Single Parents: Segenap Hati Mencintai di Tengah Keterbatasan Diri

Parenting

[Image: cadenaser.com]

5.3K
Rasa-rasanya, tak seorang pun menginginkan untuk berada dalam posisi menjadi seorang single parent. Sebuah kondisi yang amat jauh dari kata ideal. Jika dapat memilih, saya yakin tak akan ada yang akan memilih untuk menjalani kehidupan yang bukan hanya tak sempurna, tapi juga berat seperti itu.

“Ibuuuukkkk …”

Teriakan anak kecil itu seketika membuat hening keadaan. Sambil menangis, anak itu berlari kencang ke arah mbak penjaga warung, menerjang si mbak dengan sebuah pelukan kuat. Kaget, mbak penjaga warung langsung menghentikan aktivitas. Ia segera menyambut anak yang masih saja terus terisak-isak itu. Dengan lembut, ia memeluk dan membisikkan sesuatu ke telinga si anak. Entah apa yang dibisikkannya. Yang jelas, dalam sekejap tangis anak itu reda. Dan tak butuh waktu lama untuk anak itu kemudian tertawa dan melepaskan pelukannya.

Entah mengapa siang itu saya memutuskan untuk tidak makan di warung langganan saya. Saya ingin mencoba makan di warung ini, yang letaknya bersebelahan dengan warung langganan tempat saya biasa makan. Saya penasaran mengapa teman-teman kantor saya lebih senang memilih makan siang di sini. Padahal, menurut saya, banyak warung lain dengan pilihan menu yang lebih variatif dan cita rasa serta aroma masakan yang lebih menggoda.

Pemilik warung ini seorang perempuan. Masih muda, usianya sekitar 30-an tahun. Parasnya memang bisa dibilang 'lumayan’ jika dibandingkan dengan mbak-mbak yang melayani di warung-warung lain. “Ah, pasti karena mbak yang jualannya cantik, teman-teman lebih senang ke mari,” begitu pikir saya dalam hati.

Nasi sayur bayam, dadar jagung, patin goreng, dan segelas teh tawar hangat telah tersaji di depan saya. Sambil menikmati makan siang, saya mengamati si mbak pemilik warung. Terkadang si mbak tersipu malu ketika teman-teman mengajaknya bercanda. Gayanya yang malu-malu kucing dan wajah yang merona ketika menahan tawa memancing teman-teman semakin aktif untuk menggodanya.

Usut punya usut, ternyata anak laki-laki kecil yang tadi berteriak itu merupakan anak dari mbak penjaga warung. Mbak penjaga warung ini memilih membesarkan anaknya sendiri setelah ditinggal pergi entah ke mana oleh ayah dari anak tersebut.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana repotnya menjadi seorang single mother seperti si mbak. Usaha warung makan bukanlah hal yang mudah, terlebih ketika yang disajikan adalah masakan tradisional Jawa yang terkenal ribetnya jika dibandingkan dengan fast food. Pagi sekali ia sudah harus mulai menyiapkan bahan makanan untuk dimasak. Belum lagi harus membangunkan dan mempersiapkan si anak untuk bersekolah. Setelah itu, masih harus melanjutkan memasak hingga jam warung buka. Begitu warung buka, si mbak akan sibuk melayani pembeli hingga sore hari. Selepas itu, ia harus segera pergi ke pasar terdekat untuk membeli bahan masakan untuk esok hari. Terus begitu, setiap hari.


Jangan Hakimi Mereka

Saya mengenal beberapa single mothers. Stigma negatif selalu menjadi momok bagi mereka. Cap “wanita murahan”, “wanita gampangan”, ”cewek booking-an” sering sekali disematkan secara sembrono kepada mereka. Menjadi semakin tragis karena seringnya hal itu dilakukan oleh orang yang bahkan tidak mengetahui sama sekali latar belakang dan kisah kehidupan si orang tua tunggal tersebut. Menyakitkan, bagi seorang wanita yang memilih untuk membesarkan anaknya seorang diri.

Ya, mungkin mereka pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Namun bukankah kita semua pernah melakukan kesalahan? Tak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini, bukan?

Tanpa penghakiman yang sadis dari orang awam pun, hidup mereka sudah diliputi oleh rasa bersalah dan penyesalan yang akan terus ada di dalam hati mereka selamanya. Tak perlu rasanya menambah lagi sesal mereka dengan penghakiman yang dangkal dari kita - yang juga tak luput dari salah dan alpa.

Baca Juga: Tentang Kita, Manusia yang Mudah Menghakimi, Rasa Aman Palsu, dan Keengganan untuk Bertumbuh



Bukan Inilah Keadaan yang Mereka Mau

Jika kepada kita ditanyakan, bagaimanakah gambaran sebuah keluarga yang ideal? Saya yakin kebanyakan kita pasti pasti akan menjawab, "Ayah, ibu, dan anak." Dua orang yang saling mengasihi, terikat dalam sebuah janji pernikahan, dilengkapi dengan kehadiran anak-anak sebagai buah kasih dan penerus keturunan dari orangtua. Itulah ideal, yang diharapkan oleh semua orang.

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca status seorang teman di salah satu akun sosial medianya,

“Tidak mudah nak membesarkanmu seorang diri, aku tahu, aku tidak dapat berperan sekaligus sebagai ayah dan ibu yang baik bagi kamu nak. Maafkan aku nak jika aku tadi berbicara keras kepadamu, bukan berarti aku marah, namun terlebih aku sayang ke kamu.”

Rasa-rasanya, tak seorang pun menginginkan untuk berada dalam posisi menjadi seorang single parent. Sebuah kondisi yang amat jauh dari kata ideal. Jika dapat memilih, saya yakin tak akan ada yang akan memilih untuk menjalani kehidupan yang bukan hanya tak sempurna, tapi juga berat seperti itu.

Baca Juga: Hamil di Luar Nikah? Bukan Hanya Aborsi atau Terpaksa Menikah Solusinya. Renungkan 7 Hal ini!



Berusaha Melakukan yang Terbaik Bagi Buah Hati

Sama seperti mbak penjaga warung di atas, membanting tulang setiap hari dari pagi hari hingga petang. Mempersiapkan dan mengerjakan segala sesuatunya sendiri agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya.

Beberapa single mothers yang saya jumpai pun demikian, bekerja keras seorang diri untuk mencukupi kebutuhan anak mereka. Bekerja, yang seharusnya menjadi porsi seorang laki-laki dalam keluarga, mau tidak mau harus dilakukan seorang single mother. Pun juga demikian bagi seorang single father, urusan dapur, rumah tangga, dan merawat anak yang menjadi bagian seorang wanita, harus dilakoni seorang diri.

Jika status pahlawan super dapat diberikan, para single parents - dalam perjuangan gigih mereka untuk melakukan yang terbaik yang bisa mereka lakukan demi anak-anak mereka - amat sangat layak untuk mendapatkannya.

Baca Juga: Sebuah Kisah tentang Perempuan dan Kekuatan Super yang Mereka Miliki



Hargai dan Support Mereka

Masa lalu yang suram penuh dengan rasa bersalah dan penyesalan, masa depan yang dipenuhi oleh kekhawatiran dan ketidakpastian, mungkin itulah yang dirasakan oleh para single parents. Dalam keseharian mereka, dukungan dari orang-orang terdekat merupakan hal terbaik yang mereka harapkan. Sebuah bantuan kecil yang dibalut dengan ketulusan akan menjadi hadiah istimewa bagi mereka.


Belakangan saya jadi tahu kenapa teman-teman kantor saya lebih senang makan siang di warung si mbak. Tadinya saya pikir kecantikan mbak penjaga warunglah yang menjadi sebabnya. Ternyata bukan itu. Teman-teman saya dengan jujur mengakui, cita rasa makanan di warung tersebut memang kurang jika dibandingkan dengan warung yang lain. Namun, mereka sengaja memilih makan siang di situ. Agar makanan di warung tersebut bisa lekas habis terjual, dan dengan demikian, dapat menjadi berkat bagi si mbak dan lelaki kecilnya itu.



Baca Juga:

Yakin Mampu Menjadi Single Parent? Jawab Dulu 5 Pertanyaan ini!

Masa Lalu Suram, Masa Kini Terasa Berat? Melangkah Maju dan Yakinlah, Ada 4 Hal Indah di Balik Tiap Kepahitan yang Kamu Alami

Jangan Biarkan Kesalahan Menghancurkan Hidupmu! Bangkit dan Keluarlah dari Jerat Rasa Bersalah dengan 5 Langkah ini


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Single Parents: Segenap Hati Mencintai di Tengah Keterbatasan Diri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Nicho Krisna | @nichokrisna

Auditor | Banker | Blogger

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar