napas. Jika nadi masih teraba dan masih bernapas, longgarkan pakaian korban, naikkan kaki korban sedikit lebih tinggi dari jantung supaya darah mengalir ke jantung dan otak dengan gaya gravitasi. Korban pingsan perlu mendapatkan oksigen yang cukup, maka mintalah orang yang mengerumuni untuk menjauh dan memberi ruang.



Apa yang dapat dilakukan jika terjadi henti napas dan henti jantung?

[Image: heart.org]

Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi adalah berhentinya napas dan nadi.

Saya amat menyarankan setiap orang mempelajari lewat Youtube atau tautan lain bagaimana cara menolong orang yang henti jantung dan henti napas. Salah satu cara yang dipakai di Indonesia bersumber dari American Heart Association, Anda bisa memeriksanya di www.heart.org.

Adalah baik jika setiap sekolah bekerja sama dengan petugas kesehatan untuk melatih para guru dan siswa melakukan resusitasi jantung paru atau yang biasa dikenal dengan CPR [Cardio Pulmonary Resuscitation]. Cara yang dilakukan sederhana, namun perlu latihan untuk mendapatkan CPR berkualitas dalam 2 menit.

Kita perlu bersiap untuk segala kemungkinan, yang terburuk sekalipun. Bukankah demikian nasihat orang bijak?


Daripada bersusah payah menyalahkan media sosial dan tren permainan masa kini di kalangan remaja lalu membanding-bandingkan dengan permainan masa lalu, adalah lebih bermanfaat untuk mengetahui bagaimana cara mencegah dan menolong bila hal yang tidak diinginkan terjadi.

Semoga artikel singkat ini dapat menyadarkan bahaya yang mengancam dan membuat kita menghindari dangerous challenges serta lebih siap menghadapi situasi gawat darurat yang dapat terjadi.

Baca Juga: Orangtua, Ajarlah Anak-Anak Bermain secara Kreatif dan Imajinatif. Inilah Caranya!


Tertawalah ketika teman bersuka cita, bukan saat ia menderita. Hidup adalah karunia Tuhan, janganlah disia-siakan.

Beranilah untuk hidup, Kawan!



Baca Juga:

Rupanya Ini yang Membuat Anak Berontak terhadap Orangtua. Terapkan 3 Cara Ini sebelum Terlambat!

Dunia Semakin Beringas! Mesum di Mal, Ngebut di Jalan dan Main Hakim Sendiri. Apa yang Perlu Kita Perbaiki?

Perbedaan Pola Pikir Bisa Membuat Keluarga Berakhir! Ini 3 Cara Mengatasinya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Skip Challenge: Ketika Telanjur Terkapar dan Berhenti Bernapas, Tahukah Bagaimana Cara Menolong yang Tepat?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Siska Natalia | @natalies

Work as a nurse and clinical educator. Live by His grace alone.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar